Yang Persona dan yang Publik

Satu lagi yang sedikit malu-malu diperbincangkan para tim sukses (timses) calon presiden (capres) akhir-akhir ini. Yakni antara yang publik dengan yang personal. Mengapa orang tak ingin dikritik persoalan personanya? Apakah persoalan publik betul-betul terpisah dengan soal personal?

Ada apa di balik kegeraman para timses saat disinggung bagian personal capresnya? Panik tanda kegelisahan berlebih, pernyataan timses tidak boleh menyerang personal adalah tanda kepanikan dan itu spontanitas respons dari panic attack. Pasti di situ tersimpan rapi rahasia penting dari sang pemilik persona. Terus mengapa orang cenderung menyembunyikan wilayah persona jika dalam pahaman publik bahwa yang persona dan publik itu terpisah? Apa yang sebenarnya dikhawatirkan jika kita percaya bahwa masyarakat sudah memisahkannya? Mari sedikit kita urai.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), persona berarti; orang perorang, topeng, wajah atau ciri khas seseorang, identik dengan pribadi. Sedangkan secara etimologis persona berasal dari bahasa latin yakni personae yang berarti peran atau karakter yang dimainkan, juga awalnya dirujuk pada makna topeng teatrikal pertunjukan. Artinya apa bahwa persona dalam dunia pertunjukan memang sudah jelas dianggap sebagai topeng. Mengapa? Karena pertunjukan itu ranah publik sehingga yang melekat secara pribadi harus disimpan dibalik topeng.

Secara sosiologis publik bisa diartikan sebagai sekelompok orang (individu) yang masing-masing memiliki kepentingan dalam hubungan yang sama antar manusia. Sebagaimana defenisi publik menurut Emery Bogardus bahwa publik adalah sejumlah orang yang bersatu dalam satu ikatan dan mempunyai pendirian sama terhadap suatu permasalahan sosial.

Jika persona dan publik itu adalah dua hal terpisah pada mindset masyarakat terus untuk apa kita geram dan menanggapi komentar yang mengarah persona? Sependek pemahaman saya jika ada respon berlebih maka tentu pretensi bermakna di baliknya? Sedari awal bahwa pemisahan soal personal dengan publik patut dicurigai sesuatu yang amat politis.

Pemisahan ini bagian dari proses sekularisasi soalan kepemimpinan. Apalagi di negara demokrasi, tentu ini sangat berbahaya karena kedalaman pengetahuan dan informasi masyarakat sebagai kompasnya. Artinya jika masyarakat dalam sistem demokrasi memperoleh informasi keliru dari calon pemimpin maka akan keliru pasti pilihannya. Itulah sebabnya kita lebih banyak tertipu oleh calon pemimpin dalam politik demokrasi karena terlalu sering kita keliru mendapat informasi. begitulah implikasi pemisahan yang persona dengan yang publik. Kita memang terlalu banyak melihat calon pemimpin pada ranah publiknya dan luput mengintip personanya. Padahal pada yang personalah banyaknya kejahatan disimpan rapi dan kita terlanjur terlena dengan tontonan wajah publiknya.

Dari definisi maupun sependek uraian di atas, maka begitu ajek istilah persona dilekatkan pada masing-masing kandidat capres. Mengapa? Karena sesungguhnya politik memang seni pertunjukkan yang paripurna. Itulah sebabnya sutradara Amerika Serikat Frank Zappa menyatakan bahwa “politik adalah cabang dari industri hiburan”.  Juga sebagaimana sosiolog Erving Goffman menyatakan kehidupan adalah dramaturgy; ada panggung depan ada panggung belakang. Ah, sepertinya kita merindukan lirik yang sering dinyayikan Ahmad Albar; dunia ini panggung sandiwara, ada peran wajar dan peran yang berpura-pura.

Mengapa kita begitu percaya bahwa seseorang akan bisa mengatur kehidupan publik namun gagal mengatur personalitasnya? Lagi-lagi jika keindahan tampak dihadapan mata kemungkinan itu hanya kondisi artifisial. Sebagaimana alegori gua Plato bahwa yang tampak itu sekadar bayang-bayang karena kebenaran itu tersimpan rapi di balik gua.

Di saat ada kandidat yang mencoba menyasar pribadi dalam debat kandidat dan ada yang merasa geram. Maka setidaknya kita bisa memahami berarti ada yang berbeda dalam diri yang persona dengan dirinya yang publik. Panutan kita di masa lalu adalah dia yang selalu selesai dengan dirinya sendiri. Artinya pemimpin yang baik adalah ia yang mencintai rakyatnya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Mengapa perlu demikian? Tentu. Karena jika seorang pemimpin masih ada kecintaan berlebih pada dirinya, maka tentu akan ada perlakuan khusus dalam mengutamakan kebutuhan persona dibanding kebutuhan publik.

Hemat penulis, bahwa personal yang bermasalah personalitasnya maka tentu besar kemungkinan akan bersoalan lakon publiknya. Publik adalah dunia lakon sedangkan personalitas adalah keaslian, lalu manakah yang lebih Anda percaya?

Dia yang persona adalah seharusnya dia juga yang publik. Rakyat dan dirinya tidak lagi terpisah dari dirinya sendiri. Ketika Umar bin Khattab ingin makan maka laparnya rakyat terdahulu yang ia periksa. Jika masih ada satu saja yang belum makan maka umar tdak akan kenyang sebelum rakyatnya makan terlebih dahulu. Karena sesungguhnya menjaga rakyat bagi pemimpin adalah penjagaan terbaik bagi dirinya sendiri.

Masih sanggupkah kita percaya keindahan dan kesopanan pada ruang publik sebagai sesuatu yang otentik? Hemat penulis bahwa semua yang ditampilkan pada ruang publik memang sebatas proverty untuk mendukung akting para pelakon. Makanya jangan hanya lihat pada masa kampanye karena skenario sedang berlangsung tapi periksa mereka saat jeda. Maka kita akan temukan siapa calon pemimpin kita sebenarnya. Wallahuallambissawab.

Sumber gambar: https://www.deviantart.com/restlve/art/Abstract-face-711176095

The following two tabs change content below.

Sopian Tamrin

Pengajar Sosiologi di FIS UNM, aktif di KNPI Sulssl, MASIKA Orda Makassar dan Pegiat Literasi Edu Corner.

Latest posts by Sopian Tamrin (see all)

One thought on “Yang Persona dan yang Publik”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *