Naiknya Harga Komoditas dan Cita Rasa Konsumsi

Hukum alam permintaan mengatakan: jika harga-harga barang meningkat maka permintaan pada barang tersebut (mestinya) menurun. Faktanya bagaimana?  Apa sebenarnya yang kita konsumsi? Benarkah kita adalah apa yang kita konsumsi?

Sebagian besar masyarakat, lebih menyukai kenyataan tiruan (simulasi) daripada kenyataan itu sendiri. Lebih gemar chat dengan orang jauh daripada teman di sampingnya. Lebih gemar memburu apa yang tiada dalam genggaman, daripada memaksimalkan apa yang telah dimiliki. Lebih menyukai yang artifisial daripada yang alami. Pada tingkat akut, seseorang sudah tidak bisa membedakan mana kenyataan mana manipulasi. Mana yang sebenar-benarnya benar, mana yang keliru atau menyimpang.

Kegemaran ini secara perlahan dan sitematis meringsek masuk dalam alam bawah sadar kita. Setelah melewati alam sadar (rasional) yang pas-pasan. Pas dibutuhkan kritis, pas tidak bisa kritis, pas dibutuhkan berpikir holistik, malah parsial, dan seterusnya.

Meski tidak semua hal harus dirasionalkan, tapi untuk mengenali kenyataan yang betul-betul nyata, kita amat membutuhkannya. Khususnya saat ini dan di sini. Di tengah absurditas menyerang kita dari berbagai sisi. Dari berbagai kelompok, bahkan berasal dari institusi yang marawat tradisi intelektual (kampus) justru semakin irasional.

Kampus kini semakin memprihatinkan, semakin berjarak dengan kenyataan. Bukan saja teori yang sudah hampir dimapankan seperti kitab suci, yang seolah naif mengkritiknya. Tradisi kritis konstruktif, debat, saling belajar, berkolaborasi sesekali berkompetisi kini benar-benar tergantikan dengan tradisi feodal. Kebiasaan “menghamba” pada atasan yang umumnya digerakkan oleh motif koin dan poin –sebentuk penghalusan dari menjilat. Kebiasaan ini diperparah dengan makin rumitnya dan disibukkannya para dosen dengan urusan-urusan administratif, yang pada akhirnya mengabaikan substansi akademik.

Tengoklah tugas akhir mahasiswa, lihatlah penelitian-penelitian dan jurnal-jurnal, serta  proyek-proyek pengabdian pada masyarakat, apa yang Anda temui? Pikiran kita barangkali senada, ‘ini hanya sekadar mengugurkan kewajiban”. Meskipun sebahagian kecil di antara karya-karya tersebut tetap perlu diapresiasi, oleh karena kontribusinya pada pengembangan pengetahuan teoretis dan praktis. Menurut hemat saya, praktik feodal adalah salah satu biang keladi perusak tradisi berpengetahuan di kampus. Dosen dan pejabat kampus merasa serba tahu, serba berkuasa, termasuk berkuasa mengontrol dan mengendalikan pikiran-pikiran “liar” mahasiswa. Atau pikiran-pikiran “aneh”  teman sejawat. Apa buktinya, tanyalah pada mahasiswa yang usil mendebati dosennya di kelas, apakah mereka aman dari “eksekusi di akhir semester” pada abjad A, B, C,D,E, K. Atau parameter benar ditentukan oleh “kesenioran” dan jabatan. Objektifitas dan kejujuran ilmiah merupakan hal langka. Distorsi rasionalitas benar-benar hampir terkikis punah dimakan para zombie feodal, pemuja determinisme, dan jamaah konservatif fundamentalis anti kritik.

Pada kuliah penutup makroekonomi kemarin (Selasa, 9 Juni) saya bereksperimen lagi. Kasusnya sederhana, pada bulan ramadan kita hanya makan dua kali sehari, di luar bulan ramadan, kita makan tiga sampai empat kali sehari, tapi mengapa bahan makanan harganya naik (mahal) dan msyarakat tetap membelinya?  Bahkan secara kumulatif kenaikan konsumsi masyarakat di bulan ramadan tahun lalu mencapai 20-30 persen (Akrindo, 2016). Kasus sederhana bisa dilacak lebih jauh pada bagaimana terbentuknya harga baru komoditas. Pemerintah ngapain saja, institusi pengontrol stabilitas komoditas seperti Bulog kerja apa saja? Komite persaingan usaha (KPPU) dipastikan selalu keteteran memantau persaingan usaha yang semakin kompleks? Balai pengawas makanan (BPOM) juga selalu menemukan bahan makanan yang tak layak konsumsi bagi manusia. Atau jangan-jangan diamnya pemerintah karena mereka dapat meraup keuntungan dari “shock” harga dan anomali konsumtifnya masyarakat. Atau mereka (pemerintah) juga adalah bagian dari rantai bisnis raksasa. Yaa boleh jadi emoh melihat praktik-praktik persekongkolan dagang (kartel).

KPPU memperkirakan kartel bawang putih di Indonesia bisa meraup untung Rp12 triliun pada tahun ini. Nilai itu dengan asumsi kartel bisa mengerek harga bawang putih di pasaran sampai Rp 40 ribu perkilogram. Ini baru satu komoditas sembako, gimana jadinya kalau 10 komoditas. Sandang (pakaian) juga tidak kalah menariknya untuk ditelisik. Sejatinya  ada penjelasan rasional dan emosional atas kenyataan ini.

Saya berkeyakinan bahwa kampus tidak selayaknya menjadi menara gading. Apalagi menara pasir, yang sekali dihantam ombak kecil, bhoom, hancur. Setidaknya kampus bisa menjadi semacam menara masjid. Di mana dikumandangkan ajakan-ajakan kebaikan dan perlawanan pada kebodohan dan keterbelakangan. Ajakan-ajakan amar ma’ruf dan nahi munkar pun sah-sah saja diadopsi kampus.

Hasil dari eksperimen di atas, yang diujicobakan pada 46 mahasiswa. Hasilnya hanya sekitar 3 dari 46 orang yang bisa melihat dan berargumentasi pola kenyataan dan menafsir ulang, mempertanyakan keandalan teori dalam menjelaskan fenomena. Bahkan lebih jauh, mencoba mengkolaborasi dengan bidang ilmu, selain ekonomi. Selebihnya terjebak pada hukum-hukum statis ekonomi pada “kitab-kitab-kitab tidak suci ekonomi”.  Persamaan, grafik, dan model, ternyata tidak cukup mampu menjelaskan fenomena konsumtifnya masyarakat yang menjungkirbalikkan hukum permintaan dan penawaran yang jumawa itu. Permintaan konsumen dipengaruhi oleh pendapatan (Keynes), tapi ia tidak baik menjelaskan ketika orang bertanya bagaimana kalau pendapatan terbatas. Ahli lainnya mengatakan pinjam, atau mengorbankan konsumsi sekarang untuk konsumsi esok. Semuanya masih pada ranah memenuhi kebutuhan.

Adalah Karl Marx yang juga bersepakat dengan David Ricardo tentang nilai guna dan nilai tukar atas suatu komoditas. Komoditas adalah segala hal yang ada di luar individu yang melalui kualitas yang dimilikinya bisa memuaskan individu (Capital: 125). Di sini berarti setiap benda yang dikonsumsi manusia memiliki kegunaan (use value) untuk memenuhi kebutuhannya dengan sendirinya menjadi komoditas.

Ketika suatu  komoditas bisa ditukarkan dengan komoditas lain yang juga memiliki nilai guna, saat itulah komoditas memiliki nilai tukar (exchange-value). Nilai guna ditentukan oleh kualitas, nilai tukar ditentukan oleh kuantitas. Nilai tukar suatu komoditas sama sekali tak ditentukan oleh nilai gunanya.

Nilai guna dan nilai tukar pun tak sempurna menjelaskan kasus di atas. Oleh karena itu, kita meminjam analisa Jean Baudrillard. Baginya, hasrat mengkonsumsi masyarakat bukan sekadar didorong nilai guna dan nilai tukar tetapi oleh nilai tanda/ simbolik (symbolic value) yang sifatnya abstrak dan terkonstruksi.

Pada nilai guna dan nilai tukar, komoditaslah yang menyesuaikan dengan kebutuhan kita. Tapi, dalam nilai tanda justru kita yang menyandarkan kedirian/keberadaan pada abstraksi barang yang kita konsumsi. Agar disebut sebagai orang kaya, maka barang-barang bermerk (branded) adalah pilihan utama. Jika pendapatan tidak cukup, bisa menggunakan mekanisme lain, pinjam.

Oleh karena itu, tidak usah gusar melihat cewek-cewek gemar berbelanja, dan mengoleksinya, meskipun barang tersebut belum tentu ia gunakan. Boleh jadi dia mereplikasi kehidupan artis yang glamor. Hal yang sama melanda ibu-ibu yang doyan mengoleksi alat masak, sekadar mensimulasikan diri sebagai chef. Yang sudah tentu digoda melalui media cetak offline dan online. Iklan adalah media penggoda dan stimulus yang soft namun mampu mensubversi pilihan-pilihan kita.

Hal ini disebabkan karena beberapa bagian dari tawaran iklan justru menafikan kebutuhan konsumen akan keunggulan produk, melainkan dengan menyerang rasa sombong tersembunyi dalam diri manusia, produk ditawarkan sebagai simbol prestise dan gaya hidup mewah yang menumbuhkan rasa bangga yang klise dalam diri pemakainya.

Dari sinilah terjadi percampuran antara kenyataan dengan simulasi dan menciptakan hiperrealitas di tengah masyarakat, di mana yang nyata dan tidak nyata menjadi tidak jelas. Media secara perlahan membuat masyarakat jauh dari kenyataan, kemudian masyarakat secara tidak sadar akan terpengaruh oleh simulasi dan tanda (simulacra) yang ada di tengah-tengah kehidupan mereka. Periode simulasi adalah ketika terdapat hal yang nyata dan tidak nyata. Hal yang nyata diperlihatkan melalui model konseptual yang menyerupai  mitos, yang tidak dapat dilihat kebenarannya dalam kenyataan. Segala sesuatu yang menarik perhatian masyarakat konsumen (seperti seni ataupun kebutuhan sekunder) ditayangkan media dalam bentuk dan model-model yang ideal.

Sepertinya, tausiah Marx dan Ricardo perlu diresapi kembali. Mengkonsumsilah karena barang itu kita butuhkan, memiliki nilau guna/manfaat dan nilai tukar yang lebih nyata. Mengkonsumsi karena sekadar melihat tanda, citra atau simbol (mewah, elegan, semangat, cool, glamor dan atribut abstrak lainnya), ibarat fatamorgana, seperti meminum air laut, semakin banyak diminum, dahaga tiada teratasi. Ramadan sejatinya mengingatkan kita pada kisah-kisah penuh hikmah keluarga nabi yang sederhana, bersyukur atas apa yang ada, bahkan tak jarang berbagi bahan makanan, meskipun mereka sendiri pas-pas.

Ramadan dan idul fitri niscaya disambut dengan suka cita. Bulan inilah distribusi pendapatan dapat dinikmati oleh sebanyak-banyaknya kaum miskin, yatim, dan kaum lemah lainnya. Suka cita bukan berarti hura-hura. Hura-hura dengan simnol-simbol kesalehan, hura-hura dengan pamer belas kasihan, dll. Hura-hura justru berpotensi medistorsi kemuliaan bulan ini. Hargailah ia dengan setinggi-tingginya harga, karena mekanisme harga benar-benar ditentukan oleh mekanisme pasar. Kita adalah para pelaku pasar. Kesalehan pada dasarnya bersifat individu. Jual-belilah dengan Tuhan dengan amal kebajikan, dan tegaknya amar ma’ruf nahi munkar. Semoga kita semua menjadi bagian didalamnya.

 


sumber gambar: kompas.com

Syamsu Alam

Ketua Masika ICMI Makassar, Dosen di Fakultas Ekonomi UNM, dan pegiat di Kelompok Studi Praxis FE UNM.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *