Perempuan Terakhir dari Keluarga Petualang

Terkadang kita sepakat perihal pembunuhan, demi kebahagiaan orang lain. Dan, kita rela mati—mengubur segala impian, demi sebuah kepatuhan terhadap orang terkasih.

***

Saking cinta pada dunia petualangan, ayahku menamaiku dari nama sebuah gunung di kota tempat aku dilahirkan, Gunung Binaya. Jika Shakespeare, dramawan Inggris, risih menyoal what is a name—apalah arti sebuah nama, hal berbeda dengan ayahku, menamaiku Binaya, harapannya aku tumbuh seperti dirinya, seorang petualang.

Sebenarnya aku sendiri begitu tak memahami, kenapa kedua orangtuaku, terutama ayahku lebih betah di gunung daripada di rumah? Atau, kerapkali memasksaku menjejaki jalannya?

Hingga tibalah di suatu hari, segala keresahan selama ini, pun tak kuasa kubendung, laksana awan tak kuasa menampung butir-butir air, lalu menumpahi  menjadi hujan.

“Ayah, kenapa…,” suaraku masih perawan di rongga mulut. Seperti mengetahui maksudku, Ayah lalu memotongnya.

“Kunamaimu, Binaya, kelak kau menapak jalan kami, jadilah seorang petualang, Nak.” Suara Ayah lirih. Lamat-lamat kubiarkan kata-kata ayah berlalu begitu saja. Bak angin menerbangkan debu, lalu tiada.

Kami terdiam sejenak. Kutatap Ayah dalam-dalam. “Ayah telah mengusik hidupku dengan takdir yang dibuat ayah atas diriku. Petualangan, bukanlah duniaku dan bukan pula takdirku,” pekikku seperti petir memorak-porandakkan semesta.

Ayah semakin tajam melototnya, air mukanya memerah bak terik matahari.

“Ayah, aku lebih damai di sini, bersama buku-buku. Aku tak mau lari dari kenyataan hidup. Di sini, aku bisa berbagi bersama mereka yang membutuhkan,” cetusku pelan seiring hembusan angin yang berlawanan arah.

Tetapi apa yang dibalas ayahku.  Aku sontak dibuat kaget. “ Maling Kundang, tak lagi tinggal dalam legenda, tetapi di rumah kita, dia adalah kau!”  pekiknya penuh kesal. Sembari pergi meninggalkanku seorang diri.

Sejak saat itu, di rumah kami seperti neraka. Pertentangan disemai, seperti bangsa jin terhadap manusia. Dendam pegitu apik dipelihara, dibiarkan bermukim di rumah kami.

Seperti ayahku, kumiliki komitmen yang sama keras. Aku terus menolak, sebab petualang bukan duniaku. Duniaku adalah dunia keheningan, di perpustakaan atau ruang-ruang senyap jiwaku tinggal. Di sana, telah matang kubekali diriku dengan membaca, berdiskusi, hingga terlibat di dalam gerakan-gerakan literasi.

Namun, begitulah orangtua, katanya lebih mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk bagi anaknya. Bagi ayahku, duniaku ini telah merampas segala hal dariku, dari wawancara kerja yang tak kunjung datang, jodoh yang masih dipeluk Tuhan, sampai-sampai aku tidak memiliki kebebasan dicecap. Tak seperti dunia mereka yang penuh purnarupa dan purnawarna.

Ayahku masih saja memaksa—dengan penuh kekesalan. “Andai saja saat itu, secuil kebebasan  diberikan Tuhan kepadakku, aku tak mau memilih lahir dari kantong rahim seorang petualang. Namun, kelahiranku adalah sebuah kutukkan bukan pilihanku,” gumamku, kali ini tanpa bersilat kata dengan Ayah.

Menyerahkan hidup demi sebuah kematian, seperti inilah imanku perihal petualangan. Atau, terkadang aku berpikir, sejatinya seorang pembunuh adalah orang-orang terdekat kita, meniadakan segala kehendak kita dan menggantikannya dengan kehendak mereka. Seorang pembunuh memiliki banyak cara melumat nyawa seseorang. Sama halnya seperti ayahku, pagi itu.

“Binaya. Sudah, siapkah kamu?” suara ayah melengking. Tingkah ayahku mirip-mirip tingkah penjajah yang berigas, sigap melumat darah leluhur-leluhur kita.

Ayo, packing!suaranya pelan tetapi beruris-giris, lalu darah bersimbah ruah. Kali ini, aku tak kuasa melawan, sebab dengan nekat ayahku menghunus  sebila belati ke leherku.

Aku begitu lemas tak berdaya, dengan sigap, sebuah keputusan begitu berat kubuat. Semata-mata demi pengabdian terhadap kedua orangtuaku. Terkadang kita sepakat soal pembunuhan, pembunuhan atas dunia sendiri, demi kebahagian orang lain.

Seperti dilahirkan kembali, kali ini aku mengimani rainkarnasi—diri yang baru dengan dunia yang baru. Aku sendiri tidak menyangka, dapatilah diriku di antara kesungguhan hidup dan kepura-puraan.

Di sana, di puncak gunung, aku merasakan hal yang berbeda, mungkin karena baru pertamakali dalam hidupku menjajaki bongkahan tanah yang lebih tinggi, hingga menyentuh singgasana Tuhan.

“Binaya, anakku, selamat datang di dunia kami, dunia petualangan. Gunung, rumah bagi jiwamu. Sebuah tempat pembebasan diri dari kekerasan dan pemerasan, tempat tinggal kita, Nak,” cetusnya.

Ayahku seperti meniup ruh ke dalam jiwaku. Di penghujung timpalnya yang sekarat, lalu ia tertawa lepas, dengan jiwanya yang bebas. Dari apa yang diucap ayahku, aku merasakan hal itu, seperti kawanan burung Walet yang terbang bebas di atas kepalaku, sembari mengajakku melihat  klorofil daun yang sedikit malu-malu dilukis cahaya matahari.

Bukan di rumah, tetapi di puncak gunung, awal kukenali dengan baik kedua orang tuaku. Sebab, setengah dari perjalanan hidup mereka dihabiskan di gunung. Keduanya percaya, gunung menjadi rumah kami yang kedua, di sana kebebasan dipetik, lalu rindu diterbangkan pada semesta.

Mulai detik itu, aku selalu mengekor ke mana pergi kedua orangtuaku. Dari besar jejeran gunung di negeri ini, kami telah menjejakinya. Kemolekan gunung kami dijamu,  seperti gadis perawan yang dikejar lelaki hidung belang, itulah kami terhadap gunung. Kebahagian semata, kami tunaikan dari setiap pendakian.

Terlalu jauh kaki menapak, terlalu banyak keindahan dipetik, aku telah melupakan tumpukan buku dan kesenyapan perpustakaan. Hingga, tiba pada sebuah pendakian, semua kembali beransur-ansur seperti semula. Hari di mana,  aku kembali kenali diriku yang sesungguhnya.

Hari itu, pagi masih buta, kami menyusuri hutan dengan melewati sebuah mukim yang tertutup bayangan pohon bambu.

“Wow, indah sekali negeri ini, Ayah.”

“Iya, Na,.” sahut Ayah dari punggung belakangku. Seketika itu, ibuku menoleh di wajahnya, sembari melemparkan senyumnya kepadaku. Kami pun berbalas senyum. Lalu, dari senyum itu, kembali kulempar pada kerumunan gadis dan pemuda belia yang berdiri di pojok-pojok gubuk membentuk kerumunan.

Mataku tak lepas dari sebuah kerumunan itu. Kuhentikan langkah kakiku. “Kenapa berhenti, Nak?” tegur ayah yang sudah berdiri disampingku.

“Apa yang kaulihat, Nak?” aku belum juga membalas tanya Ayah. Ibu berjalan mendekati arah kami, melempar pertanyaan yang sama. Dari kejauhan, seorang gadis kecil berjalan menghampiri kami, yang menepi dari badan jalan. Suaranya lepas dari badannya.

“Kalianlah guru yang dikirimkan untuk kami? ucapnya tidak jelas, tetapi aku bisa menangkap maknanya. Kami hanya berbalas pandang, tanpa menjawab tanyanya.  Sembari langkah kaki mendekat, aku merasakan nafasku sekarat.

“Ayo, Nak,” pinta Ibu, sembari melangkah meninggalkan kami. Aku masih terdiam seribu bahasa. Dalam hatiku, apa yang meski kusampaikan kepada gadis ini.

“Apa yang kau pikirka?” Sontak dibuat kaget dengan tanya Ayah.

“Oh, itu.” Kutatap muka gadis kecil itu dalam-dalam.

“Maksud kamu, gurunya, iya?” tanya Ayah lagi.

“Iya.” Sembari mengangguk kepalaku.

Gadis kecil itu, lalu membelakangi kami, pergi kembali pada kerumunan dengan jiwanya yang kosong, aku mengetahuinya dari sorot mata yang menatapku terakhir kalinya.

Di dalam perjalanan aku masih dihantui pertanyaan gadis itu. Aku merasakan diriku sebanarnya tinggal di sana. Membekali diri selama ini sebagai pegiat pendidikan, seharusnya di sanalah tempatku dengan segala impianku. Kali ini, aku benar-benar kehilangan sensasi kemolekan gunung atau danau-danau hijau. Hanya kembali menjadi pegiat pendidikanlah tingal di kepalaku, lalu turun membakar jiwaku.

Suatu hari, bermaksud kusampaikan niat untuk kembali ke mukim tersebut, kepada kedua orangtuaku, namun apa yang terjadi?

“Kamu siapanya mereka?”

“Ayah tidak mengizinkan.” Diujung timpalnya, airmukanya memerah.

“Tapi….,” bantahanku belum berakhir.  Disambut ayah lagi. “Pokoknya, Ayah tidak mengizinkan.”

Hari-hariku adalah pergolakan batinku, dengan ketidakiziman Ayah, sebagai pegiat pendidikan. Namun aku selalu percaya bahwa yang namanya pilihan harus ada yang dikorbankan. Entah, dalam bentuk apa?

Tepat hari Senin, tanpa kain bendera dikibarkan, di luar gubuk reyot btertulis nama, “Sekolah Alam.” Kupastikan diriku benar-benar berdiri berhadapan dengan gadis dan pemuda kecil yang kulihat, tempo hari.

“Namaku, Binaya, sahabat kalian.”

Sejak itu, kuyakinkan diriku sebagai sahabat mereka, bukan hanya menikmati keindahan alamnya saja, akan tetapi mendidik mereka agar tetap mempertahankan kemolekan alamnya, dari bidik panah sang pemburuh yang serakah, termasuk ayahku.

 

 

 

Ishak R. Boufakar

Ishak R. Boufakar/Lelaki Laut lahir di Kian Darat, 23 Juli 1992. Puisi-puisinya termuat dalam Antologi Puisi 250 Cinta Terpendam (2016). Tinggal di Ambon dan bergiat di KLPI Makassar.

Artikel yang Direkomendasikan

2 Komentar

  1. Selalu sukses dengan kesuksesanmu bang ..👏💚

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *