Kantin di tempat kerjaku saban sore jelang magrib dipenuhi karyawan untuk bersantap sore sekaligus malam. Di kantin ini tak ada sekat yang membedakan jenjang karir seseorang. Semua baur dengan canda ria. Setiap kali aku memasuki ruang-ruangnya rasa haru senantiasa memenuhi hatiku. Sebab, kala pandangku kusebar ke pelbagai pojok ruang yang cukup luas itu, senyum para pekerja nampak tulus menyemai. Hingga kerap hatiku berbisik, inilah mungkin salah satu faktor yang membuat negeriku kuat. Para pekerjanya dari berbagai level begitu tulus mengemban tanggungjawabnya hingga di mana pun dan kampan pun urai senyum tak pernah katup walau satu dua orang ada pula yang tak seperti itu.

Kata Nabi, senyum itu adalah sedekah. Sedang sedekah adalah salah satu laku yang menjadi faktor kenaikan makam seseorang menjadi orang bajik di sisi Tuhan. Tentu senyum yang dimaksud adalah senyum yang tulus tanpa pamrih. Karenanya, perbanyaklah senyum seperti senyum para jelata nan tulus menyemai di bumi fana ini.

Bukan hanya pekerja sebagai buruh dan karyawan yang senantiasa berpartisipasi membangun negeri ini tapi juga para pekerja di sektor informal. para petani dan para pekerja kreatif lainnya. Semua bahu membahu membangun negeri dengan senyum mengangkasa. Walaupun kerap saudara-saudaranya di level elit mengecewakannya dengan berbagai laku “banal” yang mencederai saudaranya senegeri. Para elit politik kerap dengan enteng mengatasnamakannya dengan menetapkan kebijakan yang jauh dari kata membuka jalan untuk kesejahteraan mereka. Dengan enteng mempertontonkan laku korup. Kala mereka tertangkap oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) digiring ke tahanan dengan enteng pula melemparkan senyumnya ke media elktronik sembari melambaikan tangan seolah tak bersalah dan tak berdosa.

Menebar senyum dan melambaikan tangan itulah salah satu ciri khas yang memuakkan dari laku para elit yang kerap kita tonton di media elektronik. Baik dari eksekutif dan legislatif. Perilaku yang lebih aneh adalah kala tertangkap basah korupsi para elit ini mendadak nampak saleh dengan pakaiannya. Dan yang lebih memuakkan mereka kerap mengatasnamakan agamanya untuk melawan dan menghindar dari tuduhan-tuduhan yang disangkakan padanya padahal mereka telah tertangkap basah dengan berbagai bukti bersamanya.

Ratusan trilyun bahkan ribuan trilyun uang Negara telah raib ke saku-saku dan ke kas-kas para penghianat negeri. Mereka berkomplot melakukan penggarongan uang rakyat para jelata yang dikelola oleh Negara. Berbagai modus operandi digunakannya dalam penggarongan itu. Karenanya negeri ini tak pernah bangkit secara mandiri dalam mengelola pembangunan di setiap priode dari tahun ke tahun. Kecuali dengan mengandalkan uang pinjaman luar negeri dengan berbagai syaratnya. Bahkan dalam pemerintahan Orde Baru yang pembangunannya bertumpu pada utang luar negeri. Lebih dari tiga puluh persen utang luar negeri itu diskorup secara terencana dan sistimatis oleh para elit yang dekat dan menyusu pada kekuasaan kala itu.

Apatah lagi bila jelang pemilihan umum. Pemilihan presiden. pemilihan gubernur dan pemilihan walikota/bupati. Ditambah pemilihan kepala desa. Senyum “palsu” di baliho-baliho akan gegap gempita di jalan-jalan protokol hingga di pintu-pintu gang atawa lorong sempit sekalipun. Para pecandu kuasa dan para elit politik akan berubah dengan cepat. Semua seolah seragam menjadi orang-orang murah senyum. Menjadi orang-orang baik dan bijaksana. Baliho-baliho menjual diri dan mengemis dengan senyum yang terindah dan kalimat-kalimat bajik dan bijak meruahi semesta ruang-ruang pemilih yang kebanyakan adalah para jelata yang tak pernah mereka perhatikan bahkan mengabaikannya. lebih jauh bukan hanya mengabaikannya tapi bahkan mengkorup uang Negara dari pajak-pajak yang dibayar para jelata yang diatasnamakannya itu.

Dalam perspektif Islam, senyum dikategorikan dalam dua bagian. Yang pertama sebagai laku positif yang berdampak baik pada yang tersenyum dan pada penerima senyum. Yang kedua, ada senyum yang berdampak negatif untuk si pemberi senyum pun para penerimanya. Sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’an.

Tersenyum dan tertawa dengan maksud mencemooh dan melecehkan orang lain. Ini adalah bentuk senyum dan tawa yang dicela oleh Allah, dan termasuk salah satu bentuk dosa, baik kepada Allah maupun terhadap sesama. Hal itu disebutkan Allah dalam surat az-Zukhruf [43]: 47, ketika Fir’aun dan kaumnya mencemooh dan melecehkan nabi Musa as. “Maka tatkala dia (Musa) datang kepada mereka dengan membawa mu`jizat-mu`jizat Kami dengan serta merta mereka mentertawakannya.”

Seringkali dalam kehidupan sehari-hari, ketika kita menemui atau menghadapi seseorang, apalagi jika orang lain itu kita anggap kedudukannya lebih rendah maka kadang kita tersenyum dengan senyum penuh ejekan atau tertawa dengan maksud mencemooh keadaannya. Senyum dan tawa seperti itu adalah bagian dari dosa. Karena, orang yang tersenyum dan tertawa dengan maksud seperti itu adalah orang yang angkuh dan sombong.

Kemudian, tersenyum dan tertawa dengan maksud merendahkan atau mengolok-olok orang lain. Senyum dan tertawa dilakukan dimaksudkan untuk merendahkan dan memperolok orang lain, yang kedudukannya dianggap lebih rendah dari yang mentertawakan. Inilah salah satu bentuk tersenyum atau tertawa yang dilarang oleh Allah. Hal itu seperti disebutkan dalam surat al-Muthaffifin [83]: 29 “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman.”

Diriwayatkan At-Tirmidzi, Al-Husein Radliyallahu’anhu, cucu Rasulullah SAW menuturkan keluhuran budi pekerti beliau. Ia berkata, ”Aku bertanya kepada Ayahku tentang adab dan etika Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam terhadap orang-orang yang bergaul dengan beliau. Ayahku menuturkan, ‘Beliau Shallahu ‘alaihi wa Sallam senantiasa tersenyum, berbudi pekerti lagi rendah hati. Beliau bukanlah seorang yang kasar. Tidak suka berteriak-teriak. Bukan tukang cela. Tidak suka mencela makanan yang tidak disukainya. Siapa saja mengharapkan pasti tidak akan kecewa dan siapa saja yang memenuhi undangannya pasti akan senantiasa puas…..” (Riwayat At-Tirmidzi)

Anas bin Malik bertutur: “Suatu hari aku berjalan bersama Rasulullah saw, saat itu beliau memakai selimut dari daerah Najran yang ujungnya sangat kasar. Tiba-tiba ia ditemui seorang Arab dusun. Tanpa basa basi laki-laki dusun itu langsung menarik selimut kasar Rasulullah saw itu keras-keras sehingga aku melihat bekas merah di pundak Rasulullah saw… Laki-laki dusun tersebut berkata “Suruh orang-orangmu untuk memberikan harta Allah kepadaku yang kau miliki sekarang” Rasulullah saw lalu berpaling kepada laki-laki tadi. Sambil tersenyum, beliau bersabda, ‘Berilah laki-laki ini makanan apa saja’.” (HR Bukhari).

Semailah senyum kepada siapa pun dan kapan pun. Sebab senyum adalah laku sederhana yang berimplikasi baik dalam membangun peradaban. Sebagaimana senyum-senyum para jelata di negeri ini yang nyaris tak pernah katup sekalipun para elitnya kerap menghianatinya dengan senyum pura-pura dalam setiap musim pemilu dan musim sejenisnya tiba meruahi negeri ini. Belajarlah tersenyum sebagaimana senyum indah para rakyat jelata di negeri ini.

 

Sumber gambar: http://plevenzapleven.bg/wp-content/uploads/2015/10/2.10.smile_.jpg

 

 

 

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *