Pemikiran Maulawi dan Miskawiah Tentang Metafisika Penciptaan

Berbagai varian dalam khazanah pemikiran Islam, secara keseluruhan hampir semuanya bersepakat bahwa Tuhan merupakan wujud niscaya yang tak tersentuh ‘adam atau ketiadaan─beberapa filosof menyebutnya wâjibul wujûd.[1] Ahli ‘irfan mengenalnya sebagai wujûd haqîqî[2]─ segala kesempurnaan ada pada-Nya. Di antara kesempurnaan dan kamâlât-Nya adalah Fayyâdh dan Jawâd, yaitu kemurahan-Nya yang tiada terbendung.[3] Karena itu kemurahan yang melimpah dari Tuhan mengejawantah dengan melakukan penciptaan, sehingga dengan demikian kelaziman Fayyâdh adalah tiada lain selain mencipta. Dengan kata lain jika sesuatu layak tercipta namun tidak diciptakan, maka tentu akan menyalahi kesempurnaan sebagaimana yang dimaksudkan. Karena itu dapat dikatakan Fayyâdh tidak lain dari zat Tuhan itu sendiri dan tidaklah di luar zat-Nya. Jadi sejatinya dalam konteks penciptaan, Tuhan sebagai pelaku serta tujuan final tidaklah terpisahkan dan satu kesatuan dari zat-nya.[4]

Dalam sebuah ungkapan ‘irfâni mengatakan bahwa pada maqam ‘izzah[5] tiada satupun bersama-Nya, pada maqam tersebut antara ‘isyq, ‘âsyiq, serta ma’syûq adalah satu dan tidaklah berbeda. Lalu Allah ingin menciptakan ghayr (yang lain), maka terciptalah alam (hudûts al-‘âlam). Dia membuka kanz[6] serta perbendaharaan ghaib yang terpendam dan tersembunyi, dan lalu memercikkan kanz pada alam yang kemudian menampakkan nama dan sifat-sifat-Nya dalam manifestasi-Nya.[7] Jika ditinjau dari sudut pandang levelitas dan tingkatan, maqam hakikat lebih utama dan mengatasi aspek khalqiat, maka ketika kesempurnaan mempunyai pengertian yang seharusnya tidak memiliki karakter yang bersifat melenyapkan, mewahdat dan murni, tentulah sistem pluralitas dalam penciptaan menjadi mungkin dan kontinu. Karena itu pada dimensi ini akan nampaklah Haq yang “termanifestasi pada makhluk” namun tetap terselubung dari aspek keburukan.[8] Sedangkan makhluq, ia terelasi dengan manifestasi yang membentang dari Haq kepadanya.[9]

Salah satu tokoh irfan kenamaan yakni syeikh Maulana Jalaluddin Muhammad Balkhi atau masyhur di Indonesia dengan sebutan Jalaluddin Rumi,[10] beliau menganggap dunia, alam raya dan kehidupan beserta berbagai haditsah, semuanya bernaung dalam satu konsep yaitu penciptaan, dan Jalaluddin memandang penciptaan dalam kerangka Wahdat. Menurutnya dunia adalah baru sementara manusia (idealnya) cenderung pada sesuatu yang Baqa (abadi) dan seyogianya sama sekali tidak hirau akan kebaruan karena di balik dunia hudûts[11] ini terdapat alam lain.

Menurut Maulana Jalaluddin terdapat saling pertentangan yang terus-menerus dalam hamparan semesta raya beserta kontinuitas gerakan dan perubahan pada materi. Setiap makhluq yang memiliki daya bernutrisi akan mengalami keteruraian dan pembagian. Tanah menyerap air, menumbuhkan ratusan macam tumbuhan, hewan hingga manusia. Maka dalam pandangan Maulana berlaku hukum âkil wa ma’kul sehingga alam dan penghuninya adalah maujud yang terserak dan terbagi. Dalam keyakinan Maulana terdapat kesatuan eksistensial antara alam dan âdam (manusia), namun meski demikian beliau percaya dengan pengamatan yang cermat akan terlihat dialektika tanpa henti di alam raya, antara zarrah dengan zarrah lain senantiasa bertentangan. Namun pertentangan dan dialektika tersebut merupakan dinamika yang berdiam dalam kesempurnaan.

Dengan demikian pertentangan lahiriah merupakan akibat yang berharmoni dengan dinamika batiniah. Oleh karena itu alam raya senantiasa dalam perubahan. Setiap sebab memiliki pengaruh, dan pengaruh sendiri kemudian menjadi sebab hingga kemudian membuahkan hasil lain yang luar biasa. Setiap sebab lebih utama dari pada akibat. Maulana mencontohkan meskipun dahan yang melahirkan buah sehingga dianggap lebih utama, tetapi pada sisi estetik tentu buah lebih utama dari pada dahan. Secara universal maulana meyakini kontinuitas alam semesta tidaklah bergulir menuju kehancuran, namun senantiasa progres menuju kebaruan, perbaikan, dan keindahan.[12]

Sementara dari perspektif filsafat salah satu pemikiran tokoh yang cukup layak disebutkan terkait topik penciptaan ─meski beliau lebih dikenal sebagai filosof akhlaq─ Ibnu Miskawaih[13] yang banyak mengikuti pendapat dan metode berpikir Aristoteles, beliau menempatkan gerak materi sebagai struktur pondasi argumentasinya. Gerak yang mencakup berbagai varian perubahan adalah karakter yang tak terelakkan dari seluruh benda jasmani. Namun gerak tidak bersumber dari jism[14] sendiri dan karena itu butuh pada suatu sumber eksternal atau penggerak utama. Jika dianggap gerak datang dari zat jism sendiri, maka anggapan tersebut akan bertentangan dengan kebiasaan dan pengalaman. Misalnya, manusia dengan ragam anggota tubuhnya bergerak dengan bebas, namun satupun dari anggota tubuhnya tidak bergerak berpisah dari yang lainnya, dan ini berarti gerak tidak bersal dari organ tubuh. Jadi rangkaian sebab-sebab yang bergerak haruslah berakhir pada sebab yang ia sendiri tidak bergerak namun membawa segala sesuatu pada pergerakan. Secara zat sebab utama gerak haruslah tidak bergerak, karena asumsi gerak pada sebab utama melazimkan terjadinya tasalsul[15]pada sebab yang bergerak, dan ini adalah batil.[16]

Akan tetapi karakteristik hukum perubahan tidak berlaku pada perkara kulli[17]. Sementara perkara juz’i[18] menerima perubahan, karena sifat sesuatu yang kulli adalah tetap. Berdasarkan zatnya materi mengalami hukum perubahan, sementara maujud-maujud[19] yang makin terbebas dari materi maka akan makin berkuranglah ia terkena dan terdampak oleh perubahan. Karena itu Tuhan yang merupakan mujarrad[20] dan nonmateri murni, secara mutlak tak akan mengalami perubahan. Oleh karena aspek nonmateri-sempurnaNya Tuhan tersebut sehingga bagi kita manusia sulit untuk mengkonseptualisasi dan menggambarkan Tuhan, bahkan mustahil dan tidak mungkin.[21]

Berbagai korelasi materi seperti kategori bentuk dan warna adalah diawali oleh ketiadaan belaka, sehingga ia adalah huduts. Demikian pula materi utama[22] sebagaimana korelasi materi ia juga adalah huduts. Sebab meskipun sebagai materi pertama, ia merupakan perkara juz’i yang karakter tersebut meliputi dan identik pada seluruh zatnya. Sementara pada level substansi materi, ia-pun termasuk dari keseluruhan bagian materi yang tidak terpisah dengan forma dan shurah[23] serta tidak akan dapat aktual meng-ada di alam eksternal tanpa forma. Oleh karena itu materi pertama yang sebagaimana materi, ia sama sekali tidak lain dari perkara yang tidak akan terpisah dengan forma. Pun sebagaimana telah diketahui forma tidaklah qadim.[24] Maka materi pertama sebagaimana shurah dan forma adalah huduts.[25]

Sebab final atau illat nahayi[26]hanya menciptakan satu makhluk kemudian makhluk tersebut menjadi pencipta bagi maujud-maujud lainnya, yang kedua menarik yang ketiga, dan demikianlah seterusnya penciptaan kemudian berlanjut. Ibnu Miskawaih memiliki pemikiran tentang penciptaan dengan metode Neoplatonisme[27]. Emanasi-faydh[28] Ilahi dalam rentetanNya yang senantiasa dari kehalusan nonmateri membentang dan makin mendekat kearah terbentuknya materi, dan kemudian menciptakan unsur-unsur permulaan eksistensi kebumian. Unsur-unsur permulaan berhubungan dan saling terkait antara satu sama lain, dan dengan hubungan serta kesalingterkaitan tersebut bentuk-bentuk dan sifat transenden kehidupan terrealisasi. Dalam pandangan Ibnu Miskawaih kombinasi substansi-substansi awal menyebabkan manifestasi kehidupan yang paling terdahulu, yaitu alam yang masih beku. Kemudian evolusi sampai pada level yang lebih tinggi dan mulailah muncul alam nabati[29] ─mula-mula rerumputan yang tumbuh secara otomatis dan kemudian semak belukar serta ragam pepohonan yang memiliki sebagian sifat-sifat kehewanan, sehingga terhitung sebagai tapal batas alam kehewanan. Perwujudan kehidupan yang bukan hewan dan bukan tumbuhan adalah seperti marjan[30]/koral yang memiliki kedua-dua daya hewani dan nabati, sebagai perantara alam nabati dan alam hewani. Setelah makhluk-makhluk perantara tersebut bermunculanlah makhluk jenis siput yang memiliki kemampuan bergerak dan indra peraba. Indra peraba lambat laun berubah dan menyebabkan indra lain. Maka kemudian berlanjut ke level hewan tingkat tinggi dengan memanfaatkan kecerdasan yang kian bertambah, tapal batas tingkatan derajat insaniah adalah kehidupan golongan kera. Evolusi kemudian lebih menyempurna dan perlahan-lahan menjadi seperti manusia, tegak berdiri, dan percaya Tuhan. Pada akhirnya rentetan hewaniah setelahnya muncullah manusia.[31]

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’anul Karim

Al-‘Abidi, Syaikh Falah dan Sayyid Sa’ad al-Musawi. Mizan al-Fikr. terj. Irwan Kurniawan, Buku Saku Logika: Sebuah Daras Ringkas. Cet.II; Jakarta: Sadra International Institute, 2019.

Amid, Hasan. Farhangge Farsi Amid. Cet.I; Rahe Rosyd, 1389 H.Sy.

Azmayesh, Sayyed Mostafa. Erfane Iran. Tehran: Entesyarate Haqiqat, 1387 H.Sy.

Baghir, Haidar. Buku Saku Filsafat Islam. Cet.II; Bandung: Mizan, 2006.

Brijanian, Marie dan Tayyebe Beigam rais. Farhangge Estelahate Falsafe va Olume ejtema’ei.Cet.II; Tehran: 1373 H.Sy.

Corbin, Henri. Tarikhe Falsafe-e Eslami.Terj. Jawad Thabathabai, cet.III; Entesyarate Kawir.

Gulpeinarli, Abdol Baqi. Mawlana Jalal al-Din: Life, Philosophy and selected. terj. dan syarah Taufiq Subhani, Mawlana Jalaluddin: Zendegani, Falsafe, Atsar wa Gozidei az Anha. Tehran: Pazyuhesygah-e Olum-e Ensani va Motale’at-e Farhanggi, 1375 H.Sy.

‘Iraqi, Fakhruddin. Lum’at. riset oleh Muhammad Khwajwi. Cet. I; Tehran: Entesyarate Movla, 1363 H.Sy.

 Jabir, Muhammad Nur. Dalil Pembuktian Tuhan: Antara Nalar dan Teks dalam Menyoal Doktrin Akidah. Cet.I; Makassar: Chamran Press, 2018.

Khomeini, Imam. Tafsir Sure-e Hamd. Tehran: Moassese-e Tanzim va Nasyre Atsare Emam Khomeini, 1375 H.Sy.

Lahuri, Muhammad Iqbal. Seire Falsafe dar Iran. Cet.IV; Tehran: Moassese-e Entesyarate Amir Kabir, 1357 H.Sy.

Muthahhari, Murtadha. Kulliyate Olume Eslamie 2: Kalam, Erfan, Hekmate ‘Amali. Cet.XXXV; Qom: Entesyarate Shadra, 1389 H.Sy.

Qasemi, Jawad. Farhangge Estelahate Falsafe, Kalam va Manteq. Cet.I; Masyhad: Bonyade Pazyuhesyhaye Eslami, 1385 H.Sy.

Sajjadi, Sayyid Ja’far. Farhangge Loghat va Estelahate Falsafi. Entesyarate Sa’di, 1338 H.Sy.

Sajjadi, Sayyid Zia’uddin. Moqaddamei bar Mabanie Er fan va Tasawwuf. Cet.XV; Tehran: Sazmane Motale’e va Tadvine Kotobe Olume Ensanie Danesygahha, 1388 H.Sy.

Thabathabai, Muhammad Husain. Tarjume-e Tafsir Al-Mizan. Jil.17. Cet.V; Qom: Jame’e-e Modarresin Hauze-e Elmie-e Qom Daftare Entesyarate Eslami, 1374 H.Sy.

Yazdi, Muhammad Taqi Misbah. Ma’aref-e Qor’an: Khudasyenasi, Keyhansyenasi, Insansyenasi.Cet.VII; Qom: Entesyarate Mo’assese-e Amuzesyi va Pazyuhesyie Emam Khomeini, 1393 H.Sy.


[1]Muhammad Nur Jabir, Dalil Pembuktian Tuhan: Antara Nalar dan Teks dalam Menyoal Doktrin Akidah (cet.I; Makassar: Chamran Press, 2018), h. 89-91.

[2]Murtadha Muthahhari, Kulliyate Ulume Eslamie 2: Kalam, Erfan, Hekmate ‘Amali (cet.XXXV; Qom: Entesyarate Shadra, 1389 H.Sy), h. 89.

[3]وَمَا كَانَ عَطَاۤءُ رَبِّalكَ مَحْظُوْرًا

dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi (Q. S. 17:20).

[4]Muhammad Taqi Misbah Yazdi, Ma’aref-e Qor’an: Khudasyenasi, Keyhansyenasi, Insansyenasi (cet.VII; Qom: Entesyarate Mo’assese-e Amuzesyi va Pazyuhesyie Emam Khomeini, 1393 H.Sy.), h. 154-179.

[5]‘Izzah pada makna awalnya lebih berorientasi pada konsep Qahir dan Ghalib yang bermakna “kuat” ataupun “dominan” dan sama sekali tidak bermakna maqhur dan maghlub yaitu takluk dan tunduk. Akan tetapi makna hakikinya mengkhusus pada Allah Azza waJalla, sebab selain Allah semua maujud adalah faqir secara zat, dan pada dirinya sendiri maujud-maujud tersebut adalah zalil yaitu lemah, sementara tidak sedikitpun demikian pada Zat Allah sebagai Malik atau pemilik dan pemegang kuasa yang memberikan pengaruh -Nya. Akan tetapi dengan rahmat-Nya Allah memberikan manfaat pada maujud-maujud tersebut. Muhammad Husain Thabathabai, Tarjume-e Tafsir Al-Mizan, Jil.17 (cet.V; Qom: Jame’e-e Modarresin Hauze-e Elmie-e Qom Daftare Entesyarate Eslami, 1374 H.Sy.), h. 27.

[6]Sebuah hadits qudsi yang sangat terkenal “kuntu kanzan makhfiyan, fa ahbibtu an a’rifa  fakhalaqtu alkhalq: Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, tetapi Aku ingin dikenal maka Kuciptakanlah ciptaan”. Imam Khomeini, Tafsir Sure-e Hamd (Tehran: Moassese-e Tanzim va Nasyre Atsare Emam Khomeini, 1375 H.Sy), h. 73.

[7]Fakhruddin ‘Iraqi, Lum’at, riset oleh Muhammad Khwajwi (cet. I; Tehran: Entesyarate Movla, 1363 H.Sy), h. 4.

[8]Menururt hemat penulis keburukan yang dimaksud disini adalah kualitas dan karakteristik yang muncul oleh karena perbandingan di antara entitas yang berbeda-beda. Salah satu konsekwensi logis dari perbedaan adalah timbulnya semacam pemahaman bahwa entitas-entitas tersebut akan saling membatasi. Akibatnya, semua entitas tersebut akan dianggap terbatas, sementara keterbatasanlah yang berpotensi membuat keburukan dapat terjadi. Namun demikian hal ini hanya bisa terjadi pada entitas-entitas yang selevel serta memiliki esensi dan mahiyah, sementara pada level hakikat wujud dan eksistensi hal tersebut tidak mungkin terjadi, sehingga keburukan mustahil berlaku pada Zat Al-Haq.

[9]Sayyed Mostafa Azmayesh, Erfane Iran (cet.I; Tehran: Entesyarate Haqiqat, 1387 H.Sy), h. 105.

[10]Beliau bernama asli Jalaluddin Muhammad, ia dikenal pula dengan sebutan Mawlawi yaitu Yang Mulia, lahir pada tanggal 6 Rabiul Awal 604 H di Balkhan  yang  masuk Afganistan sekarang. Sejak umur 6 tahun ia mengikuti ayahnya menunaikan ibadah haji, dan kemudian turut mengembara ke berbagai negeri-negeri Persia seperti Naisyabur dan beberapa negeri lainnya, perjalanannya kemudian berakhir di Konya Romawi bagian timur sebelum Islam. Di Iran ia dikenal dengan nama Mawlawi atau Maulana, sementara di Barat ia masyhur sebagai Jalaluddin Rumi. Berdasarkan kelahirannya sebagai Jalaluddin Muhammad Balkhi tentu tidak akan keliru jika Jalaluddin dianggap milik Afganistan, namun Semua karya-karya Jalaluddin ditulis dalam bahasa Persia dengan keilmuan yang beliau dapatkan selama pengembaraannya di pedalaman Iran dan ditambah lagi guru-gurunya yang berasal dari Iran, akan dengan mudah jika ia diklaim sebagai milik Iran, sementara Konya sebagai persinggahan terakhirnya menjadi alasan penisbahannya sebagai Rumi. Boleh jadi karena ini, mungkinkah Maulawi menjadi sengketa pemilikan; Afganistan, Iran, atau Turki. Silahkan lihat Sayyid Zia’uddin Sajjadi, Moqaddamei bar Mabanie Er fan va Tasawwuf (Cet.XV; Tehran: Sazmane Motale’e va Tadvine Kotobe Olume Ensanie Danesygahha, 1388 H.Sy), h. 140-150.

[11]Secara umum hudûts bermakna sesuatu yang ada namun didahului oleh ketiadaan dan sesuatu yang membutuhkan hal lain sebagai sebab atau ‘illat. Sayyid Ja’far Sajjadi, Farhangge Loghat va Estelahate Falsafi (Entesyarate Sa’di, 1338), h. 109.

[12]Abdol Baqi Gulpeinarli, Mawlana Jalal al-Din: Life, Philosophy and selected, terj. dan syarah Taufiq Subhani, Mawlana Jalaluddin: Zendegani, Falsafe, Atsar wa Gozidei az Anha (Tehran: Pazyuhesygah-e Olum-e Ensani va Motale’at-e Farhanggi, 1375 H.Sy),h. 293-295.

[13]Beliau bernama lengkap Ahmad bin Muhammad bin Ya’qub Miskawaih semasa dengan Al-Biruni dan Ibnu Sina, ia merupakan salah satu filsuf Iran/Persia yang nasabnya tersambung pada Zartusyt. Salah satu karyanya yang sangat terkenal adalah sebuah risalah akhlaq filosofis yang berjudul Tahzib Al-akhlaq, karya lainnya adalah sebuah karya berbahasa Persia Jawidane Kherad. Henri Corbin, Tarikhe Falsafe-e Eslami,Terj. Jawad Thabathabai, (cet.III; Entesyarate Kawir), h. 208.

[14]Jism merupakan substansi parsial yang bisa ditunjuk secara lahiriah-indrawi serta boleh disentuh, atau perkara yang memiliki tiga dimensi yakni panjang, lebar, dan kedalaman/tinggi. Sayyid Ja’far Sajjadi, Farhangge Loghat va Estelahate Falsafi, h. 103.

[15]Dalam istilah Inggris terdapat kata infinite regress atau regressio ad infinitum menurut versi latin yang sepadan dengan tasalsul. Secara bahasa tasalsul bermakna berurutan terus-menerus dan juga bermakna seperti rantai, namun secara istilah adalah rangkaian perkara yang tidak terbatas sedemikian rupa sehingga rangkaian sebelumnya berkonsekwensi pada rangkaian selanjutnya. Sayyid Ja’far Sajjadi, Farhangge Loghat va Estelahate Falsafi, h. 82. Lihat pula Marie Brijanian dan Tayyebe Beigam rais, Farhangge Estelahate Falsafe va Olume ejtema’ei (cet.II; Tehran: 1373 H.Sy), h.  422. Dan juga Jawad Qasemi, Farhangge Estelahate Falsafe, Kalam va Manteq (cet.I; Masyhad: Bonyade Pazyuhesyhaye Eslami 1385 H.Sy), h. 44.

[16]Muhammad Iqbal Lahuri, Seire Falsafe dar Iran (cet.IV; Tehran: Moassese-e Entesyarate Amir Kabir 1357 H.Sy) h. 30.

[17]Kulli disebut pula konsep universal, yaitu pahaman yang dapat diterapkan pada lebih dari satu objek. Syaikh Falah al-‘Abidi dan Sayyid Sa’ad al-Musawi, Mizan al-Fikr, terj. Irwan Kurniawan, Buku Saku Logika: Sebuah Daras Ringkas (cet.II; Jakarta: Sadra International Institute, 2019), h. 31.

[18]Juz’i adalah konsep partikular, yaitu pahaman yang tidak bisa diterapkan pada lebih dari satu objek Syaikh Falah al-‘Abidi dan Sayyid Sa’ad al-Musawi, Mizan al-Fikr, h. 31.

[19]Lafaz maujud kadang bermakna sesuatu yang ada dan kadang termaknakan pada wujud itu sendiri yaitu keberadaan. Dan maujud sebagaimana maujud tidak mengkhusus pada suatu perkara dan masalah fisik, namun secara mutlak adalah objek ilmu Ilahi. Sayyid Ja’far Sajjadi, Farhangge Loghat va Estelahate Falsafi, h. 324.

[20]Para Hukuma berkata mujarrad adalah perkara ruhani murni dan tidak bercampur dengan materi, di antara yang dapat disebutkan sebagai mujarrad adalah aqal dan jiwa atau nafs, umumnya aqal dianggap sebagai mujarrad murni sementara nafs secara zat adalah maujud mujarrad namun masih terkait dengan materi dalam aktivitasnya. Sayyid Ja’far Sajjadi, Farhangge Loghat va Estelahate Falsafi, h.  292.

[21]Muhammad Iqbal Lahuri, Seire Falsafe dar Iran, h. 32.

[22]Secara istilah disebut materia prima atau hayula awwali (dalam bahasa Arab), yaitu materi pertama alam jasmani yang mengalami kerusakan dan kemenjadian. Jika dipikirkan lebih mendalam akan didapatkan bahwa jism dan benda terdapat sesuatu yang merupakan wadah pemberlakuan forma, dan intisari yang merupakan media perubahan dan perkembangan sebagaimana tanah berubah jadi tumbuhan yang menjadi benih hewan dan manusia. Jawad Qasemi, Farhangge Estelahate Falsafe, Kalam va Manteq, h. 170, lihat juga Sayyid Ja’far Sajjadi, Farhangge Loghat va Estelahate Falsafi, h.  361

[23]Hal yang menyebabkan keutamaan sesuatu dari yang lain dan menjadi keadaan aktualnya. Sayyid Ja’far Sajjadi, Farhangge Loghat va Estelahate Falsafi, h. 167.[24]Para penganut dahriun menganggap materi pertama adalah qadim sedang forma/surah merupakan ma’lul dari aktivitas Tuhan dalam penciptaan. Jadi hayula atau materi original bertautan dari satu forma ke forma lain, karena itu forma yang lebih awal tentulah sirna secara keseluruhan. Sebab, jika forma terdahulu tidak sempurna meniada apakah ia harus pindah ke jism lain atau ataukah tinggal pada jism yang sebelumnya tersebut. Kemungkinan pertama tidak sesuai dengan pengalaman. Misalnya, jika suatu kubus dibuat dari sebatang lilin (yang bulat silinder), bentuk bulatnya yang asli tidaklah berpindah ke benda lain. Kemungkinan kedua juga tertolak karena menyebabkan dua bentuk berlawanan (bulat dan kubus) dapat berkumpul pada satu benda. Maka dapat dipahami dengan munculnya bentuk baru, bentuk lama mutlak akan meniada. Muhammad Iqbal Lahuri, Seire Falsafe dar Iran, h. 32.

[25]Muhammad Iqbal Lahuri, Seire Falsafe dar Iran, h. 32.

[26]Sebab yang merupakan penggerak pertama tindakan dan secara pertimbangan mendahului sebab-sebab lain, dan pada wujud eksternalnya ditemukan setelah didapati mengaktualnya seluruh sebab-sebab tersebut. Jawad Qasemi, Farhangge Estelahate Falsafe, Kalam va Manteq, h. 57, dan Sayyid Ja’far Sajjadi, Farhangge Loghat va Estelahate Falsafi, h. 202.

[27]NeoPlatonisme merupakan suatu aliran filsafat yang bertolak dari gagasan Plato, dan menafsirkannya dengan cara khusus. Aliran ini mengaitkan segala sesuatu dengan suatu Zat transenden semacam Tuhan (Yang Satu atau The One) sebagai prinsip kesatuan, melalui deretan perantara-perantara yang turun dari Yang Satu itu lewat proses emanasi. Haidar Baghir, Buku Saku Filsafat Islam (cet.II; Bandung: Mizan, 2006), h. 15.

[28]Emanasi-faidh Ilahi adalah luberan dan limpahan Ilahi, doktrin penciptaan menurut kaum filosof. Yakni, suatu keadaan niscaya ─serta tak terjadi dalam waktu─ yang di dalamnya terwujud ciptaan-ciptaan dari Tuhan. Ciptaan-ciptaan ini terwujud secara bertingkat-tingkat. Dari ciptaan yang lebih tinggi atau “lebih dulu” secara niscaya, lalu terwujud ciptaan-ciptaan dalam tingkat yang lebih rendah. Tercakup dalam ciptaan-ciptaan ini adalah berbagai tingkat akal, malaikat, jiwa planet-planet beserta wadagnya, bermula dari Akal Pertama, Malaikat Pertama, Sfera (Planet) Paling Jauh, hingga ─yang terendah─ planet bumi, yang bersifat sepenuhnya material. Haidar Baghir, Buku Saku Filsafat Islam, h. 12.

[29]Salah satu dari tiga daya yang menjadi sumber serta penyebab tumbuh dan berkembang. Sayyid Ja’far Sajjadi, Farhangge Loghat va Estelahate Falsafi, h. 328. Hasan Amid, Farhangge Farsi Amid (cet.I; Rahe Rosyd, 1389 H.Sy), h. 1010.[30]Sejenis hewan laut yang mirip dengan tumbuhan dan menempel di permukaan tanah seperti tumbuhan. Hasan Amid, Farhangge Farsi Amid, h. 930.

[31]Muhammad Iqbal Lahuri, Seire Falsafe dar Iran, h. 35.

Hari-Hari yang Buruk

Hampir setiap orang pernah merasakan nasib sial. Atau bernasib buruk di hari-hari yang lain. Di masa lalu, saat masih di bangku sekolah, orang seperti saya menganggap Senin adalah hari yang buruk. Masuk sekolah mesti lebih cepat: upacara bendera. Berbaris dan berdiri panas-panasan hingga topi dan seragam seperti handuk basah.

Anda menjadi lebih sial jika tidak gesit mengambil tempat di bawah pohon rindang. Sebatang pohon mangga, misalnya, yang sering Anda lempari buahnya meski belum ranum.

Dan, hari itu Anda bisa saja akan menjadi terdakwa. Inilah saat ternahas Anda. Dunia sedang memunggungi diri Anda karena itulah hari paling bedebah: Anda telat datang lalu hanya berdiri bersama barisan anak-anak sial lainnya. Kali ini Anda berdiri di luar pagar sekolah. Tapi, bersama menjadi lebih mudah. Seringkali jika seseorang bersalah ia akan segera mencari orang yang bernasib sama untuk menormalisir perasaannya, ketakutannya. Itulah manusia, bahkan sebuah pelanggaran dapat menjadi lumrah jika disepakati banyak pihak.

Hari buruk lainnya, untuk saya adalah ketika di hari lain akan mempelajari matematika, fisika, atau kimia. Sudah sejak malam sebelumnya melihat roster pelajaran menjadi pekerjaan paling malas. Keburukan Anda menjadi dua kali lipat jika ketiga pelajaran itu bercokol di hari yang sama. Saya rasa guru atau siapa pun yang menyusun jadwal seperti ini perlu mempelajari ilmu psikologi dengan serius, atau ilmu pendidikan dengan lebih baik lagi.

Tidak semua orang menyukai ilmu perhitungan, sedangkan sebagian lainnya lagi akan menganggap ilmu seperti itu tidak akan berguna di kemudian hari. Mungkin orang semacam ini ada benarnya, karena tidak mungkin semua orang akan bekerja dengan menggunakan ilmu semacam itu setiap harinya. Dengan alasan ada orang-orang tertentu telah mempelajarinya mati-matian, maka tugas sebagian yang lainnya hanya untuk menikmati hasil kerjanya. Tapi, tidak tepat juga ilmu semacam matematika, misalnya, tidak akan berguna untuk masa depan seseorang. Setiap saya menghindari ilmu seperti ini di masa lalu, semakin membuat saya menyadari untuk saat ini perlu bagi setiap orang untuk memilikinya agar membantunya dapat berpikir analitis, memahami pola-pola, dan dapat membantunya untuk memecahkan masalah yang membutuhkan pendekatan logika.

Semakin ke sini, setiap bidang kehidupan memerlukan kesatuan ilmu-ilmu. Di dunia akademik, integrasi ilmu-ilmu juga sudah menjadi hal lumrah.

Saya tidak tahu apa arti hari buruk bagi Anda, dan juga apakah Anda hari ini sedang menjalani hari yang indah? Kita pernah mengalami hari-hari buruk yang cukup panjang, bahkan sampai tiga dekade lamanya. Hampir seluruh usia saya saat ini. Tidak bisa dibayangkan jika seseorang hidup di dalam hari-hari buruk seperti ketakutan menyatakan pendapat, kekhawatiran berkumpul dan berserikat, atau tidak ada jaminan kesehatan serta pendidikan yang mampu menjamin masa depan.

Bagi negara demokratis hari-hari buruk tidak sama persis dialami seperti negara otoriter. Bagi negara otoriter hampir semua orang tidak memiliki kebebasan berekspresi, dan bagi intelektualisme ini merupakan ancaman berbahaya. Sementara bagi negara demokratis, demokrasi bisa berjatuhan tidak sama seperti di negara otoriter yang menggunakan kudeta atau kekerasan, melainkan melalui pemerintahan hasil pemilu, yang sebelumnya telah melakukan rekayasa publik dengan mengubah aturan mainnya. Meminjam Levistky dan Ziblatt: “Kemunduruan demokrasi hari ini dimulai di kotak suara”.

Beberapa hari lalu kita telah melalui hari-hari paling menentukan, terutama untuk perjalanan bangsa ini. Bagi banyak orang, demokrasi ketika kali pertama ditemukan merupakan hari paling bahagia. Itulah saat ide-ide sakral yang berasal dari langit tidak akan lagi digunakan. Tiang-tiangnya telah diguncang oleh suara mayoritas. Dan, sejak saat itu suara mayoritaslah yang paling afdal menentukan kebahagiaan banyak orang.

Di dunia ini, tidak sedikit orang merasa bahagia jika mampu berpikir dalam-dalam menyerupai para filsuf. Mengoleksi banyak buku agar mengisi jiwanya yang kosong. Juga hampir semua orang yang menginginkan banyak uang untuk merasakan bahagia, sama seperti sekelompok orang yang cukup senang jika diberikan makanan gratis. Tapi, banyak orang akan merasakan hari buruk apabila roda kendaraannya pecah saat buru-buru mengejar pesawat. Saya kira banyak orang pernah mengalami ini.

Saya pernah kehilangan dompet, ditilang polisi, lalu sekali tempo gagal dalam sebuah tes wawancara. Semua itu hari buruk bagi saya. Anda juga mungkin memiliki pengalaman semacam itu, seperti salah memilih pasangan hidup, atau salah memilih figur pemimpin, misalnya. Sokrates adalah orang yang mengalami dampak buruk keduanya. Ia menikahi seorang perempuan super cerewet dan galak, tapi karena itu ia menjadi filsuf. Di banyak tempat, banyak bangsa-bangsa demokratis salah memilih pemimpin. Mereka justru memilih seorang calon diktator yang tidak akan membuat apa-apa selain hari-hari buruk setelahnya. Semoga Anda tidak.

Jembatan Ingatan dari Laut Bercerita

Era Reformasi yang dipancang sejak 1998—ditandai dengan jatuhnya rezim Soeharto—kini mendekati usia 24 tahun. Bagi sebagian generasi tua dan sebagian lagi generasi milenial, peristiwa ini tentu masih diingat sebagai peristiwa huru-hara politik—krisis ekonomi, penjarahan, pemerkosaan, aksi demonstrasi, penculikan, dan sebagainya.

Lalu bagaimana dengan generasi muda yang lahir setelahnya atau lazim disebut Gen-Z? Apakah mereka mengetahui dan memahami peristiwa apa yang sebetulnya terjadi? Sejauh mana imajinasi dan kesadaran mereka terhadap sejarah politik negara dan bangsa mereka sendiri—dalam hal ini peristiwa 1998?

Atas pertimbangan itulah, kurang lebihnya, Leila S. Chudori, sastrawan perempuan Indonesia, menulis novelnya berjudul “Laut Bercerita”. Novel yang telah naik cetak 20 kali ini memberikan gambaran betapa tidak berperikemanusiaannya rezim militer Soeharto, namun sekaligus menjadi pengingat: tanpa ada gerakan pemuda dan para mahasiswa, mustahil perubahan penting bisa terjadi di Indonesia ini. Namun, mirisnya, beberapa pemuda dan mahasiswa tersebut mesti membayar mahal kepada penguasa zalim atas tekad mereka dengan cara dikejar, disiksa, diculik, dan dibunuh.

Nah, “Laut Bercerita” dapat menjadi jembatan ingatan yang akan mengajak kita merenungi kembali satu sisi peristiwa kemanusiaan yang pernah terjadi pada tahun 1998 itu: penculikan dan penghilangan paksa. Melalui sudut fokus inilah Leila S. Chudori mengajak kita menyelami kisah novelnya setebal 379 tersebut. Kasus tersebut masih belum tuntas hingga hari ini, dan keluarga penyintas masih setia setiap Kamis berdiri di depan istana kepresidenan, menuntut keadilan, yang kemudian disebut sebagai Aksi Kamisan.

Laut Bercerita. Ini Laut, nama pendek tokoh utama dari Laut Wibisono. Ia seorang aktivis mahasiswa. Di dalam novel ini, sebagian bab akan diisi oleh suaranya dari bawah laut, pasca suksesi penyiksaan, tentang perjalanan hidup yang telah ia alami. Si Laut bersama sahabatnya, Sunu, Alex, Kinan, Daniel, Gusti, Julius, Bram dan beberapa aktivis lainnya berjuang melawan kekejaman rezim. Mereka lantas menyewa sebuah rumah kontrakan di Seyegan, Yogyakarta. Di tempat inilah mereka rutin berdiskusi dan menyusun aksi secara diam-diam.

Secara teknik dan narasi novel ini menggunakan pola plot maju mundur. Kisah-kisah yang mengalir berjalin kelindan antara peliknya perjuangan sehari-hari dalam pertemanan, suka-duka menjalankan aksi baik di jalanan atau di akar rumput di desa-desa, sampai perihal jalinan asmara yang sungguh memilukan walaupun kadang liar.

Narasi “Laut Bercerita” terbilang ringan yang nyaris terkesan ‘ngepop’. Namun, menurut saya, justru metode ini jadi media efektif untuk menghantarkan sejarah kelam bangsa sendiri ke generasi muda. Sejauh ini saya lihat yang mengapresiasi novel ini sebagian besar adalah generasi 90an akhir atau 2000an awal.

Namun, ini bukan novel ideologis. Dia justru memfokuskan substansi novel pada aspek kemanusiaan para tokohnya—aktivis yang punya keluarga, punya kekasih, memiliki selera seni atau musik sendiri. Justru hal ini memberi efek kilau tersendiri yang membuat kita semakin kagum dengan perjuangan para tokohnya yang berumur 20-an dalam menyuarakan suara rakyat tertindas. Jadi mereka bukan dewa, tapi manusia biasa yang didorong oleh perasaan kemanusiaan yang dalam.

Kisahnya sederhana dan mudah diikuti—meskipun ada teknik maju mundur tadi. Namun, di tangan Leila S. Chudori, novel ini menjadi karya yang bakal meremas jantung dan perasaan kemanusiaan kita. Saya kira bakal sangat mudah memantik diskusi terkait peristiwa 1998 dengan generasi muda lewat novel ini. Anak muda tidak dijejali dengan teori politik, tapi diajak memahami politik melalui peristiwa kemanusiaan.

Kesan paling kuat yang saya tangkap seusai membaca novel ini adalah perbandingan peristiwa di dalam novel dengan realitas di luar novel. Saya tak bisa pungkiri, setuntas membaca “Laut Bercerita” ini mau tak mau saya menyandingkannya dengan kisah nyata beberapa anggota Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang pernah diculik lalu dibebaskan atau hilang sampai saat ini. Contohnya, tokoh Sang Penyair mengingatkan saya pada sosok Wiji Thukul, yang kita tahu adalah korban penghilangan paksa yang belum kembali sampai saat ini. Masih banyak lagi. Tapi Leila sangat piawai menjadikan kisah mereka sebagai dunia fiksi tersendiri, yang membuatnya menjadi nilai universal.

Ini buku perlu dibaca agar kita senantiasa ingat pada peristiwa kemanusiaan yang sebagian besar kasusnya belum tuntas itu. Agar tidak lagi peristiwa serupa terjadi di masa mendatang. Sekaligus menyelami penderitaan samudera batin para keluarga penyintas yang anggota keluarganya masih sumir keberadaannya. Seperti kalimat salah satu tokohnya, Asmara Jati (245), “Dan yang paling berat bagi semua orangtua dan keluarga aktivis yang hilang adalah: insomnia dan ketidakpastian. Kedua orangtuaku tak pernah lagi tidur dan sukar makan karena selalu menanti “Mas Laut muncul di depan pintu dan akan lebih enak makan bersama”.

hari ini tepat #17TahunAksiKamisan . Saya juga baru tahu kalau ada aksi ini. benar-benar baru tahu setelah baca Laut Bercerita bulan Desember 2023 lalu. momennya sangat pas pula, genap berusia 17 tahun saat masa Pemilu 2024. siapa pun yg jadi presidennya nanti, semoga mampu menjawab.

“Kepada mereka yang dihilangkan dan tetap hidup selamanya”

Tuhan Satu, Dua, dan Tiga

“Hari sial”, ya, begitulah istilah yang sering dipakai sebagian orang ketika terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan dirinya. Seperti kehilangan uang, jatuh dari pohon, lost contact sama gebetan, dan masih banyak lagi. Setiap orang berbeda dalam menanggapi hal tersebut, bisa dilihat bagaimana kondisi seseorang yang baru saja ditinggal oleh pasangannya, raut wajahnya yang suram, semangatnya yang memudar, ditambah isi dompet yang menipis membuat dirinya merasa begitu hampa dan menyebut dirinya dengan istilah sad boy. Aneh jika dia ingin berlarut-larut dalam hal tersebut.

Tentu setiap orang ingin bahagia. Ketika “hari sial” terjadi, setiap orang punya cara masing-masing untuk beranjak dari kesialan menuju kebahagiaan. Ketika kehilangan uang, dia bisa bekerja untuk mendapatkan uang, ketika putus cinta, dia bisa mencari yang baru atau memulai kebiasaan baru seperti, bangun di sepertiga malam untuk mengeluh kepada Tuhannya, memohon pertolongan dari sakit hati yang berkepanjangan dan lain-lain. “hari sial” mungkin tidak terjadi setiap hari, tetapi dampak dari hari itu bisa membekas berhari-hari.

“Hari sial” terjadi pada setiap orang bisa dalam peristiwa yang sama dan berbeda. Dua orang bisa sama sialnya, yaitu kehilangan uang. Tapi cara mereka untuk mendapatkan uang bisa berbeda, si A dengan cara baik dan si B dengan cara yang buruk. Atau dua orang yang sama-sama putus cinta, keduanya juga bisa dengan cara yang sama untuk mengatasi itu, yaitu mengeluh kepada Tuhan, tapi berbeda dalam isi keluhannya. Si A mengeluh dan meminta Tuhan untuk membalas perbuatan mantannya, sementara si B memohon diberi kelapangan jiwa agar lebih sabar dan ikhlas.

Tuhan menjadi salah satu yang dibutuhkan ketika “hari sial” itu terjadi. Tuhan dibutuhkan berdasarkan kesialan apa yang terjadi. Anda kekurangan uang? Mintalah kepada Tuhan yang maha kaya, mintalah agar Tuhan mempercepat pertemuan anda dengan seseorang yang didambakan. Lalu, apa maksud dari hipotesis “Tuhan itu satu”? Apakah itu benar? Si A merasa terdzolimi oleh si B dan meminta agar Tuhan membalas perbuatan si B, sementara si B sangat yakin bahwa dialah yang benar. Apakah mereka punya Tuhan yang berbeda untuk saling mengadu sehingga terjadi perang antara dua Tuhan? Lalu aku bertanya, manakah yang menang di antara mereka wahai Tuhanku? Dan Tuhanku menjawab, “sungguh bodoh Tuhan yang disembah kedua orang itu”.

Masih dengan pertanyaan yang sama, bagaimana dengan hipotesis “Tuhan itu satu”? Jika lima orang dengan kesialan yang berbeda, bukankah mereka membutuhkan jalan keluar yang berbeda? Jika Tuhan itu satu, apakah mereka harus menunggu Tuhan menyelesaikan satu persatu kesialan mereka? Tuhan seperti penjual jajanan yang harus mengurus satu persatu pelanggannya. Aku bertanya kepada Tuhanku, manakah yang benar-benar Tuhan di antara kalian wahai Tuhanku? Dia menjawab, siapakah yang engkau yakini sebagai Tuhan?  Tentu saja Engkau Tuhanku. Dia berkata, mereka pun akan menjawab sepertimu jika ditanya yang mana Tuhan mereka.

Tapi, bukankan seseorang bisa mengalami kesialan yang berbeda-beda? Jika Tuhannya hanya satu, apakah dia akan meminta pertolongan kepada Tuhan temannya? untuk menyelesaikan kesialannya yang lain. Konsekuensinya, dia akan mengakui ada Tuhan selain Tuhannya sendiri. Apakah dia tega mengkhianati Tuhannya?

Si A memiliki kesialan yang berbeda dengan si B, C, dan D. Mereka mengeluh dengan keluhan yang berbeda kepada Tuhan. Apakah hal itu meniscayakan banyaknya Tuhan? Atau benar bahwa Tuhan itu satu dan memiliki kemampuan yang luar biasa, sehingga dia mampu menyelesaikan masalah-masalah hambanya? Keduanya bisa dibenarkan. Benar bahwa Tuhan itu banyak, si A memiliki Tuhan yang berbeda dengan si B, C, dan D. Tuhan banyak berdasarkan pemahaman setiap hamba yang berbeda tentang-Nya. Setiap orang punya pemahaman yang berbeda terhadap Tuhan. Lalu bagaimana dengan Tuhan itu satu? Ya benar, Tuhan juga satu. Dari Tuhan yang satu itulah muncul Tuhan yang banyak. Si A melihat Tuhan dari sisi ke-maha kayanya, si B melihat Tuhan dari sisi ke-maha kuatnya, begitu pun si C dan D, sehingga berbedalah Tuhan dalam pemahaman mereka. Mereka membutuhkan Tuhan berdasarkan kesialan apa yang mereka alami.

Si A mengatakan Tuhan itu maha kaya, si B mengatakan Tuhan itu maha kuat, si C dengan tegas mengatakan Tuhan itu maha kasih dan seterusnya. Bukankah benar bahwa begitulah Tuhan? Sehingga Tuhanku adalah 1, 2, 3 dan seterusnya berdasarkan sejauh mana pemahaman tentang Tuhan itu. Karena dari Tuhan yang satu itulah tercipta Tuhan yang banyak berdasarkan berapa banyak pemahaman tentang-Nya.

Maha suci Tuhan dari segala prasangka buruk ciptaannya yang lemah.

Keharusan Mengeja Ulang Cak Nur

Hujan yang awet sejak Jumat hingga Sabtu malam, 13 Januari 2023, tak menyurutkan sekaum anak muda-mahasiswa, untuk menyata di Warkop Bundu Talasalapang. Mereka membikin hajatan bertajuk Makassar, Road to Bazar & Dialog Titik Temu Pemikiran: Cak Nur dan Buya Syafii Maarif. Bertema, “Meramu Pikiran; Merawat Keberagaman dalam Bingkai Keindonesiaan”.

Hajatan diinisiasi oleh HMJ PAI Unismuh Makassar. Saya perkirakan penghadir mendekati seratus orang. Pemantik percakapan sebagaimana tercantum di spanduk acara, Sulhan Yusuf (CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng) dan Asratillah (Direktur Profetik Institute). Secara teknis, oleh pemandu acara, Sulhan diminta untuk membedah gagasan Cak Nur, sementara Asratillah mendedah pikiran Buya Syafii.

Sebagai pemantik yang didapuk membedah minda Cak Nur, saya memulainya dengan mengenalkan selintas kilas latar belakang kehidupan pendidikan sang guru bangsa. Nurcholis Madjid, popular dipanggil Cak Nur, lahir 17 Maret 1939. Wafat Senin, 29 Agustus 2005. Menempuh mendidikan di SR, masuk Pesantren Moderen Gontor, kuliah di IAIN Ciputat, lalu melanjutkan program doktornya di Universitas Chicago, Amerika Serikat.

Kalakian, memahami Cak Nur, saya ajukan dua sudut pandang: konteks dan konten. Konteks terikat tahapan aktivitas personal dan sosial, sebentuk pergerakan ragawi. Adapun konten, terkait  kandungan pemikiran, serupa pergulatan jiwa.  

Sebagai konteks, pertama saat aktivis HMI: menulis Nilai Dasar Perjuangan (NDP), 1969. Kedua, dinisbatkan selaku penarik gerbong pembaharuan pemikiran Islam: menyajikan makalah untuk diskusi terbatas dinisiasi oleh PII, 1970. Ketiga, cendekiawan muslim garda depan: tatkala menyampaikan pidato di TIM 1992, plus aktivitas di Paramadina, hingga wafat dan digelari guru bangsa, 2015.

Konteks gerakan bermuatan konten, pertama, NDP. Buku kecil ini, semacam pedoman ideologi Islam bagi HMI. Berisi gagasan: Dasar-Dasar Kepercayaan, Pengertian-Pengertian Dasar tentang Kemanusiaan, Kemerdekaan Manusia (Ikhtiar) dan Keharusan Universal (Takdir), Ketuhanan Yang Maha Esa dan Perikemanusiaan, Individu dan Masyarakat, Keadilan sosial dan Keadilan Ekonomi, Kemanusiaan dan Ilmu Pengetahuan. NDP ditulis setelah melakukan perjalanan ke Timur Tengah dan ibadah haji. Ketika safari, bertemu dengan banyak pemikir. Kala ibadah haji, lahir berbagai renungan.

Konten kedua, makalah  “Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat”. Sajian makalah ini memicu perdebatan panjang di kalangan cendekiawan muslim. Pro dan kontra tersaji sangat panas dan dinamis. Tak mengapa saya penggal gagasan utama dalam makalah tersebut. Pertama, tentang sekularisasi—desakralisasi, termuat pula tohokan minda, Islam Yes, Politik Islam, No? Minda defenitif Cak Nur berkaitan sekularisasi, tidaklah dimaksudkan sebagai penerapan sekularisme dan mengubah kaum Muslim menjadi sekularis, tetapi dimaksudkan untuk menduniawikan nilai-nilai yang semestinya bersifat duniawi, dan melepaskan umat dari kecendrungan untuk meng-ukhrawi-kannya.

Kedua,  Intelectual freedom-Kebebasan berpikir. Menurut Cak Nur, seharusnya umat Islam mempunyai kemantapan kepercayaan bahwa semua bentuk pikiran dan ide, betapa pun aneh kedengarannya di telinga , haruslah mendapatkan jalan untuk dinyatakan . Sebab, tidak jarang dari pikiran-pikiran dan ide-ide yang umumnya semula dikira salah dan palsu itu ternyata kemudian benar.

Ketiga, Idea of progress, sikap terbuka. Ditegaskan Cak Nur, kita harus bersedia mendengarkan perkembangan ide-ide kemanusiaan dengan spektrum seluas mungkin, kemudian memilih mana yang menurut ukuran-ukuran obyektif mengandung kebenaran.

Konten ketiga, Pluralitas ke Pluralisme. Pidato di TIM, menabalkan minda, kemajemukan atau pluralitas umat manusia, merupakan suatu kenyataan yang telah menjadi kehendak Tuhan. Maka pluralitas itu meningkat menjadi pluralisme, yaitu suatu sistem nilai yang memandang secara posistif-optimis terhadap kemajemukan itu sendiri, dengan menerimanya sebagai kenyataan dan berbuat sebaik mungkin berdasarkan kenyataan itu.

Arkian, bagi Cak Nur, pluralisme Indonesia terumuskan secara ideologis dalam Pancasila sebagai dasar negara. Pancasila bersifat dinamis, maka Pancasila harus diperjuangkan dalam watak dan proses masyarakat yang dinamis pula. Di sini terletak arti pentingnya kebebasan-kebebasan asasi, khususnya kebebasan menyatakan pendapat.

Pucuk pemetaan pemikiran Cak Nur, saya kunci dalam penegasan pentingnya memahami Islam sebagai doktrin dan peradaban. Doktrin Islam bersifat universal dan kosmopolit, yang dibumikan menjadi peradaban. Strategi pembumian pemikiran Cak Nur, mewujud dalam rupa,  Islam diintegrasikan dengan kemanusiaan, kemoderenan, politik, dan keindonesiaan.

Nah, dikarenakan hajatan HMJ PAI ini bertujuan mencari titik temu pemikiran dengan guru bangsa lainnya, Buya Syafii Maarif, maka saya sodorkan satu kutipan pendakuan dari Buya, saat menulis satu pengantar terhadap buku, Cak Nur Sang Guru Bangsa, anggitan Muhammad Wahyuni Nafis. Artikel Buya berjudul, “Cak Nur, Sahabatku: Mengapa Cepat Pergi?”

Buya Syafii bilang, “Sekiranya tidak pernah sama-sama belajar di Universitas Chicago selama beberapa tahun pada seperlima terakhir abad ke-20, saya tentu tidak akan kenal dekat dengan Cak Nur, yang kemudian ditakdirkan muncul menjadi salah seorang intelektual kelas berat Indonesia. Penampilan fisiknya yang selalu sederhana, tetapi otak besarnya telah lama menggeluti masalah-masalah besar yang menyangkut keislaman, kemoderenan, keindonesiaan, dan kemanusiaan universal.”

Pendakuan Buya yang saya kutipkan, cukup menjadi jembatan pengantar untuk sesi penyajian pikiran Buya, didedahkan oleh Asratillah. Dan, eloknya lagi, pancingan saya langsung disambar oleh Asratillah. Selama penyajiannya, saya ikut membatinkan pikiran-pikiran Buya, sekaligus menyeleraskan minda Cak Nur. Simpai simpulan saya, tiada sedikit titik-titik temu pemikiran. Paling tidak, baik Cak Nur maupun Buya Syafii sama-sama berguru pada seorang cendekiawan muslim kelas dunia, Fazlur Rahman, selama kuliah di Universitas Chicago.

Respon penghadir terhadap bentangan pemikiran kedua guru bangsa tersebut, cukup mendapat apresiasi. Namun, hingga perjalanan pulang diiringi rintik hujan dan saya tiba di mukim, tersisa seonggok tanya, masihkah kaum muda mahasiswa serius mempercakapkan tema-tema pemikiran semacam itu?

Pasalnya, tak sedikit stigma dialamatkan kepada kaum muda mahasiswa, bahwa ketertarikan pada percakapan intelektual, tak banyak diminati lagi. Untungnya, saya sudah mempersiapkan pelampung, berupa rekomendasi agar mengeja buku-buku Cak Nur, bila ingin mendalami lebih jauh sepak terjang minda sang guru bangsa.

Cuman dua buku Cak Nur saya tunjukkan, Islam Kemoderenan dan Keindonesiaan dan Islam Doktrin dan Peradaban, agar dieja oleh mereka, sebab saya pun mengeja ulang buku-buku tersebut, tatkala didapuk selaku pemantik. Waima, saya sudah membaca saat mahasiswa di akhir tahun 80-an dan awal 90-an, tapi ketika mengeja ulang di kiwari, rasanya makin tinggi nilai gizinya, buat menjalani kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara. Utamanya di tahun politik yang tunggang langgang dinamikanya.