Wajah-wajah di Atas Aspal dan Puisi-puisi Lainnya

Wajah-wajah di Atas Aspal

1)
kutemukan wajahmu di atas aspal
di antara genangan air
berlapis-lapis cemas
murung menatap dunia

2)
kutemukan wajahmu di atas aspal
di antara derai air hujan
menumpahkan air mata
karena lapak dagangmu digusur

3)
kutemukan wajahmu di atas aspal
di antara desiran lembut angin pagi
membelai tubuh kurusmu
yang lelah hidup menggelandang

4)
kutemukan wajahmu di atas aspal
di antara beningnya kaca mobil mewah
menahan perih mengulum rasa malu
lalu merengek meminta kehidupan

5)
kutemukan wajahmu di atas aspal
berdiri tegak dengan lipstik merah
menempel tebal di bibir indahmu
sambil merayu-rayu matahari

6)
kutemukan wajahmu di atas aspal
terhuyung-huyung memulung mimpi
lalu roboh terkapar

(catatan langit)

Menambang Mimpi untuk Menumbang Masa Depan

nun jauh di pulau seberang, matahari pagi telah merayap di langit timur. pelan matanya membelalak di balik celah dedaunan basah. bias cahayanya berdatangan mengetuk jendela-jendela hati orang-orang pagi. ketika terbangun, setengah dari mereka bergegas kembali menyulam mimpi suram

berbondong-bondong menjual diri demi sekeping mimpi masa depan, namun tak menyadari nilai yang diperoleh tak sepadan dengan harga diri. dimulailah penambangan, tangan mencakar-cakar di tengah kebisingan yang berdesing-desing. dimulailah teriakan-teriakan lantang di tengah gerincing suara-suara mesin

sementara tuan-tuan penentu takdir, berbekal jari telunjuk raksasa tak berjasa, berdiri angkuh di antara tumpukan mimpi. telunjuknya sanggup mengubah seseorang menjadi budak, bahkan dengan kuasanya, siap melemparkan seseorang ke kolong jembatan ketika tak mampu lagi menambang mimpi

di daratan berdebu itu, angin telah berbisik, tanah-tanah kering dan batu kerikil jadi saksi atas penambangan mimpi. semuanya sama, penumbang masa depan: hanya memikirkan cara membesarkan perut sendiri. hingga yang tersisa adalah manusia-manusia tanpa kepala menggali masa depan yang telah terkalahkan

(catatan langit, 31 juli 2019)

Aku Bisa Apa, Hanya Rakyat Jelata

Aku bisa apa
Hanya rakyat jelata
Tugasku hanya mengangguk
Atas perintah tuan kecil tuan besar
Sebab menggeleng; menunjukkan ketidaksetujuan
Akan mengundang nasib suram buram:
Namaku bisa dicoret dari daftar penerima subsidi penyambung hidup

Aku bisa apa melihat kezaliman
Kecuali hanya bisa menelan air liur yang begitu pahittt
Bila berkata seperti kaum terdidik di kota
Nanti dikira korban agitasi
Dan sedang merencanakan aksi pembangkangan
Atau nanti dibilangi tidak sopan, tak tahu tata krama

Aku bisa apa
Melihat orang-orang berdasi makan kertas, makan kursi, makan aspal bahkan memakan jatah raskin untukku
Aku hanya bisa gigit jari melihat drama kalian, mungkin hingga aku mati karena dicekik kemiskinan

(catatan langit, 15 agustus 2019)

Sumber gambar: https://www.deviantart.com/tmm-textures/art/Painted-Asphalt-2-195480602

The following two tabs change content below.

Arman Syarif

Guru PPKn SMK Telkom Makassar dan Alumni Sekolah Demokrasi Program Komunitas Indonesia untuk Demokrasi Jakarta

2 thoughts on “Wajah-wajah di Atas Aspal dan Puisi-puisi Lainnya”

  1. Mantap dindaku,
    bersuaralah…
    Tetaplah seperti dahulu yang kukenal
    Jangan biarkan suaramu senyap diantara suara ekskavator perampas kemerdekaanMU

  2. Salam sahabatku, se-petualang kala lalu …
    Kini dan nanti … Insya Allah.
    Kemiskinan, kelaparan, ketertindasan, ketimpangan bagi sebagian rakyat Indonesia itu hal biasa, mereka sudah kenyang akannya. Apa yang harus ada untuk mereka adalah …
    Keadilan yang berasal dari para pemimpin.
    Sekitar 1478 tahun pendidikan, pencerahan itu sudah sampai ke bumi. Seyogyanya pemimpin kita bercermin ke masa – masa itu.
    Saudaraku … Teruskan petualangannya…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *