Geliat Gerakan Literasi di Butta Toa-Bantaeng

Senja mulai menyapa, ketika aku memasuki gerbang kabupaten Bantaeng. Betul kata orang-orang yang pernah melintas, atawa bertandang di kabupaten ini, bahwa sangat terasa perubahan suasana, apabila kita beralih dari kabupaten sebelumnya, dan memasuki kabupaten yang luasnya, paling kecil di Sulawesi Selatan ini. Susana bersih dan teduh, oleh julang pohon-pohon, yang mengitari jalan, menyambut para pejalan, baik yang akan bertamu maupun yang sekadar melintas.

Bersama istri dan anak bungsuku, aku tak langsung menemui sahabatku, yang telah menunggu kedatanganku, tapi langsung menuju Pantai Seruni, yang selama ini membuatku penasaran, sebagai destinasi wisata pantai dan kuliner, yang banyak dikunjungi orang dari berbagai daerah, baik perorangan dan keluarga, maupun studi banding yang dilakukan pemerintah kabupaten lain, dari berbagai daerah. Suasana ini telah terekspos di berbagai media, baik cetak maupun online.

Pantai seruni bagai disulap, setelah dua puluh tahunan baru aku mengunjungi kota mungil ini. Jejeran lapak para penjaja kuliner, seperti lazimnya destinasi wisata kuliner di kota lainnya, kemudian terdapat kafe-kafe, menjaja kuliner yang sedikit berbeda dengan yang lainnya, baik dari sisi penataan interior dan eksterior maupun kuliner yang dijajakan. Misalnya, kopi yang ditawarkan adalah kopi yang di-roasting sendiri, hingga pemakaian alat-alat meracik sudah memenuhi standar internasional. Pun, barista yang meraciknya telah berpengalaman di tempat lain, atawa paling tidak telah melalui beberapa kursus meracik kopi. Begitu pula penganan-penganan tradisional sebagai pendamping kopi yang disajikan.

Di ruang publik ini, tersedia berbagai fasilitas, mulai dari lapangan olah raga yang cukup representatif, untuk berbagi jenis olah raga, wisata kuliner, rumah ibadah, dan spot-spot tempat ngasoh meluruhkan penat dengan pemandangan laut dan sunset yang cukup bagus. Tapi, yang tak kalah pentingnya dari seluruh fasilitas tersebut, adalah kebersihan dan keteduhan ruang-ruang yang ada. Dari toilet umum hingga selokan-selokan sebagai sarana sanitasi, yang lazimnya di destinasi wisata lain umumnya bermasalah, tapi di kawasan Pantai Seruni ini sangat bersih.

***

Tak sengaja, setelah meluruhkan penat sejenak, dan ngobrol dengan teman pegiat literasi di kabupaten Bantaeng, beberapa saat, sosok pemimpin daerah yang sederhana dan berprestasi, Nurdin Abdullah, nampak dari kejauhan turun dari kendaraannya. Lazimnya pemimpin daerah beliau ditemani ajudannya, namun tak ada kesan protokoler yang ketat, apatah lagi dibuat-buat. Beberapa warga yang mungkin dari daerah lain langsung menyerbunya untuk berswafoto, dan beliau pun meladeninya dengan senang.

Usai kami melaku salat berjamaah di masjid di kawasan Pantai Seruni ini, pak Bupati nampaknya meluangkan waktu mengajak kami ngobrol, setelah tahu bahwa kunjungan kami ke Bantaeng dalam rangka mensupport gerakan literasi, yang telah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir ini secara swadaya. Dalam perbincangan singkat dengan beliau, teman-teman pegiat literasi di kabupaten Bantaeng, ditantang untuk menulis dan membuat buku tentang apa saja yang menarik di Bantaeng.

Kemudian, beliau menyarankan untuk tidak menuliskan tokoh, atau person yang kerap dilaku di beberapa tempat, oleh para pemimpin daerah atau “tokoh”, seolah berlomba-lomba mencari penulis atau sebaliknya, untuk diabadikan dalam buku. Walaupun kenyataannya hampir tidak ada prestasi atau reputasi yang cukup signifikan diabadikan.

***

Perihal gerakan literasi di kabupaten Bantaeng, berkelindang jauh melampaui batas-batas cakrawala sebab ia dilaku oleh para aktivis literasi yang tulus. Gerakannya tidak bombastis dan serimonial setelah itu raib entah ke mana.Tapi, sebuah gerakan literasi bersahaja, dari upaya-upaya kecil beberapa tahun lampau hingga kini, secara kontinyu dibangun dengan hati.

Teringat pesan moral yang pernah disampaikan, Bunda Teresa dari Kalkutta India, pada murid-muridnya bahwa, kerja-kerja membangun peradaban manusiawi mesti dengan kerja-kerja kecil dengan cinta yang besar. Sebab, bila tidak dengan cinta, tak mungkin kawan-kawan penggerak literasi di Bantaeng, menghadirkan 12 taman baca atau sejenisnya, yang menyebar di beberapa tempat dan dengan swadaya murni dari para pegiatnya. Dan rupanya tidak sebatas komunitas baca, tapi kawan-kawan di Bantaeng, telah melahirkan beberapa penulis, dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama.

Dalam dialog singkat dengan Bapak Bupati, beliau menyarankan untuk menjadikan Bantaeng sebagai kota atau kabupaten para penulis. Tapi, CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan, menyampaikan, bahwa kawan-kawan pegiat literasi Bantaeng, akan menjadikan Bantaeng sebagai kota atau kabupaten yang ramah penulis. Dan, beliau langsung menyambut baik gagasan tersebut. Dengan semboyan itu atau apapun namanya, kawan-kawan penggiat literasi kabupaten Bantaeng yang dimotori, oleh salah satu komunitas literasi, Boetta Ilmoe, telah bertekad menghadirkan penulis setiap bulannya, untuk berdiskusi berbagai hal, berkenaan dengan gerakan literasi.

***

Ada yang menarik dari para pendahulu kita yang kurang terwarisi ke generasi bangsa ini, berkenaan dengan gerakan literasi pada aspek menempatkan pembacaan dan penulisan teks sebagai alat pembebasan.Tersebutlah banyak tokoh yang mewariskan namun kurang mendapat apresiasi secara khusus, di antaranya, Bung Hatta, kala di penjara berujar, “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas”. Beliau juga di kenal sebagai sosok intelektual yang produktif menulis dan sangat mencintai buku.

Tentu sosok Tan Malaka, sebagai tokoh besar pergerakan Indonesia dalam Madilog-nya juga pernah berujar soal ini, “Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali.Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi”. Bung Karno pun demikian, tentu tidak terlahir dengan segudang pengetahuan luas akan kebangsaan, lengkap dengan jiwa pemimpin dan kemampuan berpidato yang berapi-api. Itu jelas mustahil tanpa hadirnya buku dan kegemaranya akan membaca dan menulis.

Pasti masih banyak tokoh-tokoh nasional progresif lain yang memiliki kegemaran membaca dan menulis. Dari tiga tokoh di atas, telah menyumbangkan buku yang sangat menginpirasi, di antaranya Madilog milik Tan Malaka, Di Bawah Bendera Revolusi karya Soekarno, Alam Pikiran Yunani oleh Hatta dan masih banyak lagi lainnya.

Lalu, bagaimana keadaan masyarakat Indonesia saat ini tentang kepedulian dan minatnya akan membaca buku dan menulis? Lembaga survei internasional yang bekerja sama dengan Kemendikbud memiliki data untuk menjawabnya. Penelitian yang dilakukan oleh Programme for International Student Assessment (PISA) pada 2012 menunjukkan, Indonesia menduduki peringkat 60 dengan skor 396 dari total 65 peserta negara untuk kategori membaca.

Hasil ukur membaca ini mencakup memahami, menggunakan, dan merefleksikan dalam bentuk tulisan. Skor rata-rata internasional yang ditetapkan oleh PISA sendiri adalah sebesar 500. Indonesia di bawah negeri tetangga Malaysia dengan posisi di peringkat 59 dengan skor 398.Sedang Singapura pada peringkat ke 3 dengan skor 542. (sumber, Blog Kementerian Pendidikan Nasional).

***

Bantaeng dahulu kala, dikenal sebagai sebuah daerah yang berperadaban tua, sehingga daerah ini juga dibilangkan sebagai Butta Toa atawa terjemahan bebasnnya, tanah tua, atau secara filosofis bermakna, negeri tua, dan berperadaban tua. Sebab, dari beberapa literatur yang secara umum menyebutkan. Bahkan, Prof. Nurudin Syahadat mengatakan bahwa Bantayan atawa Bantaeng, sudah ada sejak tahun 500an, juga tercatat dalam kitab Negara Kertagama. DR. Muhammad Yamin, mengatakan wilayah Bantaeng telah ada ketika kerajaan Singosari di bawah kekuasaan Raja Kartanegara pada tahun 1254.

Saya cuma ingin mengatakan, bila Bantaeng sebagai sebuah wilayah telah ada pada abad ke V masehi dan abad XII masehi, berarti otomatis Bantaeng telah pernah memiliki paradaban manusia yang memanusia, dengan kerjasama dalam berbagai hal dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara. Sungguh elok membincangkannya, bahwa bukti sejarah ini mestinya merefleksi masyarakat Bantaeng, khususnya generasi muda. Dari titik pijak itu, mungkin kawan-kawan dari pegiat literasi, mencoba menghadirkan kembali sebuah peradaban mulia nan bajik, melalui gerakan literasi yang akan mengabadikannya. Walluhu a’lam.

Kotamobagu, Mei 2017.

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *