Catatan kecil ini kutulis terinspirasi ketika aku siuman dari “tidur” lelapku selama empat jam seusai operasi. Sebelumnya ada keraguan. Ada kekhawatiran dan ketakutan menghadapi kematian. walau sebelumnya telah kubaca beberapa literatur tentang kematian yang nikmat namun tetap saja gelisah itu menderaku.

Segar rasa dan ragaku ketika tersadar dari “kematian” sejenak dari hiruk pikuk pikiran dan sendagurau dunia. Aku bersyukur sembari merenung bahwa mungkin seperti itulah kematian yang akan menjemput kita diminta atau tak. Sebab kematian adalah sebuah keniscayaan. Hampir tak ada perdebatan soal keniscayaan dari kematian termasuk para filsuf, pemikir, dan masyarakat Barat yang berpaham atheisme pun, atau paham yang mengingkari keberadaan Tuhan.

Keluarga besar manusia telah beranak-pinak di bumi dalam kurun waktu yang sangat panjang berjuta tahun lampau hingga kini. Dan peristiwa kematian adalah prosesi yang tak hentinya berlangsung dalam berbagai modus operandinya. Kata para Nabi dan para bijak, daur atau fase kehidupan kita bersiklus pada tiga fase yakni, lahir, menikah, dan mati, dan ketiganya menjadi “misteri”. Dalam perspektif agama ketiganya adalah rahasia Tuhan. Tak seorang pun di antara manusia mengetahui secara pasti dan absolut kapan di antara ketiganya itu berlangsung kepadanya.

Di bulan-bulan ini beberapa karibku dan orang orang-orang yang aku kenal, mangkat atau berpulang ke asalnya semula (mati). Ada yang sempat kulayat kekediaman keabadiannya, ada yang hanya kudoakan dan kukirimi al-Fatihah di kejauhan sebab secara ruang dan waktu tak mungkin kukunjungi secara pisik. Ditilik dari sisi usia ada yang kakak, adik, dan seangkatan. Tinggallah aku dan kita menunggu kepastian itu kapan tibanya.

Setiap informasi kematian yang sampai ke kita terasa getarnya. Apakah itu sebagai penanda sekaligus pengingat bahwa kita dengan pasti akan menyusulnya entah kapan. Siap atau tidak siap pasti terjadi sebab kematian itu paling dekat. Paling pasti, yang menghadang dengan setia dan sabar di hari depan. Tinggallah mempersiapkan segala sesuatunya dalam menjemputnya. Oleh bapak M. Quraish Shihab, dengan indah mengajak kita menjemput kematian dengan nikmat tanpa harus pesimis sebab bukankah kematian itu mengantar kita “kembali” kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang dan Maha Pengampun. Maka, sebelum kematian menjemput kita tebarlah kasih. Sayangilah sesama di semua ruang dan waktu, tulisnya.

Bahwa kematian adalah tonggak estafet setelah kehidupan kita di planet bumi ini, dan seberapa baik kehidupan kita kelak tergantung seberapa indah jejak-jejak yang kita torehkan. Walau terkait kehidupan setelah kehidupan di bumi menjadi “perdebatan” yang belum berkesudahan hingga kini. Tapi mayoritas orang-orang yang mempercayai akan adanya Tuhan juga yakin bahwa kehidupan setelah kehidupan di dunia akan berlanjut. Makanya Imam Al Gazali meyakini bahwa kehidupan itu kekal. Iya hanya berpindah alam hingga menuju ke kehidupan yang abadi.

Bila demikian, seyogiyanya setiap kita senantiasa menyiapkan diri untuk berpulang. Berpulang ke keabadian. Berpulang dan berpindah ke kehidupan selanjutnya. Ibaratnya sebuah perjalanan di lorong waktu tak ada waktu berjalan mundur kembali ke waktu-waktu lampau yang telah kita tapaki. Yang ada hanyalah menoleh untuk merefleksi jejak-jejak yang telah kita toreh. Mencermati langkah-langkah yang terukir pada lempung sisi buruk kemanusiaan kita. Mewarnainya dengan sisi-sisi keindahan ruhaniah yang dihadiahkan Tuhan pada setiap manusia.

Dalam setiap jejak, ada waktu kita tercebur dalam ruang bernoda hitam pekat baik tak disengaja maupun disegaja dengan berbagai modusnya. Maka dalam setiap waktu yang disadari ruang-ruang ini mesti dipoles kembali dengan keindahan-keindahan yang melekat pada kefitrian yang lekat pada setiap diri manusia.

Dalam perspektif lain, Ali Syariati melukiskan dengan sangat indah, bahwa setiap manusia akan diuji di tungku dunia melalui pergulatan antara ruh dan lempung sebagai dua unsur penciptaan manusia. Apakah kita hendak bersenda-gurau dan berleha-leha bersama lempung yang mengantar kita pada kehidupan bendawi dan berujung pada tinja. Ataukah kita memilih menepi dan menyepi memeluk keindahan ruh yang secara meteril kurang “menjanjikan”.

Mempersiapkan kematian ibarat pelayaran yang panjang. Segala sesuatunya mestilah disiapkan dalam mengarungi berbagai aral melintang yang niscaya. Telah kah kita menyediakannya dengan berbagai perangkat kesadaran kita. Sebab setelahnya tak ada lagi waktu tawar menawar untuk kembali meramu keindahan setelah lempung yang busuk telah kita kecambah dalam setiap jejak kita.

Ruang indah terlalu lapang yang disediakan Tuhan pada kita untuk menorehkannya di setiap jejak. Maka, sulamlah pelangi seindah mungkin dari raga kita untuk semesta yang tak bertepi hingga ke keabadian yang tak berbatas.

 

 

Sumber gambar: https://elsunnah.files.wordpress.com/2014/01/kematian-datang-kapan-saja.jpg

 

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *