Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Amma Lolo

Di suatu sudut di hutan Kajang…

Sadrak dan aku membungkuk-bungkuk memungut kayu bakar. Lima ekor ayam dan tiga sapi sudah dikandangkan semenjak sore ketika Amma1 masuk ke rumahnya tanpa menggunakan pasappu2. Amma juga baru saja kedatangan tamu dua jam lalu. Ketika ayam-ayam meloncati dahan tempatnya mengeram, Amma bersuara sembari batuk keras dari bilik jendela menyuruh Madah mengisi gentong penampungan air. Saat itu aku dan Sadrak masih di tengah hutan mencari kayu bakar.

Walaupun agak basah pasca hujan, kayu-kayu bekas tiupan angin semalam banyak yang masih bisa digunakan. Mencari kayu bakar bukan pekerjaan utama sore itu, sebelumnya kami disuruh Amma untuk membersihkan hutan tempat upacara adat seringkali dilaksanakan.

Sementara di rumah, Madah hanya duduk terdiam pasca mengisi gentong air di depan bilik Amma. Badannya masih berkeringat. Tapi dia nampak baik-baik saja ketika keringat mengalir di goresan luka di punggungnya. Nampak di wajahnya sedang merapal sesuatu.

“Sampai kapan Amma akan menyudahi ritual yang dialami Madah?” Sadrak angkat bicara saat memungut ranting beringin hutan yang sudah mulai mengering.

“Itu ada waktunya, dan semua tergantung Amma.”

Mendengar itu, Sadrak tak lagi bertanya. Dia melihat Aku dengan tatapan tanda ingin pulang…

Di suatu waktu, di sudut rumah Amma…

Madah meneguk air tepat saat hujan reda. Tegukan itu sekaligus tanda Madah berbuka puasa. Amma melihat raut Madah dengan seksama. Sebentar lagi magrib dan burung-burung hutan kembali keperaduannya, selang tidak lama dari itu mereka berdua saling menatap. Sunyi seketika.

“Aku ingatkan kembali, engkau mesti banyak bersabar, dan harus banyak menyelami hakikat pasang3,” Amma membuka percakapan.

“Sudah tak terhitung burung-burung pulang pergi menuju sangkarnya, Tu Ria Ara’na4 juga tak terhitung perhatiannya kepada kita.”

“Kali ini, engkau jangan lupa, pasang begitu penting untuk disimpan dalam benak dan hati, sedikit saja lafalnya salah, maka itu akan menyalahi artinya.”

Madah beradu mata, tapi sebenarnya dia hanya menundukkan kepalanya.

“Sekarang, tempatkan ingatanmu kepada Tu Ria’ Ara’na, dan kemudian sekali napas lafalkan pasangmu!”

Madah mengeluarkan suaranya: “Tu Ria’ Ara’na, ammantangngi ri pa’ngarakanna, Anre’ nisei rie’ne anre’na Tu Ria Ara’na nakiappala doang, Padato’ji pole nitarimana pangnrota iya toje’na, Gitte makianjo punna nigaukangi passuroanna, Nanililiang pappisangkana.”

“Anne linoa pamari-marianji, Allo riboko pa’mantangang kara’kang.”

”Appa’ battu ri amma: rara, assi, gaha-gaha na ota’, Appa’ battu ri anrong: bulu-bulu, bukule, kanuku, buku, Lima battu ri Tur Ria’ Ara’na: mata, toli, ka’murung, baba’, nyaha.”

“Lima ampangissengi ilalang batangkale: Ri ngitetta baji’, ri mallangiretta baji’, Ri mangaratta baji’, ri pautta haji’, ripappisa’rinta haji’.”

Begitulah ritual itu dilakukan. Amma memasang telinga baik-baik. Jika satu saja pasang salah dilafalkan, tak segan-segan Amma memukul badan Madah dengan sebilah tangkai kayu. Kadang, akibat itu punggung madah membekas goresan luka.

Sementara aku, ketika hapalan  pasang ke 759 yang diucapkan Madah, tidak jauh dari tiang rumah memilih mempersiapkan secarik kertas untuk menulis puisi. Malam ini langit patut dilukiskan sebagaimana Amma seringkali melukiskan pasang untuk dipegang teguhkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Langit yang dibikin pergi

Malam, sudah

habis aku ditimpa sepi

Ibarat bulan  separuh ditinggal purnama

Sudah datang suatu kabar

Suara orangorang dihempas kelana…”

Saat aku menulis dan membaca habis puisiku, aku jatuh tertidur. Itu bersamaan dengan bunyi bilah kayu di punggung Madah yang ketiga kalinya…

Kembali ke suatu sudut di hutan Kajang…

“Menjadi puto itu tidak segampang yang orang bayangkan!”

“Selain caradde5, seorang calon puto6 juga mesti jujur”

Sadrak siaga memasang telinga mendengarkan. Semenjak keluar dari hutan, dia banyak diam. Matanya dari tadi hanya memerhatikan batangan kayu yang dipikulnya. Tapi, aku masih saja menjelaskan untuk menjadi puto, orang suci setelah Amma, bukan perkara mudah. Sadrak masih terdiam seperti sedang merekam seluruh yang aku katakan. Sebentar lagi kami tiba di rumahku.

Sampai di rumah, Madah sedang membersihkan bekas penapis beras. Amma, ayahku sedang berada di biliknya. Dapur yang bagi kami orang-orang Kajang merupakan lokasi yang penting, nampaknya juga sudah dirapikan Madah. Ketika malam tiba, sulo-sulo dinyalakan. Sadrak yang semenjak tadi ikut bersamaku sudah capai merebahkan badan di bawah jendela rumah. Semenjak dia masuk di dalam kawasan tanah adat, Sadrak banyak mempelajari tradisi hidup kami. Hari ini berarti juga sudah tujuh minggu dia tinggal bersamaku. Mencatat dan meneliti apa saja yang dapat dilihat dan didengarnya. Beruntung kemarin dia mendapat restu Amma ikut bersamaku masuk ke hutan keramat.

Lima bulan setelah suatu waktu di sudut hutan Kajang…

Setelah Sadrak pulang ke Makassar dan dua hari lalu datang membawa hasil penelitiannya, Amma semakin tidak kuat menuruni tangga. Praktis dengan kondisi Amma yang semakin parah, mengurungkan niatku kembali ke Makassar bersama Sadrak. Seperti tradisi sebelumnya, pergantian menjadi Ammatoa dilakukan dengan cara yang selama ini diajarkan leluhur. Mengantisipasi pergantian kepemimpinan Ammatoa, Amma sudah memberikan tanda-tanda bakal meninggalkan kami semua. Itu seperti yang dialami Ammatoa sebelumya. Menurut cerita Amma di waktu aku kecil, semua orang suci mengetahui kapan dia datang ke dunia dan di saat kapan dia akan pergi meninggalkan seluruh sanak keluarganya.

Semakin mendekati waktu kepergiaannya, Amma semakin giat melatih Madah, orang yang diberikan petunjuk bakal menggantikan kedudukannya. Melihat perhatian Amma yang besar terhadap Madah, membuatku tidak sanggup berpisah dengan Amma. Terlebih lagi masyarakat Kajang pasti akan terpukul dengan kepergian Amma.

“Baru saja saya meninggalkan Kajang dua minggu yang lalu, Madah sudah banyak berubah,” Ungkap Madah.

“Sepupuku Madah, semakin siap menjadi calon puto.” Aku berkata sembari membaca hasil riset yang dibawa Sadrak.

“Tahukah kau, bahwa setelah kepergian Amma, Madah akan menyiapkan dirinya selama tiga tahun menjadi puto, menjadi Amma Lolo7, menjalani kehidupan orang-orang suci.”

Aku menjelaskan kewajiban yang bakal dialami Madah. Aku tidak peduli apakah pengetahuan ini sudah diketahui Sadrak atau belum. Sadrak memasang telinga. Aku justru bercerita tanpa disadari air mata tergenang di pelupuk mataku.

Hingga tibalah waktu yang semua orang tidak dapat menolaknya. Di suatu malam dingin, Ammatoa pergi selama-lamanya. Sebelum dia pergi, Madah sudah dipersiapkan Amma menggantikan posisinya sebagai kepala adat. Dua hari pasca Amma dikebumikan di tempat para Ammatoa sebelumnya, aku dan Sadrak pergi meninggalkan tanah adat menuju Makassar. Sementara Madah seperti yang direncanakan sebelumnya akan masuk hutan keramat menjalani ritual sebagai Amma Lolo. Tapi, sebelum ia masuk ke hutan keramat, subuh-subuh ketika aku melayangkan doa dan meninggalkan makam Amma, Madah mencegatku dengan berpesan: “Tiba masamu, pulanglah, jika engkau telah siap!”

Catatan:

  1. Panggilan sehari-hari orang Kajang kepada Ammatoa.
  2. Kain penutup kepala berwarna hitam yang dipakai lelaki dewasa Kajang.
  3. Kumpulan petuah dan pesan yang berisikan hikmat tentang alam semesta, cara hidup, tata cara bersikap yang dipakai sebagai pegangan hidup orang-orang Kajang.
  4. Zat tertinggi dalam keyakinan masyarakat Kajang; Tuhan.
  5. Cerdas, cemerlang akal
  6. Orang suci Kajang, orang yang tidak berbuat tercela.
  7. Gelar calon Ammatoa, orang yang mempersiapkan diri selama 3 tahun dengan ritual khusus sebelum menjadi Ammatoa.

sumber gambar: viva.co.id

The following two tabs change content below.
Blogger paruh waktu dan ayah dari Banu T. El Baqir. Penulis buku "Jejak Dunia yang Retak" (2012).