Sepenggal Napak Tilas

Saya senang membaca buku-buku lama yang memuat banyak gagasan cemerlang tentang pendidikan, baik dalam lingkup keluarga maupun dalam lingkup yang lebih luas. Meskipun tentu saja tidak semua pemikiran mereka cocok untuk saya terapkan di dunia yang sekarang. Sebelum berjumpa dengan penulis-pemikir hebat  tersebut, tidak jarang saya harus (terpaksa) membaca buku-buku yang sebaliknya. Sempat tersesat dengan metode-metode yang disodorkan. Tetapi bersyukur saya berhasil segera mengubah arah ke posisi yang benar.

Hingga hari ini saya justru menyandarkan sebagian besar metode pendidikan saya pada tokoh-tokoh ini. Seperti Dr. Thomas Gordon, seorang psikolog berlisensi serta pendiri dan presiden Effectiveness Training Incorporated dari Amerika. Ada teori sekaligus praktik yang diajarkan olehnya. Bahkan dilengkapi pula dengan acara khusus di televisi swasta awal 90-an kala itu. Saya rutin mengikuti programnya. Saat itu bertepatan dengan usia anak pertama kami, kurang lebih tiga tahun.

Seperti  Shinichi Suzuki yang menganjurkan mengasah bakat anak sejak usia sangat dini, misal bakat bermusik dan bahasa, ada pula Glenn Doman yang bahkan di usia bayi yang masih beberapa bulan sudah bisa diajar membaca. Saya pernah mempraktikkannya pada anak pertama saat usianya masih 7 bulan. Semua pemikiran tokoh di atas telah melalui praktik dan uji coba dalam waktu yang lama.

Perjalanan saya masuk-keluar toko buku memelototi satu per satu buku-buku pendidikan anak dan keluarga alhamdulillah membuahkan hasil. Teori-teori tersebut saya baca berkali-kali, tak lupa saya terapkan langsung begitu menyadari materinya sangat bermanfaat dan membantu menuntun  kami dalam mengawal kehidupan-kehidupan baru yang diamanahkan Tuhan. Terkadang salah mengambil sikap,  bahkan salah memperlakukan anak. Namun pantang menyerah, jika salah, coba lagi jalan lain.

Pemahaman awal yang masih gado-gado bisa saja menjadi pembenaran atas sikap-sikap kami yang keliru. Namun akhirnya saya berhasil menyimpulkan, belajar haruslah cepat. Kalahkan masalah-masalah yang timbul tanpa henti. Lambat sedikit saja, kita akan kewalahan dan terseret. Kecepatan saya mempelajari seni berkomunikasi, bagaimana mengendalikan perilaku anak yang menyimpang, pada akhirnya berhasil melahirkan sikap-sikap yang mapan. Hasilnya pun sampai saat ini cukup memuaskan. Anak-anak tumbuh dalam naungan komunikasi positif walaupun masih tetap perlu ditambal di sana-sini.

Bisa saya nyatakan dalam satu adagium, “Belajar banyak dan giat saja masih banyak salahnya, apatah lagi jika tidak belajar.” Dalam pahaman saya, menjadi pendidik itu perlu terus-menerus belajar. Di samping pengetahuan yang harus dikuasai sangat luas cakupannya, metode mendidik juga terus-menerus mengalami banyak perubahan dan perkembangan. Meskipun bisa jadi metode yang lama kembali diterapkan karena dianggap terbukti membuahkan hasil.

Kontroversi dalam meyakini suatu pandangan ataupun teori tak luput mewarnai perjalanan seseorang dalam menemukan kebenaran akan sesuatu. Boleh jadi apa yang saya anggap benar, tidak berlaku bagi sekelompok orang lainnya. Silakan saja, masing-masing orang bebas memilih dan memutuskan cara atau metode yang ingin ia gunakan. Bagi saya ukuran keberhasilan itu perlu ditilik dari dua aspek, jangka pendek dan jangka panjang.

Mungkin saja ada sebuah metode mendidik yang secara jangka pendek tampak efektif, namun buruk untuk jangka panjangnya. Begitupun sebaliknya, tampak tak membuahkan hasil secara jangka pendek, namun secara jangka panjang akar pengaruhnya kuat menghunjam ke dalam tanah. Hanya penelitian intensif yang bisa membuktikan yang manakah teori yang lebih efektif.

Bagi kita orang awam sederhana saja tolok ukurnya, seberapa terbantukah kehidupan kita dengan menggunakan metode tertentu dalam mengarungi hidup sehari-hari. Tentu saja pondasi metode tersebut mesti dipahami pula dengan tepat. Misalnya, apakah baik dan sehat menakut-nakuti anak? Saya yakin dari mana pun kita memandangnya, tak kan ada yang setuju jika menakut-nakuti anak itu tindakan yang tepat. Dampak positif jangka pendeknya, anak akan mudah menurut atau mengikuti keinginan orang dewasa di saat-saat yang diperlukan. Tetapi dampak negatif jangka panjangnya, anak serba ragu-ragu dalam bertindak, tidak memiliki kepercayaan diri yang kuat, tidak berani mengambil keputusan. Dan akibat paling parahnya, anak jadi serba tergantung pada pendampingan orangtua.

Jika sudah seperti itu pola pengambilan keputusannya, maka setiap orang hendaknya tidak berpangku tangan menyaksikan generasinya bertumbuh. Berharap mendapatkan hasil yang terbaik tetapi kurang bahkan tidak mengambil peran aktif di dalamnya. Tahap demi tahap pertumbuhan perlu dicermati dan diperhatikan sepenuhnya, agar hasilnya maksimal. Ibarat tanaman yang harus disemai di lahan yang subur, seperti itulah anak-anak dibesarkan dalam lingkungan yang nyaman dan mendukung potensinya. Jika tanaman perlu asupan pupuk dan obat-obatan, anak-anak pun perlu “disuntik” dengan berbagai bentuk dukungan baik psikis maupun emosional. Apabila tanaman terdeteksi terganggu oleh rumput-rumput liar, maka rumput-rumput tersebut harus segera disingkirkan. Seperti itu pula potensi gangguan yang mungkin saja muncul di tengah proses tumbuh-kembang anak-anak.

Jangan pernah melepaskan pengawasan dan pendampingan pada mereka hingga saatnya tiba. Apabila semua tahapan sudah kita lakukan dengan optimal, di kemudian hari tidak akan timbul penyesalan.

Mauliah Mulkin

Pegiat literasi dan parenting di Paradigma Institute. Telah menulis buku "Dari Rumah untuk Dunia" (2013) dan "Metamorfosis Ibu" (2018).

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *