Tali Welas Asih

Nitoboki Wiranto! Seru seorang kisanak di pesan pribadi media sosial saya. Ia menguritakan, Wiranto, Menko Polhumkam, ditikam, kala melakukan kunjungan kerja di Pandeglang, Banten. Persisnya, di pintu gerbang Alun-Alun Mebes, Purwaraja, pada Kamis, 10 Oktober 2019. Penikamnya Syahril Alamsyah, alias Abu Rara.

Nitoboki, sepenggal kata dalam bahasa Makassar, berarti ditikam. Maknanya, ada seseorang yang menikam Wiranto.

Sejak urita itu menyebar, media daring dan media sosial sangat ramai mengabarkannya. Campur aduk kontennya. Dugaan pun beraneka. Opini muncul beragam. Tafsiran liar hadir bermacam-macam maksudnya. Hoax (berita bohong), fake news (berita palsu), dan hate speech (ujar kebencian), bertubi-tubi berebut panggung di jagat maya.

Jejari warga net berlomba membagikan opini, tafsir atas fakta tertikamnya Wiranto. Apa yang terjadi setelahnya? Peristiwa penikaman Wiranto, memakan korban berikutnya. Bukan saja tertangkapnya si pelaku penikaman, tetapi beberapa orang kemudian bermasalah dengan hukum, jabatan, dan karir. Ada yang dilaporkan sebab dugaan pelanggaran UU ITE dan ada juga dicopot jabatannya. Masalah Wiranto telah beranak pinak. Pasalnya sederhana saja, jejari lebih cepat dari pikiran.

***

Sehari berikutnya, Jumat, keliaran peristiwa penikaman Wiranto belum reda. Saya pun membayangkan, khutbah jumat bakal seru. Saya memastikan, para khatib pasti menyinggung soal ini. Karenanya, saya amat bergairah ikut salat Jumat. Begitu toa masjid dekat rumah bunyi, melantunkan ayat-ayat suci, segera saja saya ke masjid. Mungkin pengurus masjid rada heran, tumben saya secepat itu.

Saya memilih lokasi duduk tepat di depan mimbar. Biar lebih khusyuk mendengarkan khutbah jumat. Posisi duduk saya tidak bersila, melainkan melipatkan kaki ke belakang, sesuai petunjuk dari beberapa video yang lagi viral, soal duduk buat mencegah asam urat. Istilahnya, duduk pembakaran  Maklum saja, usia saya sudah lebih separuh abad, asam urat sudah mulai beramah tamah dengan raga saya. Sesekali ia menjadi tamu tubuh saya. Berharap ia tidak menjadi penghuni tetap raga saya.

Sembari menanti khutbah jumat, saya lebih banyak membaca salawat pada Nabi Muhammad Saw. Sebab, dari para penganjur pahala, hari Jumat merupakan hari yang dilipatgandakan pahala, ketika banyak membaca salawat.

Entah sudah berapa banyak salawat saya ucapkan. Sekadar taksiran saja, mungkin sudah ribuan. Saking asyiknya bersalawat, saya sulit lagi membedakan antara khusyuk dengan kantuk dalam penantian khutbah.

***

Tetiba saja, saat saya mendongak, khatib jumat sudah di atas mimbar. Ucapan pembuka khutbah sudah ia panjatkan. Lalu ia berujar lantang, negara kita saat ini, raga dan jiwanya terluka. Bencana alam, penanda luka raga. Konflik sosial alamat luka jiwa.

Setelahnya ia membaca ayat 103 dari surah Ali Imran (3), artinya “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”

Begitu khatib selesai membaca ayat itu, teringatlah saya pada seorang mufassir, Quraish Shihab. Melalui ponsel cerdas, saya buka ayat tersebut, ia menafsirkannya, “Berpegang teguhlah kepada agama Allah dan tetaplah bersatu. Janganlah berbuat sesuatu yang mengarah kepada perpecahan. Renungkanlah karunia Allah yang diturunkan kepada kalian pada masa jahiliah, ketika kalian masih saling bermusuhan. Saat itu Allah menyatukan hati kalian melalui Islam, sehingga kalian menjadi saling mencintai. Saat itu kalian berada di jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian dengan Islam. Dengan penjelasan yang baik seperti itulah, Allah selalu menerangkan berbagai jalan kebaikan untuk kalian tempuh.”

Entah kenapa, pikiran dan imajinasi saya berkembang, liar tak terkendali, mengabaikan tutur-tutur dari khatib jumat. Saya jatuh pikir pada penggalan tafsir, “Berpegang teguhlah kepada agama Allah dan tetaplah bersatu. Janganlah berbuat sesuatu yang mengarah kepada perpecahan.” Frasa tetaplah bersatu dan larangan berbuat mengarah perpecahan, membuat saya amat gelisah. Kemudian, penegasan sifat perpecahan itu sebagai prilaku jahiliah. Padahal, nikmat Allah sunyata persatuan lewat persaudaraan.

***

Khutbah jumat melaju terus memangsa waktu. Khatib makin berselancar dengan ajakan-ajakan berpegang teguh pada tali agama. Saya pun tenggelam di kedalaman pikiran, memahamkan diri pada penggalan tafsir, ajakan tetap bersatu dan jangan berbuat yang mengarah kepada perpecahan. Ingatan saya menyembul kembali pada kasus penikaman Wiranto. Adakah peristiwa semacam ini bisa menjadi pemantik api perpecahan?

Asumsi pun saya ajukan. Penikaman Wiranto sangat berpotensi pada perpecahan dan putusnya tali agama Allah. Satu tali welas asih yang ditawarkan Allah kepada manusia, khususnya umat Islam. Betapa tidak, kasus Wiranto sudah menjadi masalah liar tak terkendali. Hoax menari-nari mengiringinya. Fake news melenggang kangkung menyertainya. Hate speech berdansa-dansi menemaninya.

Ada anggapan nitobokna, atau ditikamnya Wiranto itu sebagai rekayasa dan settingan. Tidak sedikit mengucap syukur alhamdulillah, pun sumpah serapah, menyebabkan ricuh sericuh-ricuhnya jiwa bangsa. Anak negeri mulai berkelahi di media sosial, saling tuding menuding selaku perusak agama. Tali welas asih agama sodoran Allah, terancam putus. Perpecahan segera menyata. Persatuan menjadi persatean.

Saya mendongak kembali, khatib jumat sudah mendekati pucuk khutbahnya. Tak lupa menyimpulkan ajakannya, jangan menyebarkan hoax, berhenti membagi fake news, dan stop hate speech. Urita bohong, kabar palsu, dan ujar kebencian merupakan lakon jahiliah. Rawatlah tali welas asih, bonus dari Sang Mahapengasih.

 

Sumber gambar: https://pixabay.com/id/photos/tali-jantung-cinta-persahabatan-1468951/

The following two tabs change content below.

Sulhan Yusuf

Pegiat Literasi dan Owner Paradigma Group. Mengarang buku Sehimpunan Puisi AirMataDarah (2015), Tutur Jiwa (2017), dan Pesona Sari Diri (2019). Kiwari, selaku Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *