Sebelum ada traktor, kehidupan petani tidak sepelik ini. Sapi-sapi selalu patuh dan taat diajak membajak sawah. Sebelum ada mesin perontok bulir padi, hidup petani adem ayem. Orang-orang datang membantu menuai padi, tanpa perlu kesepakatan mereka dapat berapa.

Tapi modernisme membuat perbedaan mencolok. Modernisme menjanjikan efisiensi dan efektivitas, tapi justru menghadirkan kehampaan.

Sapi malas

Sapi-sapi yang dahulu, hampir semua rumah di kampung ini terikat di kolong rumah belakang, kini tak lagi bisa ditemui. Sapi-sapi yang dahulu menjadi teman petani membajak sawah, kini pergi jauh ke areal peternakan. Yang tersisa hanya sapi-sapi malas, yang kerjanya hanya makan, minum dan pup. Sapi malas itu akan dijual seharga jutaan oleh pemiliknya. Tapi, sapi tetaplah sapi, ia tunduk pada keinginan tuannya. Yang membuat mereka malas adalah tuannya sendiri.

Tanpa sapi, petani mengandalkan mesin traktor yang canggih. Sekali dorong, traktor bisa menyelesaikan kerjaan sapi. Dengan traktor, tak perlu menunggu berhari-hari untuk melihat tanah di sawah itu berubah menjadi lumpur. Meski tidak semua petani bisa membelinya.

Pergeseran siklus

Saat musim tanam tiba, siklus hidup di kampung juga banyak mengalami pergeseran. Jika dahulu, ada ritual khusus, yang dihadiri warga kampung sebelum turun sawah, kini tradisi itu perlahan-lahan ditiadakan. Mereka sepakat menyebutnya dengan istilah kuno, ketinggalan zaman. Tak perlu ritual atau menunggu kesepakatan mengenai jadwal yang tepat. Buat mereka, lebih cepat lebih baik, apalagi siklus hujan kian tak menentu.

Dahulu, menanam padi tidak hanya dilakukan serempak. Menanam padi adalah pemandangan kehidupan kampung yang riuh, ramai dan dilakukan tidak sendiri-sendiri. Bahkan, yang tidak memiliki lahan sawah pun tidak pernah ketinggalan untuk turun ke sawah, melebur dalam kubangan lumpur.

Dahulu, ada gairah yang hidup saat musim tanam. Di pematang, para petani melepas lelah dengan mengepulkan asap tembakau sambil berkelakar. Mereka datang saling membantu dengan sukarela. Tak ada yang dibayar, kecuali penganan seadanya dan segelas kopi.

Tapi waktu seperti mengubah segalanya. Siklus tanam bersama itu telah hilang. Petani kini sibuk dengan sawahnya masing-masing. Bukan tidak peduli dengan yang lain, tapi para petani lebih fokus pada lahan garapannya untuk segera diselesaikan. Mereka mengejar target produksi yang telah dikalkulasi untuk membayar pupuk, pestisida, bibit, traktor, dan bersyukur kalau sisanya dapat dipakai hidup menunggu musim panen selanjutnya.

Musim panen juga mengalami perubahan. Tak ada lagi waktu senggang. Beberapa petak sawah yang biasanya butuh waktu seminggu untuk selesai dipanen, kini dengan bantuan mesin perontok padi, berpetak-petak padi bisa selesai sehari, langsung dikepak dalam karung.

Memang masih ada diantara mereka melibatkan orang lain, tapi polanya berbeda. Mereka ikut memanen karena menginginkan upah. Segalanya dihitung dengan uang. Dan hanya sedikit waktu yang tersisa untuk bersenda gurau, semua diburu target.

Perubahan siklus

Sapi malas dan perubahan siklus adalah revolusi petani yang telah mengubah kehidupan kampung. Seperti orang-orang kota, sibuk. Mereka menjadi efektif, dengan pola hidup yang efisien. Tak ada waktu senggang. Segera setelah panen, lahan sawah kembali diairi. Sawah kembali digarap oleh traktor, dan seterusnya.

Tapi sapi malas itu bukan murni kesalahan petani. Petani meninggalkan sapi, karena mereka dikejar oleh pemenuhan kebutuhan. Mereka butuh uang untuk membayar cicilan motor, membeli sayuran, membeli air galon, membayar tagihan listrik, televisi kabel, uang sekolah, pulsa dan kuota. Petani itu juga berharap bisa membangun rumah permanen yang terbuat dari batu dan semen.


sumber gambar: galeri-nasional.or.id

Subarman Salim

Penulis adalah peminum kopi, yang selalu berharap menemukan surga di setiap buku. Selain menulis, kadang ikut jadi peneliti, pernah mencoba jadi blogger tapi gagal.

Pernah kuliah di Universitas Negeri Makassar jurusan Pendidikan Sejarah dan Universitas Hasanuddin jurusan Antropologi.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *