Menyemai Kebaikan

Siang itu, cuaca di kota Makassar sedang tak panas seperti biasanya mungkin karena peralihan musim dari musim kemarau ke musim penghujan. Karena gagal mendapatkan tiket untuk nonton sebuah film besutan anak-anak Makassar, yang baru saja serentak tayang di beberapa bioskop, seantero negeri ini, dan penontonnya membludak, khususnya bioskop-bioskop yang ada di kota makassar. Aku dan istri terpaksa nongkrong di sebuah food court di pojok atas sebuah mall.

Sedang asyik ngobrol dengan isteri sembari menunggu minuman dan penganan yang kami pesan, dua orang perempuan muda bersama seorang balita mengambil tempat di sebelah kursi dan meja kami. Keduanya Nampak akrab walau pakaian yang dikenakan kelihatan cukup mencolok perberbedaannya. Satunya mengenakan jilbab dengan bahan sangat sedehana, sedang yang satunya lagi mengenakan celana panjang berbahan katun dan kemeja berbahan satting mengkilap.

Keduanya ngobrol santai dan akrab sembari sesekali membetulkan letak, Sang Balita di keretanya. Ibu muda pemilik balita berkeliling kebeberapa stand di area food court setelah sebelumnya menyepakati pesanan mereka. Sedang perempuan muda sederhana berjibab itu menemani Sang Balita dan sesekali mengajak ngobrol dengan bahasa isyarat dan bahasa balita tentunya yang mungkin hanya mereka berdua yang paham.

Setelah semua penganan dan minuman usai ia pesan dan bayar, ibu muda itu kembali ke tempat duduknya. Tak lama berselang pesanan kopi dan roti bakarku telah terhidang. Sembari menyesap kopi yang masih ngepul kukuping pula cengkrama dua perempuan muda di samping kursiku itu. Dari perbincangan mereka kutahu bila kedua perempuan muda yang akrab itu adalah antara majikan dan pembantu.

“Kamu makan duluan, kita gantian saja biar aku dulu yang jaga”, seru Sang Majikan pada pembantunya yang akrab bagai karibnya.   Sembari menemani anaknya obrolan keduanya tetap berlangsung. Menyaksikan dua perempuan muda yang secara strata sosial jauh berselisih namun kekaribannya sangat cair dan baik. Hatiku sesak dipenuhi haru biru, teringat sebuah kisah dalam hadis qudsi, kala seorang perempuan papa yang ditinggal suami. Suatu hari anaknya masih kecil merintih meminta makan tapi di rumahnya tak sedikit pun makanan yang bisa diberikan.

Keluarlah sang ibu meminta tolong pada seorang saudagar muslim tapi tak ditolongnya dengan berbagai alasan, kemudian perempuan itu dengan panik berpindah meminta tolong pada seorang lelaki Majuzi. Tak terlalu banyak pertanyaan lelaki muda beragama Majuzi itu, membawanya ke rumahnya dan memberikan segala kebutuhan yang diminta perempuan janda nan papa tersebut. Beberapa hari kemudian, lelaki muslim yang menolak membantu perempuan miskin itu dengan berbagai alasan, mendatangi Nabi dan menyatakan kecintaannya pada Nabi, namun Nabi menolaknya juga dengan berbagai alasan. Kemudian syafaat yang akan kuberikan padamu kuberikan pada seorang lelaki Majuzi yang menolong seorang perempuan miskin yang engkau tolak menolongnya. Dalam kisah tersebut, diketahui bila, Sang Ppemuda Majuzi akhirnya menjadi pencinta Nabi.

Perempuan muda nan cantik bersama pembantunya, memperlakukannya dengan setara, sebagai kawan dengan sangat karib, memuliakannya kendati di hadapan balitanya sendiri. Laku ini sudah sangat langka di kekinian pada masyarakat yang sangat individualistik, dikungkung keserakahan yang akut, sikap loba dan sombong yang mewabah. Materi adalah segalanya, semua dipertaruhkan untuk meraihnya, termasuk menyikut dan mencederai yang lainnya untuk menggenggamnya. Namun perempuan muda ini mempertontonkan sebuah realitas yang mulai asing di zamannya.

Aku terenyuh mendengar dialog-dialog sederhana dan sangat bersahabat. Nampak tak ada jarak di antara mereka, antara majikan dan pembantu. Yang tidak sempat kukuping adalah status agama sang majikan itu. Tapi, kata Gus Ddur bila kita melakukan kebajikan kepada siapa pun, orang-orang tidak akan bertanya apa agamamu. Jadi,lakukanlah kebajikan tanpa embel-embel di mana pun dan kapan pun.

Laku bajik perempuan muda ini sangat menginspirasi untuk di semai ke banyak warga negeri ini. Sebab, dunia teknologi informasi yang sedang meriuhi kita nampaknya secara perlahan mengikis karakter bajik kita secara masif. Kita terlalu gampang melecehkan, menuduh, menghardik, merendahkan seseorang atawa kelompok tanpa sedikit pun klarifikasi atawa tabayyun.

Laku bajik hanya tersisa pada buku-buku yang menceritakan ke kita tentang kehebatan orang-orang terdahulu, seperti Mahatma Gandhi berjuang untuk kemerdekaan bangsa dan negerinya tanpa kekerasan dan sangat mengasihi kaum papa. BundaTeresa, yang menghabiskan waktunya melayani warga kusta nan papa di pinggiran Kalkutta, India. Jelang mangkatnya Rosulullah SAW, kala jelang malaikat Izrail mencabut nyawanya, salah satu pesan yang beliau bisikkkan pada Sayyidina Ali Karamallahu Wajha, “pelihara salatmu dan santuni orang-orang tak mampu”. Jelang kematiannya pun, Nabi yang mulia ini masih mengingat kaum papa untuk disantuni dengan kemuliaan akhlak. Nah…bagaimana para pengikutnya yang katanya mencintainya dan taat pada sunnahnya? Wallahua’lam.

 

Sumber gambar: https://i1.wp.com/kolom.abatasa.co.id/gambar/kolom-menanam-kebajikan-791_l.jpg

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *