Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Pendekar Kemanusiaan

Bagimu kutancapkan kening kebanggaanku pada rendah tanah
Telah kuamankan sedapat mungkin maniku
Kuselamat-selamatkan Islamku
Kini dengan segala milikMu ini
Kuserahkan kepadaMu Allah
Terimalah…

(Gus Mus)

Kala melantunkan sajak Gus Mus, Bagi-Mu, bilik ingatan saya tersibak. Tentang peristiwa luar biasa saban hari, ketika melihat gerombolan massa yang menuju istana. Sebagaimana yang santer diberitakan di segala macam media−maklumlah, sebab fenomena demikian adalah kabar yang bisa mengalirkan pundi-pundi rupiah, dengan sedikit bumbu-bumbu agar pembaca terpikat. Dan disusul dengan peristiwa pengeboman gereja di Samarinda. Dua tragedi berbau agama. Tragedi yang membangkitkan rasa rindu saya, kepada sosok cucu Adam. Wajahnya yang lucu nan kharismatik terbayang di alam pikir saya saat itu.

Sosoknya bertubuh gempal, berperut buncit macam saya. Bedanya, kacamata bulat tebal yang dipakainya. Bedanya lagi, ide dan gagasannya mampu menerobos sekat antar etnis, ras dan agama. Meski terkadang idenya dirasa cukup kontroversial untuk beberapa kalangan. Mungkin dan memang, karena buah pikirannya melampaui zamannya. Tapi meski begitu, beliau adalah pembela kemanusiaan, kaum minoritas dan tertindas yang menjunjung pluralisme. Maka tak heran, kalau seorang pemimpin Hindu dari India, menitipkan umat Hindu Indonesia padanya. “Gus, jika saja engkau masih di sini dan melihat fenomena 51 ini, apa yang engkau lakukan dan memihak yang mana?” pikir saya liar. Saya tiba-tiba merindukan sosok pendekar kemanusiaan itu.

Karena saya tidak mau benar-benar menjadi liar atau menjadi apatis, dan membiarkan diri saya terpenjara rasa rindu. Saya mengambil buku yang terselip di lemari. Baru melihat sampulnya saja, sebuah jawaban terlintas tentang tanya tadi. Mungkin, orang di gambar sampul ini akan berujar, “Gitu aja kok repot,” lalu terkekeh dengan tawanya yang khas. Merasa digelitik, saya menyelami lebih dalam novel Sejuta Hati untuk Gus Dur, karya Damien Damatra. Novel ini tentang kisah hidup KH. Abdurrahman Wahid, yang lebih suka disapa Gus Dur. Gus Dur adalah buah cinta pertama KH. Hasyim Wahid dan Solichah. Juga berarti, cucu dari salah satu ulama pendiri NU, salah satu organisasi masyarakat terbesar di Indonesia, KH. Hasyim Asy’ari.

Di tengah-tengah petualangan dunia aksara, kawasan pikiran Damien Damatra. Saya tertarik pada sebuah percakapan antara Gus Dur, sang Romo dan sang pemilik rumah yang beragama Hindu. Diskusi dimulai dengan pertanyaan sang pemilik rumah, yang mencoba menjejaki sebab agama-agama di Indonesia yang seringkali bertengkar. Dengan argumentasi tentang hakikat agama-agama, yang mengajarkan cinta kasih antar sesama, sang Romo menimpali dan mempertajam pertanyaan tentang manusia yang gemar bertikai antar sesama atas nama agama. Semua pertanyaan ini dibidikkan kepada Gus Dur seorang.

“Karena itu, kita harus memperkuat persamaan yang kita miliki, bukan mempertajam perbedaan yang ada. Sebab, semua manusia sama di hadapan Tuhan. Hanya cara beribadahnya saja yang berbeda.” Sabda Gus Dur melesat tajam, sebagai tutur, nasihat sekaligus jawaban untuk tanya saya jua.

Kemanusian yang penuh cinta kasih adalah salah satu sari agama-agama. Maka tentulah, hal ini juga menjadi ajaran agama Islam, sebagai agama rahmatan lil alamin. Agama yang diajarkan dengan santun dan penuh cinta kasih oleh Muhammad SAW. Islam, memang menyaratkan kepada seluruh penganutnya, selain memperkuat hubungan vertikal, juga mempererat hubungan secara horizontal−hablumminallah wa hablumminannas. Maka, selayaknya perbedaan agama, tidak dijadikan sebagai alat pemicu pertikaian antar sesama manusia.

Teringatlah saya pada tokoh pendekar tanpa nama. Seorang pendekar nomor satu dengan jurus tanpa bentuk yang tak terkalahkan, dalam novel Nagabumi¸ gubahan Seno Gumira Ajidarma. Dalam pergulatan dengan dirinya sendiri, sang pendekar tanpa nama membatin, “Dalam kehidupan sehari-hari, perbedaan agama bukanlah suatu masalah. Tetapi bagi para pemimpin dunia awam, agama dimanfaatkan sebagai penanda untuk membedakan golongannya sendiri dengan golongan lainnya. Bagiku, sengketa di antara para pemimpin hanyalah sengketa masalah kekuasaan. Agama hanyalah alasan untuk mendapatkan pengikut sebanyak-banyaknya. Hal semacam itu, bagiku adalah kelicikan yang memuakkan.”

Senada dengan pendekar tanpa nama, Gus Dur sang pendekar kemanusiaan dan pluralisme. Pendekar yang juga pernah menjadi orang nomor satu di Republik ini, pernah mengatakan bahwa peran agama sesungguhnya membuat orang sadar akan fakta bahwa dirinya merupakan bagian dari anggota umat manusia, dan bagian dari alam semesta.

Akhirnya, saya pandangi lekat cairan pekat hitam, yang sedari tadi mengawal menjejaki dunia aksara. Tak puas hanya dengan memandangnya, saya menyeruput sesekali. Tercekatlah saya kala merasakan ada keseimbangan rasa manis dan pahit. Pikiran kembali liar dan berandai sekaligus berharap, kehidupan beragama di negeri ini, bisa berjalan harmonis dan damai selayaknya kopi ini. Tidak ada lagi pihak yang mencoba mengoyak jiwa pertiwi atas nama agama. Semua agama-agama berdampingan satu sama lain, terbang bersama sang garuda, menyongsong peradaban yang berketuhanan yang Maha Esa dan berkemanusiaan yang adil dan beradab. Dalam bingkai persatuan, permusyawaratan dan keadilan sosial.

Olehnya, marilah kita berbuat untuk bangsa dan tanah air kita. Gus Dur bertutur, “Tidak penting apa latar belakangmu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang lebih baik untuk semua orang, orang tidak akan tanya apa agamamu, apa sukumu, apa latar belakangmu.”

The following two tabs change content below.

Aedil Akmal

Lahir di Bantaeng, 24 oktober 1994. Pelajar di Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar. Aktivis MEC RAKUS Makassar, dan Peserta Kelas Literasi Paradigma yang mencintai kopi dan buku terutama novel sejarah.

Latest posts by Aedil Akmal (see all)