The Science of Getting Rich

Soekarno, sejak muda, telah melakukan dua langkah penting  yang mengantarkan ke arah Indonesia merdeka. Langkah tersebut, baik beliau sadari atau tidak, sangat jelas berperan nyata. Tanpa langkah penting ini, sepertinya, mustahil dicapai kemerdekaan Indonesia. Langkah-langkah tersebut adalah: pertama, sejak muda Soekarno punya visi atau pandangan batin yang jelas tentang seperti apa Indonesia merdeka;  kedua, beliau berjuang tanpa henti dengan ikhlas merealisasikan visi tersebut. Kedua virus ganas inilah yang dengan gagah berani Soekarno tularkan kepada siapa pun sehingga mewabah tak terbendung dalam hitungan sekitar seperempat abad, hasilnya adalah proklamasi bagi Indonesia merdeka.

***

Eksakta. Ilmu untuk menjadi kaya itu adalah ilmu pasti, sebagaimana matematika dan sama sekali bukan kekuatan magis dan sejenisnya. Demikian ungkap Wallace D. Wattles dalam bukunya The Science Of Getting Rich terbitan 1910, lebih dari seabad yang lalu. Beliau seorang penulis, pengusaha, pendidik dan motivator yang sukses di zamannya. Sebagaimana ilmu eksakta yang lain, jika dioperasikan hukum-hukumnya dengan benar maka akan menghasilkan kepastian yang terukur. Demikian pula dengan ilmu menjadi kaya, jika dijalankan hukum-hukumnya dengan benar maka pasti menghasilkan kekayaan. Kaya bukan hasil dari kerja atau berada di lingkungan kaya, jika hal itu benar, maka semua orang yang bekerja dan berada di lingkungan kaya sudah pasti menjadi orang kaya. Kenyataan tidak demikian, namun kaya adalah hasil dari mengoperasikan hukum-hukum kekayaan. Jika dijalankan hukum-hukum menjadi kaya tersebut, apakah secara sadar atau tidak, ia pasti menghasilkan kekayaan.

Menurut Wattles menjadi kaya itu wajib, sebab untuk mengaktualkan diri menjadi manusia sempurna sebagaimana kehendak Tuhan butuh berbagai hal yang berkaitan dengan pengembangan diri tersebut. Dan, dengan memiliki kekayaan berlimpah manusia dapat memanfaatkan kekayaan tersebut untuk pengembangan diri sehingga lebih mudah untuk menjadi yang terbaik dalam hidup dan mengelola kehidupan. Kebalikannya, kemiskinan membatasi manusia untuk menjadi yang terbaik dalam kehidupan sehingga kehadirannya tidak maksimal bagi kemaslahatan. Wattles menolak kemiskinan struktural dan sejenisnya, akan tetapi kemiskinan adalah hasil dari tidak diterapkannya satu ilmu pasti, yaitu sains untuk menjadi kaya.

Menurut Wattles alam semesta ini merupakan ketunggalan kosmik yang di dalamnya berlaku hukum-hukum alam yang eksak. Dalam ketunggalan ini tidak ada yang terlepas mandiri, akan tetapi semua terhubung satu dengan yang lainnya. Ada hukum-hukum tertentu yang berlaku antar unsur-unsur dalam kosmos yang tunggal itu, termasuk hukum menjadi kaya. Bahwa hidup ini berbasis pada penciptaan, dari yang dikatakan tiada menjadi ada dan dari yang ada menjadi banyak, bertumbuh. Penciptaan itu sifatnya bertumbuh. Dari penciptaan yang bertumbuh itulah melahirkan keberlimphan, kekayaan.

Dalam ketunggalan kosmik mencakup: 1) sumber segala sesuatu, 2)kekuatan penciptaan dan, 3) realitas nyata dari ciptaan. Ketiga hal ini terhubung-kait antara satu dengan yang lainnya. Segala sesuatu yang ada dalam hidup ini memiliki asal, dan asal dari segala sesuatu hanya satu, yaitu alam Formless Omnipotent, alam multi potensi tanpa bentuk. Semua yang ada dalam hidup ini berasal dari bahan asal yang satu dan sama, yaitu Formless Omnipotent tak berbatas. Begitupun dengan semua jenis kekayaan, juga berasal dari sumber tak berbatas yang satu ini.

Formless Omnipotent tidak berubah dari kondisinya yang tanpa bentuk multi potensi hingga ia disentuh oleh kekuatan penciptaan, yaitu thought, pikiran. Pikiranlah yang memiliki kekuatan mencipta, yang mengeluarkan Formless Omnipotent dari kondisi asalnya menjadi manifestasi yang berbentuk. Pikiran yang merupakan titisan dari Yang Mahacerdas ini tertitipkan dalam diri manusia, sehingga manusia menjadi agen yang dahsyat dalam mencipta, termasuk mencipta kekayaan. Dengan demikian, untuk menjadi kaya, manusia tidak perlu keluar dari dirinya, cukup memaksimalkan kerja pikirannya dalam mencipta guna mengubah Formless Omnipotent tak berbatas menjadi berbagai jenis kekayaan yang ia inginkan. Benarlah kata para tetua dahulu, kunci rahasia kehidupan ada dalam diri manusia, termasuk kunci kekayaan. Kalau ada yang masih hidup dalam kemiskinan, berarti kunci kekayaan tersebut hilang dalam dirinya atau setidaknya tidak pandai menggunakan kunci tersebut.

Everything created twice, segala sesuatu tercipta dua kali, termasuk kekayaan. Pertama, kekayaan diciptakan dari Formless Omnipotent oleh pikiran ke dalam bentuk visi batin, ke dalam bentuk gambaran batin. Kedua, selanjutnya kekayaan dalam bentuk visi batin tersebut diubah ke alam nyata dengan kekuatan-kekuatan lahiriah. Kedua tahapan ini dilakukan secara bertahap berurutan sekaligus bersamaan sebagai sebuah keniscayaan hukum untuk menjadi kaya. Tahap pertama adalah kerja batin dan tahap kedua adalah kerja lahiriah, namun dalam pelaksanaannya kedua tahap tersebut dijalankan bersamaan. Kekayaan adalah hasil dari aktivitas penciptaan batiniah yang dihadirkan melalui kerja ikhlas ke dalam dunia nyata.

Menurut Wattles, untuk menjadi kaya adalah pekerjaan sederhana, cukup melakukan dua tahap di atas. Dengan pikiran, berasal dari keberlimpahan tanpa batas Formless Omnipotent, sehingga tanpa kompetisi, ciptakan gambaran terang dalam diri jenis kekayaan apa yang diinginkan. Biarkan gambaran ini, visi batin ini, senantiasa hidup dalam diri kapan dan di mana pun sehingga ia menjadi sebuah kehendak kuat secara alami untuk menyata. Selanjutnya lakukan secara lahiriah apa saja yang dapat dilakukan secara sempurna, sekalipun hal tersebut secara kasat mata sama sekali tidak berhubungan dengan gambaran visi batin kekayaan yang diharapkan. Bertindaklah sekarang, untuk saat ini, bukan bertindak untuk kemarin atau yang akan datang, karena kita hidup dalam konteks kekinian. Karena dalam ketunggalan kosmos, biarlah Yang Mahacerdas, dengan kesempurnaan pengetahuannya, menghubungkan setiap detail tindakan sempurna yang dilakukan dengan visi batin yang dicipta sebelumnya, sebagai kekuatan untuk membumikan jenis kekayaan yang diinginkan. Dalam bahasa sederhana, niatkan setiap tindakan sesempurna mungkin dengan ikhlas sebagai upaya untuk membuat nyata visi batin yang telah dicipta sebelumnya.

***

Jika disimak dengan rinci tulisan-tulisan Soekarno, sangat jelas tergambarkan beliau melakukan kedua tahapan yang disebutkan Wattles. Dengan kekuatan mencipta dalam pikirannya, Soekarno mengurai Formless Omnipotent menjadi visi batin berbentuk masa depan yang terang tentang Indonesia merdeka. Visi batin inilah yang beliau bawa kapan dan di mana pun, yang beliau kawinkan dengan kerja nyata ikhlas setiap detailnya secara terus-menerus tanpa henti untuk membumikan visi mulia tersebut.

Kedua tahap tersebut harus hadir bersama. Visi batin Indonesia merdeka tanpa kerja ikhlas berkelanjutan sama dengan kerja ikhlas berkelanjutan tanpa visi batin  Indonesia merdeka, sama-sama tidak menghasilkan Indonesia merdeka. Ini satu formula eksak. Keduanya harus padu, sama sekali tidak dapat diambil salah satu dan yang lainnya diabaikan. Kedua tahap yang dilakukan Soekarno ini, tentu dapat pula dilakukan oleh siapa pun untuk memperoleh jenis kekayaan yang ia kehendaki.

Ilmu hudhuri menyebutkan formulasi: Tuhan-dalam-diri, diri-dalam Tuhan. Ketunggalan mengikat kepaduan hamba dengan Tuhan. Ada titisan Tuhan Yang Mahakaya,  Yang Maha Mencipta dalam diri manusia. Manakala kehendak Tuhan dengan kehendak manusia telah selaras, maka tiada kekuatan yang dapat menghalangi pembumian kehendak tersebut. Hamba yang kaya tak selamanya salah, selama ia merupakan manifestasi dari Tuhan Yang Mahakaya, bukan manifestasi dari diri yang egosentris dan penuh keterbatasan.

 

Sumber gambar: https://pipiiinnn.files.wordpress.com/2011/11/pikiran.jpg?w=842

 

The following two tabs change content below.

Herman Pabau

Penulis lepas, penyuka tasawuf, filsafat dan sastra, menetap di Makassar.

0 thoughts on “The Science of Getting Rich”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *