Percakapan Kecil di Kota Kecil

Kota kecil yang menyenangkan gumamku setiap kali aku mampir melepas lelah di sebuah kedai kopi langgananku. Warganya ramah, tak pelak kota ini menjadi kota persinggahan yang menyenangkan. Sejak lima tahun lalu kerap mampir di kota ini tak kudengar dan melihat pemudanya tawuran. Perbincangan politik pun dalam perhelatan Pilkada masih tergolong santun. Tak pernah menyisakan gesekan yang menelan korban secara massif, dan tak ada dendam politik berkepanjangan seperti yang kita tonton di negeri yang para politisinya kerap kali bertingkah dan berlaku aneh.

Suatu malam aku bercakap dengan dua orang sahabat tentang berbagai hal, satu di antaranya soal pernak-pernik cerita yang simpang siur berkenaan dengan PKI (Partai Komunis Indonesia) yang melakukan pemberontakan di tahun 1965 dan menelan korban banyak dan beberapa putra terbaik bangsa ini.Di kedai kopi tempat kami berbincang ada tiga kelompok pelanggan tetap yang akhirnya berkumpul membincangkan pemberontakan itu secara rileks dan logis.

Dari sekitar lebih sepuluh orang yang mengatur meja dan kursi melingkar, dari sisi usia aku yang paling tua, lahir dua tahun sebelum pemberontakan itu terjadi, dan berurut yang lahir tahun tujuh puluhan, sembilan puluhan hingga awal dua ribuan. Artinya saya masih berusia dua tahun kala peristiwa itu meletus. Usia yang masih sangat kencur tentulah belum mengetahui dan merasakan langsung peristiwa getir itu.

Dilihat dalam perspektif apapun semua “pemberontakan” yang tidak konstitusional pastilah pelanggaran dan mesti harus dilawan. Hanya, dalam konteks pemberontakan di negeri ini tentu bukan hanya PartaiKomunis di tahun 1965 itu dan sebelumnya. Tapi, juga sebelum dan sesudahnya juga terjadi pemberontakan serupa.Diantaranya, pemberontakan DI/TII di berbagai daerah di negeri ini. Kemudian beberapa pemberontakan yang eskalasinya sedikit lebih lokal walupun tokohnya juga mukim sebagai elit politik di ibu kota negeri ini. Misalnya pemberontakan PRRI dan Permesta, dan lain sebagainya yang skalanya lebih kecil lagi.

Yang menarik dari pemberontakan-pemberontakan itu, hamper semuanya melibatkan para personil perwira TNI dari berbagai kesatuan. Kemudian sebaliknya, banyak orang atawa rakyat yang hanya ditengarai sebagai bagian dari pemberontakan itu pun mengalami nasib naas, keluarganya mengenyam stigma berkelanjutan termasuk yang belum lahir kala pemeberontakan itu terjadi. Mengalami siksaan secara psikologis dan sosiologis. Ratusan orang sebagai eksil di seluruh dunia luntang lantung tanpa surat kewarganegaraan dan pasport yang secara sepihak diputuskan tanpa melalui pengadilan yang seadil-adilnya.

Tak kurang yang domisili di dalam negeri banyak yang tidak tahu menahu sama sekali tentang pemberontakan itu tapi mengalami siksaan. Dalam sebuah cerpen di kumpulan cerpen Mati Baik-Baik Kawan, Martin Aleida mengisahkan dengan sangat indah, seorang pemuda yang diciduk tengah malam di rumahnya, sebelum dibebaskan kembali setelah disiksa habis-habisan, di saku celananya ditemukan surat terakhir ibu bapaknya dari Medan dikirim untuknya sebelum berangkat ke tanah suci menunaikan ibadah haji. Kisah-kisah seperti itu dalam versi yang berbeda-beda beredar banyak di tengah masyarakat kita hingga kini.

Simpulan percakapan kecil di kota kecil, empat generasi dari empat dasawarsa itu, tidak percaya akan kebangkitan PKI. Masyarakat kita secara umum sudah sangat jauh tenggelam dalam rengkuhan kapatalisme, sadar atau tidak. Termasuk sebahagian besar anak-anak muda yang selama ini memproklamirkan diri sebagai orang-orang kiri.

Pun, mempercakapkan tentang PKI yang katanya akan bangkit dengan berbagai indikatornya yang aneh, bagi orang yang buta pikir dan buta hati. Sebarlah pandangan dan hatimu, jauh dari ujung dan pelosok semesta asal muasal negeri-negeri komunis. Mereka tak konsisten lagi mengamal dan menjalankan ideologi sama rata sama rasa itu kecuali kekuasaan politik yang otoriter. Tengoklah Tiongkok yang paling dekat,warganya semakin borjuis. Di negeri Pomanchu itu saat ini terdapat mall yang terbesar di dunia. Semua brand produk simbol-simbol kapitalisme dan borjuisme dunia di perdagangkan di sana dan uniknya produk itu diproduksi untuk kebutuhan semua strata ekonomi dan sosial dari yang super KW hingga yang original.

Untuk beberapa tahun terkahir ini dari beberapa kali aku transit, pulang, dan pergi di berbagai bandara di negeri ini terkhusus di Bandara Internasional Sam Ratulangi, bandara-bandara itu hamper tak pernah sepi dari pelancong warga negeri tirai bambu. Negeri berpenduduk paling banyak di dunia. Negeri yang secara politis dikuasai partai komunis. Itu sebagai salah satu penanda bila warga negeri itu secara ideologis tidak lagi dikungkung oleh partai yang katanya menganut paham sama rata sama rasa itu. Warganya pun telah terjerembab di jalan-jalan hidup memperkaya diri sendiri dan keluarganya.

Kami semua yang bercakap-cakap kecil, di kedai kopi kecil, dan di kota kecil ini khawatir gonjang ganjing akan bangkitnya Partai Komunis di negeri ini hanyalah bualan politik para pecundang yang mengusung issu-issu murahan yang sudah kadaluarsa. Ataukah jangan-jangan, anak-anak, cucu-cucu, dan buyut-buyut pewaris Orde Baru (Orba) yang bersiap-siap naik gelanggang lagi. Karena setahuku, yang paling doyan dan gemar mengendarai issu-issu ini, yaitulah para Orbaisme yang suka kehidupan nyaman dan mapan walau dalam penindasan. Wallahua’lambissyawwab.

 

Sumber gambar: https://hafidhmind.files.wordpress.com/2016/03/5.jpg

 

 

 

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *