Musik Kosmik yang Terdengar dari Beranda Warkop

Engkau ditemani kopi hitam dengan satu setengah sendok gula kesukaanmu, sedang aku memesan kopi susu yang moderat. Kita duduk berdua di warkop yang sedang sepi pengunjung, sore itu kita duduk di lantai dua, tepatnya di beranda. Dari sini Kita bisa melihat kesibukan lalu lalang kendaraan yang kadang kala melaju cepat dan terkadang bunyi rem menyeringit terdengar.

Di beranda itu kita juga dapat melihat kesibukan alam, saat langit menjadi abu-abu, lalu engkau kasihan melihat kucing putih polos itu terjerembab dari atas tembok ke tempat sampah, angin mulai rajin membelai dedaunan di pinggir jalan. Dan itu adalah tanda,  awan gelap mengumpulkan nyali. Hasil dari evavorasi kimiawi antara awan dan air laut, benar saja hujan turun membuat atap menjadi ribut. Sayonara suasana gerah.

Tapi rupanya engkau tak peduli dengan semua itu, kopi hitam di sampingmu sudah habis setengah gelas dan sejam yang lalu menjadi terbisu. Kau begitu asyik menjelaskan kepadaku bagaimana seharusnya menghayati estetika musik Beethoven. Dengan begitu semangat engkau berimajinasi seolah engkau adalah Beethoven yang sedang memainkan sebuah orkestra akbar di zaman Aufklarung. Jari jemarimu menari, matamu terpejam, kepalamu bergerak ke kiri ke kanan, seperti seseorang yang sedang khusyuk berzikir. Tapi aku tahu engkau sedang memainkan warna-warni imajinasimu. Meja persegi berwarna hitam polos di hadapan kita engkau ibaratkan sebagai sebuah piano klasik, dan engkau memainkannya  dengan begitu Tawadhu dan istiqomah. Dalam hati lalu aku berkata, “ Untung saja Sayang, warkop ini sedang sepi, orang lain mungkin akan menganggapmu aneh, Karena mengira kopimu terlalu pekat,” batinku.

Sedetik setelah Fur Elise selesai. Kau buka mata cantikmu, lalu tersenyum manis ke arahku. Aku tahu ada sesuatu yang ingin engkau sampaikan. Aku lalu memberimu wajah yang penasaran.

“Sayang, Fur Elise memang terdengar seram, tapi bagi saya ini music yang sangat Indah, sangat indah, ya indah, indah banget.” Begitulah katamu, mengulang kata indah berkali-kali. Aku tahu itu adalah sebuah keadaan mental di mana engkau mendapati sebuah pengalaman yang sulit engkau cakapkan.

“ mungkin Chopin juga bisa mengajarimu sebuah keindahan,” kataku ke padamu,

“ Tidak, sebelum Chopin, aku ingin mendengar Toccata and Fugue dari Sebastian Bach.” Begitulah keinginanmu. Aku tahu sebelum ini, Sebastian bach juga telah membuatmu jatuh cinta.

“ Tapi Toccata and Fugue punya daya Tarik yang kuat,” nasehatku.

“ Biarlah, aku hanya ingin mengalami Ekstase.” Wajahmu begitu yakin, sebagaimana biasanya engkau adalah perempuan yang bernyali nekad.

Engkau mulai mendengar Sebastian Bach, engkau pejamkan matamu, mulai khidmat lagi. Hujan mulai semakin merapat. Deras terdengar menyentuh atap. Suasana terasa dingin di kulitku. Aku tahu tubuhmu juga merasakannya. Tapi engkau sudah fokus dengan indra pendengaranmu. Sehingga bagian tubuh lain raup dari perhatianmu. Kulepas sweater merah hitam yang kukenakan. Kusibakkan dengan pelan. Aku berdiri, lalu berjalan ke belakang kursimu. Ku selimuti belakang badanmu, tempat mendaratnya angin bersuhu rendah. Biar engkau tetap hangat mendengar Sbastian Bach.

Aku duduk kembali, melihat ekspresi wajahmu, alis matamu bergerak berubah-ubah. Kadang cemas, kadang sedih, kadang lalu merasa legah, alis matamu itu punya banyak gambaran. Aku sudah sering melukis wajahmu Dinda. Alis matamu punya garis yang kentara. Aku sering membaca isi hatimu dari setiap gerakan alis matamu itu. Tetapi posisi alis matamu yang tidak konsisten itu membuatku resah. Engkau tidak boleh terlalu jauh menikmati Sebastian Bach. Alis matamu menyeringit, hendak bersentuhan  satu sama lain, yang lalu membentuk lipatan di keningmu. Aku tahu engkau sampai pada batang nada yang tragis. Aku khawatir. Ku letakkan tangan kananku di kepalamu, ku usap dengan halus. Engkau menjadi tenang lalu membuka mata.

“ Ada apa sayang?” katamu kepadaku dengan wajah yang heran. Aku melihat rupa keletihan.

“ Dinda, sekarang letakkan smartphone itu, lepaskan dulu headshet di telingamu, dan tatap mataku.”

“ Ada apa sayang?” engkau masih juga heran.

“ Apa yang kau rasakan saat mendengarkan Sbastian Bach?”.

“ Hmmmm…” Engkau berpikir mencoba menyatukan setiap kata yang mengalir di otakmu.

“Aku terbawa emosi, menurutku, dan entahlah menurut intrepretasi orang lain, Sbastian Bach membuatku ingin menari di atas garis nada, seperti angin, lepas dalam kesepian, lalu menjadi putri salju di tengah gurun gobi. ”

“ Ada lagi sayang?” Tapi batinku menyebut, “ Ada perumpaan yang lebih anarkis lagi sayang?”.

“ Aeperti Cinderella di tengah kerumunan perumahan orang kaya. Atau membaca buku komunisme di depan rezim pra 1998.”

Aku tersenyum mendengar kejujuran metaforamu. Lalu entah mengapa aku mencium keningmu yang selalu terlipat itu. Engkau terdiam, aku bisa merasakan hangat kebingunganmu. Tapi aku hanya ingin mengatakan lewat kecupan itu, bahwa aku bangga memiliki kekasih sepertimu. Tapi kau masih terdiam, lalu aku mengusap kepalamu melucuti seluruh egoismeku. Mencoba menenangkanmu sambil mencurahkan seluruh daya ketuhananku.

“Tahukah engkau Sayang. Phytagoras pernah berkata bahwa Tuhan ada di dalam setiap tangga nada. Saat manusia yang bersengketa tidak dapat berdamai lewat tulisan, tidak juga dengan perkataan kadang musik menjadi cahaya timur untuk mengembalikan keberadaban manusia. Bagiku musik itu adalah ruh bumi, musik yang dimainkan oleh para maestro zaman romantisme apalagi yang dimainkan oleh jiwa spiritual mistik abad pertengahan di dunia Islam adalah kumpulan suara kosmik. Musik pada saat itu menjadi pintu ma’rifat menyusun nada yang sarat kontemplasi sehingga terdengar substansial. Namun saat ini musik dikuasai oleh manusia yang bergejolak bermain dengan nada yang relatif. Sebuah musik yang menuju fase bunuh diri sehingga manusia yang mendengarkannya menjadi miskin eksistensi,  memperumit kegelisahan.Tetapi saat aku melihatmu khidmat mendengarkan Sbastian Bach dan Beethoven aku melihat jum’at kiamat masih jauh,” jelasku sambil memegang tanganmu seraya menatap cahaya di matamu.

“Bagaimana menurutmu?”

“ Aku tidak banyak tahu tentang musik romantisme, serta semua penjelasanmu, tetapi sebagai yang awam aku telah jatuh cinta pada setiap ketukan nada dari maestro ini.” Engkau tersenyum mengucapkannya, dan senyuman itu mengatasi keringat dinginku.

“ Kayaknya, kopi hitamnya mulai dingin nih?” ucapku mencoba membawamu kembali kepermukaan.

“ Hahaha, terlalu keasyikan, jadi lupa daratan.” Engkau tertawa.

Hujan mulai reda, pelayan Warkop menyetel dangdut Remix. Lagu “ Adu Domba “ Bung Rhoma mulai bermain. Dan itu menandakan bahwa kami benar-benar telah kembali ke permukaan.

Ma'ruf Nurhalis

Lahir di Makassar, 5 Mei 1996. Mahasiswa Jurusan Akidah filsafat UIN Alauddin Makassar

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *