Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Kampung Tua

Suara takbir bergema sahut bersahut dari masjid ke masjid. Malam baru saja tiba mengusir mentari bersama cahayanya. Suasana sakral bergelayut memenuhi kampung tua di pesisir pantai yang dikitari bukit-bukit di sebahagian wilayahnya. Aku baru kurang lebih tiga tahun berdomisili di kampung ini, sebagai pekerja di sebuah perusahaan pengalengan ikan. Hanya sebagai pendatang yang rajin berinteraksi dengan penduduk di kampung tua ini.

Bapak tidak mudik ? tanya kepala kampung.
Tidak aba, banyak tugas yang mesti kuselesaikan pekan ini dan pekan depan.

Oh.. besok salat di masjid ini saja, jelasnya padaku.
InshaAllah aba, jawabku singkat sembari menyemai senyum pada semua orang yang duduk di beranda masjid setelah salat Isya berjamaah.

Ini tahun keberapa kamu berdomisili di kampung ini, tanya kepala kampung.
Tahun ketiga, tapi baru Idhul Adha ini aku lebaran di sini, jawabku singkat.

Oh.. semoga masih berlanjut dan kamu betah tinggal di sini, ujarnya sembari memberiku senyum.
Aamiin.. insha Allah, seruku.

Rupanya, di malam takbiran jelang lebaran kurban tahun ini, di beranda masjid tua di kampun tua ini akan diadakan rapat pemantapan prosesi lebaran kurban. Aku pun dipersilakan untuk ikut serta memberi sumbang saran, sebab perusahaan tempatku bekerja juga ikut hajatan kurban di kampung tua ini dengan tiga ekor sapi. Rapatnya singkat saja karena hanya pemantapan, memastikan semua panitia mengambil peran masing-masing dan semua kebutuhan kurban telah tersedia.

Usai rapat sekitar pukul 9.00, aku begegas pulang ke kediamanku di tepi kampung tua ini, letaknya di bibir bukit yang tentu bercuaca sejuk. Dingin malam membawaku tertidur bersama mimpi bersua dengan seorang lelaki tua berwajah bersih, penuh kasih dan cinta. Kalimat-kalimatnya bijak, satu di antara kalimat yang disampaikannya padaku kala aku menyalaminya “Dari tubuh Kau jauh, tapi dalam hatiku ada jendela menghadapMu. Lewat rahasia jendela itulah, seperti bulan, kukirim pesan kepada-Mu”. Setelah menyampaikan sepenggal kalimat indah itu, ia menuntun tanganku berjalan menyusuri jalan-jalan berliku di kampung tua itu. Dari pesisir pantai yang gerah menyusuri jalan-jalan kampung yang landai, kemudian mengikuti lekuk-lekuk bukit mendaki. Sebelum melepas tangan dan pergi menghilang, kakek itu berpesan untuk yang terakhir kalinya, belajarlah dari jalan-jalan ini, dan buatlah Jendela hatimu lapang untuk selalu memotret wajahNya, hanya dengan itu jalan-jalan keselamatan engkau akan raih.

Ah.. mimpiku indah sekali, alhamdulillah. Gumamku kala jelang subuh aku terbangun. Sebagai bentuk kesyukuranku padaNya, aku bergegas mengguyur air sejuk ke bagian-bagian tubuhku sebelum menghadapNya. Tak lama kemudian, kudengar lagi sayup-sayup suara takbir dan tahmid, dari masjid-masjid kampung, sebagai isyarat bahwa hari lebaran Idul Kurban telah di raya. Sebuah hari raya besar umat Islam ditandai oleh keluarga Nabi Ibrahim As, sebagai pengingat bila para pengikutnya mengikuti jalan-jalan yang disemai Ibrahim As, Ismail As, Siti Hajar As, dalam keteguhan Tauhid mengesakannNya, sebagai tanda keteguhan cinta yang tak terpermanai. Jalan-jalan inilah yang diabadikan dalam kitab-kitab sebagai jalan-jalan keselamatan yang mestinya setiap saat menggugah cinta kita padaNya, sebagai muara dari segala cinta, sebagai puncak dari segala cinta.

***

Setelah prosesi salat Idul Kurban usai ditunai, kami bergegas ke rumah kepala kampung sebagai pusat prosesi Idul Kurban selanjutnya. Silih berganti para tetua dan masyarakat berdatangan, aku berbarengan dengan kepala kampung yang akrab kusapa Aba, sebagaimana orang-orang kampung tua, karib menyapanya. Aba dari bahasa arab yang berarti bapak atau yang dituakan. Dari kepala kampung sendiri dan masyarakat, kutahu bila kepala kampung itu nenek moyangnya dari Yaman. Konon, kampung tua ini memang dibangun dan dikembangkan awal mula oleh para pendatang Arab, yang sesungguhnya hanya menjadikan pesisir wilayah ini sebagai tempat persinggahan sementara atau transit kala mereka berlayar dan melintas di sekitar pesisir kampung tua ini. Lalu kemudian ada di antara pelintas itu yang menemukan jodoh di sini. Jadilah kampung tua ini sebagai sebuah kampung yang awal penyebaran Islam dimulai.
Ayooo bapak ibu, silahkan masuk, seru istri kepala kampung, yang akrab disapa Ummi atau Ibu.

Terima kasih, Ummi, tukasku singkat.

Aku mengambil posisi duduk di pojok rumah menghadap ke pintu, dengan maksud agar mudah dapat memandangi sesiapa saja yang datang, sebab rumah ini cukup luas dan konon yang hadir di hajatan ini setiap tahunnya cukup banyak termasuk para tetua dari kampung-kampung sekitar.

Sementara para tetamu berdatangan dan sebagian lagi telah mengambil dan mencicipi penganan yang telah disiapkan oleh tuan rumah, kepala kampung mendekatiku dan duduk di sampingku. Dan menjelaskan tentang keadaan yang riuh di kediamnnya saban tahun perayan Idul Kurban diraya di kampung ini. Selalu riuh dan menjadi ajang silaturrahim yang cukup efektif.

Di kampung ini dulu bermukim seorang alim atau ulama atau guru spiritual, yang sangat masyhur di seantero gugusan pulau ini. Guru itu berumur hampir 100 tahun baru mangkat. Dialah salah satu perintis berdirinya kampung ini. sepak terjangnya menebar kebajikan, kasih sayang, dan cinta, tidak hanya diteguk oleh orang-orang di kampung ini, tetapi jauh melanglang melintasi bukit-bukit, padang ilalang, ngarai dan sepanjang alir sungai. Karamahnya masih kerap muncul ke permukaan, apatah lagi bila kampung ini sedang dilanda duka, maka dia akan datang dengan membawa berbagai tanda dan ekspresi. Jelas kepala kampung itu padaku di sela-sela keriuhan para tetamu.
Maaf Aba, boleh aku bercerita sedikit ?

Tentang apa itu ? tanya kepala kampung.

Tentang mimpi saya semalam, mungkim berkenaan dan ada hubungannya dengan sosok alim yang Aba ceritakan tadi.
Dengan wajah sedikit heran, keningnya mengernyit, dan seolah spontan ia melupakan tamunya yang ruah dan riuh, mempersilakanku bercerita.

Ayooo ceritalah, pintanya, dengan ekspresi yang sangat bersemangat dan serius.

“Tadi malam aku bermimpi bersua seorang lelaki tua berwajah bersih, penuh kasih dan cinta. Kalimat-kalimatnya bijak, satu di antara kalimat yang di sampaikannya padaku kala aku menyalaminya ‘Dari tubuh Kau jauh, tapi dalam hatiku ada jendela menghadapMu. Lewat rahasia jendela itulah, seperti bulan, kukirim pesan kepa-Mu’. Setelah menyampaikan sepenggal kalimat indah itu, ia menuntun tanganku berjalan menyusuri jalan-jalan berliku di kampung tua ini. Dari pesisir pantai yang menyusuri jalan-jalan kampung yang landai, kemudian mengikuti lekuk-lekuk bukit mendaki. Sebelum melepas tanganku dan pergi menghilang, kakek itu berpesan untuk yang terakhir kalinya, belajarlah dari jalan-jalan ini, dan buatlah Jendela hatimu lapang untuk selalu memotret wajahNya, hanya dengan itu jalan-jalan keselamatan engkau akan raih”.
Seperti itu mimpiku semalam, Aba.

Sepetinya belum usai ucapanku yang terakhir, kepala kampung itu refleks memelukku dengan wajah pucat dan bola mata berkaca-kaca, subhanallah, subhanallah, subhanallah, engkau sangat beruntung anak muda. Katanya dengan suara agak bergetar.
Dialah itu Sang Wali kampung tua ini, sangat jarang ia datang menandangi sesorang dalam mimpi, itu sebuah keberuntungan besar dalam hidupmu, ulasnya selanjutnya. Kalimat indah yang ia sampaikan padamu itu, adalah kalimat Maulana Rumi yang ia kagumi. Bincang kami sejenak terhenti oleh tamu-tamu yang datang yang mesti juga harus dapat perhatian dari pemilik rumah lapang ini.

Nanti kita berbincang lagi ya, aku mau melayani tamu dulu, sahutnya lembut dan pelan nyaris berbisik padaku.

Baik Aba, balasku cepat.

Dari tetamu yang duduk di sebelahku kutahu bila guru orang-orang di kampung tua yang kumimpikan itu bernama lengkap, Sayyid Muhammad Abdullah Al Idrus, karib disapa Habib Muhammad. Tamu-tamu itu bercerita berbagai hal tentang karamah yang dimilikinya. Satu di antaranya adalah, beliau jarang sekali ke kamar belakang. Kala ditanya perihal buang hajatnya, beliau hanya menjawab singkat, mengeluarkan sesuatu yang kotor dari tubuh tidak mesti melalui anus dan alat kelamin lainnya, bisa juga melalui pori-pori dan organ tubuh yang lainnya.

***

Di hari penyembelihan kurban di keesokan harinya, di halaman masjid Jami’ telah di riuhi warga kampung tua. Mulai dari panitia, tim penyembelih, dan sebagian warga yang telah terdaftar namanya sebagai penerima daging kurban. Mereka nampak sangat kompak dan saling membantu satu dengan yang lainnya.

Ada satu lagi yang unik di kampung tua ini, Pak Dudi, kata kepala kampung padaku.
Apa itu Aba’, tanyaku.

Biasanya di kampung ini, setelah pembagian kurban untuk warga yang berhak menerimanya, daging kurban seolah tak hendak habis sebelum pembagiannya merata ke seluruh warga di kampung ini termasuk kepada warga yang non muslim. Mereka juga menerima kenikmatan dan kebahagian di hari kurban itu. Mengenang dan memperingati kurban Ibrahim As, Ismail As, Siti Hajar As, secara substansial, yang meninggikan nilai keyakinan, solidaritas, dan konsistensi. Itulah sebabnya, salah satu perekat sesama warga yang paling ampuh di kampung tua ini salah satunya adalah momen Idul Kurban ini, jelas kepala kampung, padaku.

Oh.. luar biasa, kataku sembari manggut-manggut terkagum- kagum.

Sembari mengamati orang-orang bekerja, kepala kampung masih tersenyum-senyum menyaksi ekspresi kekagumanku.
Sesungghnya masih banyak keunikan di kampung ini yang diwariskan oleh, Habib Muhammad itu, kata kepala kampung kemudian, padaku.

Misalnya lagi, bila akan terjadi bencana di kampung ini, sebelumnya Sang Habib datang lewat mimpi ke beberapa warga memberi nasehat atau peringatan berkenaan dengan ulah kebanyakan warga kampung yang mulai merendahkan nilai budi pekerti, melakukan ketidak-adilan, melakukan penganiayaan kepada sesama dengan masif dan berlangsung lama, dan bila mereka tidak mengindahkan maka bencana akan datang tak terduga-duga. Tapi bila para tetua berhasil menafsir mimpi tersebut kemudian mensosialisasikannya kepada warga, dan warga melakukan perubahan seperti peringatan dan nasehat di dalam mimpi itu, maka biasanya kampung tua ini akan aman-aman saja. Jadi, interaksi secara spiritual kerap masih berlangsung dengan orang-orang merasa dekat dengannya.
Jangan-jangan bila kamu menetap di sini cukup lama, akan menjadi medium beliau juga dalam menyeberkan kebajikan dan pesan-pesan cinta kepada masyarakat. Walaupun sesungguhnya di kampung ini sudah ada majelis zikir yang dipimpin langsung keturunan beliau, jelasnya lagi padaku.

Mendengar pejelasan dan sugesti terakhir, bapak kepala kampung tua ini, aku hanya tersipu-sipu sembari membatin, ah.. tidak mungkin, aku kan pendatang saja yang tidak mengerti apa-apa secara spiritual kecuali cerita-cerita tentang karamah Habib itu dari kepala kampung dan beberapa tetua di kampung ini.
Yang memungkinkan untuk itu, ya.. keturunan Aba’ sebagai keturunan langsung Habib Muhammad, kataku sembari tersenyum.

Semua orang memungkinkan menjadi mediumnya, bila ia dikasihi, timpal kepala kampung.

***

Setelah tiga hari berturut-turut pemotongan sapi kurban di kampung tua yang dipimpin langsung oleh kepala kampungnya, betul adanya, sapi yang hanya berjumlah selusin dapat mencukupi dan mendistribusi seluruh kepala rumah tangga yang ada di kampung tua ini. tapi sesungguhnya, menurut kepala kampung, kampung tua ini, soalnya tidak terletak pada distirbusi daging yang merata pada semua warga an sich, tapi bagaimana kebahagian dan cinta semai kepada seluruh penduduk kampung tua ini, sebagaimana cinta dan konsistensi yang dititip oleh Nabi Ibrahim As dan keluarganya kepada seluruh penghuni semesta ini.

 

Makassar, September 2016.

The following two tabs change content below.

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).

Latest posts by Abdul Rasyid Idris (see all)