The Master Key System: Andalah Sang Penentu Nasib Diri

Dengan mengacu pada ketunggalan semesta, Charles F. Haanel, dalam bukunya The Master Key System, terbit seratus tahun lalu, 1916, seolah ingin mengatakan bahwa manusialah yang menentukan nasib dirinya dan lingkungannya. Seperti apa wajah kehidupan dan keadaan seseorang, sebenarnya jauh-jauh hari sebelumnya telah ia ciptakan sendiri terlebih dahulu dalam dirinya. Seseorang sukses atau gagal dalam bidang apa pun, itu hasil olah dalam dirinya baik disengaja atau tidak, bukan hasil olah di luar dirinya.

Konon, pada semester awal kuliahnya, seorang anak muda menelisik jejeran buku di perpustakaan Harvard University, matanya tertumbuk pada sebuah judul buku, kemudian membacanya dengan penuh kesungguhan, setelah itu sang pemuda berkesimpulan ia telah menemukan kunci utama dari segala bentuk kesuksesan. Setelah menghayati isi buku itu, sang pemuda menetapkan dirinya sendiri sebagai orang yang membuat perubahan besar bagi dunia dan menjadi orang terkaya di dunia. Dan konon pula, buku ini juga yang membuat pemuda ini drop out dari kampusnya, karena begitu yakin ia telah menggenggam kunci utama dari segala kesuksesan. Pemuda tersebut telah membuktikan diri sebagai orang terkaya di dunia dan juga mengubah dunia melalui kekuatan dunia virtual. Dialah Bill Gates penuh sukses  yang dipicu oleh buku The Master Key Sistem.

Dalam ketunggalan semesta, Haanel membagi dua alam, yaitu alam dalam diri dan alam di luar diri. Hubungan kedua alam ini adalah hubungan sebab-akibat. Alam dalam diri merupakan sebab dan alam luar diri adalah akibat. Proses penciptaan itu ada pada sebab, apa pun bentuk ciptaan itu, termasuk sukses mau pun gagal, berarti proses penciptaan itu bermula pada dalam diri—sebagai sebab. Karena berproses dalam diri, maka penciptaan itu ada dalam kendali penuh seseorang. Sedangkan kondisi eksternal diri dan lingkungan hanyalah perwujudan luar dari realitas yang sebelumnya  yang dicipta dalam diri. Realitas eksternal ini sudah di luar kendali langsung seseorang, karena ia memang sebagai akibat dari realitas dalam diri.

Jika ingin mengubah keadaan jangan mengubah pada tingkat akibat, yaitu di dunia luar diri, karena tidak akan menghasilkan perubahan yang mendasar, hanya berpindah dari satu akibat ke akibat lainnya yang berasal dari citra sebab yang sama. Oleh karena itu perubahan mendasar hanya terjadi dengan cara mengubah sebab, yaitu mengubah realitas dalam diri sebagai tempat bersemayamnya sebab yang sesungguhnya.

Dapat pula dikatakan bahwa dalam hal penciptaan dan perubahan, kekuatan sesungguhnya ada dalam diri, sebagai tempat bersemayam sebab, dan bukan pada realitas luar diri yang merupakan tempat mewujudnya segenap akibat. Ubahlah realitas dalam diri maka secara otomatis realitas luar diri akan berubah dengan sendirinya, karena ia memang merupakan perwujudan luar dari realitas dalam diri sebagai akibat semata. Kekuatan untuk mengubah ada dalam diri dan bukan pada luar diri. Sehingga, mengubah realitas dengan cara menyerap kekuatan di luar diri tidak akan menghasilkan perubahan besar karena ia hanya bermodalkan kekuatan yang bersemayam di alam akibat, bukan dari sumber kekuatan sesungguhnya yang ada di alam sebab, yaitu alam dalam diri.

Pada alam dalam diri, alam sebab, bersemayam diri nonfisik dan Tuhan. Pada alam luar diri, alam akibat bermukim diri fisik dan lingkungan. Penciptaan berawal dari interaksi antara diri nonfisik dengan Tuhan yang menghasilkan realitas internal melalui proses berpikir. Berpikir pada diri tidak dapat berdiri sendiri karena ia tergantung murni pada Yang Maha Berpikir yang sekaligus sebagai Maha Mencipta. Oleh karena itu setiap kali terjadi aksi pikir maka ia terhubung langsung dengan Tuhan, sehingga proses penciptaan internal terjadi dan hal ini secara otomatis akan dilanjutkan ke penciptaan dunia eksternal.

Pada tahap inilah seseorang mempunyai akses untuk menciptakan realitas diri dan lingkungannya. Dengan cara menyengaja berpikir dan menciptakan gambaran lengkap dalam diri seperti apa realitas eksternal yang diinginkan secara kontinyu yang diperhadapkan langsung secara mental kepada Yang Maha Mencipta, maka gambaran tersebut akan memiliki kekuatan untuk menyata. Semakin intens secara mental gambaran ini dilakukan tiada henti di hadapan Yang Maha Mencipta, semakin kuat pula dayanya untuk mengekternalisasi diri untuk menjadi kenyataan. Semakin kuat daya yang ada pada alam dalam diri, alam sebab, maka semakin terdesak pula ia untuk menyata dalam dunia luar diri.

Tuhan adalah Master Mind dan manusia adalah mind yang di dalamnya bersemayam semua potensi, dalam tingkatan ini kondisi serba pasif. Murni alam potensi. Yang membuat potensi ini keluar dari dirinya adalah proses berpikir. Dan, kemampuan berpikir itu ada pada manusia. Pada manusia, mind begitu bergerak menjadi berpikir dan berpikir ini menyentuh Master Mind yang Omnipotent, mengandung semua potensi. Proses berpikir menyentuh Master Mind mengakibatkan Omnipotent mengeluarkan potensinya yang sesuai dengan citra pikiran yang menyentuhnya. Jika citra positif yang dibawa oleh pikiran, maka ia akan mengundang keluar realitas positif dari persemayaman potensinya. Jika pikiran membawa citra negatif, maka ia akan mengeluarkan realitas negatif dari persembunyiannya untuk merealitas ke dunia eksternal.

Pikiran yang lengkap menghasilkan visi, gambaran batin atau realitas batin yang juga merupakan hasil dari interaksi dengan Yang Maha Berpikir. Gambaran ini, yang sebenarnya hasil dari Yang Maha Berpikir, akan secara otomatis dicarikan jalan untuk merealitas ke dunia eksternal oleh Yang Mahacerdas dan diri yang berpikir dan bervisi hanya terikut saja dalam proses ini. Dengan berpikir, jika kita menciptakan realitas-realitas kesempurnaan dalam diri secara kontinyu, maka kita akan memanen realitas tersebut dalam dunia eksternal, begitu pun yang terjadi pada proses sebaliknya. Nasib kita ada dalam kepalan tangan kita sendiri, bukan dalam  kepalan tangan orang lain atau apa pun.

 

Sumber gambar: http://communicationstyles.org/wp-content/uploads/2015/09/attention.jpg

 

 

The following two tabs change content below.

Herman Pabau

Penulis lepas, penyuka tasawuf, filsafat dan sastra, menetap di Makassar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *