Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Terlempar dan Puisi-puisi Lainnya

Perkenalan Diri

Assalamu alaikum Warah matullahi Wabarakatuh.

Hay teman-teman, perkenalkan nama saya Tragis,
saya tinggal di bawah tanah,
hari lahirku hari matiku.
Hobiku merencanakan untuk bunuh diri.
Citaku-citaku adalah mati.

Terima kasih atas waktunya, salam kenal.

 

Terlempar

Terkadang kita tuli untuk mendengar nyanyian rumput yang kita bakar.

Seringkali kita membusukkan angin harum dari sari pati pepohonan di samping rumah.

Kita hanya peduli untuk hidup kita yang semakin jauh dari tempat kita bermula.

Menyibukkan diri di jalan yang bukan jalan kita.

Kehidupan ini memang adalah mengalami kesalahan.

Tapi kesalahan mengajarkan kita arti dari kebenaran.

Namun kita betah dengan kenyamanan untuk selalu berbuat salah.

Sehingga pesan-pesan kebenaran melayang sudah.

Lupalah kita bahwa kita sedang terlempar dan tersesat.

Lupa kita dari mana dan akan ke mana.

Kesalahan membuat kita nyaman dengan kepedihan, kejatuhan dan kesedihan yang dalam.

Jika kita memang sepenuhnya telah lupa dan tersesat.

Tapi setidak-tidaknya kita masih memiliki pertanyaan.

Jika pertanyaan itu masih ada maka jawaban akan selalu tersedia.

Selama masih ada pertanyaan di sana akan ada keraguan.

Setidaknya dengan keraguan itu, kita masih memeliki sebagain  besar kemanusiaan kita.

Dengan ragu kita masih berkesempatan untuk menjadi manusiawi.

Mengingat kembali dan mengumpulkan kembali pesan-pesan kebenaran.

 

Payudara

Aku sebelum aku, mengingat Payudara Ibu

Aku lupa tapi aku merindukannya.

Lalu Aku menjadi aku, papan tulis dan buku tulis.

Serta rotan milik Ayah, bekas hitam di betisku.

Aku masih ingin Payudara Ibu.

Suara Ayah bergema, menjadikan tubuhku reruntuhan.

Menuntunku ke dalam botol, menjadi binatang.

Binatang yang bercermin di cermin-cermin busuk.

Aku melihat tubuhku sebagai mayat, mayat yang penuh tambal luka.

Sisa peperangan dengan Ayah dan bekas-bekas rantai yang berkarat.

Ibu, bebaskanlah aku.

Bebaskanlah aku dari botol yang mengikat kemanusiaanku.

Padamu Ibu, aku menyerahkan tubuhku menjadi manusia lagi.

Sebagai manusia yang menyusu di Payudara Ibu.

Ibu, aku butuh Payudaramu.

Payudara yang mengisi botol-botol kosong.

Payudara yang merajut pecahan-pecahan kaca di dalam botol.

Payudara yang membungkam mulut Ayah.

Ibu, atasilah kecantikanmu itu.

Biar bening Payudaramu, menanam sebuah hutan di mataku.

Terang,gelap, serangga-serangga kecil kecil bernyanyi, burung-burung berkicau. Serta gua bukan hanya menjadi wc umum.

Aku dan mereka merindukan Payudara Ibu, yang mengatasi kehancuran makna.

Sebelum segalanya menjadi tubuh.

Tubuh yang membusuk

The following two tabs change content below.

Ma'ruf Nurhalis

Lahir di Makassar, 5 Mei 1996. Mahasiswa Jurusan Akidah filsafat UIN Alauddin Makassar

Latest posts by Ma'ruf Nurhalis (see all)