Warnanya hijau seperti daun pisang matang, berbentuk tabung silinder sekitar lima senti. Seluruh bangunnya dibuat dari tepung beras yang dimampatkan dalam cetakan bambu kecil berbentuk serupa. Setelah matang, penganan hijau tersebut digulingkan di atas bulir-bulir kelapa parut. Yang membuat penganan khas satu itu berbeda adalah peralatan memasaknya.

Prinsip alatnya mirip dandang kukusan. Si putu dikukus bersama cetakan bambunya sampai mencapai panas dan tingkat tekanan tertentu. Sampai si putu cukup matang untuk bisa terpisah dari cetakannya. Sampai tekanan uap di dalam ruang kukusan cukup tinggi dibanding udara luar, hingga menghasilkan desisan nyaring di corong panci. Berdesis panjang seperti tangisan.

Ialah putu menangis.

Penganan satu ini populer dikalangan masyarakat Bugis Makassar. Bercita rasa gurih dan manis sekaligus. Kue ini bahkan tidak pernah absen mengisi etalase toko kue-kue tradisional, juga acara peringatan kematian.

Ada satu daeng penjual putu menangis keliling di sekitar kompleks perumahan padat tempat keluarga kami tinggal. Daeng itu biasa lewat menjajakan putunya mulai ba’da isya hingga pukul sebelas malam, tidak jauh beda dengan Abang Bakso keliling. Hanya saja kalau Abang Bakso memanggil pelanggan menggunakan denting dari sendok dan mangkok, maka Daeng Putu Menangis ini mengandalkan ‘tangisan’ dari panci kukusan putu-putunya.

Kadang-kadang kalau kompleks rumah kami sedang sepi-sepinya dan dari jauh tangisan putu-putu hijau itu terdengar, aku sering mengkhayal aneh-aneh. Membayangkan kalau-kalau Daeng Putu Menangis itu adalah jelmaan arwah penasaran yang banyak dosa, lalu diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menebus dosa-dosanya dengan menjual putu.

Seluruh profilnya cocok. Warna hijau putu itu perlambang dari surga, kenikmatan yang dia idam-idamkan. Suara desisan terdengar macam tangis dari panci adalah pengejawantahan kesedihan dan penyesalan dari hatinya yang terdalam. Dan profil terakhir yang paling mendukung adalah Daeng Putu Menangis selalu beroperasi mulai isya sampai tengah malam. Aku bergidik, ngeri sendiri pada hasil khayalanku.

Alhasil, saban malam aku jadi punya kegiatan baru. Menunggu daeng penjual putu menangis di teras rumah, mengamatinya lekat-lekat ketika daeng itu lewat tanpa berani mencegatnya untuk membeli putu barang sebatang.

Tidak pernah satu malam lewatpun aku melewatkan momen tiga detik mengamati Daeng Putu Menangis. Tiga kayuhan sepedanya lewat di depan rumah, topi kerucut dari anyaman bambunya, wajahnya yang lurus menatap ke depan, kedua tangan yang mantap memegang setir sepeda, dan sandal karet hijaunya mengayuh pedal. Semuanya terlihat sangat manusiawi. Kecuali suara desisan dari panci kukusan itu, tangisannya kadang-kadang menegakkan bulu roma.

Hingga suatu malam senin yang tidak biasa. Aku terduduk patah hati di sudut kamar oleh sebuah pengkhianatan.

Masalah ini sebenarnya lumrah dan sederhana. Sangat biasa dalam sebuah hubungan. Kami menjalin hubungan jarak jauh, harus berlapang dada sebab hanya bisa bertemu lewat percakapan singkat di telepon, atau bertemu sekali dalam rentang waktu beberapa bulan. Itu pun kalau sedang beruntung.

Mungkin hal-hal itu tidak cukup bagi kekasihku. Cintaku gagal dipahami sebagai ungkapan sayang yang tulus. Kerinduan nyatanya tidak cukup membuat kekasihku yakin. Tetapi bagian lain hatiku sangat memahami kondisinya. Lelaki tetaplah makhluk rasional, mereka butuh sesuatu yang nyata di depannya. Bukan sekadar perhatian yang jauh dan lebih dekat pada angan-angan. Aku mengerti jika akhirnya dia menyerah dan memilih perempuan lain yang kasih sayangnya bisa selalu ia rasakan saban hari.

Ini aneh sekali. Patah hati ini luar biasa menyakitkan, tetapi sebutir air mata pun tidak pernah berhasil menemukan jalan keluar. Aku tidak bisa menangis. Dan aku tersiksa karenanya.

***

Aku biasanya baru beringsut ke teras rumah setelah mendengar desisan panci Daeng Putu Menangis sayup-sayup dari jauh. Tetapi malam ini lain. Aku secara khusus menunggunya. Duduk tenang-tenang di kursi teras bertemankan selimut persis setelah masuk waktu isya. Malam ini aku berniat membeli dagangan Daeng Putu Menangis.

Menjelang pukul sepuluh barulah si daeng muncul, untuk pertama kali aku memanggilnya. Sambil berjalan membukakan pagar aku lekat mengamati caranya turun dari sepeda. Energik dan seimbang. Ia seperti melayang turun dari setang.

Daeng Putu Menangis ini ternyata masih sangat muda, mungkin awal tiga puluh. Adalah pemandangan tidak biasa, seorang lelaki muda menjajakan penganan tradisional.

“Mau beli berapa potong, Dik?”

“Saya ingin membeli tangisan.”

Gerakan lincahnya memampatkan adonan tepung beras ke dalam cetakan bambu terhenti. Daeng ini menatapku, terhenyak mendengar betapa aneh keinginanku.

“Saya tidak menjual tangisan.”

“Tapi putu itu adalah putu menangis, siapapun bisa mendengar tangisannya.”

“Saya tidak menjual tangisan,” tegasnya sekali lagi, sambil menggiring sepeda meninggalkanku.

***

Aku tahu dia berbohong. Maka kuputuskan menunggu Daeng Putu Menangis itu lagi malam ini. Meyakinkannya. Semoga dia berbaik hati memberiku tangisan, akan kubeli berapapun harganya.

“Mau beli berapa potong, Dik?” Pertanyaan yang sama.

“Saya ingin membeli tangisan. Berapapun harganya.”

Panci kukusan putu berdesis panjang. Aku girang bukan main mengira Si Daeng akhirnya memutuskan memberikanku tangisan.

Dadaku makin buncah kesenangan ketika tangannya mengambil potongan daun pisang, membuka penutup panci yang segera dikepuli uap. Menggunakan penjepit bambu dia mengangkat putu-putu itu dan mengeluarkannya dari cetakan. Menaruh dua batang di atas potongan daun pisang dan diberikan padaku.

“Saya tidak menjual tangisan.”

Si Daeng kembali menggiring sepedanya. Meninggalkanku dan dua batang putu berwarna hijau yang masih panas.

***

Aku tidak menyerah. Esok malamnya aku menunggu lagi dengan sabar. Mungkin malam ini dia akan memberikannya.

“Apakah putunya lezat?” Daeng itu bertanya, kali ini pertanyaannya lain.

Aku mengangguk. Putu menangis itu memang lezat, kenyal ketika dikunyah karena matangnya pas. Rasanya gurih dan manis sekaligus.

“Kekasih saya berkhianat. Saya patah hati, dan itu sangat menyakitkan. Tapi saya tidak bisa menangis. Jadi tolonglah, saya ingin membeli tangisan,” kuputuskan untuk bercerita. Semoga hatinya cukup tersentuh hingga akhirnya mau membungkuskanku beberapa batang tangisan.

Daeng Putu Menangis mengambil cetakan bambu, memasukkan adonan tepung beras berwarna hijau ke dalamnya. Sambil mengisi adonan, sambil ibu jarinya menekan adonan tersebut hingga padat. Si Daeng asyik membuat putu dari awal. Tidak menanggapi curhatanku.

“Dik, putu lezat yang kau makan semalam itu dibuat dengan seluruh rangkaian kesakitan dan tekanan yang luar biasa. Butir-butir beras utuh digilas oleh dasyatnya mesin penggiling sampai hancur menjadi tepung. Lalu dibuatkan adonan, dimasukkan ke dalam cetakan, ditekan-tekan sekuat tenaga sampai padat. Barulah dimasak, dikukus dalam panci panas bertekanan tinggi. Kalau putu-putu itu matang, pancinya akan berdesis seperti tangisan, itu tandanya putu tersebut sudah bisa dilepaskan dari cetakannya.” Daeng Putu Menangis asyik menjelaskan filosofi penganan hijau itu sambil menunggu putu yang ia masak baru saja, menjadi matang.

“Banyak sekali orang-orang tangguh, bijaksana, dan gemilang di dunia ini yang ternyata dibentuk sekian lama oleh seluruh kesedihan,ditempa kesana-kemari oleh segenap kesakitan. Tetapi mereka sanggup bertahan dan muncul menjadi orang-orang terbaik.”

Desisan panjang dari panci memotong pidato penuh makna dari Daeng Putu Menangis. Tangannya cekatan membuka tutup panci yang segera dipenuhi kepul uap, mengambil dua potong putu lalu dibungkus daun pisang. Putu itu diserahkannya padaku.

“Tidak mengapa kalau hari ini Dik tidak bisa menangis, mungkin kesedihan itu belum seberapa. Semoga besok lusa seluruh kesedihan yang mengendap dapat membuat Dik menjadi perempuan tangguh dan bijaksana. Ambillah dua potong putu lezat ini yang dibuat dengan seluruh kesakitan. Sebab saya hanya menjual putu. Saya tidak menjual tangisan.”

Si daeng menggiring sepedanya menjauh. Dua atau tiga langkah dariku ia melompat menaiki setang, mengayuh pedal pelan-pelan. Meninggalkanku dengan dua batang putu lezat berwarna hijau yang masih panas.

 

Galesong, 18 Agustus 2016

Fatmawati Liliasari

Fatmawati Liliasari lahir pada 11 Juni 1995. Menulis baginya adalah sebuah kebutuhan, seperti bernapas, sebab setiap kali ia melakukannya rasanya seperti pulang ke rumah. Ia juga menjadikan menulis sebagai sarana baginya menebar kebaikan, bermanfaat bagi sesama. Selain membaca dan menulis, gadis yang menyukai tantangan ini juga senang sekali bertualang. Mengunjungi tempat-tempat jauh, bertemu orang-orang baru, cara hidup tak biasa, nilai-nilai hidup yang baru, juga bahan untuk menulis lagi. Di samping itu ia juga sering sekali melamun. Ia sangat terilhami pada salah satu kalimat Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi, bahwa hidup tentang memberi sebanyak-banyaknya bukan menerima sebanyak-banyaknya. Bukunya yang pernah terbit ialah kumpulan puisi Dari Galesong Kepada Indonesia (2016). Ia bisa dihubungi lewat email fatmalilia5@gmail.com atau nomor ponsel 085146373850.

Artikel yang Direkomendasikan

1 Komentar

  1. Bsa mnta lamat pnjualnya MBA??

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *