Okan dan Opi; Sepasang Katak yang Jatuh Cinta

November, hujan dan air adalah tiga hal yang paling kugemari. Pekerjaan paling kusukai adalah bernyanyi dan berlompatan di bawah rintik hujan. Seringkali kalau hujan sedang bagus-bagusnya, Mami Bertha˗Ibuku dan rekan-rekan sejawatnya membentuk kelompok bernyanyi.

Aku juga senang keluyuran bermain berkeliling rawa. Berenang bersama riak bundar bergelombang yang diciptakan hujan atau sembunyi di bawah daun talas satu ke daun talas yang lain. Kadang sampai lupa waktu, lupa jalan pulang. Sehingga di rawa aku dijuluki Okan yang sering tersesat.

Rawa kami dipenuhi daun-daun talas yang tumbuh tinggi dan lebar mirip payung, di sela-selanya muncul paku-pakuan, segala macam rumput, dan tanaman merambat. Kata Papa Bobi di luar kawasan rumah kami ada hamparan padang rumput dan ilalang yang luas, tempat para burung bermain dan bernyanyi saban pagi.

Suatu pagi aku iseng berjalan-jalan keluar kawasan rawa. Itu pagi yang indah. Matahari bersinar hangat, batang-batang cahayanya menerobos celah-celah daun talas, kicau kawanan burung terdengar ramai di kejauhan. Tapi aku bosan dengan suasana pagi yang begini-begini saja. Bosan mendengar hanya kicauan burung. Aku ingin melihat burung berkicau, terbang dalam kawanan lalu hinggap di suatu tempat.

Maka kuputuskan untuk berjalan-jalan keluar rawa, menuju padang rumput di mana burung-burung terbang dan hinggap di balik semak.

Sepanjang jalan aku berpapasan dengan banyak katak yang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang berenang sambil menggendong anak, ada yang bengong saja di bawah daun talas, juga ada yang sedang asyik bertelur. Semua menyapaku dengan sapaan seragam.

“Okan mau kemana? Jangan tersesat lagi ya..”

Aku hanya tersenyum menanggapi sapaan kawan-kawanku. Sudah terbiasa digoda demikian. Di rawa, kami hidup dengan damai, memakan nyamuk dan lalat serta serangga-serangga kecil, berlompatan sesuka-suka, atau bernyanyi sepanjang sisa hujan.

Langit masih cerah ketika aku muncul di balik semak batang talas yang lembab, terhampar di depanku bagai permadani rerumputan hijau yang pucuknya berkilau karena embun. Beberapa kupu-kupu putih terbang rendah di atasnya. Sekawanan burung pipit menukik hendak singgah. Manuver mengagumkan mereka berakhir di serumpun rumput alang-alang yang tingginya kira-kira dua meter.

***

Cuaca di padang rumput cepat sekali berubah. Segera batang-batang cahaya lenyap ditelan mendung, alam bergemuruh, satu batang cahaya lain tiba-tiba mendelik. Para burung dan kupu-kupu lenyap entah sembunyi di mana. Tak berapa lama satu titik air mendarat di bawah mataku. Bagai sebuah perintah bergerak melantunkan sepotong bait-bait hujan.

 

Hujan.. hujan kami

Turunlah dalam damai

Aku ingin bernyanyi

Agar lebur semua kenangan dalam tari

 

Hujan.. hujan kami

Turunlah dalam damai

Aku ingin menari

Agar lebur segenap kemarahan dalam hati

 

Gerimis menderas. Aku makin keasyikan menari. Kata Mami Bertha hujan adalah melodi alam paling murni, juga teman berdansa yang baik.

 

Hujan.. hujan kami

Turunlah dalam damai

Aku ingin bernyanyi

Agar lebur semua kenangan dalam tari

 

Tarianku melambat. Itu nyanyian hujan paling merdu yang pernah kudengar. Lebih merdu dari nyanyian Mami Bertha. Berati ada katak lain di sekitar sini.

Aku menengok ke segala arah mencari sumber suara. Penasaran sekaligus senang. Bosan menengok, aku melompat semakin dekat ke arah suara merdu memabukkan itu.

Aku kemudian menemukan jalan setapak. Ini bukan jalan setapak biasa, yang batunya berserakan dan ketika turun hujan. Jalan setapak ini sungguh hebat. Hitam, mulus, dan genangan tipis air hujan di permukaannya memungkinkan aku bisa bercermin.

 

Hujan.. hujan kami

Turunlah dalam damai

 

Nyanyian merdu itu kembali terlantun, mengusik kegiatanku mengagumi jalan setapak hebat sekaligus mengagumi bayanganku di permukaannya.

Semakin lama berjalan, padang rumput semakin pendek, semakin hijau, dan semakin rapi. Seperti sengaja ditanam dan dipangkas setiap pekan.

 

Aku ingin menari

Agar lebur segenap kemarahan dalam hati

 

Di tengah padang rumput yang cantik, di hadapan sebuah rumah besar lagi megah. Menari di bawah hujan, seekor katak yang juwita. Tetes hujan mengalir lembut di sekujur tubuhnya yang hijau. Dan rupa-rupanya suara merdu itu berasal dari moncong merah mudanya.

Aku terpana, ini keindahan kedua yang kutemui sepanjang perjalanan. Sekaligus yang paling indah.

***

“Aku Okan. Nyanyianmu merdu sekali.” Sahutku memperkenalkan diri.

“Aku Opi. Terimakasih.” Moncong merah mudanya mengembang, membentuk sepotong senyum.

Aku bersorak dalam hati, mencocokkan nama kami berdua, “Apa kamu tinggal di sekitar sini?”

“Ya, aku tinggal di halaman rumput milik keluarga Oscar. Tapi sayang sekali, mereka tidak menyukai katak. Berkali-kali aku diusir dengan sapu setiap kali mendekati teras.” Keluh Oki, “kamu sendiri tinggal di mana?”

Maka berceritalahaku tentang rawa yang ramai, tempat keluargaku tinggal. Tempat tawa dan senda gurau beradu, tempat nyanyian hujan berpadu.

“Indah sekali.. apakah perjalanan menuju rumahmu berbahaya?” Oki mengerjapkan mata bundarnya ingin tahu. Dia gagal menyembunyikan ketertarikannya.

“Tidak juga. Bahkan jalan menuju ke tempat ini dipenuhi pemandangan menakjubkan.”

Tanpa pikir panjang Oki memohon untuk ikut.

Ini hari yang panjang dan berakhir manis. Juga perjalanan penuh kenangan dan tidak akan pernah aku lupa sampai aku pikun.

***

Kira-kira dua kilometer dari halaman rumah keluarga Oscar, padang ilalang tempat burung-burung hinggap telah siaga seekor biawak lapar yang tengah mengintai mangsa.

 

Makassar, 21 November 2016

Fatmawati Liliasari

Fatmawati Liliasari lahir pada 11 Juni 1995. Menulis baginya adalah sebuah kebutuhan, seperti bernapas, sebab setiap kali ia melakukannya rasanya seperti pulang ke rumah. Ia juga menjadikan menulis sebagai sarana baginya menebar kebaikan, bermanfaat bagi sesama. Selain membaca dan menulis, gadis yang menyukai tantangan ini juga senang sekali bertualang. Mengunjungi tempat-tempat jauh, bertemu orang-orang baru, cara hidup tak biasa, nilai-nilai hidup yang baru, juga bahan untuk menulis lagi. Di samping itu ia juga sering sekali melamun. Ia sangat terilhami pada salah satu kalimat Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi, bahwa hidup tentang memberi sebanyak-banyaknya bukan menerima sebanyak-banyaknya. Bukunya yang pernah terbit ialah kumpulan puisi Dari Galesong Kepada Indonesia (2016). Ia bisa dihubungi lewat email fatmalilia5@gmail.com atau nomor ponsel 085146373850.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *