Ujian Nasional dan Pesan Munif Chatib

Bertahun-tahun lalu saat belum tersentuh oleh wacana sekelas Paulo Freire dan seri buku-buku Munif Chatib, seperti Sekolahnya Manusia, Gurunya Manusia, Kelasnya Manusia, Orangtuanya Manusia, dan judul-judul lainnya, kami memiliki sikap seperti pada umumnya orangtua lain yang cemas menghadapi Ujian Nasional setiap tahunnya.

Puluhan tahun terpasung dalam sistem pendidikan yang berfokus pengetahuan kognitif semata, yang menggiring anak-anak untuk berbondong-bondong ke sekolah, duduk patuh dengan tangan terlipat, mulut dikunci, lalu mendengarkan omongan bapak dan ibu guru. Di akhir penjelasan, anak-anak diminta untuk bertanya, namun saat pertanyaan dilontarkan murid, guru pun menyela tak sabar, “Soal apa lagi yang kamu tidak mengerti?” Anak pun tertunduk bingung menghadapi pertentangan yang terjadi di depan mata.

Beberapa sosok pendidikan tanah air hadir dengan pemikiran-pemikiran yang melawan arus sistem yang ada selama ini, namun ia hanya mampu menyentuh sebagian kecil lapisan masyarakat. Mereka umumnya sudah terpola dan menjadi penganut setia model pendidikan yang sudah bertahun-tahun mengakar dalam pikiran dan tindakannya setiap saat. Ibarat oksigen, ia sudah menyelusup di antara pembuluh darah. Model pendidikan yang ia terima dan terapkan dalam keseharian anak-anak mereka merupakan kebenaran itu sendiri. Sangat sulit untuk bergeser dari paradigma lama yang selama ini menjadi pahamannya. Butuh waktu dan kerja keras untuk mencapai hasil yang memuaskan.

Mengubah sistem pendidikan di tanah air seperti menyeberangi sungai yang berarus deras. Perlu waktu dan tenaga ekstra untuk bisa mencapai pinggir seberang sungai. Perlu sinergi dari banyak pihak agar mampu mewujudkannya. Tidak mudah tetapi bukan hal yang tidak mungkin.

Desentralisasi kurikulum adalah salah satu solusinya. Hendaknya pembuatan kurikulum pendidikan setiap sekolah diserahkan pada masing-masing daerah untuk merancangnya, tidak diseragamkan seperti yang berlaku saat ini. Karena kebutuhan setiap anak di wilayah yang berbeda tentunya berbeda pula. Berangkat dari kondisi ini saja, kita sudah harus banyak berbenah. Belum lagi jika membahas persoalan tes masuk sekolah favorit atau sekolah unggulan. Hal yang terus-menerus terulang dari tahun ke tahun. Walaupun banyak yang sudah menyadari jika cara-cara seperti ini tidaklah selaras dengan hakikat pembelajaran. Mengapa? Karena sekolah semacam ini hanya mau menerima murid-murid yang pintar dan berprestasi saja. Lalu bagaimana dengan nasib anak-anak yang kurang beruntung, tidak memiliki IQ seperti anak-anak lainnya? Apakah mereka serta merta tertolak untuk menikmati sekolah yang layak? Oleh karenanya menjadikan IQ sebagai tolok ukur untuk diterima di sebuah sekolah, sesungguhnya berlawanan dengan hakikat pencerdasan manusia.

Dalam seminar pendidikan yang digelar oleh Rumah Sekolah Cendekia bertajuk “Mendesain Generasi Pemakmur Bumi di Era Milenial” bertempat di Hall Amirullah, Makassar, hari ini, cukup banyak informasi yang dapat diserap oleh peserta yang hadir. Antusiasme mereka juga ditunjukkan lewat beberapa pertanyaan yang diajukan. Walaupun di antara pertanyaan-pertanyaan tersebut memiliki kesamaan, hanya beda susunan redaksi dan penanya saja.

Dalam benak, penulis memendam tanya dan sedikit masukan, agar pembahasan tentang konsep pendidikan, kurikulum, dan hal-hal yang berkaitan dengan sekolah, sebaiknya dibahas di tengah-tengah mereka para pemilik sekolah, kepala sekolah, dan pihak-pihak yang terkait dengan pengambil kebijakan tersebut. Karena seberapa baik dan idealnya konsep yang ditawarkan jika sasarannya hanya sebatas guru dan orangtua, tentu hasilnya tidak akan optimal. Orangtua hanya bisa memilihkan sekolah yang menyediakan konsep pendidikan sesuai dengan yang diharapkan. Sementara sekolah-sekolah seperti ini terbatas jumlahnya. Kalaupun ada, biaya masuknya tergolong di atas rata-rata.

Pertanyaan lainnya, bagaimana cara meringankan beban mental dan psikologis anak-anak yang masih bersekolah di sekolah-sekolah biasa dengan kurikulum yang sangat membebani? Sementara waktu terus berjalan, anak-anak didik naik kelas tahun demi tahun. Harapan akan konsep pendidikan ideal masih menggantung di awang-awang.

Saya akan mencoba menelaah dan menjawabnya versi penulis. Hal nyata, sederhana, dan mampu kita lakukan asalkan ada kemauan adalah, memberikan perhatian serius pada proses belajar-mengajar yang terjadi di sekolah. Dengan cara terlibat aktif dalam memantau kegiatan anak-anak kita di sekolah. Tak lupa menjalin komunikasi yang baik dengan pihak guru dan sekolah. Adapun soal penilaian dan hal-hal yang terkait dengannya, biarlah berjalan seperti apa adanya. Setidaknya anak-anak secara psikologis dapat lebih menikmati masa-masa bersekolahnya, tanpa harus dibebani dengan keharusan menduduki peringkat-peringkat tertentu dan berbagai beban tuntutan berprestasi dari kedua orangtuanya.

Ara Kusuma, remaja berusia 21 tahun, salah satu narasumber yang hadir pada seminar ini, cukup menyita perhatian peserta. Tak banyak remaja yang memiliki kerpribadian dan tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi seperti yang dimiliki Ara. Ia adalah produk pendidikan homeschooling dari kedua orangtua yang memiliki paradigma berpikir maju dalam bidang pengembangan potensi anak. Dalam usia yang relatif sangat muda, ia berhasil meraih gelar sarjana di saat anak-anak seusianya masih bersekolah di tingkat SMU.

Ia dinobatkan menjadi salah satu anggota termuda dalam jaringan Young Changemaker yang digagas Ashoka, sebuah organisasi kewirausahaan sosial global pada tahun 2008, ketika usianya belum genap 11 tahun. Atas gagasan dan usahanya memberdayakan potensi warga Desa Boyolali dalam mengelola peternakan sapi hingga menjadikannya home industry.

Sosok muda seperti Ara hanya bisa terlahir dari lingkungan keluarga  dan pendidikan yang mendukung potensi kecerdasan dan kemanusiaannya sejak masih kanak-kanak. Ia belajar hal-hal yang ia butuhkan dalam kehidupan dan masa depannya. Sehingga waktu dan tenaganya terfokus pada tujuan yang ingin ia capai. Di luar sana masih banyak remaja di usia SMUnya belum mengetahui cita-cita yang ingin ia gapai. Padahal semestinya di usia ini para remaja sudah semakin terarah dan jelas mengarahkan panah tujuan hidupnya.

Walaupun begitu tak ada kata terlambat untuk terus berusaha melakukan yang terbaik dengan pengetahuan yang kita miliki. Terus dampingi anak-anak, dukung penuh cita-cita dan keinginan positif mereka. Tak ada yang dapat memastikan kita mampu melahirkan generasi penerus yang beriman, bertakwa, sehat, cerdas, dan mumpuni di masa yang akan datang, namun jika tidak berusaha, hasilnya sudah pasti akan sangat jauh dari harapan.

Kepada anak-anak yang akan ujian, Munif Chatib berpesan, jangan stres, panik, ataupun tegang. Rilekslah, serta berdoalah kepada Tuhan agar diberikan kemampuan menjawab soal-soal yang diajukan. Karena semakin anak stres, semakin tak mampu ia berkonsentrasi dan menjawab soal-soal yang diberikan. Tambahan pesan dari penulis, masa depanmu bukan ditentukan pada Ujian Nasional ini. Hasil tes bukanlah gambaran keseluruhan kepribadianmu. Jika hasilnya memuaskan, bersyukurlah. Dan jika tidak, maka tetaplah bersyukur, bahwa Engkau masih hidup, masih dikaruniai kesehatan, juga kesempatan untuk semakin memperbaiki diri.

 

 

 

The following two tabs change content below.

Mauliah Mulkin

Manager at Paradigma Ilmu Bookstore
Pegiat literasi dan parenting di Paradigma Institute.

Latest posts by Mauliah Mulkin (see all)

One thought on “Ujian Nasional dan Pesan Munif Chatib”

  1. Prof. H.A.R. Tilaar, Prof. Satryo Soemantri Brodjonegoro, Prof. Adnan Buyung Nasution, Prof. Winarno Surakhmad, Prof. Iwan Pranoto, Prof. Daniel M. Rosyid, Prof. Soegiono, Prof. Mayling Oey-Gardiner, Prof. Zainuddin Maliki, Prof. Muhammad Ansjar, Prof. Sarlito Wirawan Sarwono, Prof. Bambang Sutjiatmo, Prof. Ahmad Erani Yustika, Prof. Mudjisutrisno, Prof. B.S. Mardiatmadja, Prof. J. Sudarminto, Prof. Muhammad Bisri, Prof. Bambang Pranowo, Prof. Evrizal A.M. Zuhud, Prof. Gempur Santoso, Prof. Sentot M. Soeatmadji, Prof. Soedigdo Adi, Prof. Saut Sahat Pohan, Prof. Sam Abede Pareno, Prof. B.S. Kusbiantoro, Prof. Luthfiyah Nurlaela, Prof. Tommy F. Awuy, Prof. Hendra Gunawan, Prof. Saparinah Sadli, Prof. Sulistyowati Irianto, Prof. Mely Tan Giok Lan, Prof. Frieda Mangunsong, Prof. Imam Mustofa KH Zawawi Imron, Anies Baswedan, Todung Mulya Lubis, Goenawan Mohammad, Imam B. Prasodjo, Teten Masduki, Daniel Rembeth, Alissa Wahid, Yasraf A. Piliang, Utomo Dananjaya, Darmaningtyas, Najelaa Shihab, Peter J. Manoppo, Romo Baskoro, Rohmani, Satria Dharma, Moh. Abduhzen, Retno Listyarti, Johannes Sumardianta, Dharmayati Utoyo Lubis, Rocky Gerung, Ahmad Rizali, Sulistyanto Soejoso, Ahmad Baedowi, Munif Chatib, Henny Supolo, Biyanto, Suparman, Eko Purwono, Achmad Muchlis, Elin Driana, Itje Chodidjah, Aulia Wijiasih, Semino Hadisaputra, Dhitta P. Sarasvati, Habe Arifin, Edi Gurning, Jasmin Sophianti, Saiful Mahdi, Ahmad Baharuddin, Syamsir Latif, A. Muzi Marpaung, Acep Iwan Saidi, Ifa H. Misbach, Setiawan A. Wibowo, Gigay Citta Acicgenc, Rene Suhardono, Pandji Pragiwaksono, Bukik Setiawan, Ainun Chomsun, Anto Motulz, Helga Worotitjan, Didi Nugrahadi, Nirwan Dewanto, Riza Arshad, Kreshna Aditya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *