Menampilkan: 1 - 7 dari 7 HASIL

Antara komunikasi dan Seorang figur publik.

Kepiawaian dalam berkomunikasi menjadi syarat mutlak bagi seorang figur publik. Bahkan pun pada level yang lebih sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Komunikasi menjadi penanda paling jelas bahwa manusia adalah makhluk sosial. Bagaimana pun cara komunikasinya.

Terkhusus bagi seorang figur publik. Kekeliruan dalam penggunaan kata dan penyusunan kalimat bisa berakibat fatal. Sebut saja kasus yang menjerat  Ahok perihal pidatonya di kepulauan seribu. Terlepas dari persoalan benar beliau menista agama atau tidak dalam hal ini ada sebagian pihak yang merasa dan karenanya mendakwa  Ahok menista agama Islam.

Tentunya tulisan ini tidak sedang mempersoalkan kasus hukum yang menjerat  Ahok. Apalagi menggugat putusan hukumnya. Tulisan ini sekadar menyoroti beberapa hal yang melatarbelakangi konten serta muatan dari seorang komunikator secara umum.

Seyogyanya komunikasi apapun bentuknya mengandung muatan kepentingan dari si subjek. Paling tidak,  ya,  iseng atau sekedar basa-basi. Berangkat dari definisi maupun tujuan komunikasi itu sendiri (untuk definisi silahkan googling sendiri).

Pada pidato  Ahok di kepulauan seribu misalnya. Walau kunjungan beliau pada waktu itu dalam kapasitasnya sebagai pejabat publik namun latar konteks saat itu juga menjelang pilkada DKI Jakarta. Sehingga pidatonya bernuansa “kampanye terselubung”. Pidato bermuatan propaganda colongan dalam upayanya mempengaruhi segenap hadirin yang ada dengan me-reinterpretasi ayat di surah al-maidah [51] yang viral digunakan untuk menyerang beliau.

Atau perhatikan gaya komunikasi  Anies Baswedan. Betapa menggugah ketika masa kampanye dan debat publik. Sering kita dengar pantun maupun puisi serta interpretasi segar dari dogma-dogma klise yang terlanjur di-amini masyarakat. Sayangnya tidak kita temui lagi semangat itu ketika beliau sudah menjabat Gubernur DKI. Jika kita perhatikan secara seksama, betapa kontras perubahan komunikasi  Anies sebelum dan sesudah menjadi gubernur.

Begitulah komunikasi massa. Demikian itulah figur publik. Komunikasi memiliki maksud dan tujuannya. Apakah itu sifatnya sebuah pencerahan (positif), propaganda hoax (negatif), dalam upaya pengalihan isu, atau sebuah klarifikasi. Keberhasilan komunikasi juga bergantung pada ketepatan penggunaan bahasa berikut gaya bahasa si komunikator. Maksudnya, jangan menggunakan bahasa langit untuk kalangan bawah tanah. Sebisa mungkin pergunakan bahasa yang sesuai.

Lebih lanjut, pada komunikasi seorang figur publik muatan dan nuansa konten komunikasi sangat bergantung dengan identitas yang melekat. Dan berdasarkan itu (identitas) menentukan sudut pandang dan kepentingan pandang (interest) si komunikator atau seorang figur publik.

Dilihat dari kerangka berpikir di atas, maka menjadi tidak mengherankan perubahan gaya komunikasi yang dilakukan  Anies. Segar, kritis, bersemangat ketika kampanye tetapi “old school” ketika sudah menjabat. Sebagaimana kita sudah tidak kaget dengan perubahan gaya komunikasi misalnya seorang aktivis LSM atau mahasiswa yang hilang daya kritisnya ketika sudah masuk ke ranah politik, atau perubahan gaya komunikasi seorang caleg baik saat masa kampanye maupun setelah rilis dari KPU.

Mungkin sudah sering kita temui bagaimana perubahan gaya komunikasi dari seorang figur publik di berbagai kesempatan. Mungkin juga karena seringnya perubahan itu sehingga kini kita menjadi mafhum. Sehingga diam-diam kita kangen seorang figur publik yang konsisten sebagaimana gegap gempitanya Bung Karno sebelum maupun sesudah menjadi Presiden atau easy going nya Gus Dur. Bahkan ketika beliau dilengserkan.

Tenggarong, 17 November 2017.

Teror Hantu

Lucas baru saja datang dari wangsa yang jauh: Belanda. Ia mengunjungi Kelurahan Samalewa, Pangkep, untuk meneliti sejarah Kerajaan Siang. “Ruangannya sudah dibersihkan Pak, silakan masuk. Biar saya yang mengangkat barang-barangnya,” kata pemilik indekos. Tapi Lucas hanya mengajukan telapak tangannya ke arah pemilik indekos, sebagai tanda penolakan. “Biar aku saja,” katanya, dengan bahasa Indonesia yang cukup fasih. Sehingga dibawalah sendiri barangnya memasuki kamar.

Di Samalewa memang cukup banyak tersebar indekos. Sebab orang yang berasal dari kabupaten lain, khususnya kabupaten terdekat, memilih menyekolahkan anaknya di suatu sekolah menengah ternama di Pangkep yang didirikan di Samalewa. Sehingga, warga setempat memanfaatkan kesempatan itu. Beberapa warga mendirikan indekos untuk anak-anak dari luar yang mengenyam pendidikan di sekolah tersebut. Tapi Lucas datang sebagai sejarawan. Dan sebenarnya ia bisa menyewa tempat yang lebih mewah lagi. Cuma ia merasa indekos itu lebih dekat dari tempat penelitiannya, sehingga ia lebih memilih menetap di sana.

“Hai Sukri….,” pemilik indekos memanggil orang yang melintasinya setelah beberapa detik yang lalu Lucas memasuki kamarnya. Orang itu menghampirinya. Kemudian terjadilah percakapan antara keduanya.

“ Tadi malam anakku mengaku ditakut-takuti oleh hantu itu.”

“Dia melihat wajahnya?”

“Seperti anak-anak yang lainnya, dia tidak melihatnya. Hantu itu menakut-nakutinya dengan membuat gelas di hadapannya melayang-layang.”

“Terus?”

“Yah, anak saya ketakutan. Dia tak mau keluar rumah.”

“Meskipun itu siang-siang?”

Pemilik indekos hanya menganggukkan kepalanya.

Permbicaraan mereka didengar oleh Lucas. Sebab si empunya indekos bercengkrama dengan Sukri tidak jauh dari kamarnya. Sehingga pastilah Lucas mendengarnya. Tapi, sepertinya bule itu menganggap serius pembicaraan mereka. Sehingga belum juga puas beristirahat, ia pergi mengintip mereka dibalik jendela, kemudian menguping pembicaraan mereka. Sukri menyadari bahwa Lucas sedang mengintip mereka. Sehingga saat Sukri menatapnya, Lucas berhenti mengintip, dan langsung menutup jendela dengan gorden.

“Dia datang dari Belanda, katanya mau meneliti,” kata pemilik indekos untuk memberikan penjelasan terhadap Sukri mengenai bule itu.

“Dari mana kau tahu?”

“Dia sendiri yang kasih tahu.”

“Memangnya kamu pintar bahasa bule?’

“Dia pintar bahasa Indonesia.”

***

Masih pagi-pagi sekali Lucas sudah mulai menjelajah untuk memulai penelitian. Ia hendak mengunjungi setiap tokoh masyarakat dengan didampingi oleh Sukri. Tentu saja kemarin, sudah terjadi kesepakatan antara Lucas dan Sukri untuk bersama-sama ke rumah masing-masing tokoh masyarakat. Setelah bercengkrama dengan pemilik indekos, Sukri mendatangi Lucas di kamarnya dan bercerita banyak hal khususnya mengenai kondisi Samalewa dan beberapa hal mengenai Kerajaan Siang. Oleh karena Lucas memberitahu niatnya untuk bertemu para tokoh masyarakat kepada Sukri, sehingga Sukri menawarkan kesediaannya untuk menemani Lucas. Pastinya Lucas menerima ajakan itu.

Tokoh masyarakat petama yang mereka kunjungi untuk hari ini adalah Syarifuddin. Seorang yang menurut Sukri bisa memberikan banyak informasi mengenai sejarah Kerajaan Siang dan perihal lain mengenai kebudayaan Pangkep. Mereka hanya berjalan kaki. Dari arah belakang, terlihat rombongan bocah mengikuti mereka sedari tadi. Tentulah bagi para bocah itu, melihat bule adalah hal yang sangat langka, dan hanya bisa mereka temui pada tayangan televisi. Tapi di tengah-tengah perjalanan, Lucas bertanya mengenai hal yang sebenarnya dianggap ganjil oleh Sukri. Sebab menurut Sukri, yang juga seorang guru fisika, sekiranya seorang peneliti tidak peduli dengan hal yang dipertanyakan oleh Lucas.

“Apakah benar di sini ada hantu?”

“Kenapa kau bertanya seperti itu? Kau juga percaya hantu?”

Lucas hanya diam, sembari ditatap penuh heran oleh Sukri.

“Kita sudah sampai”

***

Kediaman Syarifuddin adalah rumah panggung. Di dalam rumahnya berisi perabotan yang terbuat dari logam dan tembaga. Dinding rumahnya berhiaskan foto keluarga dan lukisan pantai di kala sore hari. Mereka kemudian duduk bersama di ruang tamu, dan ditemani oleh sang empunya rumah. Mereka berbincang-bincang sembari anak perempuan Syarifuddin menghidangkan teh dan pisang goreng di atas meja.

“Hmmm… kamu datang dari Belanda yah.” Syarifuddin memulai pembicaraan.

“Iya, Pak”

“Apa yang kamu mau ketahui tentang Kerajaan Siang?”

“Begini Pak….eeee….”

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…….” Anak perempuan Syarifuddin tetiba berteriak saat memasuki dapur. Mereka segera menuju ke sana.

“Kamu kenapa, Nak?” Syarifuddin menghampiri anaknya.

“Ada hantu!” Anak perempuannya terlihat gemetaran dan menutup matanya saking ketakutannya.

Tapi Lucas, Sukri, begitu pun Syarifuddin tidak melihat apapun kecuali perabotan dapur ,beberapa ikat sayur, tiga ekor ikan bandeng mentah yang disimpan di atas piring, dan rempah-rempah.

“Bagaimana wajahnya?” kata Sukri.

Anak Syarifuddin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, “Panci itu tadi melayang-layang. pasti hantu itu yang melakukannya,” sembari menunjuk panci yang berada di atas kompor.

Kemudian istri Syarifuddin datang, dan menemani anaknya masuk ke kamarnya. Dan segera Syarifuddin membaca ayat kursi dan beberapa mantra kuno yang bahkan Sukri tidak tahu maksudnya apalagi Lucas.

“Dia sedang apa?” Tanya Lucas

“Mengusir hantu.” Sukri memandangi Lucas dan berkata, “Kamu sakit yah?”

Lucas dengan tubuh yang gemetaran, wajah yang pucat, dan berkeringat hanya mengeleng-gelengkan kepalanya.

Setelah melakukan ritual pengusiran hantu, Syarifuddin langsung berkata penuh murka di hadapan Sukri dan Lucas. “Aku tidak terima kalau daerah ini diteror oleh hantu!” Kemudian ia menatap Sukri dan berkata, “Sampaikan pada pak lurah bahwa sebentar malam kumpul di rumahku. Biar saya yang kumpulkan semua tokoh adat. Kita akan lakukan ritual pengusiran hantu. Sudah banyak anak-anak yang diteror oleh hantu busuk itu. Ini tak bisa dibiarkan!”

Sukri hanya mengangguk.

***

Langit menghitam, dihiasi dengan pendar gemintang. Siang telah berganti malam. Di kamarnya, Lucas sedang sibuk membuat kalung yang talinya dilingkari susunan bawang putih. Setelah selesai, Lucas mengenakkannya di leher, sembari memegang salib. Raut wajahnya nampak cemas. Sedang tubuhnya disandarkan di pojok dinding. Dia terlihat sangat ketakutan.

Sebenarnya Lucas sangat takut dengan yang namanya hantu. Dia tidak pernah lupa akan trauma masa kecilnya. Suatu ketika, di usia 5 tahun, Lucas mengaku pernah ditakut-takuti oleh hantu. Saat Lucas sedang berak di kamar mandi, ia melihat sabun dan sikat gigi melayang-layang. Sehingga, belum juga ia selesai berak, ia langsung keluar dari kamar mandi menuju kasur, dan membungkus tubuhnya dengan selimut.

Beberapa kali dia memberitahu ibunya, kakaknya dan ayahnya, tapi mereka tidak percaya, bahkan hanya dianggap lelucon. “Mana ada sabun dan sikat gigi melayang –layang.” kata kakaknya. Tapi teman Lucas percaya terhadap ceritanya. Suatu ketika, Lucas menceritakan pengalamannya saat diteror hantu pada seorang temannya. Temannya juga mengatakan bahwa ia pernah mengalaminya. Dia menunjukkan suatu gambar hantu kepada Lucas. Gambar itu adalah drakula. “Sebenarnya Hantu itu adalah ini,” kata temannya sambil menunjuk gambar tersebut. Seketika Lucas ketakutan saat melihatnya, bahkan sempat kencing celana.

Saat ini, dia merasa pergi ke tempat yang salah. Sebab, ternyata tempat yang ia kunjungi di teror oleh hantu. Sementara, kita ketahui bersama, Lucas sangat alergi dengan hantu. Dan aura kamar yang hening, ditambah suara jangkrik yang mengepung telinganya, membuat ia semakin ketakutan. Oleh karena merasa sudah tak tahan, akhirnya ia menelpon Sukri, dan mengundang ke indekos untuk sekadar menemaninya.

“Halo, ini dengan Sukri?”

***

Sukri tertawa terbahak-bahak setelah melihat penampilan Lucas yang menggunakan kalung bawang putih. “Kau tak mengerti, ini juga cara mengusir Hantu,” kata Lucas membela dirinya dari sindiran Sukri.

“Kok peneliti percaya hantu sih.”

“Peneliti juga manusia.”

“Iya, tapi kan, seorang peneliti itu selalu bersikap ilmiah. Hal-hal yang belum bisa dibuktikan secara ilmiah tak mungkinlah dipercayainya.”

“Jadi kau mau bilang tak usah mempercayai hantu?”

“Kita kan belum membuktikannya secara ilmiah. Kamu ini akademisi atau bukan sih.”

“Persoalannya, sudah banyak yang diteror olehnya.”

“Tapi kan bisa saja mereka hanya terpenjara oleh fantasinya. Sehingga hantu yang sebenarnya ilusi, kemudian dianggap nyata.”

Lucas hanya diam.

“Begini saja,” Sukri melanjutkan pembicaraan, “Kita ke rumahnya Pak Syarifuddin saja. Di sana dilangsungkan ritual pengusiran hantu. Siapa tahu dengan menyaksikannya, kamu menjadi lega, dan akhirnya tercipta sugesti dalam pikiranmu bahwa hantu itu benar-benar telah minggat. Gimana?”

Lucas hanya mengangggukkan kepala.

***

Seperti tadi siang, mereka hanya berjalan kaki menuju rumah Syarifuddin, namun sudah tidak lagi diikuti oleh kawanan bocah yang keheranan dan takjub karena melihat bule. Jalanan yang dilaluinya sangat gelap, karena tak ditunjang oleh lampu jalan. Pun, terlihat sangat sunyi karena semua warga memilih nimbrung di rumahnya masing-masing, apalagi dengan adanya rumor mengenai teror hantu, pastilah di malam hari mereka tidak berani keluar, meskipun hantu ini sangat pandai menyesuaikan diri dengan situasi. Sebab di siang hari, ia juga bisa melakukan teror.

Di tengah-tengah perjalanan, mereka berdua tetiba berhenti. Ada sesosok orang yang sedang berdiri di tengah-tengah jalanan. Oleh karena gelap, mereka tidak bisa mengenali orang itu. Pun, mereka hanya dibekali pencahayaan yang tak cukup terang dari handpone-nya. Maka pastilah tidak bisa digunakan untuk menerangi perihal yang jaraknya cukup jauh.

Maka untuk memastikannya, mereka berdua melanjutkan perjalanan, sembari mendekati orang itu. Dan setibanya di sana, “Ha…ha… hantuuuuuuuuuuuuu…..” Sukri berteriak dan lari terbirit-birit pasca melihat orang itu. Parasnya sangat jelek, seperti wajahnya dipenuhi bisul. Rambutnya panjang menyentuh tanah. Sedang pakaiannya serupa gamis berwarna putih, sangat kotor dan kumuh. Dia sangat menakutkan. Dialah hantu itu. Tapi yang aneh adalah, Justru Lucas tidak lari. Padahal hantu itu sudah jelas ada dihadapannya.

“Kata Sukri ada hantu tapi kok aku tidak melihatnya.” Lucas mengarahkan penglihatannya di setiap penjuru. Tapi tidak melihat apa pun, seperti batu yang melayang, atau ranting pohon yang melayang. Kemudian dia berkata, “Maaf, anda siapa?”

“Akulah hantunya.”

Lucas hanya diam, sambil memandangi hantu itu.

“ Kamu tidak takut yah?” kata hantu itu.

“Hahahaha…jangan bercanda begitu. Nanti hantunya benar-benar datang”

“Akulah hantunya, Bego!”

“ hahahahaha… kau kira saya goblok. Hantu itu pakai jas hitam, wajahnya pucat pasih, dan memiliki dua taring. ”

Hantu itu kebingungan. Dia akhirnya berlalu, meninggalkan Lucas seorang diri.

Musim Kawin dan Uang Panai

“Semoga Allah menghimpun yang terserak dari keduanya, memberkahi mereka berdua dan kiranya Allah meningkatkan kualitas keturunan mereka, menjadikannya pembuka pintu rahmat, sumber ilmu dan pemberi rasa aman bagi umat.”

Setelah lebaran haji, puluhan undangan pernikahan jatuh tempo pelaksanaanya, dialamatkan ke mukim saya. Entah itu dari kerabat, tetangga dan kolega. Latar sosialnya pun aneka rupa, mulai dari pejabat hingga orang kebanyakan. Dari puluhan undangan itu, setiap kali mencermatinya, selalu saja dicantunkan sejenis doa yang dipanjatkan, yang doa itu dirujukkan pada Nabi Muhammad SAW, kala  menikahkan putrinya, Fatimah Az-Zahra dengan Ali bin Abi Thalib, sebagaimana saya nukilkan di atas. Dan, sudah menjadi rahasia umum, pernikahan putri Nabi itu, amat mudah maharnya, sangat murah pestanya.

Bagi masyarakat yang berlatar suku Bugis-Makassar, yang mayoritas menganut agama Islam, pastilah berupaya untuk selalu merujukkan acara pernikahan, pada agama serta adat yang memayunginya. Karenanya, sependek pengamatan saya akan peristiwa pernikahan ini, dalam siklus satu tahun, selalu saja ada bulan-bulan tertentu, yang mengacu pada kalender Hijriah, guna melaksanakan perkawinan. Sehingga, pada bulan-bulan tersebut, nyaris setiap hari ada yang kawin. Tepatlah, jikalau saya menamakannya sebagai musim kawin.

Bulan yang paling umum itu, misalnya, sebelum memasuki bulan Ramadhan, bulan Rajab dan Sya’ban, serta setelah lebaran haji, bulan Zulhijjah. Biasanya, setelah Zulhijjah, musim kawin berakhir, sebab memasuki bulan Muharram, sebagai awal tahun berikutnya, dimana banyak yang mempercayainya sebagai bulan “panas” untuk melangsungkan perkawinan. Nanti setelah Muharram, barulah perencanaan itu digagas kembali, untuk memasuki musim kawin berikutnya. Waima, ada juga yang tetap menyelenggarakan perkawinan di luar jadwal musim kawin tersebut.

Jadi, musim kawin yang terjadwal pada suku Bugis-makassar, sepertinya, merupakan budaya yang berselaras dengan segenap maklhuk di jagat raya ini. Apakah itu tetumbuhan atau makhluk melata lainnya, yang juga mengenal musim kawin. Setiap tumbuhan punya jadwal perkawinan, begitupun juga dengan binatang. Dengan demikian, perkawinan adalah hal yang alamiah, sunnatullah, yang mesti ditunaikan oleh segenap makhluk, agar keberlangsungan hidup dan kehidupan di buana ini berjalan konsisten dan persisten. Ini pula yang menegaskan, nyaris tidak ada bedanya antara manusia dan makhluk penghuni semesta lainnya dalam perkawinan, dibutuhkan sebagai penyelamat keberadaan.

Nah, karena manusia adalah makhluk yang lebih tinggi derajatnya tinimbang makhluk lain, yang termanifestasi dalam tradisi yang mewujud menjadi budaya, maka soal ini menarik untuk ditilik, termasuk dalam soal kawin-mawin. Perkawinan sebagai tindakan budaya, dimana di dalamnya terdapat tradisi yang menyokongnya, maka bagi suku Bugis-Makassar, bukan saja soal jadwal musim jatuh tempo perkawinan yang menentukan berlangsung tidaknya sebuah perkawinan. Ada banyak variable yang ikut memastikan jalannya perjodohan, diantaranya; agama, suku, status sosial-ekonomi dan pekerjaan.

Di atas segalanya, yang paling ramai dibincang tentulah mahar dan uang panai (uang belanja). Mahar sebagai syarat sahnya pernikahan, biasanya lebih mudah dicari titik temunya. Cukup seperangkat alat shalat, misalnya, jadilah pernikahan itu. Soal mahar adalah soal yang terkadang diabaikan, padahal justru mahar yang diserahkan pihak laki-laki inilah, yang paling penting untuk menjadi harta pelampung kelak, bagi seorang perempuan.

Issu utama yang benar-benar menyita energi perjodohan adalah soal uang belanja. Pasalnya, bisa saja membatalkan pernikahan. Bilamana tidak ada titik temu dalam negosiasinya, maka dapat dipastikan perkawinan itu urung dilaksanakan. Uang belanja yang diserahkan, bukan sekadar untuk biaya pesta, melainkan padanya ada unsur non-material yang mengikutinya, semisal berkaitan dengan status sosial. Makin tinggi uang belanjanya, seolah makin melambungkan status sosialnya.

Padahal, sesarinya pernikahan, yang merujuk pada tindakan Nabi, atas Sayyidah Fatimah dengan Sayyidina Ali, haruslah serba sederhana, baik dalam mahar apalagi pesta. Bukan sekadar mengutip doanya sebagai penghias undangan. Meski Nabi punya kapasistas untuk mempermahal mahar dan uang belanja buat pesta, tapi nabi tidak melakukannya. Sebab apa? Nabi tau persis bahwa di masa depan bakal ada umatnya, yang secara sosial-ekonomi amat berkekurangan dan sangat bersahaja tatkala ingin kawin.

Mengenal, Awal Cinta (Bag-1)

Ada banyak persoalan rumit dalam hidup ini. Satu di antaranya adalah ketika kita dituntut berpikir sebelum berbuat, di saat yang sama, keinginan memaksa segera melakukan tindakan. Kerumitan-kerumitan ini, kadang membuat sebagian orang tak berdaya olehnya. Saya misalnya, untuk mengikat ide dalam tulisan ini saja, bukan main rumitnya. Saya mesti bolak-balik buku, mengganti bacaan satu dengan lainnya. Tidak sampai di situ, saya pun harus berusaha memahami dengan baik, menyimpulkan sendiri, mengurai sendiri, dan seterusnya. Betul-betul butuh sebuah kesabaran, energi dan perenungan yang kuat.

Tabiat manusia itu sederhana. Ia tidak senang dengan kerumitan. Ia lebih senang dengan kemudahan-kemudahan. Ketika ia merasakan sesuatu dan menginginkannya, saat itu pula ia berharap segera aktual. Namun, faktanya tidaklah demikian, mestilah didahului dengan berdarah-darah, mondar-mandir, banting otak kanan kiri, barulah harapan dapat segera dilakukan, itupun baru akan melakukan yang belum tentu berhasil.

Sama halnya ketika kita menelaah pemikiran-pemikiran filosofis, pun didahului kondisi berdarah-darah, banting otak kanan kiri, jarang di rumah karena lebih banyak di luar, lebih banyak nongkrong di ruang-ruang intelektual, demi untuk mendapatkan sesuap imajinasi dan alam ide.

Sebenarnya menelaah pemikiran filosofis itu gampang-gampang susah. Kita hanya butuh sedikit perhatian dan konsentrasi, dengan begitu semua akan terasa lebih mudah. Dalam kehidupan manusia sehari-hari, dapat dikatakan bahwa setiap manusia adalah seorang filosof. Hal ini terlihat dari apa yang ia lakukan, ya setidaknya orang tersebut memiliki sedikit pertanyaan, terhadap sesuatu yang dihadapi, serta mampu memilih dan menentukan benar-salah, baik-buruknya sesuatu. Dan pada saat ia melakukan hal demikian, maka dia telah menerapkan prinsip berpikir dan bertindak secara filosofis.

Namun, ada juga sih susahnya, salah satunya adalah, ketika membahas hukum-hukum metafisika, pada saat yang sama, seseorang masih dipengaruhi pola-pola pikir yang berdimensi fisik. Dunia fisik, yang di dalamnya terdapat ruang dan waktu, tak jarang menjadi logika ataupun faktor pembentuk ide kita. Pola kesadaran manusia sangat kuat hubungannya di mana ia berada. Misalnya orang Makassar, kesadarannya di pengaruhi oleh ke-Makassar-annya atau orang jawa kesadarannya sangat kuat dengan ke-Jawa-annya. Tentu hal ini bersifat relatif, tapi ini juga bersifat umum, umum khusus.

Lantas apakah pemikiran filosofi tidak memperhatikan alam fisik? Tentu maksudnya tidaklah demikian. Sebaliknya, pemikiran filosofis membahas dunia fisik dari sisi keber-ada-annya secara universal. Mislanya, bagaimana hukum-hukum wujudnya, apakah ia terdapat gerak di dalamnya, apakah memiliki sebab penggerak, apakah penggeraknya terkadung di dalam wujudnya, apakah penggeraknya juga bergerak dan seterusnya. Inilah wilayah kajian filosofis, hanya terkait hukum yang bersifat universal. Adapun hukum-hukum spesifik atau bagian, menjadi kajian ilmu-ilmu empirik dan eskprimen. Misalnya, ilmu kimia mengkaji unsur-unsur yang terkadung dalam materi, ilmu fisika mengkaji faktor-faktor perubahan materi secara eksternalnya, dan seterusnya.

Lantas apa hubungan antara filsafat dengan ilmu empirik-eksprimen? Jika manusia memperhatikan fenomena-fenomena di luar dirinya – termasuk fenomena dalam diri – maka manusia akan memahami bahwa, terdapat hukum keteraturan yang mengikat alam ini, hal itu terlihat dari adanya perubahan dan gerak yang terkandung di dalamnya. Misalnya, hukum sebab-akibat, seorang ilmuwan tidaklah mungkin dapat menetapkan sesuatu asumsi atau sebuah teori, tanpa memiliki kepercayaan pengetahuan awal ini, di mana prinsip tersebut adalah pegangan dalam mengkaji dan meneliti objek tertentu. Tugas seorang ilmuwan, dalam hal ini adalah mencari tahu sebab-sebab terjadinya sesuatu, baik melalui penelitian di laboratoium atau penelitian di lapangan.

Hukum-hukum yang bersifat niscaya dan aksiomatis di atas, merupakan pandangan yang bersifat filosofis. Dengan demikian, hubungan antara pandangan filosofi dengan pandangan ilmiah, ibarat pengetahuan dengan tindakan seseorang, di mana tindakan adalah akibat, dari adanya pengetahuan sebagai sebab. Jika kiranya manusia tidak memiliki pengetahuan awal akan suatu objek, maka mustahil baginya dapat berasumsi apapun. Maksud pengetahuan awal adalah pengetahuan yang darinya, suatu yang lain terpahami, seperti contoh yang dijelaskan di atas.

Kesimpulan sementara, menelaah pemikiran-pemikiran filosofi, mesti kita mampu melepas pola-pola berpikir parsial. Karena kajian-kajian yang “berbau” metafisika, pola berpikirnya sangat universal. Sebagaimana yang kita pahami, bahwa objek kajian filosofi adalah eksistensi, maka apapun yang termasuk di dalam wilayah eksistensi ini, akan menjadi objek kajiannya. Bahkan yang “tiada” pun diurai dalam wilayah ini. Sampai di sini dulu ya. Nantikan bagian selanjutnya.

 

Jalan ke Bulan

Telah sampai di suatu subuh
Lotengloteng dibuat bergetar
Tergeletak sudah sebujur tubuh
ditinggal lili tak sempat mekar

Sudah tiba dikau dibuat hari yang naas
sembari jadi siasia, jangan!
ini mimpi yang belum tuntas separuh
sepotongnya telah tiba, di bulan

Jalan lenggang, pagar rumahrumah kokoh dari seikat bambu
Telah lama hilang desir suara di bibir loteng
terbang sejak sajak seperti suara ajak
meraung, tapi siapa peduli
mimpi masih dikandung badan
belum sampai, di bulan

Di atas dipan, tiada purnama
Aku, tak tahu jalan, ke bulan

Muasal

Pada akhirnya, orang-orang akan mencari muasalnya, tempat segalanya bermula. Kau akan ke kampung halaman, ke pohon mangga dekat rumahmu, atau mungkin ke rumah perempuan yang pernah kau perkosa. Sebab di sana ada sehimpun masa silam, suatu ruang-waktu di mana takdir menulis sejarahmu, menciptakanmu. Dan kau akan ke mana-mana, tapi juga tak akan kemana- mana. Sebab, kau akan merindukan perihal permulaan. Juga, barangkali penyesalan, atau dendam, membawamu menemui tempat di mana suatu ihwal dimulai.

Aku hanya ke UNM. Tepatnya, di kantin Fakultas Ilmu Pendidikan. Ruang yang bagiku, tak hanya kupahami sebagai pelepas lapar dan dahaga, atau sekadar kongkow bersama masyarakat kampus. Tapi juga sebagai—seumpama studio film—ruang di mana sejadi-jadinya diriku saat ini terekam.

Memang telah banyak berubah dari tata ruangnya. Tapi meja-meja itu, suara orang-orang di dalamnya, pelayan kantin itu, seperti mengubah kembali kantin ini seperti sedia kala. Suatu ingatan seperti tergesah menginterupsi masa kini, dan hadirkan kesilaman: tentang aku dan beberapa teman saling berdebat membincang Tuhan, politik, dan kampus yang centang perenang, terkadang hampir baku pukul. Tentang aku yang bertemu dengan orang-orang cerdas, dan mengubah rute menuju pilihan hidup yang tak banyak digandrungi banyak orang: menggeliati diskursus, buku, dan menulis.

Kau akan membaca tulisan ini dan mengatakan, “Ini kisah hidupmu, hanya itu yang kau ceritakan?” Sebuah kisah, bagaimanapun itu, pasti akan merekam tokoh lain yang bukan siapa-siapa dalam hidupmu, tapi penting untuk diceritakan. Di kantin ini terekam jejak hidup nenek pemulung. Ia memang bukanlah persona yang menentukan kisah-kisah hidupku. Tapi, dia adalah tokoh bisa dibilang unik. Justru karena itu, dia adalah “yang lain”, yang terletak di pinggiran kisah, dan memaksaku mengangkatnya kepermukaan.

Terkadang, aku senang menuliskan sehimpun kisah orang-orang di pinggiran cerita, yang kerap diabaikan. Justru karena itu, aku selalu gagal menyelesaikan tulisan tentang diriku sendiri. Selalu ada persona yang, saat kusentil dalam sebuah cerita, selalu ingin kukisahkan panjang lebar. Seperti nenek pemulung itu. Maka cukuplah kau tahu, kantin ini punya sejarah dalam rentang masa hidupku.

***

Aku tak tahu namanya. Dan semua “penghuni” kantin waktu itu juga pasti tak menahu. Dia tak penting untuk diketahui bagi mereka dan, seperti itu juga aku. Kami hanyalah mahasiswa urban yang secara kebudayaan, sudah dikondisikan oleh individualisme modern, yang sukar bersalaman kepada orang asing dan sekadar bertanya, “Apa kabar?”, “Siapa namamu?” Kami juga lahir dari imaji gaya hidup orang kota yang penuh hura-hura, yang membuat kami semakin tak peduli pada apa yang dirasa tak penting untuk diketahui.

Toh, jika nenek pemulung itu ditempatkan dalam sekat-sekat kenangan kami, ia hanya digantung di pojok dinding ingatan; sejumput kisah pinggiran. Orang-orang hanya mengetahui, ada nenek tua yang kerjanya memulung sampah. Itu saja. Selebihnya, teka-teki.

Aku mungkin satu dari sedikit orang yang memiliki ingatan lebih tentang nenek pemulung itu. Meski pemulung banyak memasuki area kantin ini, tapi dia lain. Dan itu yang mendorongku untuk merekam fragmen tantangnya, meski hal demikian tak kunjung membuatku mengetahui namanya. Aku kenang betul, dia senang meminum Teh Gelas untuk membanjur tenggorokannya yang kering. Dan dia hanya pemulung, bukan peminta-minta.

Sejauh yang aku ingat, dia tidak pernah menjulurkan telapak tangannya kehadapan orang lain, dan minta dikasihani dengan sejumlah uang, meskipun recehan. Dia hanya punya kepentingan dengan limbah plastik yang tumpah ruah di kolong meja, juga di atas meja—jika pemilik sampah masih memakai meja itu, dia meminta izin dulu sebelum dimasukkan ke kantong plastik.

Mengingat gelagatnya, aku tetiba menyadari, kaum miskin kota tak sepenuhnya menyerah pada nasib yang dirancang oleh sistem sosial yang obscene. Ketika banyak dari kaum miskin kota harus rela menjadi pencuri, dan peminta-minta, nenek pemulung itu berbeda. Ia hidup tanpa melewati jalan pintas. Meskipun barangkali ia menyadari, tubuhnya yang ringkih tak akan selamanya mampu memunguti sampah plastik satu per satu.

Tapi kau pasti menyadarinya juga. Seberat apapun pekerjaan yang nenek pemulung itu jalani, kantin ini seperti surga di dalam pandangan mata sipitnya itu. Sampah plastik yang tumpah ruah akibat laku konsumtif yang berlebihan dari masyarakat kampus harus ia pungut, mulai dari pagi sampai sore hari, demi penghasilan yang sebenarnya tak seberapa—setidaknya dalam “kepala” masyarakat kelas menengah seperti kita.

Dia akan berjalan menyusuri kantin dengan langkah gontai dan lemah. Dan tak ada upaya menginterupsi rutinitas dan perbincangan orang-orang di mejanya masing-masing dengan menjulurkan telapak tangannya, selain dengan terpaksa dan malu-malu harus meminta sampah plastik di hadapan pemiliknya. Dia selalu soliter di hadapan kepungan orang-orang ramai. Dia selalu sunyi di gegap gempita suasana kantin. Dia sendirian.

Oh, iya. Aku lupa. Sebenarnya aku pernah sekali berinteraksi dengan nenek pemulung itu. Suatu ketika, aku beranjak meninggalkan kantin. Belum jauh dari kantin, kudengar suara parau dari arah belakangku. Itu suaranya. Aku berhenti karena dia berjalan menghampiriku. Setibanya di hadapanku, dia memberikan dompetku yang terjatuh dan tergeletak di kolong meja. Aku meraihnya. Dia kemudian tersenyum, dan berlalu, saat kusadari aku belum juga mengetahui namanya.

Bahkan kopiku hampir habis dan sekalipun tak kulihat nenek pemulung itu. Ini sudah sangat lama saat aku mengunjungi kantin ini terakhir kali. Pastilah aku tak tahu kapan ia tak lagi beraktivitas di tempat ini. Juga, mengapa ia mesti meninggalkan kantin yang seperti surga para pemulung itu, aku tak tahu. Aku menduga-duga saja. Barangkali dia ke tempat-tempat di mana karirnya sebagai pemulung dimulai; di jalanan, atau tempat pembuangan sampah. Pada akhirnya, orang-orang akan mencari muasalnya, tempat segalanya bermula.

Daeng Ngajji

Ternyata, bukan hanya saya yang was-was. Tapi Daeng Noro’ dan Daeng Gaga’ juga demikian, bahkan lebih dari itu, amat cemas dan gelisah. Apatah lagi Daeng Gaga’—sebenarnya ini nama gelaran saja atas kondisinya yang gagap ketika berbicara—gagapnya makin menjadi-jadi, kalimat-kalimatnya menyembur putus-putus, sulit ia sambungkan bicaranya, nanti dipukul pundaknya, baru bisa nyambung lagi. Pasalnya, setelah dua pekan lebaran haji, kisanak yang menunaikan ibadah haji, mulai tiba kembali di tanah air. Pekan ini, keloter yang membawa jemaah dari kampung kami, diperkirakan tiba sekitar pukul 03.00 dinihari.

Gerangan apa yang membuat kami begitu was-was, cemas dan gelisah? Soalnya, salah seorang teman sepermainan kami dari kecil, hingga usia mendekati setengah abad, Daeng Cullang, ikut menunaikan ibadah haji. Ada hal yang mengganjal dalam ruang pikiran, bergelora di ranah batin, masihkah pertemanan kami akan seutuh sebelumnya? Memang sedari kanak-kanak, kami berempat sudah sangat bersahabat, sehingga kami sering dijuluki oleh warga kampung sebagai Empat Sekawan. Mirip-miriplah dengan cerita yang ada di komik anak-anak, yang saban waktu kami baca.

Salah satu kebiasaan kami berempat, tatkala musim haji tiba, mencatat nama-nama warga kampung yang berhaji. Bila perlu dipahat dalam ingatan dan melukisnya dalam hati, agar benar-benar tidak lupa. Sebab, jika lupa, maka akan menganggu suasana kebatinan, baik bagi kami selaku warga, terlebih pada yang telah pulang berhaji. Mungkin ini soal sepele bagi warga di kampung lain, atau di negeri lain, manakala ada orang yang telah menunaikan Rukun Islam yang kelima itu, namun tidak dipanggil Pak Haji dan Bu Haja. Tradisi di kampung kami, jika lupa atau pura-pura lupa, akan sangat mengganggu interaksi bermasyarakat.

Di kampung kami, orang yang telah berhaji mesti dipanggil Daeng Ngajji. Serupalah dengan Pak Haji atau Bu Haja. Saya termasuk orang yang sering luput memanggilnya. Apalagi Daeng Gaga’, lebih sering lagi tidak menyebutnya, karena kondisi gagapnya. Tapi, biasanya dimaklumi, namun, bagi warga lain, no way, seperti kata yang acapkali diucapkan Daeng Noro’, ketika ada soal yang tidak ada jalan keluarnya.

Saya sendiri amat tidak mengerti asal muasal tradisi memanggil Daeng Ngajji sebelum nama panggilan. Sependek pengetahuan saya, berhaji itu, bukan sekadar melunaskan ritus Rukun Islam. Karena dalam ritus-ritus ibadah haji itu, setidaknya menurut Ali Syari’ati, schoolar berkebangsaan Iran, merupakan saripati lakon hidup dan laku kehidupan. Baginya, prosesi ibadah haji, serona dengan pertunjukan drama kemanusiaan yang paling substansial, mempertunjukkan dimensi terdalam manusia dan kemanusiaannya. Sehingga, wajarlah kemudian, bilamana terjadi pencerahan bagi yang berhaji untuk berubah dan ingin melakukan perubahan, lalu terlibat secara revolusioner dalam upaya pembebasan dari ketertindasan. Berhaji, sama dan sebangun dengan membebaskan diri dari segala terungku dunia.

Dan, salah satu terungku dunia itu adalah gelar, termasuk gelar Pak Haji dan Bu Haja. Apalagi Daeng Ngajji, semisal di kampung kami, lebih berbau duniawi lagi, sebab bisa mempengaruhi keharmonisan dalam bermasyarakat. Betapa tidak, setelah gelar itu diraih, langsung saja suasana keberjarakan antar warga tercipta. Seorang Daeng Ngajji, langsung mendapatkan fasilitas serba lebih di dalam kedudukan sosialnya. Otomotis, kelas sosialnya naik. Padahal, ketika berhaji, tepatnya bertawaf, kelas sosial tidak dikenal, semuanya lebur dalam kesetaraan. Tidak ada pangkat, jabatan, bangsa, ras, warna kulit dan segala pembeda lainnya, karena semuanya larut dalam laku, pakaian, gerakan dan doa panggilan yang sama.

Terbayanglah di imaji saya, dan juga Daeng Noro’ serta Daeng Gaga’, tatkala kami bakal memanggil seorang sahabat, Daeng Ngajji Cullang. Saya pun membayangkan, tempat duduk kami dan Daeng Ngajji Cullang bakal terpisah di berbagai acara. Ia bakal mendapatkan tempat duduk dan kedudukan yang mulia. Dan, topinya pun berubah menjadi songkok putih, yang mungkin akan dipakainya secara persisten, kecuali saat mandi. Apatah lagi, akun facebooknya telah diperbarui, menjadi Haji Daeng Cullang.  Rasa-rasanya, mulai terasa keberjarakan itu. Sepertinya, rumit menjalani perkawanan, dari Empat Sekawan menjadi Tiga Sekawan.