Ular Merah Putih

Beraneka cara merayakan HUT NKRI ke-74. Secara umum, anak-anak negeri menandainya dengan berbagai macam lomba. semisal, lari karung, makan kerupuk, tarik tambang, panjat pinang, dan lainnya. Pun, di bidang seni,  beragam lomba digelar, sebentuk, baca puisi, lagu perjuangan, dan seterusnya. Intinya, beriang gembira, dengan harapan tiba rasa senang, syukur bisa bahagia. Waima, semua jenis lomba itu, sudah amat konvensional. Berlangsung dari tahun ke tahun. Anehnya, tetap dinanti buat dihelat.

Hingga beberapa hari kemudian, aura perayaan itu masih terasa. Berlaksa gambar dan video, bertebaran di dunia maya. Nyaris setiap orang yang punya akun media sosial, mengabadikan apa yang dibikin pada jelang, saat, dan sesudah perayaan itu. Saya pun turut ambil bagian. Setidaknya, foto akun media sosial saya, terbingkai dengan simbol merah putih, ditambah beberapa kata, sebagai penanda ikut merayakan kemerdekaan. Tak ketinggalan pula, saya ukir di status, tentang  rasa merdeka.

Kala  tulisan ini saya torehkan, saya masih berselancar di media sosial, menikmati  gambar dan video dari perayaan kemerdekaan itu. Dan, salah satu yang menyita perhatian saya, peristiwa garib yang digelar oleh sekaum anak muda di pelosok ketinggian Kabupaten Bantaeng, tepatnya di Kecamatan Ulu Ere. Mereka mendapuk diri sebagai Aliansi Pemuda Ulu Ere. Apa yang mereka bikin, sehingga menyita perhatian publik, khususnya di Bantaeng?

Aliansi kaum muda itu memperingati kemerdekaan dengan cara yang garib. Mereka mengarak bendera merah putih sepanjang 74 meter, sesuai dengan angka peringatan kemerdekaan. Lebarnya, 3,2 m.  Mereka melibatkan 350 orang relawan, berjalan sepanjang sekira 22 km. Mereka start di Lapangan Sepak Bola Bonto Lojong, Ulu Ere, finis di Lapangan Hitam Pantai Seruni Bantaeng. Pagi berangkat, tiba siang, Mereka berangkat dari ketinggian, melewati dataran, dan tiba di pantai. Ini mewakili bentuk georafis Bantaeng, yang memiliki gunung, dataran , dan laut. Mereka mengutuhkan negerinya dengan merah putih.

Para relawan pengarak bendera itu, silih berganti menjaga agar tetap terbentang. Sangat banyak foto yang mengabadikannya. Tidak sedikit unggahan video pendek ditunjukkan. Mereka unjuk gambar dan video. Dari sekian banyak foto dan video, ada video yang membuat saya takjub tiada terkira. Video itu disuting dari ketinggian. Saya melihat laiknya seekor ular raksasa meliuk, senyata ular merah putih bergerak. Coba bayangkan saja, bila kisanak dan nyisanak  bertemu ular sepanjang 74 meter, dan memandangnya dari ketinggian. Sangat eksotis bukan?

Sekotah makhluk ikut menyaksikan kelahiran ular merah putih ini. Tatkala pagi masih semenjana teriknya, angin sepoi langsung menguritakan pada buana, akan bergeraknya si ular merah putih. Kabut menyilakan dengan santun. Begitu matahari memancarkan teriknya, tanda meliuk dimulai. Segenap burung berkicau riang melepas keberangkatannya. Sekumpulan hewan melata meliarkan pandangannya, sebagai tanda setuju. Binatang jinak apalagi, sudah pasti dukungannya. Tetumbuhan memekarkan bunganya, menghijaukan daunnya. Hujan pun ambil bagian, menebarkan biji-biji airnya di sela perjalanan. Dan, ketika tiba di pantai, tak sedikit ikan menari menyambut sang ular merah putih.

Pertanyaannya kemudian, dari mana ide unik ini, ular merah putih ini? Saya pun mencoba menelusuri beberapa waktu ke belakang. Sekali waktu, saya bersua dengan salah seorang inisiator dari ide “gila” ini di salah satu warkop, pada sudut kota Bantaeng. Pun, sebenarnya, sempat bincang-bincang dengan beberapa kaum muda dari mereka sebelumnya. Saya cukup mengenal mereka para penggerak pengarak bendera ini. Sekaum anak muda militan, yang cintanya pada negerinya, amat khusuk. Mereka adalah pecinta lingkungan dan pegiat literasi.

Mereka memaknai kemerdekaan, dengan cara menafsirkan spirit para pahlawan yang memerdekakan negeri ini dari penjajah. Jadi, kekuatan sekaum anak muda ini, terletak pada kemampuan menafsirkan peristiwa masa silam, lalu dihadirkan pada situasi kekinian dan kedisinian. Kapasitas menafsir spirit peristiwa, lalu diwujudkan dalam tindakan kontemporer, hanya bisa lahir dari persona-persona yang punya tradisi literasi mumpuni.

Selebihnya, karena mereka adalah para relawan. Dunia kerelawanan telah memukau mereka. Bahkan jiwa altruist telah menerungkunya. Satu-satunya terungku yang paling bebas, tatkala diterungku oleh altruism. Mereka terbiasa dengan jagat kerelawanan. Mereka telah menjadikan sukarelawan, suka dan rela sebagai sari dirinya. Mewujudkannya sebagai laku dan lakon sehari-hari. Mereka menjalani kehidupan selaku pecinta lingkungan dan pegiat literasi apa adanya. Setiap waktu merawat lingkungan negerinya, lewat kelompok pecinta alam. Setiap saat membenihkan tradisi literasi, melalui komunitas literasi.

Mungkin saja setiap orang, bisa terlibat atau membikin hal serupa dengan kegilaan kaum muda Ulu Ere ini. Itu jika dipandang sebagai momen materil semata. Mungkin ada yang berkata, apa susahnya mengumpulkan ratusan orang, lalu disiapkan anggarannya, setelahnya dijanjikan publikasi yang spektakuler. Saya hanya ingin tabalkan, mungkin bisa. Tapi, satu hal yang saya bisa pastikan, bahwa motif bergerak amat menentukan hasil yang dicapai. Jika motifnya popularitas, maka ujungnya hanyalah kesenangan belaka. Namun, bila motifnya karena kerelawanan, maka pucuknya adalah kebahagiaan. Dan, sekaum anak muda Ulu Ere ini telah berbahagia, sekaligus membahagiakan  anak negeri.

Wujud ular merah putih, merupakan salah satu bentuk artikulasi ide, yang dipompa dari komunitas pecinta lingkungan dan pegiat literasi kaum muda Ulu Ere. Apa yang dilakukan oleh sekaum anak muda Ulu Ere, yang tergabung dalam Aliansi Pemuda Ilu Ere adalah tindakan menafsir ulang spirit berkorban.

Ular merah putih, lahir dari persetubuhan sekaum anak muda pecinta lingkungan dan pegiat literasi. Mereka mengakadkan diri pada tali kerelawanan, bersertifikat altruisme. Mereka telah melipat ular merah putih itu, selanjutnya akan disimpan sebagai pusaka, buat diwariskan pada generasi berikutnya, seperti halnya para para pahlawan kemerdekaan, mewariskan bendera pusakanya.

The following two tabs change content below.

Sulhan Yusuf

Pegiat Literasi dan Owner Paradigma Group. Mengarang buku Sehimpunan Puisi AirMataDarah (2015), Tutur Jiwa (2017), dan Pesona Sari Diri (2019). Kiwari, selaku Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com.

Latest posts by Sulhan Yusuf (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *