Pernikahan Profetik

Nabi adalah manusia biasa yang tercelup cahaya dan ia kekal di dalamnya. Wujud nabi adalah perkawinan antara manusia biasa dengan cahaya yang melahirkan segenap pancaran kebenaran, kebaikan dan keindahan. Pengetahuan yang benar dan akhlak mulia adalah hasil perkawinan itu. Langit dan bumi menyatu-tubuh melahirkan nabi demi menjelmakan kebahagiaan dan kemaslahatan sebagaimana titah langit. Nabi lahir dari perkawinan langit dan bumi untuk menyinari kehidupan agar gerak-gerik bumi penuh dengan rembesan cahaya langit. Tanpa keperkasaan dan kasih sayang langit,  bumi akan terlunta-lunta kehilangan arah, makna dan cinta.

Langit menyetubuhi bumi, cahaya mentari menyentuh tanah, menerpa bibit hingga menjelma jadi tumbuhan. Biji yang sebelumnya tidur beralas bumi, dibangunkan oleh usikan sinar mentari, seiring waktu terjaga hingga menghasilkan biji kembali. Bumi yang sebelumnya mati mendapat kiriman hujan dari langit, menjadikan bumi hidup dan siap menghidupkan manusia, tumbuhan, hewan dan segenap makhluk di punggungnya. Betapa indahnya perkawinan langit dengan bumi menciptakan hidup yang menghidupkan.

Sebagai hasil perkawinan antara langit dengan bumi, para nabi mempersembahkan dirinya untuk menghidupkan kehidupan. Para nabi memancarkan kejujuran dan kesempurnaan langit agar hidup di bumi menjadi harmonis dalam rangka meniti kembali jejak-jejak cahaya asalnya. Para nabi membaluri setiap napas kehidupan dengan cahaya langit  agar kehidupan kembali dengan utuh dan selamat ke sumbernya. Para nabi memberi contoh bagaimana semestinya melakoni hidup agar lakon-lakon tersebut setiap detailnya menyelamatkan sesama untuk bersama-sama kembali ke asal kehidupan. Pernikahan langit dengan bumi melahirkan keselamatan untuk semua.

Pernikahan langit dengan bumi tidak bermotifkan bahwa langit mencintai bumi atau sebaliknya. Akan tetapi mereka membumikan cinta cahaya ke dalam diri masing-masing, yang dengan kehadiran cinta itu memungkinkan keduanya menyatu. Mereka bukan pemilik cinta, akan tetapi kehadiran cinta cahaya dalam diri mereka yang tarik-menarik untuk menyatu, yang menyebabkan keduanya terikut menyatu pula guna melahirkan kebajikan dan kebijakan. Hanya cinta dengan cinta yang merindu dan menyatu. Bumi dengan langit disatukan oleh kekuatan cinta yang tidak berasal dari keduanya yang melahirkan kehidupan, melainkan cinta berasal dan dimiliki oleh Yang Maha Cinta.

Pernikahan langit dengan bumi juga tidak berdampak pada langit memiliki bumi atau bumi memiliki langit. Pernikahan keduanya bukan untuk saling memiliki, tapi untuk menciptakan keharmonisan dalam melahirkan kehidupan dengan berpegang pada kemerdekaan masing-masing dan tetap mengembalikan kepemilikan pada Yang Mahamemiliki. Bumi tetaplah bumi. Langit tetaplah langit. Tidak saling memiliki. Namun keduanya sama-sama merdeka melahirkan kehidupan di hadapan Yang Maha Memiliki.

Pernikahan profetik adalah pernikahan langit dengan bumi, pernikahan dua insan untuk meneruskan dan menyebarkan generasi cahaya di bumi. Generasi cahaya berupa kejujuran, ketulusan, keikhlasan, kebaikan, kesopanan dan segenap kemuliaan lainnya yang berbungkuskan sosok alim berakhlak mulia. Sosok yang dikenal dan mengenal Tuhannya. Sosok yang bermodalkan mengenal Tuhannya untuk mengenal selain-Nya. Sosok yang senantiasa memancarkan cahaya kearifan-kearifan langit agar kehidupan bumi menjadi terang indah berseri.

Selayaknya, pernikahan adalah berpadunya dua insan sebagai sahabat untuk meniti jalan ilahi. Bagi keduanya, pernikahan adalah sarana mengeja cahaya langit untuk disusuri guna kembali ke haribaan Yang Mahacahaya. Pernikahan telah menjelma jadi alat efektif untuk merapat dan taat kepada Tuhan, untuk kembali pada-Nya sekaligus memancarkan keagungan dan cinta-Nya di bumi. Suami-istri adalah dua sahabat sejati yang bersama mengeja cahaya ilahi, sebagai bentuk safar panjang kehambaan untuk kembali kepada Dia Yang Mahacinta.

Sebagaimana pernikahan langit dengan bumi, pernikahan profetik dua insan jauh dari sentuhan cinta profan individualistik. Jauh dari sentuhan cinta sempit yang dijerat oleh keegoan. Pernikahan profetik tidak beroperasi dengan kekuatan cinta profan penuh keegoan, akan tetapi bekerja dengan rembesan Cinta-Nya ke dalam diri masing-masing. Rembesan Cinta-Nya inilah yang merasuk ke dalam jiwa masing-masing dan Cinta-Nya ini saling merindukan, yang mengakibatkan keduanya bersatu. Mereka menyatu karena kekuatan magnetik yang dahsyat dari Cinta-Nya, bukan karena tarik-menarik cinta sempit berbalut keegoan masing-masing. Bukan sekedar cinta karena Allah, akan tetapi lebih dari itu, tarik-menarik dahsyat Cinta-Nya Allah-lah yang menyatukan mereka. Pernikahan ini tidak memiliki cinta pada diri masing-masing, akan tetapi dimiliki oleh Cinta-Nya.

Sebagaimana pernikahan langit dengan bumi tidak saling memiliki, demikian juga dengan pernikahan profetik. Suami tidak memiliki istri dan istri pun tidak memiliki suami. Akan tetapi keduanya milik Tuhan. Relasi suami-istri adalah relasi yang merdeka, tidak saling memiliki, untuk bersama-sama melahirkan kehidupan langit di bumi. Interaksi mereka bukan pada kesepakatan untuk tunduk pada individu satu ke yang lainnya, sehingga mempersempit gerak masing-masing, akan tetapi untuk sama-sama tunduk pada titah kepemilikan-Nya. Istri tetaplah istri, suami tetaplah suami. Rembesan kepamikikan-Nya lah yang menyatukan mereka. Relasi dan lakon suami-istri telah menjadi sarana pengejawantahan kepemilikan-Nya.

Pernikahan profetik telah menjelma jadi samudera kasih sayang dan cinta-Nya, untuk diarungi bersama sebagai sahabat, menuju dermaga-Nya nan indah. Pernikahan ini telah berwujud menjadi sajadah panjang untuk menyempurnakan kehambaan di setiap saat dan tempat. Pasangan suami istri saling menjaga dan saling mengingatkan bukan untuk taat pada satu pribadi ke pribadi lainnya, akan tetapi untuk sama-sama lebur taat pada-Nya. Tidak saling membatasi, namun melebur pada kemerdekaan-Nya. Pernikahan profetik telah menyeret segala sesuatu yang berkaitan dengannya kearah peleburan kepada Yang Mahacinta, Maha Pengasih dan Penyayang. Suami-istri adalah dua sahabat sejati menuju ilahi.

Illustrasi: http://static.republika.co.id/uploads/images/headline_slide/ilustrasi-_120417094450-624.

Herman Pabau

Penulis lepas, penyuka tasawuf, filsafat dan sastra, menetap di Makassar.

Artikel yang Direkomendasikan

3 Komentar

    1. AllahuAkbarr

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *