Tifatul Sembiring Sedang Diuji dengan Do’a

Dikisahkan suatu hari seorang sufi sedang berjalan bergegas pulang menuju rumahnya. Saat mendekati rumahnya, tiba-tiba ia meyaksikan asap tebal mengepul di udara dari kejauhan. Asap tebal tanda bahwa sedang terjadi kebakaran. Tak lama kemudian sang sufi berpapasan dengan seseorang yang tinggal dekat rumahnya. Tanpa basa-basi orang itu langsung menjelaskan bahwa kebakaran itu persis terjadi di wilayah mereka tinggal. Sang sufi bertanya, “apakah rumahku terbakar?” “Semua rumah terbakar kecuali rumah anda,” jawab si tetangga itu. Dan akhirnya sang Sufi pun mengucapkan “alhamdulillah” sebagai ungkapan syukur kepada Sang Khalik.

Setelah mereka berdua berpisah, sang sufi mulai memikirkan ucapannya. Dia bertanya di dalam dirinya, “mengapa saya harus mengucapkan Alhamdulillah?” Bukankah itu pertanda bahwa sebenarnya saya bersyukur karena satu-satunya rumah yang tidak terbakar adalah rumahku, sementara pada saat yang sama juga bermakna bahwa saya rela rumah orang lain terbakar? Akhirnya sang sufi menyesali ungkapan “alhamdulillah” sehingga harus mengucapkan “astaghfirullah”. Dia harus bertobat dari ucapan syukurnya.

Apa yang diucapkan Pak Tifatul Sembiring tidak salah sebab Pak Presiden faktanya memiliki badan seperti yang diucapkan di dalam do’a Pak Tifatul Sembiring. Begitu pula dalam kisah sufi sebelumnya, sufi itu tidak salah saat mengucapkan “alhamdulillah” sebab memang demikian faktanya. Namun selayaknya Pak Tifatul Sembiring sebagaimana kisah sufi itu bisa memikirkan aspek lain, apakah dengan berdoa seperti itu layak diucapkan di saat memanjatkan do’a kepada Ilahi dan di hadapan seluruh bangsa Indonesia?

Saya bahkan hampir tidak percaya mengapa sampai do’a seperti itu dilantunkan? Apakah bisa disebut do’a sebab ketika do’a itu dipanjatkan hanya membuat kita tertawa atau tercengang keheranan mengapa bunyi do’anya seperti itu?

Do’a adalah bentuk ekspresi rintihan seorang hamba kepada Ilahi. Kita tak pernah bergurau dan guyon saat kita berdo’a kepada Ilahi. Justru kita khusyuk saat memanjatkan do’a, bahkan kita tak ingin diganggu oleh orang lain saat berdoa. Kita butuh keheningan dan ketentraman agar apa yang ada di dalam hati benar-benar bisa terpanjatkan dengan baik dan indah.

Mengapa mesti ada penekanan “gemuk” dan “ kurus” dalam do’a? Jika benar-benar ingin mendoakan kesehatan seseorang di depan umum dan terbuka, bukankah cukup dengan mengucapkan “semoga Allah swt memberikan kesehatan?” Penekanan kata tertentu dalam kalimat pasti memiliki tujuan tertentu. Tak mungkin ada penekanan kata atau kalimat tertentu tanpa ada tujuan sama sekali.

Lalu mengapa harus ada penekanan kalimat “gemukkanlah badan beliau Ya Allah yang kini terlihat semakin kurus?” Namun seperti apapun yang terbetik dalam hati Pak Tifatul Sembiring hanya Allah swt. yang tahu, kita sama sekali tak berhak menebaknya. Tapi yang pasti, do’a yang dipanjatkan dengan penekanan kata “gemuk” dan “kurus” membuat orang yang mendengar pada waktu itu tertawa seketika, atau sebaliknya, membuat orang keheranan dengan ekspresi wajah yang cemberut dan tak habis pikir mengapa bisa do’a seperti itu dilantunkan di depan umum dan terbuka.

Namun hidup dan kehidupan adalah sandiwara. Bahkan dalam berdo’a pun kita bisa bersandiwara. Bahkan lebih dari itu, kita bisa menertawakan siapa saja dalam berdo’a. Hanya saja kita akan dianggap sebagai orang yang tak tahu adab dan tatakrama. Tak kenal budaya dan sopan santun. Sebab kita hanya mampu menertawakan kemanusiaan kita sendiri.

Saya akan menutup tulisan ini dengan menukil do’a dari seorang filosof eksistensialisme muslim Ali Syariati. Berikut do’a Ali Syariati:

Ya Allah . . .

Buat Ulama kami, berikanlah tanggungjawab,

Buat Mukminin kami, berikanlah pencerahan,

Buat Para Pemikir Islam kami, berikanlah keimanan,

Buat Kaum Mustadhafin kami, berikanlah pemahaman,

Buat Kaum Perempuan kami, berikanlah kesadaran,

Buat Kaum Lelaki kami, berikanlah kemuliaan,

Buat Orang Tua kami, berikanlah makrifat,

Buat Kaum Muda kami, berikanlah prinsip,

Buat Para Pengajar kami, berikanlah keyakinan,

Buat Para Mahasiswa kami, juga berikanlah keyakinan,

Buat Mereka yang Tertindas, berikanlah kebangkitan,

Buat Mereka yang Sadar, berikanlah iradah dan keinginan,

Buat Para Muballigh kami, berikanlah hakikat,

Buat Orang-orang yang beragama, berikanlah makna agama,

Buat Para Penulis kami, berikanlah kejujuran,

Buat Para Seniman kami, berikanlah rasa dalam menyelami derita,

Buat Para Penyair kami, berikanlah kedalaman,

Buat Para Peneliti Kami, berikanlah tujuan,

Buat Para Pengangguran kami, berikanlah gerak,

Buat Orang Buta, berikanlah penglihatan,

Buat Mereka yang hatinya mati, berikanlah kehidupan,

Buat Mereka yang Diam, berikanlah teriak,

Buat Kaum Muslimin, berikanlah Quran,

Buat Mereka yang Hasud, berikanlah penawar,

Buat Orang-Orang Angkuh, berikanlah insaf,

Buat Para Penghina, berikanlah adab,

Buat Para Mujahid, berikanlah kesabaran,

Buat Masyarakat Kami, berikanlah kesadaran atas diri mereka.

 


sumber gambar: blogkhususdoa.com

Muhammad Nur Jabir

Muhammad Nur Jabir, lahir di Makassar, 21 April 1975 Pendidikan terakhir: S2 ICAS - PARAMADINA. Jabatan saat ini: Direktur Rumi Institute Jakarta. Telah menulis buku berjudul, Wahdah Al-Wujud Ibn 'Arabi dan Filsafat Wujud Mulla Shadra.

Artikel yang Direkomendasikan

1 Komentar

  1. Subhanallah… tersadar saya, terima kasih pencerahannya ustadz

Tinggalkan Balasan ke Hendra Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *