Plontosnya Ideologi Si Plontos

 

Once upon a day, dalam sebuah ruang berbentuk persegi tepat di lantai empat salah satu gedung kampus peradaban. Sekelompok kecil orang-orang yang menamai diri senior, berdiri di depan kelas. Mereka memandang ramah seisi ruangan yang berhias kepala-kepala plontos dengan wajah lugu nan polos. Pada jas almater hitam mereka, sebuah kata melekat. Tidak butuh waktu lama bagi Si Plontos dengan tubuh gempal, untuk mengenali kata tersebut. Seandainya ia belum tahu kepanjangan kata itu, pastilah akan tertawa terbahak-bahak di depan para senior. Karena sebagai orang Bantaeng, kata itu dapat bermakna lain. Bisa dibayangkan bagaimana ujungnya jika hal itu terjadi.

Tetiba Si Plontos gempal yang duduk di pojok kelas, teringat kisah-kisah berbau heroisme dan mistis dari kata itu. Konon, satu kata sederhana itu harus dimiliki setiap orang yang terdaftar dalam perguruan tinggi dan mengikuti semester berjalan. Kata yang kemudian hari diproduksi menjadi sistem kepercayaan. Kata tersebut selain sebagai doktrin, juga merupakan “arsenal”  bagi warga benteng peradaban untuk menciptakan peradaban intelektual yang berbudi luhur.

Sebagai mahasiswa yang mengemban amanat agent of change, kata itu harus menjadi jubah di balik almamater kampus. Karena kampus merupakan benteng terakhir yang diharapkan mampu menjaga peradaban suatu bangsa. Jadi sudah selayaknya kampus mampu melahirkan mahasiswa yang visioner, kreatif, dan produktif dalam pemikirian dan kebajikan. Dari kampus pula, tradisi intelektual dan literasi diharapkan tetap lestari. Dengan cara tersebut, kita bisa menciptakan revolusi yang elegan. Bukan revolusi yang mengedepankan sikap ekstrem dan radikal dalam prosesnya. Mengatasnamakan kepentingan bersama, tapi disaat bersamaan memarginalkan golongan lain.

Dengan kata yang sama, seorang mahasiswa dapat menjadi nabi-nabi sosial. Setiap insan benteng peradaban diharapkan menerjemahkan kata tersebut, dalam pelbagai praktik-praktik kebajikan di tengah kehidupan bermasyarakat. Guna menuntaskan banyak persoalan negeri. Suatu problem yang membikin galau tujuh keliling tujuh generasi presiden kita. Tapi peran sebagai social of control bisa terwujud, jika kita menjadikan kata itu sebagai spirit menularkan virus-virus kebermanfaatan. Tentu ini bukan hal yang mudah karena kita harus menampik ego pribadi. Sebagaimana pitutur KH. Sahal Mahfudh, bahwa “menjadi baik itu mudah, hanya dengan diam saja yang tampak adalah kebaikan. Yang sulit itu menjadi bermanfaat, karena itu butuh perjuangan”. Akan tetapi, berjuang menjadi kata yang kumuh bagi segelintir mahasiswa era milenial. Barangkali karena keseringan makan mie instan, jadi maunya yang instan-instan saja.

Lihatlah! Banyak mahasiswa menuju dunia di mana setan-setan berpesta. Tidak sedikit mahasiswa mengalami kemorosotan moral. Lupa wasiatnya sebagai moral of force (polisi moral). Banyak yang terjebak dalam gaya hidup hedonis, pragmatis, dan culas. Mahasiswa kini lebih suka mencari yang nyaman-nyaman saja. Enggan bergelut dengan lumpur, untuk meraih emas pengetahuan yang terpendam. Tradisi baca, diskusi, menulis, dan bahkan demonstrasi kian susut. Apakah sikap ini yang akan menjadi pondasi kebangsaan yang kita cita-citakan?

Si Plontos ingat pendakuan Radhar Panca Dahana, dalam bukunya Politik dan Kebudayaan, bahwa basis kultural kita sedang diterjang oleh gelombang tsunami kebudayaan. Bencana kultural inilah yang membikin porak-poranda dunia mahasiswa. Sedikit saja yang sadar dan mencoba melawan arus. Atau sekadar menjaga diri agar tidak terseret arus.

Tapi tidak sedikit pula mahasiswa yang terbenam dalam budaya baru. Budaya neo paganism teotecnology, memuja teknologi sebagai yang segalanya. Adagium senior adalah tuhan yang trend tempo hari, berganti menjadi gawai adalah tuhan. Mahasiswa lama kelamaan mulai kehilangan rasionalitasnya. Banyak yang terjebak dalam dunia virtual dan tidak bisa lagi kembali. Kegandrungan kita bermain game hingga berjam-jam, sembari update status “tembus pagi, menyambut mentari”. Mengenaskan! Empat tahun kita habiskan bersetubuh dengan dunia maya. Kita lupa tujuan merantau, tapi selalu ingat minta kiriman bulanan. Untuk beli buku? Bukan! Untuk mengisi kuota dan memenuhi hasrat materil lainnya. Walhasil, cara berpikir kita lama-kelamaan semakin dangkal, sehingga kita bersikap antipati dan apatis terhadap peristiwa yang terjadi di sekitar kita.

Kegandrungan membaca status, menjadikan cara kita membaca realitas hanya secara tekstual saja. Pisau analisis kita semakin tumpul kawan. Kita kini sangat mudah terprovokasi oleh oknum-oknum yang lebih mengedepankan penafsiran secara tekstual. Dialog dan diskusi menjadi terabaikan. Kini yang kita sukai adalah mencoba “menjadi Tuhan”, dengan mengambil hak prerogratif-Nya. Buktinya lisan kita amat ringan mengkafirkan sesama, yang suatu saat meledak menghancurkan persatuan dan kesatuan bangsa tercinta.

Jadi, jangan heran kalau kita mendapati banyak koruptor tidak lagi merasa was-was. Karena mahasiswa sebagai parlemen jalanan sudah kehilangan nalar kritis. Hilang moralitasnya. Mahasiswa telah melepaskan pedangnya di tengah-tengah padang, lalu berjalan mundur menyaksikan rakyat kecil ditindas. Inilah yang terjadi jika kita hanya memakai kacamata kuda, pakai riben pula. Hanya memandang lurus ke depan, tidak lagi berpandangan secara universal dan sistematis tapi sempit lagi pragmatis.

RAKUS, tulisan itu jelas sekali. Itulah kata yang terpampang pada jas almamater senior di depan kelas dengan berhias kepala-kepala plontos. RAKUS itu bukan sekadar ideologi mahasiswa semata, tapi sebuah keyakinan yang harus mengejawantah dalam praktik-praktik sosial. Oleh karena itu, RAKUS sebagai ideologi mahasiswa, seharusnya tidak diplontoskan oleh budaya-budaya baru yang dangkal dan mematikan jiwa.

Kata RAKUS inilah yang menjadi pemantik bagi Si Plontos gempal, untuk menjelajah dalam lorong-lorong sunyi benteng peradaban. Karena ia percaya, akan terus percaya, bahwa kelak akan datang masa di mana mahasiswa kembali tersesat di jalan yang benar. Mahasiswa akan kembali mengedepankan rasionalitasnya dalam menganalisis secara kritis berbagai problema yang ada di masyarakatnya.

Si Plontos gempal tetap yakin, mahasiswa akan memasuki masa romantisme intelektualnya kembali. Masa di mana mahasiswa bersahabat dengan buku-buku. Bergumul dan tidur dengan buku-buku. Karena dengan membaca, mahasiswa akan memiliki wordview yang moderat, universal, dan sistematis. Olehnya, hari ini mahasiswa harus menjadi “rakus” ilmu pengetahuan dan berdiskusi. Serta “rakus” membaca buku dan menulis. Karena dengan kerakusan yang demikian, akan melahirkan pengatahuan-pengetahuan baru. Sebab semakin berpengetahuan seseorang, maka akan semakin toleran kata Gus Dur. Rasa toleransi ini pulalah yang akan membawa kita pada sikap mencintai kemanusiaan. Jadi seberapa RAKUS anda hari ini?

Sumber ilustrasi : aghamisme.blogspot.co.id

Aedil Akmal

Lahir di Bantaeng, 24 oktober 1994. Pelajar di Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar. Aktivis MEC RAKUS Makassar, dan Peserta Kelas Literasi Paradigma yang mencintai kopi dan buku terutama novel sejarah.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *