Dari Kota Makassar, sekira kurang lebih satu jam perjalanan aku bersama istri tiba di Kota Surabaya, yang oleh Franky and Jane membilangkannya sebagai kota yang panas dalam sebuah syair lagunya yang populer di tahun delapan puluhan, Bus Kota. Salah satu kebiasaan saya bila ke kota ini adalah mengunjungi dan berziarah di makam Sunan Ampel di pinggiran Kota Surabaya. Sebagai penanda cinta bagi para penebar cinta di masa lampau. Setelahnya, barulah bergegas ke tempat yang hendak dituju.

Dari makam Sunan Ampel hari telah jelang sore. Dengan kendaraan sewa kami bergegas menuju kota sejuk Malang yang dulu juga dijuluk sebagai kota apel, apel malang. Kunjungan kami kali ini dalam rangka memberi semangat kepada anak bungsuku yang hendak melanjutkan sekolahnya di salah satu perguruan tinggi di kota itu. Itulah yang kerapkali kulakukan bersama istri pada anak-anak kami di semua momentum yang membahagiakannya. Memberi semangat dan motivasi di usia remajanya adalah keniscayaan. Sebab, hanya itu yang bisa kami lakukan sebagai orangtua dalam mengawal jejak hidup ke depan yang telah ia pilih sendiri.

Sore jelang malam, seorang lelaki muda menyambutku dengan senyum semringah di depan sebuah rumah kost tempatnya mukim seminggu terakhir ini. Nampak di wajah dan gestur tubuhnya ia sangat bahagia atas kedatangan kami. Kudekap tubuhnya sembari mengelus kepalanya, shalawat Nabi kuhadiahkan untuknya sepanjang dekapanku. Laku itu kebiasaanku sejak anak-anakku masih usia kanak hingga mereka telah dewasa. Setiap bertemu dan hendak berpisah pasti satu persatu dari lima anakku kuperlakukan sama, memeluk dan mengelus kepalanya sembari kubacakan shalawat Nabi sebagai hadiah untuknya. Alhamdulillah dari kebiasaan itu buahkan anak-anak yang baik. pengalaman itu yang kelak akan kubagi kepada siapa saja dalam bentuk tulisan berseri.

Untunglah saya cepat bersentuhan langsung dengan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) di awal tahun Sembilan puluhan. Sebagai sebuah organisasi nirlaba yang berperan besar melakukan perlindungan anak dalam berbagai perspektif. Mendorong lahirnya kebijakan dan undang-undang perlindungan anak di negeri ini. Dari situlah saya berkenalan dengan seorang penulis dan penyayang anak, Dorothy Law Nolte. Puisinya yang sangat masyhur di seluruh dunia ;

 

Anak-anak Belajar dari Kehidupannya

 

Jika anak dibesarkan dengan celaan, Ia belajar memaki

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, Ia belajar berkelahi

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, Ia belajar rendah diri

Jika anak dibesarkan dengan hinaan, Ia belajar menyesali diri

Jika anak dibesarkan dengan toleransi, Ia belajar menahan diri

Jika anak dibesarkan dengan dorongan, Ia belajar percaya diri

Jika anak dibesarkan dengan pujian, Ia belajar menghargai

Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakukan, Ia belajar keadilan

Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, Ia belajar menaruh kepercayaan

Jika anak dibesarkan dengan dukungan, Ia belajar menyenangi dirinya

Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, Ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

 

Puisi itulah yang mulai menggugah rasa dan tanggung jawabku untuk mengasuh dan memperlakukan anakku sepenuh kasih sayang. Kami tak pernah muluk-muluk menentukan arah dan akan jadi apa anak kami kelak kecuali menularinya kasih sayang. Mendiskusikan dengannya, dengan baik tentang hal-hal yang ia kehendaki. Tak putus-putusnya memberi pesan bijak dari para bijak. Seperti nasihat Lukman pada anaknya yang diabadikan dalam Al Qur’an pada surah Lukman ;

Ayat 12, dan sesungguhnya telah kami berikan hikmah pada Lukman.

Ayat 13, tidak mempersekutukan Allah. Menyayangi dan berbakti pada orangtua.

Ayat 17, dirikan sholat, sabar, berbuat baik dan mencegah kemungkaran.

Ayat 18, jangan berlaku sombong.

Ayat 19, bersikaplah sederhana, berjalanlah dan lunakkan suaramu, sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.

Pesan-pesan cinta dan kasih inilah yang terus menerus mesti lekat pada anak-anak mengawal usianya hingga remaja dan dewasa. Apatah lagi bila menilik centang perenangnya kehidupan di kekinian. Arus bebas informasi melintas dari berbagai negeri dan benua. Mengaduk pergaulan lintas budaya secara global. Sebagai orangtua tidaklah mungkin kita menerungku komunikasi dan pergaulan lintas batas itu. Yang mungkin, paling bijak yang kita lakukan adalah membuka ruang diskusi akan berbagai hal dalam kehidupan ini terkhusus bagaimana mengadaptasi seluruh informasi yang ada di ruang-ruang maya secara bijak dan anak-anak kita tidak merasa tertekan.

Setelah semua urusan anak kuliahan ini usai kami pun bergegas hendak meninggalkan kota yang masih sejuk ini. Tradisi komunikasi batin dan verbal yang sejak usianya masik kanak tetap kulanjutkan. Mendekapnya dan mengusap kepalanya lalu menghadiahinya shalawat sepanjang dekapanku. Kemudian, ibunya berpesan dengan berbisik lirih yang juga dilakukannya sejak lama, berbuat baiklah Nak jangan permalukan orangtua dan jaga diri baik-baik.

Satu lagi, setelah mereka beranjak dewasa dan bila momentum meraih sukses diraihnya maka yang lebih awal dilakukannya adalah banyak membaca shalawat serta bersedekah dan membahagiakan orang-orang yang kurang beruntung di sekitar mereka. Kebiasaan ini menular dari ibunya. Ada yang bilang bahwa cara mendidik yang paling baik adalah dengan memberi contoh dan teladan.

Aku menatap pemudaku sebelum meninggalkannya di rumah kost dengan penuh haru. Senyumnya tetap semringah seperti sediakala setiap kali menemuinya. Akhirnya aku melepaskannya, seperti kata sepotong syair, Kahlil Gibran ;

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu

Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri

Mereka dilahirkan melalui engkau tapi bukan darimu

Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu

Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu

Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri

Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh mereka, tapi bukan jiwa mereka

Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah engkau dapat kunjungi meskipun dalam mimpi

Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu

Engkaulah adalah busur-busur tempat anak-anakmu menjadi anak panah yang hidup diluncurkan

Sang pemanah telah membidik arah keabadian, dan ia merenggangkanmu dengan kekuatannya, sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh. Jadikanlah tarikan tangan Sang Pemanah itu sebagai kegembiraan sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang, maka ia juga mencintai busur teguh yang telah meluncurkannya dengan sepenuh kekuatan.

Sumber gambar: http://www.pendidikankarakter.com/wp-content/uploads/post-20.jpg

 

 

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *