Akil, Amrin, dan Madjid

Akil, Amrin, dan Madjid. Siapa mereka? Mungkin bagi orang kebanyakan bukanlah siapa-siapa. Bukan para pesohor, tapi mereka penempuh jalan sunyi di keramaian masing-masing. Ketiganya pun menuntaskan kesunyiannya, karena telah berpulang pada keabadian.

Bagi sebagian orang, tentu selain keluarga masing-masing, ketiganya amat berarti bagi satu organisasi yang mengadernya, lalu menjadi aktivis, baik di zaman kemahasiswaan mereka, tepatnya di HMI MPO Cabang Makassar, maupun setelah menjadi alumni.

Bagi HMI MPO, khususnya Cabang Makassar, di Era Reformasi, maupun sesudahnya hingga di kekinian, mereka bertiga merupakan trio gelandang dalam satu tim sepak bola. Ibarat dalam kesebelasan Arsenal, trio gelandang bisa berfungsi sebagai gelandang serang maupun bertahan. Bila punya peluang, tak segan-segan mereka ikut cetak bola.

Waima usia biologis mereka berbeda-beda, tapi mereka segenarasi di HMI MPO Cabang Makassar. Uniknya, mereka bertiga tak pernah menjadi ketua umum. Bagai dalam tim kesebelasan sepakbola, mereka tidak pernah jadi kapten.

Namun, daya jelajah pengabdian boleh jadi melampaui jabatan struktural. Sebab, ketika mereka bertumbuh dalam arena mengemban amanah, jabatan ketua umum di HMI MPO Cabang Makassar, tak diperebutkan. Prosesnya nyaris selalu aklamasi.

Wafatnya Akil beberapa waktu lalu, Selasa, 28 Mei 2024, cukup mengagetkan banyak pihak. Pasalnya, pagi hari masih mengantar anaknya ke sekolah, setelahnya main bulu tangkis. Dan, di tempat berolah raga inilah ia pingsan. Lalu, sekitar pukul 10.00 WITA lewat, dokter menyatakan wafat.

Aku sendiri sedang di luar kota, berada di Bantaeng dengan beberapa agenda sampai akhir bulan. Sehingga tidak sempat melayat plus acara takziyah. Hanya pasanganku yang melayat. Urita wafatnya Akil pun kuperoleh dari japri pasangan saya, beserta video berdurasi 8 detik, saat Akil masih diberi pertolongan di lapangan oleh rekan-rekannya.

Muhammad Akil Rahman, salah seorang juniorku di HMI. Amat banyak kenangan bersamanya, baik sebagai aktivis semasa mahasiswa maupun setelahnya. Bahkan hingga berkeluarga. Keluargaku dan keluarganya sangat dekat, termasuk lokasi mukimnya tergolong tak terlalu jauh. Masih dalam kawasan Alauddin-Mannuruki Makassar.

Sewaktu Reformasi 1998 bergulir, selain aktif di HMI, ia juga bergabung dalam gerakan Solid Unhas. Ia pernah menjadi Bendahara HMI MPO Cabang Makassar. Sesudah mengurus HMI, ia banyak membantu saya di Paradigma Institute, menjadi lingkaran dalam. Lalu saya memintanya untuk bergabung ke Kopel Makassar. Arkian, Akil terangkat jadi dosen di UIN Alauddin Makassar, perlahan mulai konsentrasi mengajar dan studi. Ia sementara S3.

Bapaknya Akil, Abdul Rahman, mantan Kepala Kanwil Depag Provinsi Sulawesi Selatan. Sewaktu menjabat Kakanwil, bapaknya juga mengikuti kuliah S2, Pascasarjana UMI, program magister agama. Nah, saya bertemu dengannya sesama mahasiswa pascasarjana, satu kelas. Bahkan seringkali pergi dan pulang bersama, numpang di mobilnya. Dan, bila ibunya Akil mencarinya, cukup sang bapak mengontak saya, di mana Akil?

Sewaktu Akil telah berkeluarga, sebagai pasangan muda, ia membuka kursus sempoa. Dua putriku menjadi muridnya. Hubungan kami menjadi intim. Ketika ia sudah punya putri tiga orang, acapkali kugoda, agar punya anak laki-laki. Lalu, ia bertanya apa jaminannya, kalau yang lahir berikut sudah laki-laki? Dengan tangkas kujawab, jaminannya saya. Bukankah keluargaku, tiga putri berturut-turut? Nanti anak keempat: putra. Akil terkekeh, persis seperti bapaknya terkekeh, kala kami saling canda.

Perjumpaan terakhirku dengan Akil, sekitar tiga bulan lalu, kala Amrin wafat. Amrin Massalinri meninggal sehari sebelum Pemilu Legislatif dan Presiden 2024. Tepatnya, Rabu, 13 Februari 2024, sewaktu matahari masih semenjana teriknya. Amrin, juga junior saya di HMI MPO Cabang Makassar. Secara biologis lebih berumur tinimbang Akil. Wafatnya Amrin pun cukup mengagetkan, hanya demam tinggi selama tiga hari.

Sepak terjang Amrin selama ber-HMI dan setelahnya seperti Declan Rice, sang gelandang bertahan dan sesekali menyerang dari Arsenal. Tidak ada capeknya. Sekotah aktivitas dijelajahinya. Tukang demo, baik di kampus, jalanan, kantor gubernur, apatah lagi kantor DPR.

Saking aktifnya sebagai aktivis mahasiswa, ia tidak menyelesaikan studinya di UNM. Pungkas bermahasiswa, ia berkeluarga, lalu membuka usaha pengetikan di bilangan Tamalanrea depan Pintu 1 Unhas. Uniknya, banyak mahasiswa yang sementara S2 dan S3, pengelolaan datanya digarap oleh Amrin.

Aku pun buka Toko Buku dan Komunitas Papirus di Kompleks Pusat Dakwah Muhammadiyah (PDM) Tamalanrea Makassar. Jadi, aku bertetangga dengan Amrin. Begitu juga beberapa kawan yang ikut buka usaha.

Kawasan depan Pintu 1 Unhas dan Kompleks PDM, menjadi salah satu arena konsolidasi Alumni HMI MPO Cabang Makassar. Secara informal terbentuk jejaring Komunitas Hijau Hitam. Lagi-lagi Amrin menjadi gelandang jelajah, meskipun saya didapuk sebagai kaptennya.

Aktivitas terakhir Amrin, masih di kawasan Tamalanrea Makassar. Menjadi Marbot salah satu masjid, sembari bergiat sosial lainnya, lewat lembaga keagamaan dan komunitas sosial. Sesekali membantu Kopel, karena memang berkolega dengan pengelola Kopel. Paling terakhir, Amrin menjadi relawan pemenangan pasangan capres dan anggota legislatif, yang masih dalam jejaring alumni HMI MPO.

Salah seorang yang ikut meramaikan pergelandangan di area Pintu 1 Unhas dan Kompleks PDM, Madjid. Ada satu kios pengetikan komputer sekaligus jasa penerjemahan Bahasa Inggris digawangi Madjid. Maklum, Madjid sarjana Sastra Inggris Unhas.

Madjid Bati, putra kelahiran Tidore, merantau ke Makassar, menjadi mahasiswa Unhas. Ia pun masuk HMI MPO Cabang Makassar. Selain menjadi pengader, ia juga menjabat bendahara. Di tangan Madjid, disiplin penagihan iuran cabang melambung. Khususnya yang kurasakan.

Sebagai kenangan patutlah kuceritakan. Sekretariat cabang waktu itu di Pa’bambaeng. Aku sudah mukim di Alauddin, Gunung Sari. Sekali waktu, ia datang menagih iuran cabang. Jujur, uangnya belum tersedia. Madjid juga tidak bilang akan ke mukimku. Semacam sidaklah. Kutanya, naik apa Jid? Jalan kaki, katanya. Berikutnya, ia utarakan maksud untuk menagih iuran.

Ommale, karena terkesimak bin takjub atas jalan kakinya, aku tak kuasa untuk menolak bayar iuran. Akhirnya, pasanganku yang bergegas ke pasar dekat rumah, kucegat agar jangan ke pasar, berikan uangnya untuk Madjid. Pasanganku kaget binti heran. Nanti Madjid pergi baru kubilang duduk perkaranya. Aku sangat percaya militansi Madjid dan sering kuutarakan kepada bendahara berikutnya, agar mencontoh Madjid.

Madjid kemudian menceburkan diri ke aktivitas anti korupsi. Lembaga anti rusuah, Kopel menjadikan Madjid sebagai gelandang jelajahnya. Bahkan, mendelegasikan Madjid ke Jakarta untuk membuka perwakilan Kopel. Dalam aktivitasnya kemudian, masih senapas Kopel, ia menghembuskan napas terakhirnya. Madjid wafat, 23 Juni 2021.

Jadi, Akil, Amrin, dan Madjid, serupa trio gelandang yang berputar-putar dalam semesta HMI MPO Cabang Makassar, Paradigma-Papirus, dan Kopel. Sekotah tempat persinggahan itu, masih dalam satu selimut besar: Komunitas Hijau Hitam.  

Di keabadian mungkin saja mereka sementara merancang komunitas, paling tidak Komunitas Hijau Hitam, sebagaimana yang dijalani selama melata di bentala. Komunitas yang mereka bikin, tentulah dalam rangka mempersiapkan kedatangan kami, baik para kakandanya maupun adindanya di HMI MPO Cabang Makassar.

Imajinasiku mengemuka, tentu para senior atau yang lebih duluan berangkat pada keabadian, merasa bahagia karena kedatangan kalian bertiga. Mirip Arsenal yang baru saja mentransfer tiga gelandang jelajah, serang-bertahan, buat menghadapi perlagaan musim berikutnya.

Kalian tidak mati, melainkan masih hidup di antara kami, seperti janji Allah yang masih kupegang teguh. Cuma kalian lebih dahulu menyeberang ke alam yang pasti akan kutuju pula.

Akil, Amrin, dan Madjid, tolong konsolidasi dengan sekotah pentolan HMI MPO Cabang Makassar  yang pulang lebih dahulu pada keabadian. Temui Kalmuddin, mantan ketua cabang dan Arsyad Fadlan, mantan ketua Badko Intim. Jangan lupa, sowan ke Kak Udin (Syaharuddin Parakasi).

Satu harapanku, buatlah program kerja untuk menyambut kami yang datang belakangan. Ingat, karena kalian lebih dulu masuk ke alam sana, maka kalian pun akan jadi senior-senior kami yang masih tertinggal di bentala, yang makin ambyar bin rungkad ini.

Menggugat Kuasa Pengetahuan dengan Fenomenologi

“Ada tiga hal yang tidak bisa lama disembunyikan, yaitu matahari, bulan, dan kebenaran”, begitu kata Siddharta Gautama. tetapi, “Apakah kebenaran itu?”

Upaya manusia mencari kebenaran melahirkan sejarah panjang pengetahuan dan kemajuan peradaban manusia. Dalam perjalanan panjang sejarah manusia, pengetahuan, peradaban, dan kemajuan sosial telah menjadi pilar-pilar utama yang membimbing evolusi kita sebagai spesies. Dengan keingintahuan yang identik, manusia terus mencari pengetahuan, mengeksplorasi alam semesta, dan menggali makna kehidupan. Seiring dengan akumulasi pengetahuan, peradaban manusia berkembang. Dari perkembangan pertama dalam seni, ilmu pengetahuan, dan teknologi hingga munculnya sistem pemerintahan yang kompleks, peradaban adalah cermin dari kemajuan sosial manusia. Dengan demikian, pengetahuan, peradaban, dan kemajuan sosial adalah benang merah yang mengikat sejarah manusia, namun determinasi tidak berhenti pada kontribusi perkembangan pengetahuan terhadap suatu peradaban. Peradaban yang maju juga memberi implikasi besar pada konsepsi ilmu pengetahuan yang terus berkembang

Seperti belati bermata dua, kemajuan ilmu pengetahuan alam dan eksakta di awal abad ke-20 menjerumuskan kebudayaan ke dalam krisis kemanusiaan, kemudian mensimplifikasi manusia ke dalam makhluk satu dimensi (one dimensional), dan satu konsepsi kebenaran dengan objektivisme. Keragaman manusia dalam mempersepsikan realitas, terutama dalam cara pandang masyarakat terhadap diri sendiri dan orang lain dilupakan. Metode dan asumsi yang dikembangkan oleh ilmu-ilmu alam dan eksakta telah mendominasi segala bidang, termasuk yang berkaitan dengan manusia. Pandangan manusia terhadap realitas dunia yang dianggap multidimensi telah didominasi dan bahkan “didominasi” oleh metode dan asumsi ilmu pengetahuan alam, seolah-olah hanya metode dan asumsi inilah yang paling valid. Itulah yang diungkapkan oleh Husserl dalam karya The Crisis of European Sciences (1936).

Penulis dalam tulisan ini berupaya menjelaskan bagaimana gelombang perkembangan metode pengetahuan fenomenilogis sebagai bagian dari fragmen sejarah perkembangan peradaban yang berkonsekuensi pula pada penafsiran kembali bagaimana manusia menerjemahkan realitas dan bagaimana perkembangan metodologi suatu ilmu.

Konsep fenomenologi dalam tradisi ilmu pengetahuan khususnya dalam hal epistemologi dipopulerkan oleh Edmund Husserl. Husserl belajar di kota Leipzig, Berlin hingga Wina dalam bidang matematika, fisika, astronomi, dan filsafat. Minatnya terhadap filsafat dibangkitkan oleh kuliah-kuliah filsafat Franz Brentano, seorang filsuf yang memainkan peran penting di Universitas Wina waktu itu. Dalam konsepsi ide Franz Brentano yang bagi penulis cukup spiritual, Brentano menggabungkan corak empirisme yang khas dari mazhab Lingkar Wina dengan tradisi berpikir skolastik, yang kemudian mempengaruhi lahirnya teori psikologi deskriptif. Tidak sulit untuk memperlihatkan pengaruh pemikiran Franz Brentano terhadap fenomenologi Edmund Husserl di kemudian hari khususnya ajaran tentang intensionalisme yang identik dengan corak fenomenologis

Konsep Utama Fenomenologi

Dalam membedah atau menerangkan suatu konsep teori pengetahuan secara umum kita bisa menelisik kedalam dua model analisis, analisis diakronik dengan melihat jejak geneologis suatu toeri atau analisis sinkronik dengan melihat secara holistik suatu teori dari beberapa ruang lingkup dan perspektif, seperti apa yang diterangkan sebelumnya.

Pemikiran Edmund Husserl soal fenomenologi juga tidak lepas dari pengaruh pemikiran psikologi diskriptif Franz Brentano yang menolak asumsi kausalitas dalam psikologi genetik dan penolakannya terhadap kebenaran yang hanya bisa diamati di luar diri manusia.

Menurut Brentano fenomena mental itu nyata. Dia tidak setuju dengan gagasan bahwa satu-satunya hal yang nyata adalah yang ada di dunia luar. Konsepsi kebenaran pluralistik dan penolakan terhadap objektivitas empiris menjadi pilar penting fenomenologi.

Adapun beberapa konsep kunci fenomenologi seperti kesadaran hanya dimiliki manusia, subyek yang berpikir, di mana kesadaran ini juga menuntut hal lain, yakni intensi. Intensi atau keterarahan ditujukan untuk sesuatu, yakni obyek, di mana dalam tradisi fenomenologi disebut “fenomena.”

Intensionalitas Keterarahan (intensionality) dapat dipahami dalam hubungannya dengan kesadaran (consiousness). Kesadaran akan sesuatu hanya mungkin terjadi karena adanya keterarahan atau intensionalitas pada sesuatu tersebut. Sejauh kita memiliki kesadaran akan sesuatu hal atau peristiwa tertentu, dalam arti fenomena, maka kita akan membentuk kesadaran akan hal itu, dan dari sana kemudian timbul pemahaman. Dan Epoche atau melepaskan keterhubungan.”

Epoche kerap diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan istilah bracketing, yaitu “menyekat” antara sesuatu dengan sesuatu yang lain. Dalam fenomenologi, bracketing ini kerap diartikan sebagai penundaan penilaian atau suspension of judgment, dari fenomena yang kita teliti, atau disebut juga sebagai reduksi fenomenologis. Husserl menekankan bahwa untuk memahami dunia, kita harus melepaskan semua konsep, praduga, tendensi dan pretensi, sehingga menunda dulu setiap penilaian yang ada, agar fenomena tersebut tampil sebagaimana adanya. Dalam domain filsafat fenomenologi bisa diuraikan kedalam bentuk piramida segitiga kembar, jika kita berbicara persoalan filsafat ilmu maka paling tidak dalam suatu konsep penting mengklasifikasi posisi ontologis, epistemologis dan metodologis dari suatu konsep, juga melihat posisi aksiologis sebagai tujuan akhir suatu konsep.

Secara ontologi konsep fenomenologi berada pada suatu kenyataan kebenaran yang berisfat relative bukan bersifat statis yang kenyataan itu tetap namun sejauh apa yang disadari manusia dengan melepas asumsi asumsi universal. Secara epistemologi kebenaran tidak berada pada luar tetapi melekat pada persepsi internal subjektifitas, sehingga dalam penentuan kebenaran suatu realitas tidak berdasar pada apa yang nampak namun apa yang disadari, sehingga melahirkan keberagaman kebenaran bukan bersifat tunggal, sehingga secara metodelogis fenomenologis bersifat deksripsi dan klasifikasi yang melihat suatu realita itu bersifat parsial dan plural, tidak melihat realitas sebagai hubungan kausalitas sebagai satu satunya metode pencarian akan kebenaran dengan jalan verifikasi.

Secara Aksiologis cita cita fenomenologi sebenarnya sederhana bagaimana menginterpretasikan makna di balik sebuah realitas dengan menggunakan kesadaran manusia yang tidak tereduksi oleh objektivitas empirirk.

Kuasa Pengetahuan dan Otoritas Keilmuan

Dalam kacamata Foucault kekuasaan harus dipahami pertama sebagai macam hubungan kekuatan yang imanen. Hubungan kekuatan itu berlaku dalam unsur-unsur pembentuk dan organisasinya. Kedua, permainan yang dengan jalan perjuangan dan pertarungan tanpa henti mengubah, memperkokoh memutarbaliknya. Ketiga, berbagai hubungan kekuatan yang saling mendukung, sehingga membentuk rangkaian atau sistem, atau sebaliknya, kesenjangan, dan kontradiksi yang saling mengucilkan, terakhir, strategi tempat hubungan-hubungan kekuatan itu berdampak, dan rancangan umumnya atau kristalisasinya  dalam lembaga terwujud dalam perangkat negara dan perumusannya.

Ini berbeda pada pengertian kekuasaan secara umum  dipahami dan dibicarakan sebagai daya pengaruh seseorang atau suatu organisasi untuk memaksakan kehendaknya kepada pihak lain. Dalam konteks ini, kekuasaan diartikan sebagai menindas, terkadang represif. Secara spesifik, dominasi terjadi antara subjek kekuasaan dan objek kekuasaan. Misalnya kekuasaan negara atas rakyat, kekuasaan laki-laki atas perempuan, dan kekuasaan pemilik modal atas buruh. Pemahaman  ini sering digunakan oleh para ahli sejarah, politik, dan masyarakat.

Dalam bidang epistemologi, ilmu pengetahuan modern, terutama ilmu alam dan ilmu-ilmu empiris, telah terlalu bergantung pada metode dan paradigma yang materialistik serta positivistik. Menurut Husserl, krisis ilmu muncul karena penekanan yang terlalu besar pada metode ilmiah yang mengabaikan aspek subjektif dari pengalaman manusia. Ia berpendapat bahwa ilmu pengetahuan modern telah terlalu terfokus pada objek luar dan mengabaikan subjek pengetahuan. Hal ini mengakibatkan kehilangan makna dan nilai dalam pengalaman manusia.

Upaya kembali ke akar-akar filsafat dan mengeksplorasi esensi subjektivitas manusia adalah suatu ikhtiar pengetahuan yang bertujuan untuk memahami pengalaman langsung subjek dalam segala kompleksitasnya, tanpa asumsi atau prasangka apapun.

Fenomenologi sebagai Metode Alternantif

Fenomenologi yang hadir sebagai jalan kedua metodelogi setelah penolakannya terhadap pilar positivistik yang dianggap dominan seperti rasionalisme empirik, kausalitas, dan esensialisme tunggal, upaya itu juga membuat pemikiran fenomenologi berkembang kebeberapa pemikiran seperti fenomenologi transendental Edmund Huserl tentang pencarian makna paling esensial yang diperoleh dari kesadaran manusia, atau fenomenologi interpretative ontologis Heidegger, atau eksistensialisme Jean Paul Satre dan Marleu Ponty.

Pada beberapa perbedaan konsep fenomenologi bagi penulis kesemua pemikir tersebut tetap membawa beberapa visi yang sama untuk mendobrak kemapanan konsepsi pengetahuan yang riskan dengan misi elektoral dan kepentingan kekuasaan, adapun beberapa poin yang dianggap penulis sebagai jalan alternatif.

Pertama pembaharuan metode, kritiknya atas Ketergantungan pada Metode Ilmiah Tradisional percaya bahwa ilmu pengetahuan modern telah terlalu bergantung pada metode ilmiah tradisional yang berfokus pada observasi empiris dan pengujian hipotesis. Ini menyebabkan penekanan yang terlalu besar pada objektivitas dan materialisme, mengabaikan aspek subjektif dari pengalaman manusia.

Kedua Membaeri tempat pada Subjektivitas fenomenologi menekankan pentingnya subjektivitas dalam pengalaman manusia. Menurutnya, pengalaman subjektif individu harus dipertimbangkan secara serius dalam membangun pengetahuan yang bermakna. bahwa pengetahuan yang lengkap tidak hanya terdiri dari apa yang dapat diamati secara eksternal, tetapi juga termasuk apa yang dirasakan dan dihayati secara subjektif oleh individu.

Ketiga kembali ke Filsafat, bahwa untuk mengatasi krisis ilmu, kita perlu kembali ke akar-akar filsafat. Penekanan pada pentingnya pemikiran filosofis yang mendalam untuk memahami esensi subjektivitas manusia dan hakikat pengetahuan. Bagi penulis krisis ilmu tidak hanya merupakan krisis epistemologis, tetapi juga mengenai krisis nilai dan makna dalam pengalaman manusia. kembali ke akar-akar filsafat dan menerapkan metode fenomenologi, kita dapat merumuskan kembali dasar-dasar ilmu pengetahuan yang lebih inklusif dan berdasarkan pengalaman manusia yang utuh.

Terakhir, manusia tidak akan pernah berakhir pada suatu konsep kebenaran yang ideal, bentuk dari keberadaan akal adalah perubahan itu sendiri, menjadi sebuah keniscayaan pengetahuan manusia akan terus bergerak maju dan merevisi konsepsi konsepsi yang sudah ada, begitupun dengan fenomenologi sebagai konsep dan metode adalah jalan alternatif untuk mengafirmasi kompleksitas manusa dan keberagaman pengalaman batin manusia, sehingga mengsimplifikasi dan mengobjektifikasi pengetahuan manusia yang harus berdiri pada satu standar pengetahuan yang mutlak adalah pengekangan terhadap gerak tumbuh pemikiran manusia.

Penulis ingin menegaskan bahwa apa itu kebenaran? Adalah hal yang masih misterium atau bahkan tidak ada, hanya upaya menormalisasi suatu standar tertentu dan menghakimi pemikiran tertentu dengan kalimat benar atau salah, singkatnya fenomenologi yang di uraikan penulis adalah sebuah ikhtiar bahwa kebenaran boleh saja bersifat plural dan upaya manusia adalah mencari makna realita dengan kesadaran sebagai kompas pengetahuan

Sebuah Esai untuk Hari Pendidikan Nasional

Selamat hari pendidikan nasional bagi guru, ojol, siswa-siswi, penjaga gerbang sekolah, mahasiswa, penjual di kantin, satpam kampus, dosen, dan semua orang yang pernah duduk menjadi seorang pelajar, di sebuah sekolah, di suatu perguruan tinggi.

Pendidikan saya kira adalah mesin transformasi. Suatu waktu, anak seorang petani, berseragam, bersepatu, ia bersekolah dan tidak lama dapat bercita-cita menjadi seorang insinyur tidak seperti pekerjaan orangtuanya. Anak seorang tukang becak pasca menyemat gelar bisa diterima di perusahaan multinasional, dan di tempat lain, membuat seorang anak muda pelosok setelah meninggalkan kerbau dan sawahnya, pergi ke kota dan bersekolah bercita-cita ingin menjadi seorang presiden di negeri yang hampir semuanya adalah laut

Pendidikan memang memberikan peluang-peluang baru, wawasan baru, dan memperkenalkan keterampilan-keterampilan baru yang diciptakan melalui kebudayaan, tapi di saat bersamaan mengubah cara orang berpikir melahirkan kebiasaan baru dengan risiko meninggalkan adat kebiasan lama.

Keluarga petani terancam kehilangan pengetahuan bercocok tanam setelah anaknya pergi bersekolah di kota. Anak seorang ketua adat terancam kehilangan kearifan lokal setelah menerima pendidikan modern. Dan anak pelosok tadi sudah gengsi bertungkuslumus dengan kerbaunya karena lebih memilih pergi dari sawahnya mengejar impian-impian barunya di kota.

Pendidikan bukan sekolah, meski banyak orang kadung mengidentikkan keduanya. Itu ulah birokratisasi, saat masyarakat menyadari pentingnya suatu lembaga publik agar dapat mengerjakan tugas-tugas yang tidak dapat mereka sanggupi di dalam keluarga. Di masa lalu, keluarga merupakan lembaga utama dan tertua untuk membentuk karakter anak-anak sebelum akhirnya diserahkan kepada pihak lain melanjutkan kerja parenting yang tidak dapat lagi dilakukan oleh para orangtua. Kebiasaan berubah, dari scola matterna menjadi scola in loco parentis. Dari tangan seorang ibu diserahkan kepada guru-guru bijak bestari. Setelah itu, tempat asuh yang makin menjadi sering itu menginisiasi lahirnya lembaga pendidikan yang kelak akan disebut almamater (ibu yang mengasuh).

Dari sini bisa jadi pendidikan itu berkarakter feminin ketimbang maskulin sehingga awalnya bagi anak-anak yang mengenyamnya dapat merasakan kedekatan, kasih sayang, dan merasa diayomi. Bisa jadi dalam buaian feminin pertanyaan akan dibalas jawaban, protes akan dibalas senyuman, dan gugatan akan dibalas gugahan.

Saat ini pendidikan adalah barang istimewa. Tidak semua orang dapat merasakannya. Banyak kritikus menyatakan itu semua karena pendidikan telah menjadi komoditas. Ia menjadi barang dagangan yang mengubah relasi ilmu pengetahuan menjadi relasi transaksional. Mengubah orang-orang di dalamnya seperti sedang beraktivitas di dalam suatu pasar. Meriah tapi tidak sanggup untuk mendapatkan produk yang diharapkan. Terlalu tinggi. Mahal.

Tapi meskipun demikian, ia tetap direspons dengan cara yang hampir sama: upacara. Suatu cara yang ditentukan negara ketimbang lembaga pendidikan itu sendiri. Seolah-olah lembaga-lembaga pendidikan telah kehilangan inisiatif untuk mengisi momen pentingnya sendiri. Barangkali hanya di negara ini hari pendidikan diperingati seolah-olah sedang menghadapi perang dengan cara membentuk barisan, berseragam, dan perlu protokol untuk mengaturnya. Hari pendidikan sebaiknya-baiknya cara untuk menyambutnya, menurut saya, dengan membuka pertemuan-pertemuan akademis, melakukan publikasi karya ilmiah, penganugerahan jasa, mengadakan pameran pendidikan, seminar-seminar sains, atau menggelarnya selama sepekan dalam semangat ilmu pengetahuan. Vibesnya lebih terasa.

Di atas ini beberapa gambar yang saya temukan di salah satu perguruan tinggi yang tidak perlu saya sebutkan namanya, yaitu UNM. Seseorang (atau sekelompok) menuliskannya dengan cukup menyakinkan, dan sepertinya ditulis dalam rangka hari pendidikan nasional—setidaknya begitu yang saya kira. Satu dua gambar di antaranya sudah cukup jelas diperuntukkan untuk merespon isu ketenagakerjaan, yang masih cukup relate dengan hari Buruh Internasional kemarin. Sementara sisanya mengingatkan saya kepada salah satu cerpen Eka Kurniawan, Corat Coret di Toilet. Tapi, ini kamar kencing yang berbeda dari toilet Eka Kurniawan di dalam cerpennya, yang saling sambung komentar antara pengunjungnya sehingga menampilkan suatu percakapan. Tidak ada cermin di toilet ini, yang dapat menjadi metafor tentang pentingnya refleksi bagi wacana kritis. Dan juga tiada tulisan dari gincu merah menandai kata-kata elite yang lebih sering menjadi pemanis bibir.

Meski demikian ini menjadi satu sinyalemen bahwa aspirasi dari bawah masih hidup dari ceruk-ceruk perguruan tinggi, meski dari pandangan elite tindakan semacam ini bisa dinyatakan sebagai vandalisme ketimbang pemberontakan yang ditengarai kelompok perlawanan bersenjata. Ini mungkin juga tanda-tanda saluran aspirasi sedang mampet dan perlu perbaikan, atau simbol kegagalan elite pelajar yang sedang mengalami disorientasi apalagi frustasi ketika menjabarkan dengan cukup visioner bagaimana peran publik mereka ketika diperhadapkan dengan masalah-masalah yang lebih luas dari sekadar masalah lokal dan terbatas di kampus mereka, sehingga lebih memilih menyampaikannya dengan cara terbatas dan terisolir.

Atau ini sekaligus sebagai tanda kehancuran epistemik di sebagian besar kubu pelajar yang tidak sanggup menjangkau pemikiran yang lebih panjang dan ilmiah, sehingga tidak sanggup dituangkan kedalam karya-karya publikasi yang lebih argumentatif dan komunikatif. Itu menjadi satu soal internal yang mesti dipecahkan dikarenakan masalah selama ini hanya dapat tuangkan ke dalam idiom jargonistik ketimbang pikiran-pikiran yang terlatih.

Tapi, menurut saya tindakan semacam ini tidak usah direspons secara berlebihan apalagi mendatangkan satuan keamanan untuk memberikan pelajaran kepada entah siapa yang melakukannya. Ini bisa dianggap sebagai gaya curhat sekelompok mahasiswa yang tidak dibekali rasa percaya diri tapi berani diam-diam menulisnya seperti seseorang yang sedang jatuh cinta. Ia malu bertemu langsung dengan perempuan idamannya sehingga memerlukan medium tidak langsung demi mengatakan uneg-uneg perasaannya.

Syahdan, begitulah makna edukasi (ed: keluar, care: menarik). Yakni sudah merupakan fitrahnya pendidikan itu “menarik keluar” apa saja yang ada di dalam pikiran pelajar untuk dibicarakan bersama, ketimbang seperti anggapan sebagian pendidik selama ini yaitu terdorong memasukkan sesuatu ke dalam benak anak-anak asuhnya untuk mengharapkan kesepakatan. Itu.

Tulisan ini pertama kali terbit 2 Mei 2023 diterbitkan ulang demi pendidikan

Lebih Dari Sekedar Tubuh (Cerita tentang mitos kemuliaan perempuan)

Sebagai seorang mahasiswa disalah satu kampus ternama, di kawasan Indonesia Timur, Anggun  memang memiliki kebanggan besar. Meskipun ia sendiri tidak memiliki pemahaman yang memadai, tentang rasa kebanggan itu. Yang jelas ia bangga dengan kampusnya. Mungkin, perasaan ini seperti cinta, yang seringkali tak memiliki alasan yang jelas. “Pokoknya, aku bangga dengan kampus ini,” gumam Anggun.

Tentu, kebanggan ini berasal dari berbagai pengalamannya, menghabiskan waktu di kampus, yang membuatnya dikelilingi teman-teman baik, dan menghiasi hari-harinya dengan canda tawa. Anggun menyadari, meskipun sebenarnya kehidupan kampus adalah wahana ilmu pengetahuan, namun rasa-rasanya ia begitu nyaman dengan kondisi ini. Kuliah, belajar, dan diskusi seperlunya, serta bersenang-senang, dengan kekonyolan masing-masing.

Sebagai perempuan muda dan berkulit putih, Anggun juga sering menggunakan jilbab, dan pakaian yang menutupi kulit serta lekuk tubuhnya. Anggun menganggap, tubuhnya merupakan simbol kesucian. Setidaknya, itulah kesimpulan yang bisa ia pahami, dalam setiap ceramah agama, tentang kesucian dan kemuliaan perempuan. Anggun selalu berusaha sejauh mungkin, untuk menjaga tubuhnya, agar tidak dijamah oleh lelaki yang bukan muhrimnya. Ia percaya, bahwa menjaga tubuhhnya untuk tidak dilihat, apalagi disentuh oleh lelaki, merupakan bagian dari usaha untuk menjaga kesucian yang merupakan bentuk kemuliaan seorang perempuan.

Tubuh dan Kesuciannya

Kesucian tubuh perempuan, seringkali digambarkan seperti sebuah permen, yang terbuka dari bungkusnya, dan dikerumuni oleh banyak semut penerkam. Berbeda jika permen itu, tertutup dengan bungkusnya. Tak peduli seenak dan semanis apapun permen itu, semut tak akan bisa menjangkau, dan menerkam permen itu. Tentu ini sebuah analogi yang sangat mudah dipahami, untuk menggambarkan kesucian perempuan. Seorang perempuan yang tertutup dengan jilbab dan pakaiannya, akan lebih mudah terlindungi dari sentuhan siapapun. Mudah untuk berpikir, bahwa berhasil menjaga kesuciaan, akan memperoleh kemuliaan, sebagai perempuan.

Dalam nuansa agama, konsep kesucian memang cenderung luas dan lebih dalam dari pemahaman yang berkembang di masyarakat. Diberbagai fatwa agama, lelaki diminta untuk menjaga perilaku dan pandangan, agar mencegah terjadinya tatapan menarik hingga sentuhan, antara lelaki dan perempuan yang bukan jodoh (suami-istri). Bahkan, seorang lelaki diancam dengan model penyiksaan yang pedih, diakhirat kelak, ketika ia dengan sengaja, menyentuh kulit perempuan. Sebegitu berbahaya apakah, hingga seorang lelaki yang menyentuh tubuh perempuan, akan mendapatkan siksaan yang pedih di akhirat?

Pemahaman ini, membuat Anggun mengerti, bahwa menjaga tubuh dari sentuhan lelaki, sangat penting bagi seorang perempuan, dan merupakan sebuah keharusan. Begitu besarnya akibat yang diberikan kepada lelaki yang menyentuh tubuh perempuan, membuat perempuan menyadari, betapa mulianya kesucian tubuhnya. Tak jarang, bagi perempuan yang begitu mendalami ajaran agama, ia begitu menyesal jika kulitnya disentuh lelaki. Tentu tak bisa terpikirkan, jika sentuhan ini, sampai membuah keperawanannya hilang.

Tubuh perempuan, memang dianggap sebagai sesuatu yang begitu sakral. Disitu terdapat keindahan, dan tanggung jawab besar, yang bahkan bisa meruntuhkan langit dan bumi. Begitu kira-kira agama memandang tubuh perempuan, secara filosofis. Dikalangan masyarakat sendiri, konsep ini dipahami sebagai sebuah kesucian, yang harus benar-benar dijaga oleh perempuan. Dalam tubuh perempuan, ada kesucian yang bersemayang. Apabila tubuh itu disentuh dan kehilangan keperawanan, maka kesucian perempuan pun hilang bersamanya. Hal inilah yang membuat, perempuan menjaga tubuhnya. Karena jika tidak, maka kesucian direnggut, dan kemuliaannya sebagai perempuan, juga ikut lenyap.

Anggun dan banyak perempuan lainnya, meyakini konsep kesucian dan kemuliaan perempuan seperti ini. Menjaga tubuh, agar tetap dinilai suci, merupakan hal wajib yang harus dilakukan. Jika tidak, maka harga diri sebagai perempuan, bisa hilang dalam sekejap. Tak peduli apapun alasannya. Tubuh sangat penting untuk dijaga.

Mempertahankan Tubuh dan Kesucian

Hingga suatu saat, Anggun mendapatkan perilaku keji dari seorang lelaki, di kampus yang dibanggakannya itu. Ia dijegal oleh seorang lelaki, saat selesai mengerjakan beberapa tugas kampus di salah satu gedung perkuliahan. Suasana kampus yang sepi, dan langit yang mulai menghitam, dimanfaatkan dengan baik oleh lelaki itu, untuk memanggil Anggun mendekat ke tempatnya yang sunyi, dan tengah sendirian. Merasa tidak enak, Anggun pun mendekat, dan berbincang santai.

Beberapa saat kemudian, alur pembicaraan mulai mengarah ke pembahasan yang seksis. Anggun merasakan itu dengan baik. Sebagai perempuan yang sudah cukup dewasa, ia mengerti dengan narasi yang diucapkan lelaki paruh baya itu. Ia pun mulai merasa risih, dan memutuskan untuk menjauh, dan segera pulang ke rumahnya.

Mendapati suasana seperti ini, sang lelaki pun dengan sigap, menarik tubuh Anggun, dan menyeretnya ke salah satu ruangan yang cukup dekat, namun tersembunyi. Tubuh yang tidak lebih kuat dari lelaki, membuat Anggun dengan mudah ditarik, dan masuk ke tempat yang diinginkan lelaki itu.

Ia meronta sejadi-jadinya. Ia berteriak sekuat tenaga, namun tak kunjung ada pertolongan. Lagi-lagi, suasan yang sunyi, dan lokasi kejadian yang cukup tersembunyi, membuat perlawanan Anggun sia-sia dibekam oleh tubuh kekar dan kuat oleh lelaki itu. Anggun pun mulai menyadari, bahwa kemampuan perlawanan dari tubuhnya mulai terasa hampir mencapai puncak. Tubuh yang Lelah dihantam banyaknya tugas dan aktivitas perkuliahan, tentunya tak memberikan harapan yang lebih besar, untuk melakukan perlawanan dan terlepas dari bekaman lelaki bejat tersebut.

Akhirnya, dengan tubuh yang kerkulai lesu dan lemah, Anggun menyadari bahwa tubuhnya sedang diganyang oleh lelaki tersebut, dengan penuh nafsu. Ia melihat dengan jelas, bagaimana mulut dan tangan lelaki itu, begitu lincah menjelajahi seluruh bagian tubuhnya. Tubuh yang lunglai, bersandar dengan lemah, dilantai yang lembab. Suara dan tenaganya sudah habis untuk melakukan perlawanan. Satu-satunya yang tersisa, hanyalah hati yang terus meronta, dan perasaan yang berharap datangnya pertolongan, entah dari mana pun itu.

Tak berlangsung lama, Anggun menyadari bahwa keperawanannya telah hilang. Tubuhnya bergetar dingin, keringatnya terus bercucuran, dan hatinya yang terus memaki perlaku bejat si lelaki. Hingga semuanya pun selesai, Anggun berjalan dengan lunglai, menuju ke rumahnya. Tubuhnya yang lemah, perasaanya yang hancur, membuatnya tidak bisa berbuat banyak saat tiba dirumah, selain mengurung diri di kamar mandi, menyalakan air, dan menangis sejadi-jadinya.

Ia begitu merasakan, betapa langit dan bumi runtuh dalam sekejap. Keperawanannya telah hilang, kesuciannya telah direnggut, dan kemuliaannya telah sirna. Baginya saat ini, tak ada lagi yang bisa dipikirkan, selain penyesalan atas peristiwa terburuk yang menimpa dirinya, di kampus yang begitu ia banggakan.

Bayang-bayang peristiwa itu, terus menari di pikirannya. Anggun tak bisa menyembunyikan penyesalan dan sakit hatinya, karena peristiwa itu. Ia tak kuasa menahan mulut dan tubuhnya untuk meronta, dan menceritakan kebengisan ini, kepada beberapa kawan yang dipercayainnya. Sontak, peristiwa ini membuat teman-temannya marah, dan membuat permasalahan ini, gempar dikalangan mahasiswa. Selain sebuah Tindakan kekerasan seksual, pelakunya juga merupakan seorang kakak tingkat, yang cukup terkenal dan disegani banyak mahasiswa lainnya. Meskipun kita menyadari, bahwa siapa dan bagaimanapun status sosial seseorang, ia tetaplah pelaku kejahatan seksualitas.

Demi Nama Baik Kita Semua

Setelah kabar tak sedap ini beredar begitu cepat dikalangan mahasiswa, pihak birokrasi kampus segera melakukan pemanggilan, dan penanganan terhadap kasus kekerasan seksual ini. Anggun menyadari, meskipun penanganannya terbilang lambat, karena dirinya sudah sejak lama memasukan pelaporan ini kepada pihak kampus, namun ia tetap berharap besar, pihak kampus dapat mengambil langkah bijak, untuk memberikan hukuman, dan setidaknya memberikan ketenangan kepadanya, sebagai seorang korban.

Namun, harapan tak sesuai kenyataan. Bukannya malah mengambil langkah tegas secepat mungkin, untuk menangkap dan memberikan sanksi kepada pelaku. Pihak birokrasi kampus, masih melakukan koordinasi dengan seluruh pihak terkait, meski seluruh bukti telah terpampang jelas, dan ketentuan hukumannya pun telah diatur dengan rinci dalam tata cara penanganan kasus kekerasan seksual, di lingkungan kampus. Alasannya, tak perlu diragukan lagi. “Kami lakukan ini, demi nama baik kampus dan martabat kita semua,” ungkap pimpinan kampus dengan lembut.

Setelah beberapa saat, Anggun kembali menerima beberapa pertanyaan tajam dan sinis, dari beberapa petinggi di kampus. Ia memahami, bahwa berbagai pertanyaan itu, ditunjukan untuk mengetahui dengan baik, bagaimana kelalaiannya dalam menjaga diri, tubuh dan kesucian, serta kemuliaannya sebagai perempuan.

Nyatanya, kampus dengan segudang prestasi dan rating di atas rata-rata pun, tak mampu memahami persoalan ini secara sederhana. Lagi-lagi, ada harga diri dan martabat kampus yang dipertahankan. Bagi birokrasi kampus, ini bukan sekedar kasus kekerasan seksual. Lebih dari itu, terbukannya kasus busuk seperti ini, di kampus yang terkenal, akan sangat merusak citra dan moralitas kampus, bersama orang-orangnya.

Dengan pengalaman puluhan tahun menjadi Dosen, beserta buku dan berkas yang bertumpuk di meja mereka, tak mampu memahami bahwa, ada kemanusiaan yang rusak, dan hati yang gelap, untuk berempati terhadap penderitaan seseorang.

Kampus pun mengambil langkah damai, dengan berharap bahwa aktivitas kuliah bisa kembali lancar, Anggun dan lelaki bejat itu bisa berdamai, dan suasana kampus kembali steril, serta  mahasiswanya kembali sibuk mengerjakan banyaknya tugas perkuliahan. Kampus pun tak memberikan hukuman tegas, karena sang lelaki yang cukup terkenal. Menghukumnya akan menimbulkan berbagai pertanyaan kepada pihak kampus, yang membuat birokrasi terus tenggelam dengan masalah tersebut.

Teguran internal diberikan kepada sang lelaki, agar tidak mengulang kesalahannya lagi. Sementara Anggun, diminta bersabar, dan lebih berhati-hati jika beraktifitas di kampus yang telah sunyi.

Seperti banyaknya perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual lainnya, Anggun juga tidak menerima perlakuan adil. Kampus yang begitu dibanggakannya, berubah menjadi sarang para manusia munafik, busuk, dan terus menyuburkan perilaku keji.

Dilema Perlawanan

Anggun merasa kampus tak kunjung berperilaku adil, dalam menangani kasusnya. Perasaan sakit hati, mendorongnya untuk terus berjuang, mencari keadilan. Ia menginginkan adanya sikap tegas, dari pihak kampus, untuk menghukum mereka yang bersalah.

“Jika tak mendapatkan sikap tegas, maka perilaku seperti ini pasti akan terus berulang,” gumam Anggun.

Baginya, keperawanan yang telah direnggut oleh lelaki itu, tak bisa ternilai dengan apapun. Itu merupakan simbol kesucian dan kemulian seorang perempuan, yang telah dirampas dan dirusak dalam sekejap.

Banyak orang juga berpikir, bahwa seorang perempuan yang tak mampu mempertahankan keperawanannya seperti ini, adalah perempuan jalang yang tak suci dan hilang kemuliaannya.

Namun, alih-alih mendapatkan dukungan dari pihak kampus dan masyarakat. Anggun justru menerima narasi yang menyakitkan, dan membuatnya dilema luar biasa. Disisi lain, ia ingin memperjuangkan haknya, namun bertabrakan dengan martabanya yang terus terancam.

Mudah untuk mengetahui, bahwa masalah kekerasan seksual, adalah hal yang tabu, sekaligus sangat menarik untuk diketahui oleh banyak orang. Kenapa sangat tabu? Karena seksualitas adalah sesuatu yang sangat intim, yang seharusnya hanya diketahui oleh orang-orang tertentu. Dan kenapa sangat menarik, karena keperawanan, dianggap sebagai simbol kemuliaan perempuan. Tentu, perempuan yang tidak lagi mulia, akan mudah dianggap sampah, dan orang lain akan berpikiran berkali-kali, jika harus berurusan bahkan menjalin hubungan serius dengan perempuan seperti itu.

Dengan kondisi batin yang masih terus tertekan, Anggun menerima nasihat dari berbagai Dosen di kampusnya, untuk menghentikan persoalan ini, dan kembalilah untuk fokus menyelesaikan kuliah. “kuliah yang benar, dan cepat. Ketika lulus, jadilah perempuan sukses, dan kau bisa berkuasa, untuk menghukum mereka, para predator seksual,” begitu kira-kira, narasi Dosen, saat menasehati Anggun.

Kebimbangan mulai bergelora dengan kuat di dalam dadanya. Jika kasus ini terus diperbesar, maka akan semakin banyak, mahasiswa dan masyarakat mengetahui, bahwa ia adalah korban kekerasan seksual, yang kini tak lagi suci, karena keperawanannya telah hilang. Namanya akan disebut-sebut, sebagai perempuan tanpa kemuliaan, yang tak pantas untuk diikuti oleh orang lain. Bahkan, bisa-bisa harus dijauhi.

Nama Anggun mulai ramai diperbincakangkan, baik oleh mahasiswa dan masyarakat di kampungnya. Ia diketahui, sudah dalam kondisi yang tidak perawan, tidak suci, dan berlumuran dosa dan kehinaan. Anggun pun terus merasa bimbang, sembari batinnya terus bergejolak. Rasa-rasanya, dengan banyaknya tekanan ini, ia tak mampu lagi melawan. Bukan hanya melawan tersangka, dan pihak kampus yang harusnya bertanggung jawab, ia juga tak mampu menahan pandangan buruk dari masyarakat, tentang kesuciannya yang telah hilang dan direnggut oleh lelaki sialan itu.

Terbukannya kasus Anggun secara umum, dapat membuat dirinya didiskriminasi, akibat kehilangan keperawanan, kesucian dan kemuliaan sebagai seorang perempuan. Dimasyarakat kita, kesucian seorang perempuan, sangat lekat dengan tubuh, yang berarti ketika tidak mampu dijaga oleh perempuan itu, maka ia tak lagi memiliki kehormatan sebagai perempuan.

Tentunya, sebagai seorang perempuan, Anggun sangat malu, jika kabar tentang keperawannya yang telah direnggut ini, beredar terus dikalangan mahasiswa dan masyarakat. Pilihan untuk menghentikan penanganan kasus, dan menutup masalah ini, menjadi satu-satunya opsi, yang nampaknya bisa menjaga Anggun, dari pandangan diskriminatif. Langkah seperti ini, nampaknya layak diambil, jika seseorang hidup dalam masyarakat yang cukup awam, dan dikuasai oleh pola pikir patriarki.

Dengan penuh tekanan dan ketabahan, Anggun menghentikan dan menutup kasusnya. Ia berharap, kasus ini bisa hilang dari permukaan, dan tak akan banyak yang mengetahui, bahwa keperawanannya telah hilang, dan martabatnya sebagai perempuan, akan tetap terjaga dengan baik.

Sejak saat ini, ia tidak lagi bangga dengan kampusnya, yang ternyata cacat dalam berempati terhadap penderitaan mahasiswanya. Sifat mudah berempati dengan penderitaan seseorang, memang luput diajarkan di ruang-ruang perkuliahan, oleh para Dosen dengan deretan gelar yang dimilikinya. Bahkan, mereka sendiri nampaknya, masih belum mudah bersikap demikian.

Mitos Kesucian

Apa yang dialami oleh Anggun, merupakan potret buruk, yang seringkali menimpa perempuan di negeri ini. Perempuan yang rentan dengan kekerasan seksual, malah harus menerima rasa sakit yang berlapis-lapis, karena ketidakmampuan dirinya untuk melawan, dan dipaksa untuk bersikap baik-baik saja. Padahal, ada dada yang begitu sesak, batin yang begitu hancur, dan harga diri yang sia-sia.

Kasus seperti ini, memang sering terjadi dalam masyarakat yang didominasi oleh pola pikir patriarki. Perempuan kerap kali menjadi obyek kesalahan. Patriarki, memang selalu memposikan perempuan sebagai mahluk kedua, yang jauh dari kesetaraan. Alhasil, jika cara pandang patriarki terus digunakan dalam menyelesaikan sebuah perkara, perempuan akan selalu mendapatkan dalih, untuk disalahkan. Meskipun sebenarnya, ia adalah korban. Namun, bisa dengan mudah, menjadi penyebab, dan pelaku utama dalam setiap kesalahan.

Tubuh perempuan begitu diagungkan, dan disimbolkan sebagai kesucian yang hakiki. Kehilangannya, sama seperti kehilangan kemuliaan sebagai perempuan. Cara pandang seperti ini, membuat perempuan sangat menjaga tubuhnya. Keperawanan adalah sesuatu yang mahal. Kepemilikannya, membuat perempuan punya harga yang tinggi. Jika tidak, maka sebaliknya. Perempuan hanya akan dianggap, sebagai sebuah tubuh tanpa ada kemuliaan.

Menjaga tubuh, tidak sesederhana yang dibayangkan banyak orang. Tentu banyak alasan, yang membuat perempuan kehilangan keperawanannya. Salah satunya seperti Anggun, yang kehilangan keperawanan, dengan cara yang kejam dan tak direlakannya. Ada juga yang rela kehilangan keperawanan, karena bertarung dengan keperluan hidup. Apakah mereka, tak lagi mulia, karena kehilangan keperawanan?

Perempuan begitu takut, untuk mengungkapkan pelecehan dan kekerasan seksual yang diterimanya. Alasanya tak lain adalah, ketakutan menerima pendangan buruk, dan dianggap kehilangan kesucian, serta mahkota sebagai perempuan. Apalagi, jika diketahui banyak orang. Perempuan akan semakin malu, dan terpuruk. Alhasil, pilihan satu-satunya, adalah memilih diam dan bersabar, dengan tekanan batin yang diterima, kala melihat pelaku kekerasan tersebut, berleha-leha didepan matanya. Sambil berharap, ada balasan dari Tuhan yang maha esa.

Kondisi ini nampaknya menjadi masalah runyam, dan sulit dilihat oleh masyarakat kita. Kesucian perempuan, tidak hanya sekedar tubuh. Ia lebih besar dari lapisan kulit yang merona. Dan lebih mulia, dari segupal daging di dalam celana.

Pemujaan terhadap keperawanan, menjadikan kemuliaan perempuan, bersandar pada sesuatu yang fana. Ia benar, kulit dan keperawanan, adalah raga, yang dalam falsafah penciptaan manusia, ia berasal dari lempur busuk (tanah). Maka sudah sepantasnya, ketika manusia meninggal, kulit yang mulus, serta tubuh yang seksi itu, akan kembali menjadi tanah, seperti sediakala.

Namun sayangnya, perempuan yang telah kehilangan keperawanannya, telah dianggap tak berharga, menjadi sisa, atau sampah dan barang bekas. Mudah untuk kita menemukan, bagaimana para perempuan yang ditinggal suaminya, disebut sebagia janda, yang hina dan rendahan. Mereka menjadi sasaran para istri, yang takut suaminya tergoda. Yah, karena jika suaminya berpindah hati, maka para istri inilah, yang juga akan menjadi barang bekas.

Kenapa seperti itu? Yah lagi-lagi, karena kita menganggap kemuliaan perempuan, hanya sebatas pada keperawanan, yang menjadi simbol kesucian. Maka, ketika tak lagi perawanan, perempuan harus menerima konsekuensi dari pandangan seperti itu. Menyakitkan memang, tapi itulah realitasnya.

Kondisi ini berbeda dengan seorang lelaki. Tak peduli, seberapa banyak ia gonta-ganti pasangan, dan seberapa banyak perempuan yang ditidurinya. Ia tetap spesial, karena kemuliaan dan kesuciannya dianggap tidak terletak pada keperjakaan. Namun pada kerja keras, dan tanggung jawabnya. Berbeda dengan perempuan, sekeras apapun kerja dan kasih sayangnya, ia tetaplah barang sisa, yang kehilangan kesucian. Apapun penyebabnya.

Lagi-lagi ini adalah cara pandang patriarki, yang sangat meminggirkan perempuan, sebagai mahluk yang dipilih Tuhan, menjadi kesempurnaan bagi semesta.

Penulis menyebutnya sebagai mitos kesucian. Bagi penulis, kemuliaan seorang perempuan, lebih dari sekedar tubuh dan keperaawanannya. Perempuan dianggap suci, ketika hatinya bersih dan memiliki kesungguhan dalam memberikan kasih sayang. Kesucian ini sangat sempurna, dan lebih dari sekedar kenikmatan tubuhnya.

Perempuan bisa kehilangan keperawanan dengan berbagai cara, tetapi tidak dengan kerelaannya. Ia bisa memberikan keperawanan, dengan tanpa kerelaan. Selain Tuhan, dirinyalah yang tahu, bagaimana semesta berguncang hebat, akibat ketidak relaan ini.

Tubuh dan keperawanan, memanglah sangat penting bagi perempuan. Tetapi mengukur kemuliaan dan kesucian, apalagi martabatnya, tidak cukup jika hanya bersandar pada raga seperti itu. Ia lebih dari sekedar materi, yang selalu erat dengan kepuasan dan kenikmatan nafsu.

Memiliki hati yang bersih, jiwa yang sehat, serta kasih sayang dan ketulusan yang tiada habisnya, adalah kemuliaan dan kesucian perempuan, yang tak akan pernah mampu diukur. Ia lebih dari sekedar perawan atau tidak. Dan ia lebih berharga dari sekedar tubuh, dan berbagai mitos kesuciannya.

Kita menyadari, bahwa menjaga tubuh dan kemurniannya, adalah hal yang harus dilakukan. Tetapi, menjadikannya sebagai standar untuk melihat kesucian dan kemuliaan perempuan, adalah sebuah kedangkalan berpikir. Atau bahkan, kita tak pernah berpikir, bahwa tubuh adalah raga yang fana. Sedangkan suci dan kemuliaan, adalah perwujudan jiwa yang terus melakukan perbaikan.

Perempuan punya hak untuk selalu melawan. Ia selalu punya alasan, untuk dihormati dan membangun kisah yang baru. Kemuliaannya akan bersinar cerah, ketika ia mampu melawan, dan memperjuangkan haknya selayaknya manusia lain. Perempuan tak bisa dibungkam oleh mitos kesucian, yang mengelilinginya. Dan yakinlah, Tuhan tahu benar, tentang itu. Bahwa tubuh, akan kembali ke tanah. Sedangkan jiwa yang bersih, serta hati yang tulus, akan terbang mengarungi semesta, menuju keagunggan Ilahi.

Terimakasih untuk para perempuan yang berani manabrak mitos, merobek tirani, dan melawan pembodohan. Kalian berkontribusi, dalam mencerdaskan dan mendewasakan bangsa ini.  

Tabik.

Bergelung Marlena dan Puisi Lainnya

TAK ADA YANG ABADI

Tak ada yang abadi di sini Ziecho

Lautan darah bersimbah berlutut pada maut

Tuhan tak pernah berbaik hati pada leluhur yang telanjang

Ia tuan berani disembah

Disetiap bayangan berkunjung

Sejatinya semua ini fana Ziecho

Lorong-lorong, rumah, kenyataan tak ada di sini

Azroil adalah wahyu dikirim Jibril

Tempat di mana orang-orang mengejar ruh dan kepala

Jatuh, remuk, hancur, lebur akhirnya

Hanya abu dan ke abu-abuan yang tunggal

Rumah terakhir Ziecho

Engkau hendak ke mana, dan kau tahu

Peradaban saat ini, pernyataan dan kenyataan setipis kapas

Untuk kau bedakan perlu hidup abadi

Yogyakarta, 2024.

***

BERGELUNG MARLENA

Marlena…

Kudengar tentangmu

Dari penyair di seluruh penjuru kota

Membaca romantikamu

Berdecak kagum menembus relung jiwa

Marlena…

Engkau selalu dirundung pekat

Yang dititipkan malam dalam rupa malaikat

Kelembutanmu bagai rajutan sutra

Yang dianyam bersama balutan baja

Marlena…

Semoga romantikamu bukan sandiwara

Sebagai lelaki Madura

Bisakah kau menjadi Ibu bagi jantung kota

Menjelma tanda

Serupa jiwa sakera

Yang tak gentar pada peradaban ganda

Marlena…

Biarkan kupersembahkan gelung dari anyaman batu

Supaya celurit dan keris tahu

Kau benar-benar terlahir dari rahim Madura

Wanita dengan taring baja

Dengan kibasan sarung

Dan lilitan kain di kepala

Serupa mahkota

Memukau seantero cakrawala

Tidakkah kau lupa saat kita bertegur sapa

Kau lantang berkata: “lebih baik bersimpah darah, dari pada terbuang rupa”

Yogyakarta, 2024.

***

SAJAK UNTUKMU

I/

Aku bungkam

Ketika kilau bintang gemintang

Berhamburan jadi pelengkap langit malam

Bagi pemimpi di ujung harapnya

II/

Aku bungkam

Bila malam menjelma kumbang

Di antara celah-celah ilalang

Yang dibalut tembok pengahalang

III/

Aku bungkam

Ketika purnama masih kelabu

Dengan elegi tawa yang menyesakkan

Di sudut jalan sana

Aku berusaha mengutarakan rindu

Tanpa seorang pun yang tahu

Mungkin

Tak ada salahnya, jika kau dengarkan

Sejenak tentang seorang penyair

Kala mendefinisikan hatinya dalam puisi

Akan aksara cinta yang diabadikan

Yogyakarta, 2024.

***

PERGI

Hanya sekuntum bunga melati yang bisaku bawa

Bersama langkah berat merelakan keindahan

Pada genagan air di matamu

Dengan lentik hitam pekat

Menatap hari esok yang begitu tak terduga

Berubah atau masih sama

Seyum atau malah tangis

Sebatas luka atau sampai darah

Yogyakarta, 2024.

***

YA

Jika suaramu adalah denyut

Maka degupku adalah kamu

Aku bersyukur melihat rangkuman bulu matamu

Berhasil ku raih hadiah paling berharga

Mantra sutarji kurapal

Memutus langkah dengan sapa

Mimpi pura- pura berpaling

Padahal kebahagiaan senatiasa sempurna

Dari jauh tatapan buncah menugaskan

Senyum untuk tidak berpaling

Tiba- tiba aroma kasih menyemerbak kemungkinan

Bahwa langit dan laut berbeda jauh

Kekasih

Penyair pernah memanjat do’ a

“Tuhan bila mencintainya adalah sebuah dosa

Maka sediakan tempat bagiku di neraka”*

Dalam hati aku tidak pernah mengimpikan

Teluk surga.

Bahkan aku ingin menyambung rindu

Pada sunyi sumudara.

Yogyakarta, 2024.

*Wira Negara : Destilasi Alkena