Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Changpu Lampion Pak Amin

“Terima kasih, Nak!” dia menerima bungkusan yang dari tanganku sambil menyunggingkan senyum.

Aku sudah berkeliling mencari titik yang pas untuk menaruh bungkusan plastik ini. Aku kebingungan untuk meletakkannya di mana, pemandangan tumpukan bungkusan di pinggir jalanan umum sangat menggiurkan untuk ditambah namun itu juga sangat mengganggu penglihatanku. Akhirnya dia berpindah ke tangan seorang bapak paruh baya yang belakangan kukenal dengan nama Pak Amin. Sejak pertama kali bertemu yang berkesan di benakku adalah kesediaannya menerima bungkusan yang kubawa dengan ucapan terima kasih. Mulai dari hal ini pula kisahku dengan bungkusan-bungkusan selanjutnya bersama Pak Amin berlanjut di tempat yang sama.

***

Sudah dua puluh jam aku berada di antara tumpukan, banyak orang yang bilang bahwa aku adalah benda yang paling menyebalkan dan tidak pernah berjodoh dengan lingkungan. Padahal bagiku di antara mereka−tumpukan ini. Aku yang menempati derajat yang paling tinggi, aku tak akan pernah lapuk dan busuk. Aku pernah punya pengalaman berada di antara manusia yang tampak terpelajar, sambil menentengku dia berkata “Kau tahu benda yang paling mencemari lingkungan?” tanyanya pada seorang teman, mereka sedang menanti sebuah diskusi dalam perkumpulannya. Sambil menunggu teman-temannya datang, mereka memperdebatkan aku yang malang ini. “Ya, benda yang kau pegang itu! Benda yang lama hancur dan masa terurainya tak bisa ditentukan,” timpal temannya sambil menunjukku.

Kadang-kadang aku merasa iba dengan keadaanku sendiri. Ya.. habis isi, plastik di buang. Kalau tak dibuang yah dimusnahkan. Hidupku hanya berada diambang lahir dan dihancurkan atau justru menghancurkan; setelah tugasku selesai.

“Berapa lama lagi kalian menutupi diriku seperti ini?” tanyaku pada onggokan yang ada di atasku.

“Hentikan keluh kesahmu, kau hanya sembunyi di balik kejamnya kehadiranmu untuk makhluk hidup.” Sisa-sisa organik yang memicu bau, setengah berteriak padaku sama dengan aromanya yang seringkali menyengat, umpatannya pun demikian.

“Dan kehadiranmu menyusahkan orang-orang yang mencariku!” Aku sangat kesal dengan kutukannya terhadap keberadaanku.

“Sudahlah! Paling tidak kau masih bisa dibersihkan, tidak seperti aku yang telah lepek dan basah.” Secarik catatan usang yang telah sobek memotong pembicaraan mereka.

Aku tak akan pernah tahu akan seperti apa takdirku selanjutnya. Kata mereka organik bisa hidup dan memberi kehidupan; selalu dengan manfaat. Tapi, mereka lupa bahwa aku juga pernah mengemban tugas. Mereka hanya berpikir fleksibilitas, bagiku manusia hanya merasa malas, mereka berpikir apa yang mudah untuk mereka. Padahal mereka hanya butuh lebih banyak kerja keras untuk bisa berteman denganku; pada benda-benda serupa diriku yang sudah terlanjur lahir.

Aku dengar mereka akan meminimalisir pemanfaatanku. Hmm, tak apa mereka berinovasi. Asalkan aku yang sudah terlanjur hadir dengan takdir seperti ini juga dapat sesuatu yang layak; memberi solusi.

“Kau selalu bermimpi menjadi sahabat manusia, padahal kau sampai kapanpun akan menyusahkan hidup mereka!” organik yang bau itu bersuara lagi.

“Dan kau selalu membela manusia yang licik! Mereka menciptaku, menggunakanku lalu mereka sendiri yang mengutukku. Menyalahkanku untuk kesalahan yang mereka sendiri sering lakukan pada lingkungan dan alam!” Saat kusambar dia dengan celotehanku yang ketus, kurasakana tubuhku bergoyang. Biasanya aku akan berpindah tempat ketika hal seperti ini muncul. Ada sedikit kelegaan karena pergerakan di bawah tumpukan-tumpukan ini.

***

Pak Amin adalah pemulung yang biasa terlihat di tempat-tempat penampungan sampah sementara–ada di sekitar jalan menuju rumahku. Semenjak aku mengenalnya tak ada lagi rasa bingung akan membuang sampah di mana supaya tak nampak merusak pemandangan jalan umum. Setiap bungkusan menumpuk di atas tempat sampah yang ada di rumah, aku pasti teringat dengan Pak Amin; rindu dengan senyum dan sapaan “nak” yang sering kali dia lontarkan padaku kala aku menyerahkan benda-benda yang tak dibutuhkan lagi di rumahku.

Aku sudah mulai akrab dengan Pak Amin. Penasaran dengan hidupnya dan kebiasaannya mengucapkan terima kasih padaku membuatku tergerak untuk bercakap-cakap lebih lama dengannya.

“Pak, kenapa Bapak terlihat sumringah tiap kali aku datang membawa bungkusan dari rumahku?”

“Karena tiap sampah dari rumah Nak Novy adalah keberkahan untuk bapak dan keluarga!”

“Maksudnya Pak?”

“Sampah-sampah yang Nak Novy bawa kebanyakan berisi plastik-plastik bekas. Itu sumber penghidupan untuk Bapak sekeluarga. Makanya Bapak senang tiap Nak Novy datang!”

“Oh, kalau begitu nanti Novy datang bawa plastik yang lebih banyak untuk bapak!”

“Terima kasih, Nak!”

“Iya. Mama punya toko yang menjual bahan campuran. Banyak plastik bekas minuman dan kardus bekas di sana. Nanti Novy minta tolong sama pekerjanya Mama untuk mengumpulkan sampah plastiknya!”

“Wah, tidak usah repot-repot Nak Novy, kalau bisa biar Bapak saja nanti yang ke sana!”

“Tidak kok Pak, biar Novy nanti yang bawakan!”

“Ya sudah! Terima kasih!” tutupnya disertai senyum khas Pak Amin.

Ada hal yang tak pernah kuutarakan pada Pak Amin, bahwa di antara kesenanganku berlama-lama; bercakap dan belajar darinya. Pak Amin selalu mengobati rinduku pada Daddy (Ayah). Sudah 10 tahun aku tidak bertemu Daddy. Di imlek terakhirku bersamanya, Daddy megajakku untuk membagi-bagikan angpao pada anak-anak kecil yang ada di sekitar rumah kami sambil bercerita dan mengajariku banyak hal tentang kehidupan. Anehnya, Mama tak pernah mau ikut dengan kami.

Banyak yang bilang bahwa kami keturunan non pribumi yang paling pelit, perhitungan dan tak dermawan. Tapi kehadiran Daddy membuat mereka menelan kembali kata-kata itu. Kata Daddy manusia diciptakan sama, kebanyakan dari kami bukan pelit atau perhitungan tapi kami mewarisi prinsip dan taktik jual beli serta mengelola keuangan. Walaupun kadang ada di antara kami yang berbuat curang. Tapi bukankah setiap manusia berpotensi melakukan itu, bukan cuma manusia bermata sipit. Daddy dari kecil diajarkan nilai-nilai kebaikan oleh opa dan oma. Yah, Daddy memang agak berbeda dengan mama, mungkin karena itu Daddy hanya tertawa ketika tetangga mengatakan pada Daddy bahwa istrinya itu cici yang pelit.

Sama seperti Daddy, ketika suara ketus ibu-ibu tetangga menghampiriku dan mengoceh panjang lebar tentang mama, sambil tertawa aku hanya bekata “Yah, memang pelit! Ibu tahu sendirikan mamaku matanya sipit!”

Sering juga aku mempertengkarkan hal-hal yang tidak penting dengan Mama, masalah uang lima ribu peraknya yang hilang di atas meja, padahal uang itu diam-diam aku berikan pada anak kecil yang berkeliling menjajakkan es cendol saat bulan Ramadhan, rasanya aku ingin saja menikmati es cendol ketika petang tiba. Tapi aku juga maklum, mama bukan aku dan lagi mama kian ekstra mengatur keuangan setelah Daddy tidak ada membantunya. Itulah kenapa kadang aku memilih untuk keluar rumah; berdiskusi dengan teman-teman di kampus dan menyusun segala macam kegiatan yang mungkin bisa buat Daddy di alam sana bahagia tanpa harus berdebat dengan Mama.

***

“Kau dengarkan bangsa organik? Aku bisa memberi kehidupan bagi manusia! Aku lebih bangga karena mereka yang sangat membutuhkanku adalah mereka yang mampu menghargaiku bahkan saat aku telah dibuang oleh manusia yang lain.” Sebelum bersiap untuk pindah tempat, aku mempertegas apa yang kami dengar barusan dari percapakan manusia.

“Oke! Kau cuma bisa menjadi uang dan bermanfaat bagi manusia, tidak untuk kami bangsa organik!” Si bau organik masih saja keras dengan penghakimannya padaku; sebuah benda yang tak tau kapan bisa hancur.

“Memangnya kau juga punya manfaat untuk kami?” Tubuhku terangkat menuju tempat yang lebih besar.

“Aku bisa melebur dengan tanah dan menjadi pecahan-pecahan yang bermanfaat untuk semua makhluk hidup. Tanpa uang ataupun karena uang. Tidak seperti kau yang selalu dipandang dari segi matrealistis.” Organik bau semakin emosinal karena tidak bisa menerima kenyataan, walaupun di antara kalimatnya ada hal-hal yang memang benar. Tapi kesombongannya membuatku mengeyahkan pembenaran itu dari pikiranku, kalau tidak dia akan semakin menjadi. Kini aku berada di tempat yang lebih lapang bersama teman-teman yang sejenis denganku dan bersiap menerima takdirku.

***

“Pokoknya Mama tidak mau tahu! Rumah kita ini bukan panti sosial Changpu!” Aku tahu Mama sedang kesal ketika dia sudah mulai menyebut nama tionghoaku. Kebiasaan mama sejak aku kecil, ketika dia geram padaku maka jiwa terpendamnya akan muncul.

“Mama, apa salahnya mengajak Pak Amin ke sini dan ikut merasakan suka cita kita di tahun baru?”

“Nov, apa untungnya mengajak pemulung berkunjung ke rumah kita? Yang ada dia hanya akan mengais semua barang-barang yang dianggapnya sudah tidak kita butuhkan! Kita kan tidak tahu bagaimana dia”

“Atau begini saja Ma, kita minta saja Pak Amin bantu kita sekeluarga bersih-bersih sebelum ritual sembahyang kita saat imlek, bagaimana?”

“Astaga Novy, memangnya dia tahu apa?”

“Nanti biar aku yang menjelaskan apa yang harus dia kerjakan, aku yang atur pokoknya. Yah? Mama tinggal setuju, dan nanti Mama tidak perlu kasih upah, cukup lebihkan isi angpaonya, yah Ma?”

“Lah, apa bedanya Nov?”

“Ayolah Ma, Mama kenal dululah Pak Amin. Novy jamin dia tidak mengecewakan Mama kok. Yah, kan gak ada salahnya kita berbuat baik di awal tahun.”

“Baik, tapi kalau sampai dia macam-macam dengan isi rumah. Kamu yang tanggung jawab!”

Aku memeluk Mama dengan perasaan bahagia. Bergegas aku keluar rumah untuk menyampaikan undangan perayaan Imlek sekaligus ada perkerjaan untuk Pak Amin, kusampaikan padanya bahwa ini adalah Imlek terbaik sepanjang tahun setelah daddyku pergi.

***

Hujan turun tepat di hari ini, menambah haru dan suka cita kami. Tahun baru dengan hujan yang deras adalah lambang kemakmuran untuk kami. Aku berbisik pada Mama bahwa hujan menyambut kehadiran Pak Amin di antara kami, walaupun mama hanya tersenyum kecut menimpali perkataanku.

“Gong Xie Fa Chai cici!” Pak Amin menghampiri Mama dan mengepalkan tangannya di depan dada.

“Pak Amin di ajar siapa? Sudah mahir bilang Gong Xie Fa Chai yah?” tanyaku bahagia.

“Anak saya Nak Novy, kebetulan dia sudah SMA. Sebelum ke sini bapak minta diajar untuk mengucapkan ‘Selamat Tahun Baru Imlek’ dalam bahasanya Nak Novy dan Cici!”

“Terima kasih Pak Amin!” Mama menimpali ucapan Pak Amin, aku yang berdiri di samping Mama memberikan kode untuk mempersilakan Pak Amin duduk dan memberikan angpao kepada Bapak yang baik hati itu, Bapak yang memberikan ketentraman dengan keramahannya. Hanya dengan sapaan “nak” mampu menggetarkan hati perempuan bermata sipit ini yang kadang merasa asing berada di tanah kelahirannya sendiri. Aku kembali teringat Daddy yang gemar mengusap kepala anak-anak yang datang ke rumah kami saat tahun baru Imlek walaupun mereka bukan manusia bermata sipit dan berkulit putih seperti kami; setidaknya kami saling menjadi lampion satu sama lain.

***

Sekarang telah kutemukan takdirku yang baru, di bawah guyuran hujan aku menjadi tempat bertumpuh makhluk organik. Aku berjejer di halaman rumah yang telah dihiasi lampion-lampion merah dengan ukiran; kini warna ku pun berubah menjadi merah. Tampak manusia-manusia lalu lalang melewati gerbang dan pintu dengan baju berwarna merah dengan rona merah bahagia di pipi mereka.*

Ilustrasi: http://jinggaberbisik.blogspot.co.id/2013/02/cap-go-meh-dari-tatung-hingga-lontong.html

The following two tabs change content below.

Naf M. Dira

Seorang penggembira di tim hore dunia anak-anak. Perempuan yang menyukai bau pepohonan lembab dan gemar bertualang di samudera dongeng.

Latest posts by Naf M. Dira (see all)