Tiada Pertanyaan yang Berakhir Pada Pertanyaan Itu Sendiri

Semuanya berlalu begitu saja, tapi saya tak tahu untuk apa. “Apa yang terjadi setelah suatu urusan usai?”, mungkin rehat sejenak, pikirku. “Tapi, apa yang terjadi setelah waktu rehat usai? Barangkali hidup hanya seputar itu-itu saja. Kalau pun tidak, “Mengapa tidak ada rehat yang benar-benar rehat? Mengapa tidak ada kesibukan yang benar-benar menyibukkan?”, sehingga semua bisa keluar menuju ruang yang tak memiliki sekat, prasangka, perasaan, serta hubungan sebab-akibat.

Pertanyaan-pertanyaan itu yang kemudian berulang kali menghinggapi kepala. Di tiap-tiap sudut sepi dan ramai. Ia menagih jawaban yang selama ini tak bisa kusiasati. Ia hadir seperti gayung kamar mandi yang dinding-dindingnya mulai timbul bercak-bercak hitam. Tubuh yang telanjang dan harap cemas terkena air dingin pagi itu, serta sikat gigi yang selalu bikin bingung. Akan ditaruh dimanakah ia?. Pasal, tak ada tempat untuk menyimpan peralatan mandi di ruang yang hanya dipisahkan dinding dua kali tinggi manusia itu.

Syahdan, kebingungan merayap ke mesin motor yang pekan lalu divonis mesin turun. Entahlah saya tidak begitu paham, atas apa yang dikatakan montir bengkel. Mungkin sudah tidak sehat lagi, pikirku. Tapi, toh saya harus tetap memakainya, selain alasan berhemat. Saya juga merasa telanjur mengenali motor yang sudah keluar semasa saya masih kanak-kanak. Memakainya serasa menuntun orangtua yang senang duduk di halaman rumah, berjemur diri sembari meneriaki orang-orang yang lalu lalang tak acuh padanya. Lamun, ia masih tetap menyukainya. Ia masih ingin berkelana. Belakangan ini ia juga jarang mengeluh, mungkin bosan dipreteli. Atau mungkin ia putuskan untuk menahan perih yang terus meradang.

Sepagi itu, selepas bersiap, mengenakan pakaian dan sekonyong-konyong menujukan motor ke kampus. Kelas berlangsung sebagaimana biasanya, saya merasa tidak ada yang menarik hari itu. Manusia-manusia dituntut untuk fokus. Hingga waktunya tiba, semua pulang dan kembali rehat. Jikalau hari itu tak banyak kuliah, mungkin balik ke indekos atau pergi kemana yang sekiranya tidak membuat diri berada pada lingkaran itu-itu saja, alias rehat dalam bentuk lain.

Begitulah saya menyimpulkan sesaat. Hidup untuk sibuk, hidup untuk rehat. Tak ada yang bisa memilih untuk tetap berada pada satu sisi. Tapi, ketika saya pikir-pikir:

Bukankah rehat juga masuk dalam rutinitas? Maka Adakah sesuatu yang selangkah saja keluar dari hakiki lingkaran menyebalkan atau ke-rutinitas-an itu?.

Jadilah pasrah dan quote “basi” yang menghiasi kepala. “Jalani aja dulu, nanti sampai juga” menjadi simbol bagi yang menyimbolkan apa yang saya rasakan akhir-akhir ini. Padahal, jika dipikir-pikir apa bagusnya kata-kata itu, tak menjamin sesuatu. Arahnya tak jelas, tingkat kerendahan dirinya pun tak sungguh-sungguh merendah. Seolah merasa ingin menenangkan seseorang, tapi kalimat selanjutnya berpotensi bikin orang tak tenang. Pasal orang jadi berharap. Seperti putri malu yang merayakan hari mekarnya, ketika bulir hujan usai menghantamnya bertubi-tubi sepanjang musim. Lamun di penghujung kemarau ia menyalak juga minta musim kembali. Padahal, kalau musim kembali, hampir-hampir ia tak bisa merasa kebebasan. Pasal harus menguncup sepanjang hujan merajai.

Kelas hari itu pun berakhir, saya memutuskan untuk ke perpustakaan. Lagi-lagi seperti hari yang lalu. Ambil buku, nyalakan laptop, nyambung ke wifi kampus. Sekonyong-konyong menghabisi waktu dengan imajinasi peran sebagai ksatria yang tersisa di medan perang. Namun, nahasnya seperti perang yang tak berkesudahan, mati lalu hidup kembali. Tak ada yang sungguh-sungguh mati di sini, baik saya atau lawan imajiner, yang ada hanya berdamai dengan diri sendiri.

Seiring saya berdamai dengan perang imajinasi dan kesendirian. Seorang teman datang, yang sesuai janji, hendak mengerjakan tugas yang menghantui kami tiap pekan. Itu artinya membuat saya kembali ke sebuah rutinitas yang membosankan itu lagi. Oh, tidak, barangkali hanya berpindah ke rutinitas yang lain saja. Bukankah, sudah kubilang semua ini hanya rutinitas, lingkaran yang tanpa ujung? Bahkan rehat pun masuk dalam lingkaran itu.

“Apa yang terjadi setelah suatu urusan usai?”, mungkin rehat sejenak, pikirku. “Tapi, apa yang terjadi setelah waktu rehat usai? Barangkali hidup hanya seputar itu-itu saja. Kalau pun tidak, “Mengapa tidak ada rehat yang benar-benar rehat?, “Mengapa tidak ada kesibukan yang benar-benar menyibukkan?”. Suara itu kembali bermunculan di kepala. Tak kuhiraukan dia kali ini, kubiarkan menderu-deru. Toh, nanti juga diam sendiri, pikirku.

Suasana berlangsung kembali seperti hari-hari, pekan, bulan, tahun yang lalu. Tak ada yang signifikan untuk bisa diajak bebas yang benar-benar bebas. Langit siang sampai sore hari pun sama persis dengan hari-hari yang lalu. Kalau tidak hujan ya mendung, berawan dan cerah. Itu-itu saja. Kendaraan juga tidak ada yang berubah, masing-masing sibuk dengan dirinya sendiri. Tak ada yang mau saling mengalah, saling sikut, paling merasa lebih penting dari yang lain. Oh, tuhan lihatlah pengamen, pengemis difabel dan penjual asongan di jalan itu juga masih tetap sama. Mereka masih berkutat di situ-situ saja, masih banyak menerima ketidakacuhan. Kaca-kaca mobil ditutup rapat enggan mengeluarkan sepeser pun, pengendara motor tetiba acuh dengan ponsel genggamnya yang tidak ada apa-apa masuk, atau pura-pura tidak melihat. Apalagi engkau, tuhan yang maha melihat lagi maha mengetahui segala sesuatu. Semua-muanya berjalan seakan engkau tidak berada pada rutinitas mereka yang membosankan.

Maka malam pun berdiri tegak pada pukul tujuh malam waktu bagian barat. Dengan gas motor yang dipacu lunglai, saya memasuki pemukiman yang unik itu. Karena ada tulisan, “Silakan ngebut” dan tak ada polisi tidur satu pun yang menjelma keresahan warga. Umumnya, orang-orang yang hidup di jalan-jalan sempit melarang pengendara ngebut di jalan depan rumahnya. Lamun, jalan menuju indekosku berbeda. Sepertinya, mereka lebih paham bahwa tidak ada yang berhak melarang orang lain, selain diri sendiri. Toh, percuma, dilarang pun beberapa orang akan melanggar. Sebab itulah hakikat manusia bebas, yang berhak melarang hanya keyakinannya dalam bentuk ketuhanan atau hal-hal yang menurutnya sakral. Itu pun bukan dalam bentuk larangan, melainkan menasihati dan menegur semata untuk tak berbuat semena-mena.

Dalam diam yang sebentar lagi tiba di penghujung malam, saya menuntun motor tua itu kembali ke parkiran indekos, meletakkan helm, memeriksa apa yang perlu diperiksa, menaiki tangga, menuju kamar mandi. Sekonyong-konyong saya sudah tiba kembali di kamar yang baru saya tempati sebulan. Seperti biasa, suara itu muncul kembali. Sebelum melepas saya ke dalam dunia lelap.

“Apa yang terjadi setelah suatu urusan usai?”, mungkin rehat sejenak, pikirku. “Tapi, apa yang terjadi setelah waktu rehat usai? Barangkali hidup hanya seputar itu-itu saja. Kalau pun tidak, “Mengapa tidak ada rehat yang benar-benar rehat?, “Mengapa tidak ada kesibukan yang benar-benar menyibukkan?”. Dan seperti biasa saya belum kunjung menemui jawabannya.

***

Beberapa bulan terakhir, sesekali saya menyetel musik atau memutar beberapa video di platform youtube. Tujuannya untuk menemani jelang tidur, ya sekedar menuntun saya ke alam mimpi. Bukan karena saya insomnia, pasal saya bisa tidur kalau saya mau. Tinggal pejamkan mata, tunggu beberapa menit pastilah sudah tidak sadarkan diri sampai esok hari. Bukan. Melainkan, saya butuh semacam relaksasi atau bahasa kerennya meditasi. Video yang saya putar pun biasanya berupa musik meditasi atau murrotal quran. Entah mengapa saya senang saja melakukan itu, walau sudah masuk ke dalam rutinitas, saya merasa hal ini tidak membosankan.

Selagi saya mendengar dan mencari-cari meditasi di youtube, tetiba sebuah video muncul di beranda aplikasi dan membuat alam bawah sadar menekannya. Video itu berisi ceramah ustad yang sedang menafsirkan kalimat-kalimat puitis seorang sufi ternama. Ialah Jalaluddin Rumi. Namanya tak asing di telinga, pasal baru beberapa hari yang lalu saya membaca buku kumpulan kisah para sufi di perpustakan. Itu pun setelah lelah memilih buku apa yang hendak saya baca hari itu. Lalu saya menemukan nama dia beserta dengan kisah bijaknya diantara sufi lainnya. Kesan pertama saya ke semua kisah di dalamnya biasa saja, walaupun beberapa curi-curi quotes seorang sufi ternama lainnya, Al-Hujwiri namanya. Mana tahu kepake untuk tulisan atau pembicaraan di tempat lain.

Salah satu yang saya tulis adalah pengertiannya tentang cinta. Beliau mengatakan bahwa “Cinta adalah sebuah kendi yang penuh dengan genangan air. Bilamana cinta terkumpul dalam hati dan memenuhinya, tak ada lagi ruang bagi pikiran kecuali sang kekasih, sebagaimana cinta menghapus dari segala hal selain kekasih”.

Pada saat itu, saya menganggapnya tidak begitu serius, tapi malam itu benar-benar berbeda. Sesuatu mendesak masuk pada penghujung malam. Pada saat saya mencoba untuk memejamkan mata. Tepatnya, saat ustad yang menafsirkan perkataan Rumi itu mengatakan dalam ceramahnya. Bahwa pada gagasan dasarnya hampir semua sufi melampaui yang lahiriah. Selanjutnya disambung dengan ungkapan bahwa:

“Yang lahir itu tidak sejati, yang kelihatan itu tidak asasi”

Tubuh yang telanjur rileks itu pun, manakala usai mendengar beberapa musik meditasi sebelumnya. Kini, tulus mendengar ceramah ustad yang bernama Fahruddin itu secara seksama, teruslah ia memaparkan perkataan Rumi dengan menyentuh kebatinan diri, yang selama ini seolah dibentengi ego yang kokoh.

Entah saya kemasukan apa, tapi, kasur tempat saya berbaring seakan membawa diri kepada suatu padang yang luas. Mataharinya meneduhi, angin-anginnya sejuk membelai lembut, tubuh pun sontak menari bersama orang-orang berjubah putih di sana. Itulah tarian sema atau sederhananya sebutlah tarian sufi, yang membuat tubuh ini begitu ringan, tenang dan khusyuk memuja-Nya. Siluet senja di ufuk sana terlihat elok sebagai latar, kawanan burung terbang berpasangan sebagai pelengkap, bayang-bayang cahaya menambah kesan kasih-Nya. Seakan di tempat itu adalah kesempurnaan yang terbentuk lewat kerendahan hati-diri para makhluk-Nya

Tak lama kemudian, saya perlahan memasuki alam bawah sadar. Membuat saya merasa sedang berdialog dengan sajak penyair kelahiran Afghanistan itu. Membuat saya menerka-nerka pada sisi yang lain atas apa yang terjadi?. Membuat kamar indekos seakan berubah bentuk sebagai ruang tak bertepi dipenuhi bintang-bintang. Dan saya melihat dan merasakan suara-suara dalam tubuh saling bermunculan. Membentuk senyawa yang bersisi lalu bertanya dan menjawab diri mereka masing-masing.

“Apa yang membuat saya merasa terus bertanya-tanya. Perihal Apa yang akan terjadi setelah suatu urusan usai?”, pada satu sisi saya akan menjawab, mungkin rehat sejenak, pikirku. “Tapi, apa yang terjadi setelah waktu rehat usai?. Barangkali hidup hanya seputar itu-itu saja. Kalau pun tidak, Mengapa tidak ada rehat yang benar-benar rehat?, Mengapa tidak ada kesibukan yang benar-benar menyibukkan?”

Pertanyaan demi pertanyaan berloncatan dari dalam diri. Saya menjadi pasif di sini. Tak bisa menguasai apa yang seharusnya bisa saya kuasai. Dalam ketidakberdayaan itu pun alunan merdu seruling menghinggapi kedua lubang telinga. Tapi, setelah kupikir-pikir, bukan telinga yang dihinggapi, lebih tepatnya segala sisi di jantung hati. Membuat saya semakin berlutut dalam pejaman mata yang mulai mengambang.

Mungkinkah ini yang namanya hari kematian sebelum mati itu sendiri. Hari dimana mulut dikunci dan hanya terdengar suara-suara dari sesuatu yang tak pernah bersuara. Nahasnya, saya hanya menyaksikan tanpa bisa menyelah.

Di tengah-tengah nada merdu itu merayap. Timbullah suara dari sajak-sajak Rumi. Ia berkata, “Sekian lama aku berteriak memanggil namamu, sambil terus menerus mengetuk pintu rumahmu. Ketika pintu itu terbuka, aku pun terhenyak dan mulai menyadari sesungguhnya selama ini aku masih mengetuk pintu dalam rumahku sendiri”. Pikiranku seakan menafsirkan bahwa suara sajak itu adalah saya itu sendiri pada sisi yang lain. Lanjutnya, suara sajak itu terdiam sejenak. Sebelum saya benar-benar terhenyak pada larik selanjutnya.

“Selama ini aku masih mengetuk pintu dari dalam rumahku sendiri. Demi Allah, ketika kau melihat jati dirimu sebagai yang maha indah maka kau pun akan menyembah dirimu sendiri. dimana saja kau berada, apapun keadaanmu cobalah menjadi sesuatu atau seorang pecinta yang selalu dimabuk oleh kasih-Nya. Sekali kau dikuasai oleh kasih-Nya maka kau akan hidup sebagai seorang pecinta yang hidup bagaikan dalam pusara”.

Suasana masih tenang dan menyejukkan. Tak terasa angin yang lewat celah-celah jendela indekos menyentuh beberapa titik tubuhku. Suara dari dalam diriku pun kembali berujar.

“Mengapa saya harus jadi pecinta terhadap seonggok yang selama ini diyakini sebatas angan dan momentum ibadah tertentu? Bukankah cukup menjalankan apa yang diperintahnya saja itu cukup?”, Kali ini saya benar-benar tidak bisa mengontrol apa-apa. Seharusnya kalimat itu tidak keluar dari dalam diri. Sebab dia hanya sebagian kecil yang sebenarnya bisa diatasi, tetapi sulit nian untuk diyakinkan seratus persen.

Selepas suara dari arah tertentu bertanya. Suara dari sisi lain, sebagai bentuk jelmaan suara sajak Rumi merasa tak keberatan untuk menjawabnya. Kurasa ia malah tersenyum bahkan tertawa. Di sisi lain kurasa tak ada prasangka di balik suara dan tingkahnya.

“Aku telah cukup bersama-Mu, tanpa kehadiran-Mu, seluruh dunia ini adalah sebatang kayu yang mengapung dan terombang-ambing di samuderaku. Yakinlah, di jalan cintamu itu tuhan akan selalu bersamamu.”

Selepas itu, suara itu kembali mengucapkan sesuatu sekaligus mengakhiri ucapannya yang membuat saya sempurna tertidur. Lagi-lagi saya pun merasa berpindah ke ruang yang lain. semakin masuk ke ruang yang tak bisa dikendalikan.

“Jika kau dapat bertemu dengan jati dirimu meski hanya sekali maka rahasia dari segala rahasia akan terbuka bagimu.”

Dalam hening itu pun saya menyimpulkan, tidak peduli apa yang terjadi, tidak peduli lingkaran membosankan apa ini, yang terpenting adalah seberapa besar kekuatan cintamu untuk memahami dan memberi jawaban atas semua pertanyaan.

“Apa yang terjadi setelah suatu urusan usai?”, (mungkin kita perlu memahami hakiki arti) rehat sejenak, pikirku. “Tapi, apa yang terjadi setelah waktu rehat usai?. Barangkali hidup (bukan) hanya seputar itu-itu saja. Kalau pun iya, “Mengapa (kita perlu gegabah menyimpulkan bahwa) tidak ada rehat yang benar-benar rehat? “Mengapa (kita perlu gegabah menyimpulkan bahwa) tidak ada kesibukan yang benar-benar menyibukkan?”

Barangkali jawaban terbaik dari semua ini adalah bukan berakhir pada pertanyaan itu sendiri. Melainkan akan berlanjut pada pertanyaan seberapa besar kekuatan cintamu? Pasal, kemurnian dan kekuatan cintamu akan membawamu keluar dari ruang tak bertepi. Sebagaimana yang dikatakan Rumi:

“Tanda-tanda seseorang jatuh cinta adalah ketika ia tidak lagi egois”

Maka manusia-manusia tidak perlu memikirkan untuk apa dia menjalani semua rutinitas dan meminta keuntungan atas semua hal terjadi ketika dia sudah berada pada titik kemurnian cinta yang hakiki.


sumber gambar: Pinterest.com

The following two tabs change content below.

Ahmad Mursyid Amri

Termasuk penulis yang lahir dari generasi terakhir 90-an, yaitu tanggal 10-10-1999, lahir dan dibesarkan di kabupaten Bantaeng, pada tahun 2011 beliau memutuskan untuk merantau hanya sebentar, rentang waktu 2011-2014 karena alasan bersekolah di Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta, di sekolahnya satu cerpennya pernah dipublish oleh majalah yang sangat populer di kalangan pelajar sekolahnya, Majalah Sinar Kaum Muhammadiyah, yang berjudul Punya Maksud (2014), lanjut 2014-2017 kembali ke kampung halaman dan mengenyam pendidikan di SMA Negeri 1 Bantaeng, pada masa putih abu-abu itulah juga lahir buku pertamanya berjudul Tacin (2015), dan 2017-sekarang ia memutuskan untuk mengenyam pendidikan di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta jurusan Ilmu Komunikasi.

Latest posts by Ahmad Mursyid Amri (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *