Mengagungkan Lisan

Kata orang-orang dalam beberapa hal saya memiliki banyak kemiripan dengan Bapak. Dari cara jalan, bagaimana menjejakkan kaki kanan dan kiri yang meskipun tampak lambat dan jauh menjangkau ke depan, namun iramanya cepat dan konstan. Postur tubuh yang cenderung lurus bahkan sedikit maju mulai bahu hingga pinggang. Serius dan menyimak jika mendengar orang berbicara. Bapak  sangat tidak suka pada orang yang seenaknya memotong pembicaraan, baik secara sadar maupun tanpa disadarinya. Kami, anak-anaknya pun dipetuahi begitu. Itulah mungkin salah satu sebabnya hingga seusia ini saya lebih senang mendengar orang lain berbicara daripada saya yang harus berbicara kecuali diperlukan.

Apabila salah seorang di antara kami hendak menyampaikan sesuatu kepada Bapak, ia sudah harus mempersiapkan susunan kalimat dengan baik, karena beliau tampak kurang respek pada mereka yang berbicara tetapi terlalu banyak jeda alias boros kata, padahal maksudnya sederhana. Bisa dinyatakan dalam kalimat pendek saja. Seperti pada mereka yang biasa menggunakan frasa “apa namanya”, “eh…”, “anu”, “siapa lagi”, dan seterusnya. Kata-kata tersebut muncul sebenarnya dikarenakan orang tersebut dalam kondisi sementara berpikir, dan di saat bersamaan tetap membuka mulut mengeluarkan kata-kata itu sebagai pengisi kekosongan. Sekarang ini saya pun jika berbicara berusaha seperti itu. Sejak dulu sudah membiasakan diri berbicara dengan hanya menggunakan kata-kata yang benar-benar dibutuhkan.

Berdasarkan pertimbangan itu pula, kami terkadang banyak menimbang sebelum menyampaikan sesuatu kepadanya. Di sisi lain, secara tidak langsung kami terdidik dan dibiasakan untuk merapikan susunan kata yang digunakan dalam pembicaraan. Selain hal-hal tersebut di atas, Bapak juga seorang penafsir. Beliau mampu membaca apa yang tersirat di balik yang tersurat. Jadi, jangan coba-coba mengakalinya dengan bersandar pada kata-kata saja, jika di balik itu tersimpan maksud tersembunyi yang kita tidak ingin ia ketahui.

Dari sudut tinjauan pendidikan anak, metode Bapak memiliki kekurangan, yakni anak menjadi tidak bebas dalam mengekspresikan pikirannya karena dibatasi oleh aturan kata-kata di atas. Lamun bisa saya katakan bahwa aturan tersebut tidak selamanya berlaku. Dalam situasi-situasi bercanda, ungkapan kata-kata spontan, kami bisa bebas mengemukakan pendapat. Yang saya maksudkan dengan ini adalah saat-saat tertentu ketika kami ingin membicarakan hal-hal yang sifatnya serius. Dalam situasi seperti itu diperlukan kesungguh-sungguhan pula dalam berkata-kata dan menyampaikan ide.

Apa yang pernah diajarkan oleh beliau baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan, tanpa saya sadari—karena ia otomatis tersimpan dalam otak bawah sadar sebagai memori yang cenderung menetap sifatnya—menjelma dalam perilaku saya hingga kini. Saat hal yang sama saya praktikkan pada anak-anak kami . Pada mereka saya pun mengajarkan cara bertutur kata yang sarat sopan santun dan etika. Dalam pembicaraan sehari-hari, saya khususnya telah menjadi “polisi” bahasa di rumah. Membantu siapa pun yang menggunakan bahasa Indonesia asal-asalan dan salah penempatan untuk berusaha meluruskannya. Karena bahasa bukan perkara sepele. Kadang koreksinya sambil bercanda, kadang serius. Tidak ada yang keberatan ataupun protes, karena siapa pun saling menghargai otoritas masing-masing. Kepada anak-anak pun kami berlaku serupa. Menghargai kelebihan mereka,  atas penguasaannya  yang berbeda-beda dalam bidangnya masing-masing.

Satu pertanyaan besar, di era digital seperti sekarang masih banyakkah orang yang mau peduli dengan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar? Saat orang-orang dibanjiri informasi dari kanan-kiri, depan-belakang, tanpa memiliki cukup waktu jeda untuk sedikit menghadirkan kesadaran dalam diri, apakah saya sudah berbahasa sesuai dengan aturan semestinya? Realitasnya nampak kurang, karena banyak faktor yang memengaruhinya. Di antaranya terkait dengan pendidikan formal di sekolah-sekolah sejak anak kecil hingga berlanjut pada jenjang-jenjang di atasnya. Sementara pendidikan informal, yang berlangsung di dalam keluarga tidak banyak yang mempraktikkan tradisi belajar seperti ini. Umumnya kita masih menganggap berbahasa adalah masalah sepele yang tak perlu dipikirkan penggunaannya secara serius dan sungguh-sungguh.

Sebab lainnya karena tidak adanya siaran pendidikan bahasa Indonesia di televisi seperti dulu, kendati orang-orang yang tertarik dengan bahasa Indonesia saya yakini tidak pernah banyak, kecuali mereka yang berkecimpung dalam dunia tulis-menulis yang memang taat aturan. Akan tetapi tidak banyak yang tertarik bukan berarti tidak penting, ini hanya soal kesadaran dan waktu.

 

 

 

 

Mauliah Mulkin

Pegiat literasi dan parenting di Paradigma Institute. Telah menulis buku "Dari Rumah untuk Dunia" (2013) dan "Metamorfosis Ibu" (2018).

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *