Ini hanyalah sekadar cocologi. Maksudnya, upaya mencocok-cocokkan sesuatu dengan sesuatu lainnya, sehingga seolah ada kecocokan. Dan, dari situlah, kecocokan itu menjadi tumpuan untuk membangun suatu argumentasi. Entah benar-benar cocok atau tidak. Pastinya, meski hanya upaya mencocokkan itu seadanya saja, semisal kebetulan yang menjadi benar, yang jelas di dunia ini tidak ada yang kebetulan, ujar seorang filosof kontemporer, Murtadha Mutahhari. Demikianlah esai ini,  saya tuliskan mencari pijakan.

Adalah tahun 2016, tepat di penghujungnya. Tersebutlah angka-angka yang disakralkan, bahkan menjadi arena perebutan tafsir terhadap angka-angka yang dimunculkan. Pangkal soalnya, berhulu pada surah Al-Maidah dalam Al-Qur’an. Tatkala Ahok menyitir ayat 51, maka disangkakanlah padanya sebagai penista, yang sebelumnya ayat itu ditohokkan padanya oleh sebagian umat Islam, untuk tidak memilihnya menjadi pemimpin. Dari sinilah angka 551 muncul, yang kemudian menurunkan deretan angka-angka 411, 212, dan 412. Sekotah angka itu, merupakan penanda dari peristiwa-peristiwa yang menyita energi anak-anak negeri.

Dari seluruh angka yang paling menyita perhatian anak negeri, tiada lain adalah angka 212. Di samping aksinya yang fenomenal dari segi jumlah peserta, pun tafsiran terhadap angka itu, seolah berebut klaim akan siapa yang dimaksud oleh angka itu, bila dicocokkan dengan Al-Quran. Saya coba penggal angka itu menjadi 2 dan 12, yang merujuk pada tanggal 2 bulan 12, maka akan bercocokan dengan surah 2, Al-Baqarah ayat 12. Lalu apa bunyi kalam Tuhan itu? Saya kutipkan saja, “Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari.”

Tepat di hari esai ini saya tuliskan, Ahad, 1 Januari 2017. Saya pun melakukan cocologi. Tepatnya, angka 2017. Kemana angka 2017 ini saya akan cocokkan? Tentulah saya memilih kitab suci Al-Qur’an, seperti sekaum umat yang telah melakukan upaya cocok mencocokkan sebelumnya. Ketika saya menselaraskan upaya ini, saya menelisiknya menjadi angka 20 dan 17. Maka, saya pun menabalkan angka 20 pada surah di Al-Qur’an, dan ternyata kompas saya menunjuk surah Thaha, sebagai surah urutan yang ke-20 dari 114 jumlah surah Al-Qur’an. Lalu, dari surah Thaha ini, saya mencari ayat 17. Dan, ketemulah firman Allah yang berbunyi: “Apa itu di tangan kananmu, wahai Musa?”

Sebagai sosok yang ditanya oleh Tuhan, Musa menjawab pada ayat berikutnya, ayat 18, “Dia(Musa) menjawab,’ini adalah tongkatku, yang aku gunakan untuk bertumpu (saat berjalan) dan merontokkan (dedaunan) untuk kambingku dan aku memiliki keperluan-keperluan lain padanya’.”  Pada ayat selanjutnya, ayat 19, lalu, “Allah berfirman, ‘Lemparkanlah ia, wahai Musa.” Maka ayat 20 berbunyi, “Maka dia (musa) melemparkannya, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat.”  Dan, dengan tongkat itu pulalah, atas perintah Allah, membelah laut dan menenggelamkan Fir’aun, yang diabadikan kisahnya dalam ayat 77-78.

Apa yang ingin saya saya sajikan dari firman Tuhan itu? Sebelumnya, saya teringat dengan seorang guru besar ilmu tafsir, Muin Salim, tatkala memberikan kuliah seputaran ilmu tafsir yang saya ikuti, bahwasanya, pada diri setiap orang bisa menjadi penafsir Al-Qur’an, setidaknya, untuk dirinya sendiri. Tatkala membaca firman-firman Tuhan, dan mencoba mengambil maknanya, maka saat itulah, seorang telah menafsirkannya.  Jadi, pada dasarnya, setiap orang itu bisa menjadi penafsir. Cuma, agar tafsirannya itu benar-benar memenuhi standar keilmuan akan penafsiran, maka dibutuhkanlah perangkat-perangkat keilmuan yang tidak sedikit, untuk menjadi seorang penafsir Al-Qur’an. Dan, bentuk penafsiran yang paling sederhana terhadap Al-Quran, dalam bahasa Indonesia, adalah penerjemahan yang dilakukan oleh Departemen Agama RI.

Nah, dari dasar pikir di atas, saya lalu menganggap bahwa tahun 2016 adalah tahun yang penuh dengan sihir-sihir ular dan sekaligus lautan masalah yang bakal menenggelamkan negeri ini. Ini hanya sekadar metafor, dan memang sesarinya, model bahasa kitab suci penuh dengan metafor-metafor, yang tertuang dalam banyak kisah. Dan, kisah pertarungan abadi antara Musa dan Fir’aun, merupakan salah satu metafor, yang bisa kita gunakan, untuk memahami kondisi kekiwarian negeri ini.

Fir’aun kekinian, bisa menemukan bentuk-bentuk kontemporernya. Bisa saja saya sepadankan dengan tatanan dunia global yang timpang, di mana segelintir negara tertentu cukup leluasa menaklukkan negara lainnya. Dapat pula saya selaraskan dengan korporasi multinasional, yang mengangkangi sejumlah negeri. Pun tak keliru jua, jikalau saya sejeniskan dengan penguasa-penguasa di tingkat nasional, regional dan lokal. Apatah lagi, tatkala Fir’aun sebagai sebuah sistem kekuasaan, meminjam istilah Ali Syariati, maka akan bersetubuhlah di dalamnya, representasi kaum ilmuwan (Haman), pengusaha (Qarun), dan agamawan (Bal’am).

Sepertinya, di tahun 2017, dibutuhkan Tongkat Musa dan sekaligus pengendali tongkat, Musa. Dunia kita sekarang ini, pada level sosial mana pun, secara metafor membutuhkan Tongkat Musa dan dan sekaum Musa baru, buat memukul serupa Firaun, Haman, Qarun dan Bal’am. Sebab, bilamana telah ada kemufakatan bahwa tatanan dunia adalah bersistem fir’aunistik, maka hanya kekuatan perlawanan bergaya musaistik yang mampu mengendalikannya. Mari ikut memegang Tongkat Musa, lalu melemparkannya, biar sihir-sihir ular duniawi ditelan oleh mukjizat ular Musa. Pun, seharusnya, mari bergabung dalam barisan para pemukul Tongkat Musa, agar lautan masalah terbelah, lalu menggulung para pembuat masalah itu. Saya butuh Tongkat Musa di kedinian dan kedisinian.

 

 

 

Sulhan Yusuf

Pegiat Literasi dan Owner Paradigma Group. Mengarang buku Sehimpunan Puisi AirMataDarah (2015), Tutur Jiwa (2017), dan Pesona Sari Diri (2019). Kiwari, selaku Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com.

Artikel yang Direkomendasikan

0 Komentar

  1. Salut, sebuah bahan renungan awal tahun untuk mengingatkan diri melangkah di 2017.. Saya ingat dengan yg pernah kita sampaikan dulu di paradigma buku alauddin, bahwa akan selalu ada tujuan besar dari langkah2 kecil yg di lakukan. Untuk menggunakan ilmu cocologi sepertinya langkah2 kecil yg dilakukan firaunisme sudah nampak nyata tujuan besarnya tinggal menyelami keajaiban musaisme dgn tongkat ajaibnya sebagai gerakan baru di era edan ini.. Salam hormatku kakanda..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *