Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Pesta Demokrasi dan Teror Politik Masyarakat Desa

Demokrasi, sebagaimana khalayak ramai memahaminya secara umum adalah praktik politik dari rakyat dan untuk rakyat. Pemahaman ideal ini tidak bisa dimungkiri ibarat “masih jauh api dari panggangnya”. Karena realitas perjalanannya kerap ditemukan kecacatan. Sehingga, berjalan tumpang tindih dan secara halus menciptakan penindasan bagi golongan rakyat tertentu. Acap kali hal ini ditemukan dalam proses pemilihan umum, di mana masyarakat sama-sama menghendaki proses tersebut melahirkan sosok pemimpin yang mampu mengayomi dan menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakatnya.

Kecacatan pesta demokrasi sebagaimana yang dikemukakan penulis di atas, tidak hanya ditemukan di level-level nasional maupun kota, tetapi geliatnya sudah merasuk hingga ke tataran grassroot. Hal tersebut dapat dilihat dari pelaksanaan pemilihan umum di tingkat desa. Pada level ini, masyarakat dikenal masih memiliki simpul kekeluargaan yang erat dan ikatan solidaritas yang kuat. Pada dasarnya simpul kekeluargaan dan ikatan solidaritas yang tinggi, adalah modal besar untuk mewujudkan praktik politik yang sesungguhnya. Karena, mungkin tak berlebihan jika kiranya dikatakan bahwa, pada masyarakat desalah akar falsafah hidup masyarakat beranak pinak, hidup kental dan diwariskan secara turun temurun. Sebagaimana falsafah hidup masyarakat bugis yang dikenal Sipakatau’, Sipakalebbi’, dan Sipakainge’. Di sisi lain , pada arena politik, simpul kekeluargaan dan ikatan solidaritas ini bisa dijadikan bumerang, dan “medan liar” untuk menodai tindakan ideal politik.

Mengapa demikian? Karena ada hal mendasar yang mendorong tindakan manusia. Menurut Thomas Hobbes, hal mendasar, naluriah, dan fundamental tersebut dipilahnya menjadi dua yang bermukim dalam diri manusia, yakni hasrat (desire) dan kuasa (power). Sebagaimana yang dikemukakan Ito Prajna dalam tulisannya Indonesia Modern Terjebak dalam Politik Hasrat dan Politik Uang-Sebuah Perspektif Filsafat. Antara Hasrat dan kuasa, keduanya bisa mendorong manusia untuk melakukan gerak atau tindakan destruktif dan konstruktif. Tindakan destruktif dilahirkan dari benih hasrat untuk menguasai, hasrat untuk dipuja, hasrat untuk terkenal dan lain-lain. Sedangkan tindakan konstruktif bisa dilahirkan dari hasrat untuk menciptakan tatanan sosial yang adil, sehat, dan transparan melalui kekuasaan yang diampunya.

Bukan hal yang tidak mungkin, tindakan destruktif yang mendominasi medan pergerakan politik dalam pemilihan-pemilihan umum di desa, mengalahkan kekuatan falsafah masyarakat desa yang sudah tumbuh kuat, dan menjadi pegangan dalam bertindak. Simpul kekeluargaan dan ikatan solidaritas yang tinggi dimanfaatkan dalam permainan politik. Sehingga, suara politik menjadi tumbal atas permainan politik uang, termasuk tebusan atas bantuan teknis yang saban hari diberikan sebelum pemilihan, dan ancaman memutuskan tali persaudaraan, menjadi pemandangan dan suara sumbang yang dikumdangkan. Melalui tindakan tersebut, penindasan sejatinya telah dilakukan, meski tidak menggunakan kekerasan fisik, tetapi secara halus tindakan tak bermoral tersebut, dilakukan secara halus melalui tekanan psikologis individu. Pada saat itu pula, pemasungan hak kemerdekaan dan kebebasan seseorang, untuk mengemukakan pendapat atau dalam hal ini memberikan hak suara pun terjadi.

Tindakan-tindakan destruktif ini, setidaknya dapat dikategorikan sebagai bagian dari teror politik. Baudrilard, sebagaimana yang dituliskan Fajlurrahman Jurdi dalam artikelnya Mahasiswa dan Mesin-Mesin Anti Demokrasi mengemukakan bahwa, teror menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari politik, ketika politik itu dikendalikan oleh hawa nafsu atau hasrat (desire). Demikianlah, masyarakat desa dalam pemilihan-pemilihan umum, sangat potensial menjadi audiens politik yang berada di bawah bayang-bayang teror. Kondisi masyarakat yang demikian sedang berada dalam arus perpolitikan, sebagaimana yang dikemukakan Baudrillard sebagai masyarakat transpolitik. Di mana di dalamnya terjadi pengaburan atas batas politik dengan teror, politikus dengan penjahat, demokrasi dengan tindak kekerasan.

Tindakan-tindakan yang mencederai sistem perpolitikan ini, sebaiknya menemukan obat agar menutup lukanya yang kian menganga. Pengobatan yang dilakukan tentunya harus menyentuh masyarakat akar rumput dan melalui pemahaman politik yang bersih dan sehat. Sehubungan dengan pemahaman politik, menarik kiranya menilik gagasan politik Hannah Arendt dalam bukunya yang berjudul Politik Otentik. Melalui gagasannya, Arendt memaknai politik yang mengafirmasi keberagaman dan tentunya mengakui perbedaan. Sehingga secara mendalam, politik dalam kaca mata Arendt adalah usaha manusia mengelola kehidupannya, tanpa sikap diskriminatif dan intimidatif. Sehingga meniscayakan hadirnya ruang terbuka bagi semua individu untuk mengajukan kesetaraannya.

Penjelasan politik Arendt, juga diiringi dengan pemahaman atas pemilahan antara ruang publik dan ruang privat. Di mana bagi Arendt, politik hanya dapat diberlangsungkan dalam ruang publik. Mengapa? Karena ruang publik adalah ruang yang memberikan kebebasan untuk berekspresi, ruang bersama, dan ruang di mana kepentingan bersama diperjuangkan dan ditegakkan. Sedangkan ruang privat adalah ruang di mana penguasaan bisa dilakukan tanpa keterlibatan yang lain, sehingga menolak kolektivisme, dan menutup kran terwujudnya kepentingan bersama.

Kondisi perpolitikan masyarakat desa yang menciderai aktivitas ideal politik, dimungkinkan karena ketidaktelitian atas ruang di mana politik tersebut diberlangsungkan. Dan dicampuradukkannya antara aktivitas publik dan privat. Setidaknya melalui pemikiran Arendt, kita mampu bercermin, pentingnya menarik garis pemisah yang tegas antara aktivitas politik dan aktivitas privat yang tentunya melibatkan hubungan kekeluargaan.

Syahdan, dibalik hitam putih pesta demokrasi, pemahaman atas praktik politik sangat bernilai penting, agar prosesnya dijalankan oleh masyarakat yang sadar atas tindakan politiknya, dan melahirkan sosok pemimpin yang mempunyai kesadaran akan kelahirannya, dari siapa dan untuk apa?

Ilustrasi: http://suika-eman.deviantart.com/art/Democracy-Wallpaper-349068984

The following two tabs change content below.

Jusnawati

Penulis adalah pengelola forum “ngegosip buku”, Menyukai petualangan di arena-arena yang menantang, Berharap menjadi sosok As syifa di manapun dan dalam kondisi apapun.