Anak-anak setahu saya sangat mendambakan sekolah. Masih di usia balita saja ada yang sudah mendesak untuk diikutkan sekolah. Ia ingin seperti teman-temannya yang lebih besar, setiap pagi berangkat ke sekolah. Ramai-ramai berjalan kaki, pulang pun tetap riang, ceria berlarian sambil tertawa-tawa.

Jika pun belum sampai umurnya, ia sudah cukup puas dengan berlagak seolah-olah bersekolah. Minta dibelikan tas ransel kecil, tempat bekal air minum dan kue-kue. Lalu merengek minta diantar ke sekolah kendati hanya berputar-putar dibonceng motor sekitar kompleks rumah. Sesekali ia meniru suara guru menjelaskan dengan mengajak anak-anak kecil seusianya untuk jadi murid, bermain sekolah-sekolahan. Lagi-lagi pengalaman itu ia dapatkan dari hasil peniruannya di suatu ketika.

Orang dewasa yang melihat gelagat anak yang sangat  ingin bersekolah akhirnya dengan antusias mencoba mengantarkan anaknya masuk Taman Kanak-kanak (TK). Walaupun usianya baru menginjak empat tahun. Meski itu berarti pula si anak akan lebih lama duduk di TK. Tak ada yang bisa memastikan apakah ia akan betah ataukah sebaliknya, bosan dengan  kegiatan yang monoton setiap hari. Bernyanyi, mewarnai, dan bermain.

Anak kami pernah berada di antara siswa yang bosan bersekolah di level ini. Akhirnya masa TK hanya ia tempuh setahun saja. Awalnya ia sama dengan anak-anak pada umumnya. Belum cukup umur untuk masuk, tetapi sudah mendesak agar dimasukkan bersekolah. Untuk mengobati hasratnya yang besar, kami mengalihkannya ke Taman Pendidikan Qur’an (TPA). Pada setiap sore saya meluangkan waktu untuk mengantarnya ke sekolah sore. Tetapi itu pun tidak lama. Karena jaraknya yang jauh menyulitkan saya untuk setiap hari mengantarnya pergi-pulang berjalan kaki.

Pada hakikatnya anak-anak di mana pun senang sekolah, senang belajar. Yang mengubahnya tidak lagi menyenangi sekolah adalah suasana ataupun lingkungan belajarnya. Cara guru-gurunya mengajar, suasana kelas yang terlalu ramai, atau teman-teman yang merundungnya. Walau bagaimana peliknya masalah anak, perasaan mereka acap kali terabaikan oleh guru atau orangtua di rumah. Dianggapnya masalah-masalah tersebut hanyalah rintangan-rintangan kecil yang wajar dihadapi anak jika ingin menjadi orang sukses.

Masalah menjadi sesuatu yang wajar dihadapi sendiri oleh anak tanpa bantuan orang dewasa jika masih dalam batas-batas bermain. Dalam artian tidak menyakiti hati, tidak menyakiti badan, terlebih lagi tidak membahayakan nyawa. Karena betapa banyak kasus yang terjadi akhir-akhir ini, anak-anak yang menjadi korban perundungan teman-temannya. Apabila orangtua atau guru tidak waspada dan peduli bisa-bisa keselamatan anak menjadi taruhannya.

Seperti kasus yang baru-baru ini terjadi, seorang siswa SD yang harus menjemput maut di tangan teman-teman sekolahnya sendiri. Usia anak-anak yang masih sangat muda, 8 tahunan, tetapi sudah memiliki kekuatan mematikan teman seusianya. Benar-benar di luar batas penerimaan akal sehat manusia.

Berdasarkan pengetahuan saya tentang anak-anak, sesungguhnya mereka dikaruniai jiwa yang bersih, tulus, dan penuh kasih. Sekali lagi lingkunganlah yang mendidiknya atau menjadikannya anak-anak yang memiliki karakter sebaliknya. Faktor lainnya, anak-anak tersebut mungkin saja tidak menyangka bahwa perbuatan mereka bisa berakibat fatal, yang mengakibatkan nyawa temannya melayang. Pendampingan dan pengawasan orangtua sangat dibutuhkan sebagai antisipasi terhadap kasus-kasus serupa.

Pihak yang seharusnya disalahkan bukanlah anak-anak, melainkan orangtua para pelaku ini beserta guru-guru sebagai pihak sekolah. Orangtua semestinya  yang paling mengenal kepribadian anaknya. Sebagai contoh, anak pendiam perlu ditangani dengan cara khusus yang berbeda jika berbicara atau berhadapan dengan anak yang cerewet. Sehingga isyarat nonverbal yang mengindikasikan adanya masalah pada diri anak seharusnya bisa segera diketahui oleh orangtua.

Seorang anak yang memendam masalah di sekolah akan tampak kurang bersemangat, lebih banyak diam, enggan bangun pagi untuk ke sekolah, dan sebagainya. Tentunya banyak kejadian kecil yang mendahului peristiwa besar saat si anak akhirnya meninggal di tangan teman-temannya. Orangtua seharusnya mewaspadai semua penanda ini.

Namun seperti itulah gambaran kehidupan kita kini, karena kesibukan bekerja dan urusan-urusan lainnya, membuat banyak orangtu tidak lagi memiliki cukup waktu untuk duduk berbicara saling berhadapan dengan anak-anak mereka. Pertemuan itu sudah banyak tergantikan dengan cukup memonitor lewat aplikasi-aplikasi canggih yang ada di gawai masing-masing. Lambat-laun anak-anak dipaksa beradaptasi dengan kondisi seperti ini. Tanpa kita sadari ada sisi-sisi kemanusiaan yang tergerus secara perlahan-lahan di sana.

Sekali waktu bolehlah kita bertanya kepada mereka, seberapa besar sayang kami padamu?

 

 

 

 

Mauliah Mulkin

Pegiat literasi dan parenting di Paradigma Institute. Telah menulis buku "Dari Rumah untuk Dunia" (2013) dan "Metamorfosis Ibu" (2018).

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *