Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Matematika: Pohon Pengetahuan yang Ditakuti

Tempo hari, saya digelitik oleh peristiwa pada kegiatan seminar yang dilaksanakan peserta PPL, ‘Universitas Hijau.’ Pasalnya, pelaksana mengalami kesulitan mengajak peserta. Masalah yang membikin saya tertawa, sekaligus membuat hati miris dan pilu. Pelajar yang dipanggil nimbrung menimba ilmu tentang motivasi cara belajar, lari terbirit-birit menghindari panitia pelaksana. Parahnya, sekelompok pelajar bahkan memilih untuk pulang, tinimbang menerima ajakan tersebut. Bukan karena tiket seminar mahal, karena seyogyanya disediakan gratis. Bahkan panitia pelaksana yang cantik rupawan, juga masih tidak mampu memikat hati mereka. Rupanya, akar masalah terletak pada kata ‘matematika’ yang digunakan.

Matematika bak mantra terlarang, yang mesti dihindari dan dibuang jauh-jauh di dunia pelajar. Matematika menjadi cawan yang hanya berisi rumus-rumus kebosanan, sehingga tidak penting diteguk guna melepas dahaga. Lalu, ketika ditumpahkan akan meluber menjadi ketakutan-ketakutan. Dan ketakutan itu sendiri, tidak mempunyai rumus matematis untuk menyelesaikannya. Setelah materi berlangsung dalam sebuah ruangan sederhana, yang beralaskan permadani. Saya bergumul dengan peserta, takzim mendengarkan materi yang disuguhkan narasumber. Sejurus kemudian, saat fakta sejarah tentang matematika dipaparkan, kesadaran saya tetiba terseret jauh ke masa lampau.

Konon pada masa lalu, di sebuah bukit salah satu daerah Yunani kuno. 800 orang berbondong-bondong meninggalkan rumah dan pekerjaan – bukan untuk menonton konser Slank, melainkan sekadar mendengarkan ide-ide luar biasa seorang pengembara. Dia menyebut ide-idenya sebagai µαθηµατικη (Matematika). Ide yang merubah bilangan menjadi sebuah alat atau ilmu pengetahuan untuk membantu kehidupan.

Sejarah matematika, bermula dari kegiatan berburu dan memancing. Orang primitif menggunakannya untuk menghitung hasil buruan, sehingga lahirlah bilangan/angka. Seiring dengan perjalanan waktu, pikiran manusia berkembang. Dan cara hidupnya pun berubah dari sekadar berburu menjadi beternak. Inilah yang melahirkan aritmatika. Karena laju pertumbuhan populasi manusia yang pesat, sehingga memenuhi deret ukur. Maka berburu dan beternak menjadi tidak efisien. Manusia kembali mencari cara baru untuk mempertahankan hidup. Mulailah mereka bercocok tanam. Mereka mengukur berapa luas lahan dan menanam di atasnya. Geometri pun terlahir sebagai pengetahuan.

Sebuah peristiwa yang bertolak belakang dengan kejadian sebelumnya. Di masa lalu, orang berlomba-lomba memetiknya. Sedang kini, matematika serupa buah paria yang pahit, sehingga enggan dicerna oleh pikiran-pikiran manusia. Dalam pahitnya buah paria, tersimpan beragam gizi yang bermafaat buat tubuh. Maka begitulah matematika, juga tersembunyi bermacam manfaat untuk kehidupan manusia.

Matematika sejatinya, adalah akar dari pohon ilmu pengetahuan. Sekaligus akar dari pohon perdaban manusia yang senantiasa berkembang.  Hal ini senada dengan yang dikatakan Morris Kline, dalam buku Ilmu dalam Perspektif, buah karya Jujun S. Suriasumantri. Bahwa “matematika merupakan salah satu kekuatan utama pembentuk konsepsi tentang alam, serta hakikat dan tujuan manusia dalam berkehidupan. Suatu paradoks, betapa suatu bentuk pemikiran yang abstrak mampu memberikan kemampuan kepada manusia untuk menguasai dunia fisik, dan memberi pengaruh dalam hampir tiap segi dari kebudayaan manusia, selalu menggoda mereka yang bukan ahli matematika.”

Maka selayaknya, matematika tidak menjadi pohon ketakutan. Karena ilmu matematika memengaruhi dan banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya saja, aritmatika dapat membantu kita dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Aritmatika mempelajari tentang modal, untung, rugi, bruto, dan lain sebagainya. Kemampuan matematis dapat juga di gunakan sebagai dasar dalam ilmu teknik. Bahkan banyak ilmuwan menggunakan konsep matematis untuk temuan-temuannya. Misal, Albert Einsten yang menggunakan konsep aljabar dalam menyatakan teori relativitas energi (E = mc2). Lalu kenapa matematika di takuti ?

Dalam dunia pendidikan sendiri, matematika menjadi salah satu pelajaran yang wajib di-ujian-nasional-kan. Dan terkadang jebloknya nilai matematika, menjadi tolok ukur rendahnya hasil belajar seseorang. Begitu pun sebaliknya, semakin tinggi nilai matematika yang kita miliki, maka orang akan menganggap kita berkemampuan di atas rata-rata.

Tapi sebagaimana yang dikatakan oleh pepatah, bahwa tidak ada asap, kalau tidak ada api. Sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa dunia ini berjalan di atas hukum sebab akibat. Asap ketakutan dan ketidaksukaan, yang menyelimuti sebagian pelajar terhadap matematika, pastilah memiliki sebab. Salah satu penyebabnya adalah matematika memiliki jam pelajaran yang lebih banyak, tinimbang beberapa pelajaran yang lain. Sekitar 2-3 jam pelajaran per pertemuan. Di tambah lagi, mulai dari bangku sekolah dasar hingga perkuliahan, kita akan senantiasa bertemu dengan mata pelajaran bernama matematika.

Kurangnya kreatifitas dan inovasi guru dalam menyajikan pembelajaran matematika juga menjadi faktor ketidaksukaan tersebut. Parahnya, ada kecenderungan beberapa guru dan orangtua memaksakan anak/pelajar untuk mengerti dan menghafal materi pelajaran matematika. Sehingga, anak menjadi tertekan dan buntutnya mereka menganggap matematika adalah pelajaran yang sulit. Padahal “kesulitan hanyalah bentuk dari ketidaktahuan kita akan ilmu yang diselipkan di dalam sebuah pelajaran atau keadaan/kejadian di dalam hidup”, tutur Muhammad Iskandar, CEO Baco Collage dan Alumnus MEC RAKUS Makassar – lembaga yang bergerak di bidang matematika.

The following two tabs change content below.

Aedil Akmal

Lahir di Bantaeng, 24 oktober 1994. Pelajar di Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar. Aktivis MEC RAKUS Makassar, dan Peserta Kelas Literasi Paradigma yang mencintai kopi dan buku terutama novel sejarah.

Latest posts by Aedil Akmal (see all)