Tutur Tuhan: Relasi Mistik Manusia dengan Allah

Umat manusia senantiasa menyelami jati diri. Salah satu bentuk penyelaman diri tersebut adalah munculnya pertanyaan untuk mengetahui siapa diri manusia sebenarnya. Pertanyaan ini selalu muncul sepanjang umur umat manusia. Beragam jawaban atas pertanyaan ini telah hadir, namun jawaban-jawaban ini tetap saja memancing hadirnya pertanyaan baru. Pencarian jati diri manusia telah melahirkan lautan pertanyaan, namun jawaban terhadapnya juga menghadirkan samudera pertanyaan baru. Kenyataan ini menjadikan upaya pencarian jati diri manusia sebagai aktivitas mengarungi cakrawala keingintahuan tentang diri yang tak bertepi. Proses manusia untuk paham-diri memakan waktu sepanjang rentang umur umat manusia.

Pada saat Tuhan hadir dalam aktivitas pencarian jati diri manusia, pertanyaan baru pun muncul: seperti apa sesungguhnya hubungan manusia dengan Tuhan? Pertanyaan umum ini bisa mengambil bentuk yang lebih spesifik: apakah hubungan tersebut dalam bentuk yang dapat dipahami atau tidak dapat dipahami? Kalau dapat dipahami, apakah hubungan tersebut dalam konteks wujud jamak atau wujud tunggal? Kalau pada kedua konteks tersebut memungkinkan, seperti apa rincian masing-masing relasi tersebut? Dan masih panjang lagi rantai pertanyaan dengan berbagai cabang berikutnya. Semua rantai pertanyaan ini butuh jawaban yang tepat guna menyingkap teka-teki siapa manusia sebenarnya. Dinamika abadi pertanyaan dan jawaban atas jati diri manusia menunjukkan betapa upaya ini merupakan keseriusan tersendiri, juga menunjukkan betapa jelasnya kehadiran manusia dalam hidup ini tapi sekaligus menampakkan betapa kaburnya tentang siapa manusia sebenarnya.

Mengapa ketepatan kenal diri manusia begitu penting? Ketepatan mengenal diri ini berkaitan dengan seperti apa semestinya relasi manusia dengan Tuhan, manusia lain dan alam semesta. Pada saat manusia gagal mengenal diri, maka akan mengundang kerancuan dalam berbagai relasi, termasuk dalam berhubungan dengan Tuhan, manusia dan alam semesta. Kegagalan ini akan menghadirkan kekacauan sistematik dalam kehidupan secara luas. Pada saat manusia gagal mengenal diri yang sesungguhnya, maka ia akan bermasalah dengan dirinya sendiri dan dengan luar dirinya, termasuk dengan Tuhan. Kegagalan manusia dalam mengenal diri dalam arti yang sebenarnya akan meruntuhkan segenap pengetahuan kenal diri dan kenal luar diri yang ia miliki. Semua pengetahuan tersebut menjadi nisbi, tidak dapat dijadikan pegangan untuk merambat menuju kebenaran. Bagaimana mungkin pengetahuan seseorang dipandang benar, sementara dia sendiri tidak mengenal dirinya?

***

Relasi manusia dengan tutur katanya. Apakah manusia dengan ucapannya merupakan wujud tunggal? Ataukah merupakan wujud berbeda yang masing-masing berdiri sendiri? Jika yang dimaksud adalah rekaman dari tutur manusia, dalam bentuk teks, audio atau lainnya, tentu manusia dan tutur katanya merupakan dua wujud yang berbeda. Yaitu, masing-masing bendiri sendiri, wujud manusia dan wujud rekaman tutur katanya. Manusia dengan wujudnya bisa eksis berdiri sendiri, begitu pun dengan wujud rekaman tutur kata manusia bisa eksis tersendiri tanpa bergantung pada keberadaan wujud manusia sebagai penutur. Dan, wujud manusia pun tidak bergantung pada wujud rekaman tutur katanya. Dalam konteks ini begitu tampak bahwa relasi manusia dengan tutur katanya merupakan relasi dua wujud yang berbeda, yaitu wujud manusia dan wujud rekaman tutur kata manusia.

Lain halnya jika yang dimaksud adalah manusia dan tutur kata aktualnya. Maka, relasi keduanya merupakan ketunggalan wujud. Yaitu, manusia dan tutur kata aktualnya berada pada wujud tunggal. Karena, wujud tutur kata aktual sangat tergantung pada manusia. Pada saat manusia sedang bertutur, maka saat itu tuturnya mengaktual. Dan, pada saat berhenti bertutur, maka tutur kata itu lenyap. Adanya atau mewujudnya tutur kata tersebut sangat tergantung pada manusia bertutur secara aktual, jika tidak sedang bertutur maka lenyap pula tutur kata aktual tersebut. Sehingga, secara jelas bahwa wujud tutur kata sangat bergantung pada wujud manusia. Jika direnungkan lebih dalam, maka didapati bahwa, dalam konteks ini, yang memiliki wujud sesungguhnya adalah manusia, sedangkan tutur kata aktualnya tidak memiliki wujud secara azali, hanya bergantung murni pada wujud manusia. Dengan demikian, manusia dengan tutur kata aktualnya ada dalam lingkup wujud tunggal. Berumah pada wujud yang sama.

***

Dalam pandangan tauhid, wujud tunggal, secara hakiki tidak mengizinkan adanya wujud selain Allah. Begitupun dalam memandang relasi Allah dengan manusia tetap harus dalam konteks wujud tunggal. Jika tidak demikian, maka sangat rentan terjatuh pada realitas kemenduaan atau lebih, tergelincir pada kemusyrikan. Kelompok tertentu peniti jalan Tuhan ada yang bermazhab bahwa  secara hakiki diri mereka tiada, bahkan selain diri mereka pun tiada, yang ada, yang wujud hanya Allah semata. Mereka hanya mengenal wujud tunggal, yaitu Allah, tanpa ada wujud lain. Segala bentuk wujud lain selain Wujud Tunggal, akan gagal hadir dan gagal dipahami tanpa adanya Wujud Tunggal, karena hanya Wujud Tunggal itulah semata yang ada dan menerangi. Keniscayaan adanya Wujud Tunggal merupakan cahaya yang menerangi segalanya.

Lalu seperti apa relasi Allah dengan manusia? Ada banyak jawaban yang telah hadir untuk menjawab pertanyaan ini. Diantara jawaban tersebut ada yang berupaya kukuh pada konsep ketunggalan wujud dengan berbagai pernak-perniknya. Untuk menjelaskan sebentuk relasi dalam konteks wujud tunggal ini mereka membuat sejenis analogi bahwa hubungan Allah dengan manusia sebagaimana hubungan Allah dengan Kalam Aktual-Nya, walaupun tak semirip persis ulasan hubungan manusia dengan tutur aktualnya pada penggalan tulisan di atas yang menunjukkan eksis dalam ketunggalan wujud.

Relasi Allah dengan manusia adalah sebentuk relasi Allah dengan Kalam Aktual-Nya. Relasi Allah dengan Tutur Aktual-Nya. Tutur Aktual atau Kalam Aktual Allah senantiasa bergantung murni pada Wujud-Nya, begitupun segenap wujud lainnya, termasuk manusia. Wujud-Nya melampaui ruang dan waktu, sehingga pada-Nya, di sisi-Nya segala sesuatu adalah aktual. Karena itu, kalaupun, untuk sekadar kepentingan pencerapan atau pemahaman, harus hadir relasi, maka relasi itu pun bentuknya aktual. Karena tiadanya wujud selain-Nya, maka segala bentuk relasi di sisi-Nya adalah niscaya dalam Wujud Tunggal. Begitupun relasi Allah dengan manusia, merupakan relasi aktual dalam konteks dan konsep Wujud Tunggal.

Manusia terpelanting masuk ke dalam wujud jamak dan keterpisahan, masuk ke dalam ambiguitas wujud sistematis kata Mulla Shadra,  namun ia sekaligus juga dirangkul dalam Wujud Tunggal-Nya, dalam Nafas Ar-Rahman kata Ibnu Arabi. Ia dan Nafas Ar-Rahman-Nya identik. Manusia berenang dalam keterpisahan di lautan wujud jamak, namun pada kedalaman Samudera Kasih-Nya, manusia ada pada Napas Ar-Rahman-Nya, yang Ia dan Napas Ar-Rahman-Nya utuh dalam Wujud Tunggal-Nya. Dan Tuhan pun berbisik lembut, menantang manusia untuk bermusafir kepada-Nya: “Aku lebih dekat padamu daripada kamu terhadap urat lehermu!”

 

Sumber ilustrasi: https://konsultasisyariah.com/24942-derajat-manusia-di-hadapantuhan-itu-sama.html

The following two tabs change content below.

Herman Pabau

Penulis lepas, penyuka tasawuf, filsafat dan sastra, menetap di Makassar.

Latest posts by Herman Pabau (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *