Hari ini ayahku naik pitam lantaran saya jatuhkan lampu senter klasik miliknya. Aku tak sengaja menjatuhkannya. Hanya saja lampu senter itulah yang memang hendak menjatuhkan dirinya sendiri. Tapi Ayah sudah terlanjur marah. Ia berkata kepadaku dengan mata yang melotot.

“Ini lampu senter Ayah sudah lama sekali. Umurnya sudah setua dirimu. Sekarang kalaupun Ayah cari samanya. Ayah tidak akan dapat di pasar manapun!”

“Kan sudah tua memang Ayah, harus sudah diganti?” kataku mencoba membela diri.

“Ganti gimana, kamu tahu bagaimana rasanya cari duit, susah Nak. Nanti kamu juga akan rasakan susahnya cari uang.”Ayah semakin kesal saja mendengar pembelaanku. Matanya jadi besar dan menyala.

“Maaf Ayah,” kataku berbelas kasih sambil tundukkan kepala.

Ayahku pergi begitu saja membawa lampu senternya keluar rumah. Mungkin ia akan pergi ke tukang servis. Tapi aku pesimis, kalau tukang servis itu dapat memulihkan keadaan lampu senter itu menjadi seperti semula. Aku tahu Ayah masih ingin marah. Tapi Ayah tahu, marah berlebih-lebihan hanya akan mendatangkan penyakit.

Melihat Ayah pergi. Saya memutuskan untuk masuk ke kamar. Menyesali perbuatanku yang ceroboh. Dengan hati yang dipenuhi penyesalan. Aku menuju lemari buku. Di sana aku meraih sebuah buku filsafat yang sudah usang, warisan peninggalan Kakek.

Kakekku adalah seorang filsuf, begitu kata orang. Ketika masih hidup, Kakek selalu mengajakku ke kamarnya yang penuh dengan tumpukan buku. Ia selalu mengajakku untuk berpikir, kadang sampai otakku berasap. Kakek selalu menggodaku dengan pertanyaan, “Siapa kamu?” Sampai kemudian ibuku pernah mengkritik Kakek, tentu saja dengan sopan. Lantaran karena pertanyaan “Siapa kamu?” membuatku sakit panas sampai muncul cacar, sehingga harus tidak sekolah selama dua minggu. Tapi aku berpikir, filsafat dan cacar tidak punya hubungan apapun. Sepeninggal Kakek, warisan buku dan pertanyaan “Siapa kamu?” diteruskan kepada ayahku, dan Ibu selalu was-was ketika setiap malam aku membaca buku filsafat dan berdiskusi dengan Ayah.

Aku raih buku itu. Aku buka secara acak. Di mana saja halamannya akan saya baca. Lalu saya dapati sebuah kutipan yang menarik hati.

“Kita seperti gerombolan babi-babi kedinginan, yang berdesakan untuk mendapatkan sedikit kehangatan; memang tidak nyaman saling berhimpitan, tetapi sungguh sengsara jika berjauhan.”

Lebih lanjut aku baca. Buku itu berbicara kepadaku soal kehendak sebagai kejahatan dan soal kehidupan adalah penderitaan. Alasannya, kehidupan yang dijalani manusia selalu berlandaskan keinginan, dan apa yang diinginkan selalu lebih besar dan lebih banyak daripada yang diperoleh. Keinginan itu selalu menginginkan lebih dan lebih sedangkan pemenuhan selalu terbatas. Sepanjang kita terperangkap pada keinginan-keinginan kita. Maka kita tidak akan pernah mempunyai kebahagiaan dan kedamaian.

“Ah tidak, buku ini hanya menambah lesuh hatiku,” kataku di dalam hati yang makin pesimis.

Di tambah lagi, aku mengingat perkataan ayahku tadi.

“Susah cari duit Nak, nanti kau akan rasakan juga.” Begitulah Ayah berbicara menurutkan kehendak buta filsuf Schopenhauer, seorang filsuf yang memiliki mata yang sayu.

Orang dewasa menurutkan keinginanya mencari duit lantaran takut menghadapi mati tanpa ada jejak tertinggal di dunia. Pemenuhan terhadap jejak itu mengakibatkannya sengsara. Katanya mencari duit untuk pemenuhan anaknya sehingga rela banting tulang sampai patah-patah untuk kebahagiaan turunannya. Padahal tiada pula ia mampu pastikan bahwa anaknya juga akan bahagia.

“Oh Ayah, begitu kasihan dirimu.” Itu ucapku dalam hati semakin pesimis saja.

Semakin lama aku membaca buku ini semakin gelap mataku. Semakin gelap aku memikirkan kesalahan lantaran dimarahi Ayah. Dan hanya ingin melontarkan balik kesalahan itu padanya. Tapi di akhir teks buku itu aku mendapati pencerahan.

Setidaknya untuk bahagia, orang perlu untuk menjadi bahagia semacam kebahagian anak-anak. Yang menurutkan apa yang menjadi keinginan hatinya. Sehingga tiada orang lain yang mampu pengaruhi pilihannya sehingga bisa ia menjadi bahagia lantaran ia sadari kehendaknya.

Namun jadi permasalahan ketika manusia dibenturkan pada persoalan biologis. Orang pasti tidak akan tetap sebagai anak-anak. Orang pasti akan menuju kedewasaan. Kalaupun tetap tinggal sebagai anak-anak, orang -orang kebanyakan akan menyebutnya sebagai “yang lain” atau orang yang mengalami kegagalan dalam mental. Kalaupun ada orang dewasa yang bermental sehat namun bersikap anak-anak, akan dianggap aneh juga oleh kultur.

Aku tutup buku itu. Hatiku semakin hitam saja. Rasanya pesimis dan malas menjalani kenyataan yang akan datang. Terbesit di hatiku, sebuah cita-cita tidak ingin pernah dewasa dan mencari uang. Hanya ingin menjadi seorang anak-anak untuk selamanya.

“Assalamu alaikum.” Salam itu dari Ayahku. Dia pasti baru saja pulang membawa lampu senter miliknya. Aku harus meminta maaf dan menghadap di pangkuannya. Aku keluar kamar dan mendapati ayahku sedang duduk di ruang tamu sambil memegang lampu senternya.

“Ayah, bagaimana keadaan lampu senternya?” kataku bertanya dengan sangat sopan. Dia memandang ke arahku. Kali ini matanya redup dan damai.

“Sini Nak duduk di samping Ayah,” begitu katanya. Dan aku menuruti perkataanya.

“Aku minta maaf, Ayah sudah memarahimu. Seharusnya Ayah tidak boleh memiliki keterikatan dengan benda. Benda itu begitu rapuh, kita tidak bisa selamanya akan memiliki benda tersebut.” Ayahku kali ini berpikir filosofis. Aku kira ayahku sudah redup marahnya.

“Aku ingin bertanya Ayah.”

“Bertanyalah Nak.”

“ Apakah benar, bahwa hidup ini hanyalah sebuah penderitaan? Apakah Ayah sengsara mencari uang untuk saya?”

“ Mengapa kau bertanya seperti itu?” Ayahku penasaran.

“Aku dapat dari buku Kakek.” Ayahku pasti tahu buku apa itu.

“Itu menurut kehendak buta Nak. Maksudnya seseorang melakukan pekerjaanya menurutkan nafsunya. Padahal nafsu itu tiada akan dapat pemuasan. Sehingga jika dapat hasil seseorang lantaran keinginan nafsunya, ia akan selalu meminta lebih. Ketika kita menurutkan nafsu. Kita akan hidup menderita.”

“Kalau begitu kita harus bekerja dengan apa Ayah, biar tidak menderita?” tanyaku , mencoba cari jalan keluar.

“ CINTA. Jawabannya adalah cinta. Orang tidak akan menderita karena cinta. Cinta membawa seseorang ikhlas. Apapun pekerjaan yang ia geluti akan ia jalani dengan tulus. Ia rela banting tulang. Namun karena beralasan cinta. Ia hiraukan rasa sakit. Lantaran cinta adalah penyembuh rasa sakit orang.”

“Cinta itu apa Ayah?” pikirku, cinta itu sama sulitnya dengan pelajaran Bahasa Inggris di sekolah.

“Cinta itu seperti engkau bernyanyi di sebuah ruangan tertutup, sendirian. Lalu kau yakin, Ayah dan Ibu sedang mendengarmu di luar ruangan. Meski engkau tidak bisa memastikannya.Tapi kau terus bernyanyi dengan indah, lantaran kau ingin membahagiakan Ayah dan Ibu sekaligus membahagiakan dirimu sendiri.”

Aku sedikit susah menerjemahkan perumpamaan itu. Tapi sedikit aku akhirnya bisa paham. Itu seperti yang pernah dijelaskan kakek, ketika memaparkan syair pemain suling dari Jalaluddin Rumi.

“ Lalu apakah Ayah mencintai pekerjaan Ayah sebagai seorang Novelis?” tanyaku menggodanya, aku semakin ingin tahu.

“Ayah mencintai pekerjaan Ayah. Tetapi Ayah lebih mencintai dirimu. Terkadang seorang pekerja akan dapat situasi jenuh dengan pekerjaanya. Tetapi karena mereka memiliki orang terkasih, mereka akan selalu bersemangat untuk bekerja agar bisa melihat senyum orang-orang yang mereka cintai. Untuk itu Ayah akan selalu menulis . Karena Ayah mencintai kalian sebagai keluarga Ayah.”

“Jadi Ayah mencintai lampu senter atau anak Ayah?” tanyaku kembali menggodanya.

“ Hahaha. Tentu saja Ayah lebih mencintai anak Ayah. Karena anak Ayah kan nantinya juga akan dewasa. Dan akan membelikan Ayah lampu senter baru,” ayahku tersenyum, kali ini ia yang menggodaku.

Aku tertawa mendengar jawaban Ayah. Hatiku cerah sekarang. Lantaran dialektika yang baru saja saya alami bersama. Aku jadi tahu untuk tidak menerima begitu saja sebuah pendapat sebelum adanya pendapat lain.

Aku mencintai ayahku. Dan aku akan mendewasakan diriku. dan juga menjadi Ayah nantinya. Proses pendewasaan itu adalah proses kita dapat mencintai dengan tulus. Walau tak dapat diindrai. Kita tetap harus memiliki cinta yang ikhlas. Cinta akan selalu ada, kita tidak harus menjadi anak-anak untuk mencintai. Karena dalam segi apapun kita memiliki hak untuk mencintai. Cintalah yang akan membuat kita bahagia.

Ma'ruf Nurhalis

Lahir di Makassar, 5 Mei 1996. Mahasiswa Jurusan Akidah filsafat UIN Alauddin Makassar

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *