Literasi untuk Peradaban

(Refleksi 7 Tahun Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan)

Di waktu kiwari ini, Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan sudah memangsa waktu 7 tahun lebih. Didirikan pada tanggal 1 Maret 2010, bertempat di poros jalan Ratulangi Bantaeng, yang sekaligus menjadi markasnya sekira 5 tahun. Kini, markas itu telah menjadi klinik kesehatan, sedangkan markas terkini berada di Ruko Lamalaka, depan Stadion Lamalaka, yang di depannya terdapat kawasan kuliner, Pantai Lamalaka Bantaeng. Ruko ini aset Pemda Bantaeng, yang dikontrak secara berkala. Semboyan yang mengikuti hadirnya, bertajuk, “Menuju Pencerahan Intelektual-Spiritual.” Dan, 3 tahun kemudian berubah menjadi, “Bantaeng Menuju Masyarakat Literasi.”

Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan, sesarinya adalah komunitas, yang saya dirikan berdasarkan pada tiga pilar, yakini: Toko Buku, Institut, dan Komunitas. Toko bukunya, dikepalai oleh Zaenal Asri, Institutnya digawangi oleh Kamaruddin, dan komunitasnya diayomi oleh Dion Syaef Saen, selaku kepala sukunya. Setahun berjalan, kami bersepakat untuk meluncurkan produk, berupa Rumah Baca Boetta Ilmoe, yang secara garis koordinasinya bertautan pada Institut. Slogan selaku pengiring kelahiran Rumah Baca ini, berbunyi, “Hadir untuk Pencerahan.”

Pada setiap momen miladnya diperingati, selalu saja ada perayaan. Bentuknya beraneka, mulai dari pementasan, hingga peluncuran buku terbitan Boetta Ilmoe. Sekadar catatan, Boetta Ilmoe telah menerbitkan buku, karya warga Bantaeng sejumlah 12 judul. Namun, seiring perjalanannya, memasuki tahun ke-5, Toko Buku Boetta Ilmoe saya harus tutup, sebab mitra-mitra penerbit, dan pemasok buku banyak yang mundur, berhubung omset yang tidak memenuhi target. Walhasil, yang tersisa hanyalah institut dan komunitas.

Dalam kondisi transisi ini, akibat penutupan toko bukunya, persis di usianya yang ke-6, saya mengajak seluruh lapisan komunitas untuk membincang kelangsungan nasib Boetta Ilmoe ini. Bagi saya, lima tahun pertama sudah cukup memadai untuk melepaskan Boetta Ilmoe ke publik, khususnya pada kawan-kawan pegiat di komunitas. Sebab, foundingnya yang terdepan, toko buku sudah tutup, maka mestilah dicarikan founding yang tetap menjaga kemerdekaan komunitas. Di depan segenap kawan pegiat komunitas, saya ajukan permasalahan ini. Di luar dugaan saya, kawan-kawan mengambil solusi jitu untuk menyelamatkan komunitas, dengan mendirikan lembaga sayap, yang bernama Bonthain Institute, dengan slogannya, “Civilization, Humanity, Divinity.”

Bonthain Institute, merupakan kado teranyar dari Boetta Ilmoe pada usianya yang ke-6, 2016 silam. Institut ini, mendudukkan Rahman Ramlan selaku penanggungjawabnya, yang dibantu oleh segenap pegiat di komunitas, baik yang masuk di struktur maupun yang tidak masuk. Lembaga ini, boleh saya tabalkan sebagai wahana untuk mengkomunikasikan kepentingan pihak luar, ataupun sebaliknya, dalam rangka mewujudkan kepentingan komunitas lebih luas. Sebab, tidak sedikit program yang ditawarkan ke Boetta Ilmoe, ataupun sebaliknya, tapi terkendala oleh kelengkapan formalitas kelembagaan. Hadirnya Bonthain Istitute, yang berbadan hukum, bakal memudahkan program-program yang sulit digarap secara komunitas.

Memasuki tahun ke-7, Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan merayakannya dengan amat sederhana. Pada hari Sabtu, tanggal 25 Maret 2017, mulai pukul 19.30, dan berakhir pukul 23.00. Bertempat di teras-halaman depan sekretariat, perayaan dilangsungkan. Mata acaranya pun, tidak direncanakan secara kaku. Acara dibuka dengan penampilan akuistik minimalis dari Komplen, yang malam itu diawaki oleh, Dion Syaif Saen, Aldy Bentho, Irsan Guvara, Ashwink Pratama, dan Haedir Tumphaka. Lagu kerajaan Boetta Ilmoe, yang berjudul, “Membacalah-Menulislah,” mengalun dengan hikmat, memesona hadirin, yang sebagian besarnya adalah pegiat-pegiat literasi dari berbagai komunitas. Lagu ini tercipta, tatkala Boetta Ilmoe berusia 4 tahun, yang syairnya dibuat oleh Atte Shernylia Maladevi, dan arasemennya digarap oleh Dion Syaif Saen, bersama kawan-kawan Komplennya.

Acara yang sangat sederhana ini, berisi mata acara berupa testimoni dari para penghadir. Baik mewakili komunitas-komunitas literasi, maupun persona-persona, yang selama ini terpesona oleh pesona gerakan literasi. Apalagi, Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan, isi dalamnya dihuni oleh beragama latar belakang profesi, dan jenjang sosial-pendidikan. Waima, sejatinya, komunitas ini, menempatkan semuanya secara setara, tiada kaya berada, pun tiada miskin berpapa. Tidak mengenal pintar berpengetahuan, bodoh tak berpendidikan. Sekotahnya, duduk sama rata, berdiri sama tinggi.

Malam perayaan ini, dihadiri oleh komunitas-komunitas literasi. Diantaranya, Rumah Baca Paguyuban, Taruna Baca Sipakalabbiri, Rumah Baca Rita Tinggia, Komunitas Lapak Bantaeng Ammaca, Serambi Baca Tau Macca Loka, Serambi Baca Tau Macca Mapia Lanying, Taman Baca Siana’ Koskar, Teras Baca Lembang-Lembang, dan Sudut Baca Al-Syifa. Mereka silih berganti, menceritakan komunitas masing-masing. Saling berbagi pengalaman, informasi, dan pengetahuan. Saya lebih suka menyebutnya sebagai ajang silaturrahim antar komunitas literasi, yang diperkuat oleh pribadi-pribadi yang punya dukungan tak bertepi pada gerakan literasi. Meski tidak mewakili instansi resmi, setidaknya, kehadiran Kr. Ali Appatoba, seorang birokrat, Kadis Perdagangan dan Perindustrian Bantaeng, dan Poni Gassing, dari Dinas Perpustakaan Bantaeng, cukup menguatkan asumsi saya.

Lalu, apa kado terindah dari Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan di usianya yang ke-7 ini? Hadiahnya, tiada lain adalah peluncuran program Bank Buku Boetta Ilmoe, yang merupakan sebentuk penegasan akan keseriusan dalam mengawal makin menggeliatnya gerakan literasi di Butta Toa Bantaeng. Bank Buku ini, adalah pengembangan dari Rumah Baca Boetta ilmoe, yang fungsi awalnya bergerak secara konvensional, meladeni individu-individu. Jadi, kehadiran Bank Buku, sebagai upaya untuk meningkatkan kinerja, buat menyahuti pelayanan akan bahan bacaan, yang sasaran utamanya adalah komunitas-komunitas literasi, baik yang sudah relatif mapan, maupun yang sementara bertumbuh, bahkan komunitas yang bakal lahir. Dan, penanggung jawab operasional Bank Buku ini, adalah Zaenal Asri.

Dengan begitu, seiring dengan perubahan dari Rumah Baca, menjadi Bank Buku, maka slogan pun mengalami perubahan. Bila Rumah Baca Boetta Ilmoe, berkata, “Hadir untuk Pencerahan,” maka Bank Buku Boetta Ilmoe, bertutur, “Literasi untuk Peradaban.” Mungkin saja ada yang beranggapan, apalah arti sebongkah slogan, tapi bagi kami, ini merupakan ikatan kalimat praktis dari suatu visi dan misi. Di pucuk perhalatan malam itu, saat saya nyatakan launching Bank Buku Boetta Ilmoe, dengan slogan yang menghidunya, “Literasi untuk Peradaban,” akan makin menguatkan asa, dan rasa akan terwujudnya “Masyarakat Lietrasi Bantaeng,” sebagaimana terungku janji dari Komunitas ini, “Boetta Ilmoe: Bantaeng Menuju Masyarakat Literasi.”

Sulhan Yusuf

Pegiat Literasi dan Owner Paradigma Group. Mengarang buku Sehimpunan Puisi AirMataDarah (2015), Tutur Jiwa (2017), dan Pesona Sari Diri (2019). Kiwari, selaku Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *