Hikayat Pasar Butung

Bunyi peluit panjang terdengar memekakkan telinga, suara mesin kereta api terdengar nyaring. Para warga kota—yang kebanyakan dari mereka adalah pedagang—mulai memasuki peron dan menaiki kereta api. Beberapa di antara penumpang memakai setelan baju Tuan Tanah—warga setempat menyebutnya Tuan Petonro atau Tuan Petoro—ada pula yang memakai sarung, jas tutup, dan sebuah peci yang menyerupai peci bangsawan Bugis-Makassar.

Kira-kira begitulah gambaran imajinasi yang terlintas di kepalaku tatkala memerhatikan sebuah foto tua yang terdapat di dinding dan pelataran pasar, foto tersebut memamerkan sebuah rel kereta api dan wajah senja Pasar Butung.

***

Tak seperti biasa, kala siang menjelang sore itu, Pasar Butung bersolek menyambut para warga kota yang hendak berbelanja. Di setiap sudut pasar dijejali foto-foto tua dan spanduk bertuliskan “100 Tahun Pusat Grosir Pasar Butung, Passer Boetoeng Makassar. Anno 1917 – 2017”. Pun pelataran pasar berubah laksana museum, foto-foto berjejer menampilkan perjalanan sejarah Pasar Butung dari masa ke masa, juga tak ketinggalan suasana teduh nan nyaman Kota Makassar pada masa-masa awal abad ke-20. Iringan musik tanjidor yang mengalunkan lagu-lagu tempo doloe juga menambah suasana historis.

Mungkin hanya sebagian orang yang mengetahui—setidaknya tahun 1922 hingga tahun 1930—dahulu di Kota Makassar, tepatnya di Passer Boeteng saat itu beroperasi kereta api yang melayani rute Makassar – Takalar. Kini, baik stasiun dan rel kereta api itu sudah tidak ada.

Menurut catatan sejarah dan foto-foto sumber KITLV, menunjukkan bahwa Pasar Butung merupakan pasar tertua yang terdapat di Kota Makassar—pasar tertua yang kedua di Kota Makassar dikenal dengan nama Pasar Kalimbu’ yang berdiri sejak tahun 1920, nama Kalimbu’ diambil dari kata Makassar, Makalimbu’ yang berarti membungkus diri dengan kain, lantaran aktivitas perdagangan di pasar tersebut dilaksanakan pada dini hari, yang membuat para pedagang menyelimuti tubuhnya dengan sehelai kain atau selimut—Pasar Butung ini pertamakali dibangun dan diresmikan oleh Walikota Makassar berkebangsan Belanda bernama J.E. Dambrink pada tahun 1917. Nama yang disematkan pada saat itu ialah Passer Boetoeng, terletak di sekitaran Templestraat (Jalan Sulawesi sekarang), Passerstraat (Jalan Nusantara sekarang), dan Roembia Weg (Jalan Tentara Pelajar sekarang). Konon katanya, penamaan Boeteong untuk pasar ini dikarenakan daerah sekitar pasar tersebut dihuni oleh orang-orang Buton—yang keberadaannya sudah terekam sejak Perjanjian Bungaya tahun 1667 diteken Sultan Hasanuddin.

Saat itu, komoditas yang diperjualbelikan di Pasar Butung berupa sayur-mayur, buah-buahan, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Diperkirakan, komoditi yang dijual—terutama buah-buahan dan sayur-mayur—berasal dari daerah sekitar Makassar, termasuk dari daerah Takalar, mengingat saat itu terdapat jalur kereta api yang menghubungkan Makassar dan Takalar.

Pasar Butung selain menjadi urat nadi perekonomian masyarakat kota, juga menjadi saksi peristiwa penyerangan tentara Jepang terhadap kedudukan Belanda di Makassar. Salah satu foto yang terdapat di pelataran Pasar Butung memperlihatkan suatu bagian pasar yang terkena bom oleh tentara Jepang pada tahun 1942. Bagian pasar atau bangunan itu didirikan kembali oleh HM Patompo pada tahun 1960.

Ketika Malik B. Masri menjadi walikota Makassar, pasar ini direvitalisasi atau diremajakan. Bangunan asli Pasar Butung dirobohkan dan didirikan bangunan baru di lokasi yang sama. Pembangunan ulang pasar tersebut memakan waktu sejak tahun 1995 sampai 2002.

Kembali, kujejali mataku memerhatikan setiap pengunjung Pasar Butung, kebanyakan dari mereka adalah ibu-ibu rumah tangga, hanya sedikit pengunjung yang usianya sepantaran dengan saya atawa para remaja kota. Maklum saja Pasar Butung dewasa ini dikenal sebagai pusat grosir yang menjajakan komoditi rumah tangga seperti barang pecah belah, kain, pakaian, barang elektronik, kosmetik, dan lain sebagainya, yang tentunya bersaing dengan komoditas yang diperdagangkan di pusat perbelanjaan moderen di Kota Makassar.

“Singgahki Sambalu’!” sebuah seruan memanggilku, seorang ibu-ibu yang usianya sekira empat dasawarsa melambaikan tangan kepadaku, tersenyum dengan penuh keramahan dan menawarkan kemeja yang terbilang bagus. “Belliki’ Sambalu’ kemejanya, murahji.”

Lantas, saya menghampiri kios atau los tersebut, sesekali juga kualihkan pandanganku pada foto-foto tua yang terdapat di dinding pasar. Iringan musik tanjidor yang membawakan lagu-lagu tempo doloe membawa suasana nostalgia.

“Bisa pakai kartu kredit?” tanyaku pada ibu-ibu pedagang tersebut.

“Bisa dong Sambalu’….”

Di usianya yang tak muda lagi, Pasar Butung tetap eksis dan terus bersolek serta berinovasi di tengah kehadiran pasar-pasar moderen di Kota Makassar. Tidak hanya sebagai pusat perekonomian, kehadiran Pasar Butung selama seabad dapat dianggap sebagai salah satu monumen kolektif, saksi sejarah yang merekam ingatan perjalanan sejarah masyarakat dan Kota Makassar.

Ilyas Ibrahim Husain

Ilyas Ibrahim Husain adalah nama pena dari Adil Akbar. Lulusan S1 Pendidikan Sejarah UNM (2011-2016) dan S2 Pendidikan IPS-Konsentrasi Pendidikan Sejarah (2017-2019). Selain menulis, juga pengajar sejarah di SMAN 2 MAKASSAR, pun pernah mengajar di SMAN 1 GOWA dan SMAN 3 MAKASSAR

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *