Diskusi di Kedai Kopi

Duduk di sebuah pojok warung kopi sembari menunggu kawan yang akan datang hendak membincangkan rencana usaha kecil-kecilan yang akan kami rintis. Walau beberapa kali telah dimulai namun nampaknya hoki belum memihak ke kami.

Sembari menikmati kopi “Daeng Sija” kesukaanku, asyik pula menikmati diskusi kecil namun sedikit serius di samping meja tempatku duduk. Sekelompok pemuda mendiskusikan gerakan demonstrasi yang pekan lalu mereka gelar di depan kampusnya.

Dari diskusi itu kutahu bila mereka adalah aktivis di sebuah organisasi ekstra kampus yang dahulu ketika mahasiswa juga tempatku berkegiatan cukup lama. Yang menarik perhatianku dari diskusi mereka, sepanjang diskusi yang gegar adalah rasa bangga telah menutup jalan, membakar ban di tengah jalan, sempat menciderai beberapa orang yang mencoba membatasi gerak mereka dalam demonstrasi itu.

Walau sepuluh menit awal diskusi masih pada tataran strategi dan substansi gerakan (tema) yang diusung. Aku merasa iba dengan rasa bangga itu. Tapi segera kuenyahkan rasa dan pikirku dan segera bergumam bahwa barangkali setiap zaman punya ceritanya sendiri-sendiri. Sebab menurutku membanggakan sesuatu yang “merusak” fasilitas umum dan menciderai orang lain yang tak berhubungan langsung dengan yang kita ingin tuju adalah sebuah kenaifan yang konyol.

Kemudian masih di pojok warung kopi itu khayalku terbang jauh seolah menikmati kopi di kedai “Kiva Han” kedai kopi pertama yang dibuka secara umum di kota konstantinopel-Turki pada tahun 1475, jauh sebelum “espresso bar” di Italia yang kemudian diadopsi oleh sekolompok penikmat kopi di Seattle-Amerika serikat, menjadi “Starbuck coffe” lalu merambah dunia bersama beberapa brand lainnya seperti “coffe bean”, “coffee exelso, dll. Porsi membicarakan rencana bisnis menjadi sedikit ketika bersua kawan yang kutunggu itu.

Justru yang kami asyik diskusikan adalah fenomena demonstrasi mahasiswa ala Makassar yang juga lekat dengan “aroma” anarkis dan brutal, yang kami sebagai perantau kerap ditanyai dan tak mampu menjawabnya. Kemudian fenomena warkop (warung kopi) yang merambah di kotaku ini (Makassar).

Yang menarik adalah daya saing warkop lokal, menurutku cukup handal di tengah menjamurnya kafe yang menjaja kopi dengan brand internasional. Mereka tetap bisa eksis. Tak seperti produk-produk lokal lainnya yang habis digilas oleh produk import. Bila pengambil kebijakan, sedikit serius mencoba belajar dari ketangguhan para pedagang informal ini (warkop), mungkin belajar dari situ mereka bisa menyusun sebuah kebijakan dengan mengadopsi strategi mereka untuk membackup produk-produk lokal yang terpuruk oleh gempuran produk import.

Warkop di kotaku, menjamur dalam kurun waktu 5 tahun terakhir walaupun sesungguhnya untuk beberapa kedai kopi yang hingga kini masih mashur telah ada sejak berpuluh tahun lalu. Sebutlah misalnya kedai atawa warung kopi, Phoenam yang dulunya berlokasi di kampung Pecinan, kedai kopi, Dottoro dan Daeng Sija di bilangan jalan Tinumbu, dan beberapa kedai kopi yang bertebaran di seantero kota Makassar yang tak memasang merek atawa brand seperti Phoenam dan Daeng Sija.

Penyebarannya sangat massif dari mall-mall yang dipenuhi warung kopi yang berlabel internasional hingga di pojok-pojok kota yang warung kopinya berlabel sangat lokal. Namun ada yang menarik dari merebaknya warung kopi ini, justru warung kopi yang dulunya sangat lokal kota Makassar, kini telah merambah ke beberapa daerah dan kota, pun, di kota Makassar sendiri di berbagai tempat telah terdapat kedai dengan label yang sama.

Kedai kopi Phoenam misalnya, bila dulu hanya kita temui di kawasan kampung Pecinan Makassar, kini, dapat pula ditemui di bilangan jalan Boulevard Makassar, di kompleks perumahan BTP (Bumi Tamalanrea Permai), merambah hingga ke ibukota negara, Jakarta di jalan Wahid Hasyim yang selalu riuh tak pernah sepi pengunjung. Juga saat ini telah bisa juga ditemui di kota Manado di kompleks pertokoan Sarina. Begitu pula Warkop Daeng Sija penyebarannya di kota Makassar lebih pesat lagi, sudah merambah mall hingga di pojok-pojok kota, bahkan di beberapa ibu kota kabupaten di Sulawesi selatan hingga di ujung paling timur di ibu kota kabupaten Luwu Timur, Malili.

Kemudian yang menarik pula adalah, kehadiran warkop-warkop yang telah merambah jauh dan telah menjadi branded, pun memengaruhi entrepreneur lokal untuk mendirikan warkop yang sama dengan label yang lebih lokal lagi. Dari pengamatanku, banyak warkop yang akhirnya didirikan karena warkop-warkop branded itu tak dapat lagi menampung penikmat kopi yang ada di daerah tersebut, juga telah berkembang, dan dari sisi pengunjung tak kalah dari warkop-warkop yang menginspirasinya.

Fenomena pertumbunhan warkop di Makassar dan sekitarnya telah menjadi mode, tidak saja oleh para penikmat kopi tapi juga perempuan dan keluarga. Semua hal di bicarakan di tempat ini, mulai dari diskusi batu akik hingga urusan politik tingkat tinggi dan urusan negara yang yang super memusingkan. Namun bila di warkop ini, semua hal mulai dari yang enteng hingga yang super berat didialogkan dengan sangat ringannya, penuh canda, penuh tawa, dan senda gurau.

Di tengah asyiknya diskusi dengan kawanku, sebuah SMS (Short Message Service) menanyai keberadaanku, “Posisi di mana, Kak?”, langsung kubalas di Coffeeholic-Sija, tunggu aku di situ, balasnya. Beberapa saat kemudian kawan yang mengirim sms tadi datang dengan 3 teman lainnya. Diskusi pun berkembang ke fenomena demam batu akik dan peluang bisnisnya hingga pertemuan kami usai. Tempat ini tak pernah sepi oleh pengunjung dengan berbagai topik diskusi yang menyertainya.

Beberapa tahun terakhir pertemuanku dengan kawan-kawan hampir semuanya berlangsung di warung kopi. Aku membayangkan kedai kopi pertama yang dibuka secara umum, Kiva Han di kota Konstantinopel Turki, dan berangan ingin mengunjungi kedai kopi bersejarah itu suatu saat kelak, sembari berpesan pada pemimpin dunia dan elit politik bahwa, mungkin perlu sesekali membicarakan kedamaian dan kenyamanan dunia, ala kedai kopi. Mungkinkah ?

 

Makassar, desember 2013.

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *