Buku, Perpustakaan dan Kampus yang Anti Buku

“Perpustakaan (kepustakawanan) dan ilmu pengetahuan adalah merupakan dua sisi yang tak bisa dipisahkan. Perpustakaan merupakan lembaga yang menyimpan dan melestarikan beragam ilmu pengetahuan, serta mentransmisikan ilmu pengetahuan dari generasi ke generasi”.

[Prof. Dr. Komaruddin Hidayat]

“Pemerintah tidak menganggap penting buku, tidak menganggap penting sastra, tidak menganggap penting rakyat gemar membaca. Seakan sengaja membiarkan rakyat tetap bodoh”.

[Kang Ajip Rosjidi]

 ***

Tak dapat disangkal, buku adalah personifikasi atau jelmaan dari seseorang dalam bentuk teks. Di sanalah rekaman-rekaman peristiwa, gagasan serta rasa dirawat. Itulah kenapa, buku seringkali disebut sebagai nyawa cadangan untuk memperpanjang umur sejarah bagi si penulisnya. Dengan begitu, maka menulis buku sejatinya adalah mendaftarkan diri pada sang waktu untuk hidup mengabadi.

Diibaratkan dengan rumah, buku barangkali adalah jendela dan perpustakaan adalah rumahnya. Di rumah itulah beragam jendela dunia dihamparkan. Setiap orang bebas untuk memilih ingin memandangi apa, melalui jendela itulah orang-orang bebas melihat. Karena itu keberadaan perpustakaan dan penghargaan terhadap buku amatlah penting. Keberadaan keduanya menjadi jantung peradaban. Tanpanya, peradaban akan kering bahkan mati. Sebagaimana fungsi jantung dalam tubuh, perpustakaan sangatlah menetukan sehat tidaknya masyarakat atau sistem pendidikan di perguruan tinggi. Apabila jantung tidak bekerja dengan baik maka bisa dipastikan akan terjadi kelumpuhan bahkan kematian. Kampus yang tidak memiliki atau tidak mengurusi perpustakaannya dengan baik sama halnya dengan tubuh yang tak memiliki jantung atau sakit jantung. Karena itu, tidak salah kalau disebut bahwa penyebab buruknya dunia pendidikan kita adalah karena tidak menjadikan perpustakaan sebagai jantungnya pendidikan.

“Perpustakaan adalah gudang ilmu dan membaca adalah kuncinya” kira-kira begitulah pepatah bijak bilang. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa rata-rata negara maju mengawali proyek peradabannya dengan terlebih dahulu membangun budaya baca dan tulis dari masyarakatnya. Sehingga tidaklah mengherankan ketika peradaban mereka jauh melampaui peradaban bangsa kita. Barangkali, sudah menjadi hukum besi sejarah atau sunnatullah kehidupan bahwa siapa yang mencintai dan menguasai pengetahuan  maka ia akan menjadi penguasa, dan saya kira hal ini sejalan dengan slogan yang didengungkan Francis Bacon bahwa Knowledge is Power, pengetahuan adalah kekuasaan.

Wajah sebuah bangsa dapat dilihat dari wajah perpustakaannya. Begitupun dengan tingkat peradabannya, dapat diukur dari kesadaran literasi  para warganya. Sejarah peradaban besar tidak lepas dari keberadaan buku dan perpustakaan. Dan itu fakta. Kenyataan ini semakin menegaskan pentingnya buku dan perpustakaan. Tengoklah mereka, para tokoh, pemimpin dan intelektual di sepanjang sejarah peradaban umat manusia, dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi selalu mengakrabkan diri dengan tradisi literasi. Mereka adalah penulis, dan pembaca buku yang baik. Thomas Jefferson, presiden Amerika Serikat Ke-3 karena saking cintanya terhadap buku sampai pernah berkata “Saya tidak dapat hidup tanpa buku”, dan itu diaminkan oleh Thomas Bartholin seorang cendekia dari Denmark yang juga berucap “Tanpa buku Tuhan akan diam, keadilan akan terbenam, sains akan macet, sastra akan bisu, dan seluruhnya akan dirundung kegelapan”. Pernyataan itu menjadi afirmasi betapa pentingnya buku dan perpustakaan. Ingat, Peradaban modern berkembang dan maju seperti saat ini, itu karena penghargaan dan kecintaan mereka terhadap buku. Bangsa Arab pasca turunnya ayat pertama Iqra atau bacalah, juga akhirnya berkembang dan maju dengan sangat luar biasa.

Azyumardi Azra pernah mengatakan  bahwa peradaban Islam adalah peradaban buku-buku; jalan hidup muslim dipandu oleh buku, dan kita menemukan nilai hidup kita hanya dalam buku-buku. Tuhan kita juga termanifestasi dalam buku, dan identitas kita juga terbentuk oleh buku-buku. Jadi, bagaimana mungkin ada orang di antara kita yang merusak buku dan melarang orang membaca buku?

Nah, mari kita bandingkan dengan situasi bangsa kita saat ini terutama kampus kita UNM. Kurang lebih sudah tujuh puluh satu tahun bangsa ini merdeka dan berdaulat dari kolonialisme dan lima puluh lima tahun usia UNM, namun rasa-rasanya belum ada satupun prestasi yang dapat kita banggakan. Malah secara kualitatif dan kuantitatif semakin hari makin stagnan bahkan cenderung menurun atau mundur. Sebagai kritik, barangkali ada baiknya kita semua kembali merenungi, apa yang pernah dikatakan oleh Taufik Ismail “Malu aku menjadi orang indonesia”. Bangsa ini kian hari kian “Tampak tua dan lelah” kata Ebiet G. Ade.

Tanggungjawab perpustakaan bukan sekadar menyediakan buku atau ruang baca, tetapi juga mesti bekerja membangun mental, pemikiran dan budaya dari generasi yang sebelumnya asing terhadap buku menjadi generasi pencinta buku. Bergiat mengajak, mengampanyekan pentingnya kesadaran literasi utamanya minat baca. Misalnya, mengadakan kelas menulis, seminar atau dialog tentang literasi, bedah atau diskusi buku, lomba meresensi buku, menulis esai, puisi, cerpen dll. Dari situlah perpustakaan melakukan transfer pengetahuan, pengalaman dan nilai dalam hal kesadaran literasi. Untuk melakukan itu tentu hal pertama yang disiapkan adalah komitmen yang serius dari seluruh sivitas akademik seperti pimpinan kampus, pustakawan, dosen dan mahasiswa. Unsur-unsur itu mesti memiliki paradigma yang sama tentang pentingnya perpustakaan dalam pendidikan. Terutama bagi pustakawannya. Jangan menganggap profesi pustakawan sekadar sebagai pegawai atau karyawan yang berharap gaji semata. Tetapi yang paling penting, mereka harus memiliki idealisme, kecintaan terhadap buku dan ilmu pengetahuan. Tidak cukup hanya dengan keterampilan teknis dalam mengelola perpustakaan tetapi juga adanya panggilan jiwa untuk menekuninya. Sehingga apa yang dilakukannya adalah sebagai bentuk  pengabdian untuk kemajuan kampus dan bangsa.

Selain pustakawan, hal berikutnya adalah koleksi pustaka. Kampus utamanya pustakawan mesti mengecek dan terus mengevaluasi ketersediaan bahan bacaan atau pustaka. Bukan hanya ketersediaannya tetapi juga bergizi tidaknya koleksi pustakanya. Hal itu mengharuskan para pustakawan untuk banyak bekerjasama dan proaktif merekomendasi pimpinan kampus agar mengembangkan kebijakan pengadaan koleksi pustaka secara bersama yang berbasis kebutuhan dan kepentingan komunitas kampus.

Terakhir, walaupun perpustakaan bukanlah segalanya dalam hidup kita, tetapi segalanya dapat kita mulai dari perpustakaan. Akan jadi apa bangsa dan dunia nanti-nya, itu bergantung pada kebiasaan dan bacaan generasinya saat ini. Ketika penghargaannya terhadap buku dan perpustakaan baik maka baik pulalah bangsa dan dunia ini di masa depan. Sebaliknya, bila penghargaannya buruk maka percayalah bahwa akan buruk pula nantinya. Mari bermenung sejenak.

M. Yunasri Ridhoh

Lebih akrab disapa Ari'. Ngamen di MAN Insan Cendekia Gowa, Golden Gate School Makassar (SMA) dan Bintaro Learning Center. Menyukai hal-hal tidak berguna; ngopi, baca, nonton, bertualang dan sesekali nulis.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *