Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Perjalanan Cinta

Padang pasir dan gurun tandus yang sangat luas bukanlah penghalang untuk tiga hamba Tuhan yang sedang jatuh cinta pada keindahan zat yang dicintainya. Dari Syiria, Lebanon, Palestina, Mesir hingga ke lembah Bakkah di mana rumah pengampunan pertama kali dibangun ketika Adam dan Hawa diturunkan ke Bumi dan permintaan pertamanya ke Tuhannya adalah dibangunkan rumah pengampunan yakni Ka’bah di Makkatulmukarramah, kota Makkah yang dimuliakan.

Panas terik mentari di siang hari dan dingin gigil menembus tulang-tulang di malam hari tak dihiraukannya. Mereka berjalan saja menembus jarak hingga dua ribuan kilometer jauhnya. Inilah negeri-negeri yang kemudian menjadi negeri para Nabi. Negeri-negeri para Nabi di mana mereka kelak menyampaikan dan menyemai cinta untuk sesama dan semesta hingga lahirkan peradaban bajik.

Anak, Ibu, dan Ayah menyatukan cintanya pada Sang Mahacinta. Tak ada kecintaan yang lebih tinggi selainNya. Jadi, apa pun yang diperintahkan padanya tidak sekali dua mereka langsung menunainya kendati kehidupan ini menjadi taruhannya.

Aku tidak bisa membayangkannya usia belia, Ismail as dibawanya mengembara lautan gurun pasir ribuan kilometer jauhnya. Bila bukan karena cinta yang tak terperikan perjalanan ini mustahil untuk dilaku oleh orang dewasa sekalipun. Tapi, Ismail as dengan ihklas dan sabar menyertai Siti Hajar dan Ibrahim as, Ibu dan Ayahnya menyusuri jalan-jalan beribu aral dan rintang, yang bila meniliknya secara pisikal hal ini menjadi sangat absurd.

Lalu kemudian, terjadilah bersama cinta menyertainya. Lembah Bakkah yang ditujunya adalah sebuah lembah yang sangat tandus tak seorang orang pun menghuninya kecuali mahluk-mahluk selain manusia, baik yang ganas maupun yang bersahabat. Di lembah inilah mereka memulai kehidupan baru. Bukan dari nol tapi dari minus di titik nadir kehidupan semesta. Tak ada apa-apa kecuali bukit dan dataran yang kerontang. Bila mentari datang menjenguknya, tak ada batas, langsung menyergap sekujur tubuhnya sebab tidak ada tempat berlindung. Tak sehelai pun daun dari pepohonan kecuali bongkahan-bongkahan batu yang menambah panasnya suasana. Pun, sepoi angin tak membawa sejuk, sebab ia bersama terik mentari yang juga membuatnya panas menerpa sekujur tubuh.

Dari sinilah mereka melanjutkan pembagunan rumah pengampunan Ka’bah sebagai sentral tawwaf bagi manusia kelak. Sebagai pusat berbagi doa dan cinta untuk semesta dan seluruh manusia. Memulai permukiman di tanah tandus dengan berbagai centang perenangnya godaan yang sangat dahsyat.

Di lembah gersang inilah suatu ketika di siang hari bolong terik mentari, Balita Ismail kehausan dan tak hentinya menangis meminta minum, hingga Siti Hajar berlari lari bolak-balik antara Safa dan Marwah mencari sepercik butiran air untuk sekedar menggerus haus Ismail as. Lama ia berlari-lari bolak bailk dengan godaan-godaan iblis yang tak henti menyerbunya. Sebab, seluruh laku yang dijejakkan sedari Syria hingga ke lembah Bakkah didasari gerak cinta yang tulus, maka, terperciklah zam-zam dari kaki mungil ismail as.

Air zam zam adalah mata air cinta dari kerja keras keluarga kecil Ibrahim as. Mata air cinta dari kesungguhan cinta Siti Hajar pada Ismail sebagai representasi cintanya pada Tuhannya melebihi cintanya pada dunia dan seisinya. Negeri yang tandus dan kering kerontang mengubah menjadi negeri berbuncah air menyejukkannya.

Di Lembah Bakkah ini pula keluarga kecil, Ibrahim as mempersaksikan sebuah kecintaan, keikhlasan, dan kesabaran yang luar biasa atas perintah-perintah Tuhannya. Nabi Ibrahim mempertujukkan kesabaran yang sangat tinggi tatkala Tuhannya memerintahkannya menyembelih putra semata wayangnya kala usianya sedan granum-ranumnya. Begitu pula, Ismail as mempertontonkan sebuah keikhlasan yang paripurna tiada tandingnya. Tatkala Ayahandanya memanggilnya dan memberitahu akan titah Tuhannya, Ismail kecil jelang remaja hanya tersenyum indah seraya bertutur, bila itu adalah perintah Tuhan ya Ayah, silahkan melaksanakannya aku akan ikhlas dan bersabar menyambutnya. Inilah kesaksian Tauhid tiada tara dan sepenuh cinta.

Inilah lembah yang dulunya tandus dan gersang lalu seiring perkembangan peradaban manusia, kota ini menjadi kota terhormat dan mulia. Manusia-manusia datang berziarah bersama ribuan dan bahkan jutaan jumlahnya menyembah Tuhannya di sana tanpa sekat sosial, etnis, dan mazhab. Ka’bah sebagai rumah ibadah pertama di Bumi ini tempat keluarga kecil Ibrahim as dititahkan berjalan ribuan kilometer untuk sampai di lembah Bakkah ini, kemudian menjadi pusaran ummat Islam dalam kedamaian dan pelebur semua sekat antar mazhab. Mereka datang dari berbagai arah dan membawa seluruh latar belakang identitas diri yang beragam, kebangsaan, politik, mazhab atau paham keagamaan, yang berbeda-beda menuju Tuhan. Sesungguhnya itulah keindahan tiada tara.

Menurut Al-Qur’an, “sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia adalah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia (QS. Ali Imran (3) : 96).

Kala bertawaf mengelilinginya, Ali Syariati dalam Al Hajj mengurainya dengan indah “Tatkala bertawaf dan bergerak mendekati Ka’bah, engkau akan merasa bagaikan anak sungai yang bergabung dengan sebuah sungai besar. Dihanyutkan ombak, engkau tak bisa menyentuh tanah. Engkau tiba-tiba mengambang terbawa oleh arus itu. Ketika semakin mendekat ke pusat, tekanan dari keramaian orang mendesak begitu kuat sehingga engkau seakan-akan diberi sebuah kehidupan baru. Kini, engkau adalah seorang manusia hidup dan abadi. Ka’bah adalah mentari dunia yang wajahnya menarik engkau masuk ke dalam orbitnya. Engkau telah menjadi bagian dari sistem universal ini. Dengan tawaf mengelilingi Tuhan, engkau akan segera terlupa pada diri sendiri. Engkau telah berubah menjadi partikel yang perlahan-lahan lebur dan sirna. Ini adalah puncak cinta absolut.”

The following two tabs change content below.

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).

Latest posts by Abdul Rasyid Idris (see all)