Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Di Tepi Kota

Jalan-jalan yang kulintas masih menghembuskan semilir angin menyentuh kulitku di tepi sebuah kota kecil yang masih dirimbuni pepohonan kelapa dan hamparan sawah. Disesaki rumbai padi menghijau yang mulai ranum. Aroma suasana kampung masih terasa dari tanah basah mengitarinya. Kendaraan yang dikemudi kawanku melaju seakan menyapa keramahan sebuah entitas bersahaja.

Tak jauh dari sebuah masjid tua aku mampir sejenak di sebuah kedai kecil menyelasaikan sarapan pagi yang belum kutunai. Menyesap kopi Mongondow ditemani tinutuan (bubur Manado) menjadi sarapan yang nikmat. Seorang ibu setengah baya yang tak kutanya namanya, dengan ramah mempersilahkan menyarap penganan dan kopi yang diraciknya sendiri. Sembari mengucap terimakasih aku mulai membuka perbincangan dengannya dan bertanya tentang masjid tua yang ada di seberang jalan.

Menurut ibu dan suaminya yang lahir dan bertumbuh kembang di kampung tepi kota kecil itu, masjid tersebut telah dibangun sebelum mereka lahir sekitar tahun enam puluhan. Lalu kemudian mereka tahu setelah nonton di televisi beberapa tahun terakhir ini bila pengurus jamaah masjid tersebut dibilangkan jama’ah Ahmadiyah.Tapi, suami istri dan sebagian warga kampung itus ejak dulu hingga kini tetap menunai sholat berjamaah saban subuh dan magrib di masjid yang diberi nama Almunawwarah itu.

Kami tidak pernah mau ambil pusing dengan berbagai info dan cerita yang berkembang di luar sana. Baik melalui siaran televise maupun bisik-bisik para pendatang yang menyesatkan dan bahkan menvonis jama’ah Ahmadiyah sebagai golongan yang bukan islam. Mereka adalah saudara kami rumpun dan kerabat kami. Ikatan kekerabat kami lebih jauh mengikat kami sebagai keluarga daripada ikatan-iktan lainnya termasuk ikatan agama. Karena kampung kami walaupun letaknya di tepi kota tapi kami sudah selesai dengan isu-isu perbedaan yang memang sudah ada sejak nabi masih hidup.

Sebagai perantau dan pejalan yang telah mengelilingi lebih dari tiga perempat negeriku ini, tentu sangat bangga dan terharu mendapati sebuah kampung di tepi kota yang warganya bersahaja namun sangat faham dan setia dengan keragaman khas Indonesia. Tinimbang beberapa kota dan kampung yang sudah mulai terkontaminasi dengan paham beragama dengan kebenaran tunggal yang sedang mewabah sejak satu dasawarsa terakhir. Menimbulkan keriuhan untuk tidak mengatakan kekacauan di masyarakat.

Kelompok beragama yang sangat mudah menuduh orang lain selain diri dan kelompoknya salah, menyimpang, sesat, dan bahkan kafir bila laku beragama orang lain tidak sejalan dengan tafsir tunggal yang mereka pahami dengan laku-laku keras yang nyaris tak dicontohkan Nabi dan Rasul yang dimuliakannya dan dipanutinya, katanya. Bukankah dalam semua alur sejarah yang kita baca sejak fase Makkiah (Makka) hingga Madaniah (Madina) Nabiullah Muhammad SAW tak hentinya menebar cinta dan kasih kepada segenap mahluk di semesta ini. Perang dilakukan kala terpaksa. Dalam perang pun sekelopak daun dan tangkainya tak boleh digugurkan hingga menyentuh tanah bila tak dibutuhkan untuk kepentingan kemanusiaan.

Bila demikan alur sejarah yang ada, kenapa di negeri ini terlampau mudah sebuah kelompok menjustifikasi kelompok lain sesat dan bahkan kafir dengan laku kekerasan menyertainya. Bila hanya berbeda mulai dari perbedaan furu’iyah hingga yang subtansial kenapa tidak dimediasi dengan dialog yang setara secara berkesinambungan dan penuh kesabaran. Bila ada yang dianggap menyimpang kenapa tidak dilakukan pembinaan secara intensif dengan sabar tanpa harus mendahulukan kekerasan untuk menghentikannya. Apatahlagi negeri ini bukan negeri yang dibangun dengan prinsip sebuah agama dan apalagi mazhab. Negeri ini dibangun di atas landasan keberagaman yang lazim dibilangkan kebhinekaan. Tanpa keikutsertaan beragam agama dan kultur,negeri ini mustahil lahir, dan itulah yang ditakdirkan Tuhan. Sebab, bila dipaksakan hanya sebuah agama dan mazhab yang bias eksis di negeri ini maka itu pertanda kita adalah pelaku-pelaku yang a-historis.

Tengoklah sejarah perdebatan para founding fathers sebelum dan di awal negeri ini diproklamirkan. Perdebatan lintas ideologi dan agama yang sangat seru dan menderu tapi tak ditemukan caci maki dan sumpah serapah, apatah lagi fitnah dan saling mengkafirkan no way di antara mereka. Selain perdebatan dan kritikan tajam antara Sokarno, Hatta, Dan Syahrir yang sangat dinamis. Lihatlah pula perbedaan pandang bahkan ideologi dan keyakinan antara Muhammad Natsir dengan Kasimo. Bila di ruang-ruang pertemuan mereka bersitegang beradu argumentasi dengan duras iwaktu yang lama. Tapi tahukah anda, bila suatu waktu Pak Kasimo kekurangan uang untuk menebus sebuah rumah yang telah dibayarnya separuh, yang menambahkan uangnya adalah, Pak Natsir. Padahal pertentanngan mereka sangat bersisian secara diametral. Tapi di ruang-ruang pribadi mereka saling mengasihi sebagai sosok manusia saling meninggikan derajat. Semua diorientasikan mengawal negeri ini untuk lebih baik.

Di kekinian negeri kita mungkin sedang mengalami masa transisi yang tidak jelas arahnya. Sejak masa reformasi ada dua hal yang berlari kencang nyaris tak dapat dikendalikan arahnya. Ruang-ruang politik dan ruang-ruang beragama. Ruang demokrasi yang mewadahi politik sepertinya tak berlabuh pada substansi yang hendak di tuju, untuk kesejahteraan rakyat, mengapresiasi dengan baik kebanyakan rakyat sebagai pemilik suara, sebagai suara rakyat adalah suara Tuhan.

Kemenangan demokrasi masih hanya menari-nari di ruang-ruang elit partai politik dan konco-konconya. Kehidupan beragama kita juga mengalami keriuhan yang buncah tatkala kelompok-kelompok intoleran semakin terbuka dengan semena-mena menghardik orang-orang atau kelompok yang dianggapnya tak sepaham dengannya. Semakin terbuka memproklamirkan pendirian negara khilafah dan mengenyahkan NKRI dan Panca Sila-nya. Pertontonkan laku banal mengatas namakan agama di ruang-ruang terbuka.

Karenanya, laku beragama dan berbudaya di kampung tepi kota kecil di Sulawesi Utara itu perlu mendapat apresiasi dan menyebarkan semangatnya ke seluruh penjuru negeri ini. Sebab, hanya dengan jalan itu negeri ini akan merengkuh kembali kedamaian, kenyamanan, dan keindahan dalam beragama dan berdemokrasi.

 

Sumber gambar: Wisatadimalang.com

 

 

 

 

 

The following two tabs change content below.

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).

Latest posts by Abdul Rasyid Idris (see all)