Meniti dengan Sabar dan Cerita Lainnya

Meniti dengan Sabar

Sore ini tak ditemani senja merona saga, sebab kabut hitam pekat tak hentinya mengerubuti cerlangnya. Aku tertatih menapaki jalan-jalan setapak menuju puncak kebajikan yang masih jauh di pucuk angan-angan, terhalau ego membatu. Padahal, pelbagai cara telah kurajut menuju cahaya di balik kabut pekat itu. Namun langkahku masihlah tertatih terhalau berupa-rupa ranjau yang kerap kubuat sendiri, sengaja ataupun tak.

Kala malam tiba aku tak sua bintang-bintang yang cerlangnya kerap menunjuki jalan para pejalan. Tapi, entah kenapa malam ini ia seolah enggan menyapa. Padahal kabut hitam telah menepi di pojok-pojok semesta. Badai pun telah pergi menjauh bersama senja, kala waktunya telah usai semayam. Setelah kutengok lebih seksama, rupanya cahaya hanya samar, sebab kunang-kunang pun meringkuk tak sudi menerangi jalan di hampir gulita itu.

Aku tetap berjalan dalam kembaraku di hening hutan belantara, di bening air mata dan mata air, di hiruk-pikuk kota-kota. Di setiap jejak tak pernah sunyi dari perih kelalaian. Gemuruh aral melintang tak pernah urung dan surut menghadang setiap kebajikan yang telah didekap. Menghalau keras segala sikap bijak yang telah mulai semai. Bajik dan bijak akan mengalami rintang sepanjang jalan, sebab para iblis bertugas agar tak kukuh di hati dan sikap manusia.

Dalam tatih panjang kumenemui kerumunan-kerumunan yang tak hentinya bersendagurau dengan dunia, berasyik-masyuk dengan fatamorgana, mengunduh ego sepanjang usianya, menyeduh bangkai di setiap tuturnya yang menyangkitkan sesama. Aku pun terseret di arus itu di waktu yang panjang, walau sesekali menepi bila secercah cahaya kesadaran menyambangiku. Menepi dari arus-arus yang memabukkan mestilah memadukannya antara ikhtiar yang tak henti dengan doa-doa tanpa jedah.

Dari riuh rendah para pejalan di jalan sunyi, aku mencoba mendekap sabar sepanjang jejakku menjemput percik cahaya cinta di pojok-pojok waktu. Kala segala anggur duniawi memabukkan kureguk lalu kutiris hingga mengalir jauh terbawa angin tak bermusim. Walau sesekali aroma memabukkan masih terbawa beliung menerjang bersama badai ke relung-relung pikir, hati dan begitu sulit menghalau, pun menepisnya. Tapi, lagi-lagi perisai yang sangat tangguh yang mesti tetap semayam di hati adalah sabar. Sabar melawan diri sendiri.

[Kampung di atas bukit, Agustus 2016]

 

 Di Lipatan Hatimu

Kita berjalan bersama telusuri malam, tak sua bulan, pun kunang-kunang. Kala melintasi kelam dan gulita, engkau berbisik padaku, “Nyalakan suluh di hatimu. Sebab cahayanya lebih benderang dari matahari sekalipun. Bukankah ia penuntun jalan yang paling hakiki. Tinimbang engkau berharap pada ciptaanNya yang lain.” Bisikmu lagi,“Kamu tahu kan, rahasiaNya ada di lipatan hatimu.”

Suatu waktu, kala ruang-ruang sepanjang jalan yang kita lintas telah nampak menua. Engkau bersenandung lirih nyanyikan lagu pelipur. Bahwa, “Semesta kita adalah semesta fana, yang abadi adalah kebajikan dan cinta. Di sana bermuara segala yang ada. Bila cinta tak kau miliki sesungguhnya engkau adalah tiada.”

Kala senja selimuti semesta, engkau mengajakku mendaras kehidupan lampau. Katamu, “Adakah sepanjang hari ini engkau melepas senyum pahit, seonggok kata yang menyakiti sesama, sejejak langkah mengurai kebatilan. Ataukah, engkau telah terlukai oleh ulah seorang culas dan bebal, singkapkan dan alirkan jauh di bibir-bibir mimpimu agar tak ada yang terluka dan membusuk menemani tidurmu.”

Dalam tidurpun engkau menyambangiku, membawaku bertamasya mengelilingi alam bawa sadar. Engkau bercerita “Saat ini kita dalam keadaan mati kecil. Karenanya sebelum engkau memasuki kematian ini, bersihkan jiwamu dari pernak pernik duniawi yang berkubang hasad dan dengki. Karena boleh jadi kematian kecil ini membawa kita ke kematian besar dan mati sesungguhnya.”

Malam pun berpendar jauh hingga kokok ayam menyambutnya jelang subuh tiba kala bibir-bibir langit di timur mulai merona saga. Engkau tak luput di haribaanku, mencubit sadarku hingga melek, bahwa, “Hidup telah berputar pada porosnya dan selalu seperti itu. Telahkah engkau mengeja kembali tapak tilas lampaumu, untuk bergegas menengok lipatan hatimu yang paling dalam. Masihkah ada cahaya semayam di sana ?”

[Kampung di atas bukit, September 2016]

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *