Melawan Hegemoni Lewat Esai Sosial Politik

Bentuk akhir gaya (tulisan) diperoleh lebih dari perilaku benak daripada dari prinsip mengarang (Strunk dan White)

***

Namanya Achmad Tirto Adisurjo, yang berusia 20-an tahun, ketika mendirikan koran , yang diberi nama, Medan Prijaji. Goresan esainya yang tajam telah membangkitkan kesadaran pada anak-anak pribumi tentang kekejaman Kolonial. Di antara yang terprovokasi tulisanya adalah Mas Marco, yang menulis dengan satire, tentang kota Semarang saat senja. Mas Marco, yang kelak menjadi tokoh muda radikal Sarekat Islam, memiliki kepiawaian dalam mengungkap tentang kebusukan kolonialisme. Tulisan menjadi senjata yang jauh lebih ampuh ketimbang senapan. Ia telah menegaskan kembali, guna sebuah tulisan. Ernest Hemingway membuat kalimat yang indah berkaitan dengan tulisan:…lewat ciptaan, Anda membuat sesuatu yang bukan sesuatu perwakilan, melainkan suatu hal yang benar-benar baru, yang lebih benar daripada apapun yang benar dan hidup, serta Anda membuatnya hidup, dan apabila Anda membuatnya dengan cukup baik, Anda memberinya keabadian. Itulah alasan Anda menulis.

Hemingway seperti yang kita pernah baca karyanya, mendedikasikan hidupnya untuk menulis banyak kisah. Panitia Nobel di tahun 1954 memberinya penghargaan, karena Hemingway berjasa dalam ‘keahlianya menguasai seni bercerita dalam prosa modern’. Hemingway tidak sendirian. Di abad 21 ini, gerakan Zapatista yang berjuang untuk tanah masyarakat adat menggunakan ‘senjata’ tulisan. Subcomandante Marcos, begitu disebut pimpinanya, memanfaatkan banyak metafora untuk mengguncang keyakinan orang pada ideologi neoliberalisme. Esainya yang menumpahkan puisi, syair dan berbagai kisah jenaka, makin mengukuhkan kedudukanya sebagai pemimpin gerakan. Esainya makin menghasut, karena dalam diskusi tentang neoliberalisme, ia cukup berdiskusi dengan seekor serangga. Imajinasi yang liar dan cerdik! Indikator ekonomi yang kerapkali membikin orang pusing, ditumpahkan dalam tulisan yang sederhana dan jujur.

Sebuah esai memang bukan artikel yang padat dan kering. Jika artikel harus dilandasi oleh beragam teori, tetapi esai memerlukan perayaan Imajinasi. Sebab Imajinasi ini akan merangkai fakta yang muram, menjadi tulisan yang menggugah. Saya contohkan tulisan EZLN tentang Chiapas:…Perlahan-lahan dataran Chiapas mulai terbelah. Angin dari atas mengambil bentuk-bentuk purba arogansi dan keangkuhan. Polisi dan tentara federal merapatkan barisan uang dan korupsi. Angin dari bawah sekali lagi berkelana sepanjang jurang dan lembah-lembah; ia mulai menghembus kuat-kuat. Akan ada badai…….Saksikan bagaimana bait-bait tulisan yang isinya dikirimkan, kepada semua media massa Mexico, yang menyiratkan tentang bagaimana kejamnya kapitalisme global. Tulisan ini mencoba untuk melawan, segala ceramah dan himbauan pemerintah agar penduduk ikut serta dalam ‘pasar bebas’. Buat pembaca esai memang perlu menampilkan kesadaran baru tentang sebuah fenomena, yang kadangkala, harus dikatakan dengan indah.

Di Indonesia kita mengenal sosok penulis cerdas, yakni Asrul Sani. Prosa dan esainya kerapkali dimuat dalam majalah Zenith. Kalimat-kalimatnya, dalam istilah Goenawan Mohammad, cerdas, memikat dan sarkasmenya menusuk kesana-kemari. Sejumlah kalimatnya sangat jenaka. Dalam esainya ‘Surat dari Jakarta’, dikritiknya sikap mereka yang tak mau bergulat dalam masalah sosial: aku-lihat-kalian-seperti Badut yang memandang enteng dan enggan terlibat. Jika kita ambil contoh lain, Asrul Sani berkomentar tentang nasionalisme: Nasionalisme Indonesia menurutnya ‘suatu kebangsaan yang masih mencari alasan’. Kebangsaan itu mungkin kuat ‘karena ia mungkin sangat fanatik’, tetapi dalam kekuatannya itu ‘ia tak begitu pasti akan nasibnya atau masa depannya, ataupun keabadian dirinya’. Dan sebabnya, kata Asrul: ‘Karena ia adalah sesuatu yang ‘belum punya alasan’ dan karena itu tidak mempunyai sumber, dari mana perasaan yang terkandung di dalamnya dan yang dapat mengeluarkan tenaga, dapat diberi hidup. Orang sering mengatakan, bahwa sumbernya adalah suatu kebudayaan atau suatu tradisi. Tapi tradisi atau kebudayaan itu harus dibenarkan dulu’

Asrul Sani menggoreskan ‘pertanyaan dan kegelisahan’ mendalam pada sejumlah konsep-konsep besar. Tentu untuk menghasilkan kualitas tulisan semacam ini, membaca buku politik tidak mencukupi. Seorang penulis esai perlu ‘mencintai’ topik yang diangkatnya; cinta membuatnya memiliki kemampuan untuk bertanya, sangsi, keyakinan dan pengetahuan mendalam tentang detail. Dalam bahasa Clarissa Pinkola Estes dikatakan: Jika anda ingin mencipta, anda harus mengorbankan kedangkalan, sedikit rasa aman, dan rasa ingin disukai. Anda harus menata wawasan Anda yang paling kuat, visi anda yang paling jauh. Diperlukan sikap yang keras dan belajar giat, terutama untuk memproduksi kata-kata yang kadang tidak lazim. Sudut tulisan yang datar, lempang dan banal akan menjadi kolom yang kering dan mudah dihapus oleh waktu. Untuk melawan kelaziman itulah Anda memerlukan hasrat, yang kadang harus menggebu-gebu, apalagi jika tulisan itu merupakan essai sosial-politik. Sebuah essai yang selalu ingin berbicara soal besar dan gagah.

Di akhir tulisan ini mungkin saya hanya bisa berharap, Anda tak perlu malu untuk memulai tulisan esai dengan cara yang ‘aneh’. EZLN sebagai sebuah pasukan yang anggotanya menutup muka, mengawali tulisan kadang dengan kalimat yang, mencemooh. Haji Misbach, bahkan beberapa kali, membuat tulisan dengan menggunakan banyak tanda seru. Esai mereka memang imajinatif, liar bahkan mungkin keluar dari pakem ejaan yang umum. Ada kalanya memang tulisan yang teratur, datar dan dibumbui dengan analisis yang padat, akan memberikan penjelasan yang mendalam pada pembacanya. Esai dengan kualitas begini, yang mungkin lebih diterima oleh media massa. Anda memang tinggal menggali data dan membumbui analisa melalui pendapat dari berbagai pakar; niscaya akan Anda peroleh tulisan-yang dari sisi awam-mengaggumkan. Tapi ada yang hilang dari tulisan begini, yakni di mana posisi si penulis? Esai memang, seminimal mungkin, memberikan gambaran memadai tentang, keberadaan dan posisi berdiri sang penulis! Begitulah selayaknya Anda memulai.

Ilustri: http://crilleb50.deviantart.com/art/Weird-Writer-299089477

Eko Prasetyo

Penulis, peneliti dan aktivis. Telah menulis banyak buku di antaranya: Islam Kiri: Melawan Kapitalisme Modern (2002), Islam Kiri: Jalan Menuju Revolusi Sosial, Orang Miskin Dilarang Sekolah (2004), dan Bangkitlah Gerakan Mahasiswa! (2014) dan yang terbaru Kitab Pembebasan (2016).

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *