Sudah empat purnama telah dilalui Erby, bekerja sebagai petugas kebersihan di salah satu bioskop yang terkenal di Kota Makassar. Selama itu pula, ia selalu mendengar cerita dari rekan kerjanya. Tentang aura mistis yang menyelimuti gedung bioskop, terutama ketika mereka mendapatkan shift kerja malam.

Beberapa dari mereka selalu menyaksikan dan mendengar hal yang sama, suara kucuran deras keran air di kamar mandi dan penampakan misterius di sepanjang pintu teater satu hingga empat. Cerita itu sering berulang-ulang dan seakan memiliki suatu pola yang sama. Hanya terjadi ketika malam pergantian dari hari Kamis ke hari Jumat.

Setidaknya peristiwa itu didengar Erby dari mulut ember rekan kerjanya, Novi.

“Erby, percaya tidak?”

“Tidak!” potong Erby dengan nada ketus, Novi hanya mendengus kesal karena perangai Erby yang menurutnya menyebalkan dan tidak sopan memotong pembicaraan.

“Kamu tuh yah, orang belum selesai bicara sudah main potong, seperti tukang potong ayam saja kau!” Erby hanya terkekeh mendapati Novi rekan kerjanya merajuk.

Sadar diri akan kesalahan, Erby lantas memasang wajah memelas, roman wajahnya menunjukkan penyesalan yang dalam, reflek digenggami jemari Novi seraya berucap. “Iya deh, maafin Erby yah?”

Melihat perangai Erby, membuat hati Novi sedikit luluh, mereka kemudian duduk bersisian, Novi pun melanjutkan ceritanya yang terpotong tadi.

“Nah, Erby dengarkan baik-baik….”

***

Seperti biasa, di hari kamis Novi akan mendapatkan jatah shift malam sebagai resepsionis di meja kasir bioskop, melayani para pengunjung bioskop yang bermaksud menyaksikan film yang diputar di layar teater satu hingga empat. Ketika pekerjaannya selesai—menjelang tengah malam dan pengunjung bioskop telah pulang semua—Novi lantas tidak pulang begitu saja. Biasanya ia mendapatkan pekerjaan tambahan untuk membersihkan kursi bioskop dari sisa jajanan para pengunjung bioskop; seperti jagung berondong, air mineral, kentang goreng, sampai kripik singkong.

Novi terkadang bergumam kesal, bukan karena pekerjaan tambahannya atau karena gajinya yang sedikit, tetapi karena kebiasaan pengunjung bioskop yang menyia-nyiakan makanan. Dasar! Tidak tahu apa kalau banyak anak-anak jalanan di luar sana yang kekurangan makanan, menahan lapar, di sini…, para pengunjung bioskop seperti acuh, tak bersyukur. Kurang lebih begitulah yang sering berkelebat di pikiran Novi tatkala melihat beberapa dus jagung berondong dan kentang goreng yang masih tersisa setengahnya, bahkan ia terkadang mendapati sebuah dus kripik singkong yang masih tersisa tiga-perempatnya.

Ketika Novi masih asyik membersihkan setiap kursi bioskop, ia merasakan suatu aura yang aneh, ada sesuatu yang ganjil menyelimutinya. Sebuah suara yang membuat bulu kuduk merinding.

Krek…krek…krek…

Srek…srek…srek…

Begitulah berulang-ulang suara yang didengar Novi, perlahan namun pasti ia membalikkan badannya, sejenak memerhatikan suasana teater satu yang kosong-melompong, hanya ada dirinya dan sederatan kursi bioskop bewarna merah.

Mungkin hanya perasaanku saja? Gumam Novi, ia kemudian melanjutkan pekerjaannya, tetapi kembali Novi mendengarkan suara yang aneh, tiba-tiba bulu kuduknya merinding.

Krek…krek…krek…

Srek…srek…srek…

Begtulah bunyi yang didengar Novi, hingga membuat konsentrasinya untuk membersihkan bioskop menjadi buyar, sesekali berbalik mencari sumber suara, kemudian kembali berbalik ke posisi semula—membelakangi layar teater, dan membersihkan kursi-kursi bioskop.

Krek…krek…krek…

Srek…srek…srek…

Novi terperanjat, untuk kesekian kalinya ia mendengar suara-suara aneh itu, Novi berbalik kembali dan mencari sumber suara, namun ia tidak menemukan apa-apa, hanya jejeran kursi bioskop bewarna merah. Untuk kali ini Novi memutuskan mempercepat pekerjaan dan keluar dari teater satu.

Ketika Novi telah berada di luar teater dan memandangi sekeliling area bioskop yang sepi—kemudian bermaksud untuk menuju pintu teater dua, secara tak sengaja ia melihat sebuah bayangan yang melintas, sebuah bayangan hitam berjalan dari depan pintu teater dua, bayangan itu seolah berjalan menuju kamar mandi yang terdapat di ujung bioskop dekat selasar teater empat.

Sebagai karyawan teladan, Novi bertindak cepat pikirannya mengatakan itu bukan hantu atau makhluk halus seperti yang diceritakan rekan-rekan kerjanya, logikanya mengatakan kemungkinan bayangan itu hanyalah pantulan cahaya lampu yang menerpa seseorang.

“Jangan-jangan itu pencuri?!” sahut Novi pada dirinya sendiri, Novi dengan tegopoh-gopoh melangkahkan kakinya mengejar bayangan itu, takut terjadi apa-apa, seingatnya hanya dirinya seorang yang mendapatkan jatah shift tengah malam. “Yah, mungkin itu pencuri, bukan hantu.”

Kini langkah kakinya terhenti, ditatapinya keadaan sekitar pintu teater empat, Novi hanya menangkap keadaan yang menyelimutinya begitu sepi, serasa suasana bioskop seperti kuburan, tidak ada siapa-siapa bayangan itu juga serasa hilang ditelan kesunyian malam. Tetapi di tengah keheningan malam itu, tiba-tiba terdengar suara air yang mengucur deras, suara yang merambat dari kamar mandi menuju gendang telinga Novi.

Trushhhhhhh….ser……..ser…….serrrr……..

Suara kucuran air yang menggema di telinga Novi laksana mantra sihir yang membuat dirinya berjalan menuju kamar mandi, dengan perasaan was-was dipeganginya knop pintu lalu diputarnya, pintu pun terbuka dan menimbulkan suara menderit yang mengiris-ngiris gendang telinga Novi, suara deritan pintu seperti nyanyian kematian.

Mata Novi kini bergerilya memerhatikan semua sudut kamar mandi bioskop, ada cermin, washtafel, empat bilik—tempat biasa pengunjung bioskop untuk “menabung hajat”—dan satu pintu yang terhubung langsung ke ruang ganti karyawan. Sejurus kemudian matanya menatap keran air yang bertengger manis di salah satu washtafel bewarna putih perak.

Kaki jenjangnya di langkahkan menuju washtafel tersebut, kemudian memerhatikan secara seksama keran air yang knopnya terbuat dari bahan campuran alumunium, besi dan keramik.

Aneh? Gumam Novi, matanya menyiratkan semburat tanya yang berselimutkan perasaan was-was. Keran air yang ada di washtafel itu tidak mengucurkan setetes air. Hal sama didapati Novi ketika mengecek satu persatu cerat pancuran air yang ada di dekat kloset—yang terdapat dalam bilik—kamar mandi.

“Aneh, barusan saya mendengarkan suara air yang terpancur dari kamar mandi, pas diperiksa kok tiba-tiba tidak ada air yang mengucur deras? Kalau memang ada yang memutarnya, siapa coba? Seingatku malam ini cuma diriku seorang yang mendapatkan shift malam…, kalau begitu apakah hantu? Ahh…, tidak mungkin.”

Novi kemudian mengorek-ngorek telinganya sendiri dengan jemari kelingkingnya, memastikan apakah kupingnya masih berfungsi atau tidak. Ia kemudian sejenak memutar salah satu keran air yang terdapat di washtafel dan mendengarkan seksama suara pancuran airnya.

Trushhhhhhh….ser……..ser…….serrrr……..

Novi mendengarkan suara yang sama sebelumnya, tidak ada yang salah dengan pendengarannya. Novi mendesah pelan lalu beranjak dari kamar mandi tersebut.

Tatkala Novi berada di lobby bioskop dan memandangi keadaan sekeliling, kembali sepasang bola matanya mendapati sebuah bayangan yang bergerak menjauh, bayangan itu seolah berjalan dari pintu teater tiga menuju pintu teater satu.

Novi mulai risau, perasaannya menjadi was-was, ada aura mencekam yang menyelimutinya. Otaknya berputar mencerna situasi yang terjadi, pertama suara aneh di teater satu, kedua bayangan yang ada di lobby bioskop, ketiga suara keran air di kamar mandi yang misterius dan keempat ia kembali melihat bayangan aneh.

Novi memegangi tengkuknya yang tiba-tiba terasa dingin, bulu romanya merinding sedemikian rupa, ia kemudian memutuskan untuk beranjak menuju pintu keluar dan mengunci rapat-rapat pintu bioskop, kemudian memutuskan pulang.

Ketika Novi telah berada di pelataran parkir sejenak ia memerhatikan kaca jendela bioskop tempat kerjanya, ia masih jelas melihat temaram cahaya yang terpantulkan, namun ada yang aneh sepasang bola matanya menangkap siluet seseorang yang sedang berdiri menatapnya, matanya merah, tangannya sepertinya melambai-lambai ke arah Novi sesekali ia nampak menggedor-gedor kaca jendela itu. Novi bergidik, bulu romanya kembali berdiri ia kemudian memutuskan lari sekencang-kencangnya seraya berucap.

“Se…Se…Setaaaaaannn!!!”

***

Novi kini telah menyelesaikan ceritanya, Erby hanya mangut-mangut saja mendengarkan penuturan Novi, sejurus kemudian ia mengumbarkan senyuman yang nampak masam kemudian berlalu meninggalkannya tanpa sepatah kata apapun. Novi hanya kebingungan melihat perangai rekan kerjanya tersebut.

Kisah tentang aura mistis yang menyelimuti gedung bioskop di setiap malam jumat telah menjadi obrolan hangat tersendiri di antara para pekerja bioskop tersebut. Mulai dari bayangan misterius, suara misterius kucuran air di dalam kamar mandi, bahkan penampakan sosok mata merah yang sering muncul dari jendela kaca bioskop.

Obrolan-obrolan itulah yang sering Erby dengarkan, sedangkan dirinya sendiri lebih banyak menjadi pendengar setia dan memilih diam. Walaupun diamnya Erby terdapat kedongkolan dan kekesalan yang teramat, terutama bagi beberapa pegawai bioskop yang mendapatkan jatah kerja shift malam. Bagaimana tidak, Erby kesal! Selama empat purnama di setiap malam jumat; membersihkan kamar mandi bioskop, menyapu teater satu hingga empat, selalu saja Erby mendapati dirinya terkunci di dalam gedung bioskop.

Tompobalang, Sungguminasa.

17 – 21 September 2016

Ilustrasi: http://malypluskwiak.deviantart.com/art/empty-cinema-room-196381213

Ilyas Ibrahim Husain

Ilyas Ibrahim Husain adalah nama pena dari Adil Akbar. Lulusan S1 Pendidikan Sejarah UNM (2011-2016) dan S2 Pendidikan IPS-Konsentrasi Pendidikan Sejarah (2017-2019). Selain menulis, juga pengajar sejarah di SMAN 2 MAKASSAR, pun pernah mengajar di SMAN 1 GOWA dan SMAN 3 MAKASSAR

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *