Karena prasangka, hidup manusia berakhir. Bagaimana bisa?

Coba Anda lihat, bagaimana kebencian terhadap kelompok –yang dianggap- minoritas bekerja dalam masyarakat. Orang beragama Islam yang tinggal di Amerika, misalnya. Mereka dianggap sebagai kelompok ekstrim, hanya karena pada suatu masa, tindakan terorisme pernah terjadi dan pelakunya dituduhkan kepada orang Islam.

Maka muncullah istilah Islamophobia. Ketakutan berlebih terhadap orang Islam. Irfan Amalee menuturkan, kesalahpahaman ini terjadi karena kurang dan salahnya informasi tentang Islam bagi warga Amerika.

Anggapan itu berkembang dan sengaja disebarkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Untuk apa? untuk menyisihkan orang-orang yang berbeda dan meneguhkan kelompoknya sendiri. Apakah ini sehat dalam kehidupan kita? Secara psikososial, Erich Fromm, seorang filsuf cum psikoanalisis kelahiran Jerman, mengatakan bahwa masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang saling mengasihi dan mencintai satu sama lain. Dan masyarakat yang sakit, ia menambahkan, adalah masyarakat yang hidupnya dipenuhi oleh prasangka dan kebencian terhadap sesamanya.

Gambaran tentang yang masyarakat yang sakit ini, mengingatkan saya pada lirik lagu Fstvlst berjudul Hal Hal Ini Terjadi:

Di masa kau terlahir,
orang-orang bersepakat
bahwa ajaran terpopuler adalah ajaran membenci.
Ajaran ternorak adalah mencintai.
Batu, parang dan peluru adalah jajanan laris manis.
Cium dan peluk adalah jualan yang tak pernah laku lagi.
Semakin kau membenci, semakin kau di akui.
Semakin kau mencintai, semakin kau dijauhi.

Prasangka yang bisa membuat orang membenci, beroperasi dalam masyarakat kita, didasari oleh hal yang keliru. Ia lahir oleh ‘over-generalisasi’ terhadap sesuatu. Misal, orang Makassar itu ngomongnya kasar. Padahal, faktanya, dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Makassar, kita akan menemui orang-orang yang ramah dan santun dalam berbicara.

Pemberian label terhadap individu atau kelompok, sebagai usaha menggambarkan realitas dan merasionalisasi sebuah justifikasi, dengan hanya mengambil contoh sebagian kasus yang tidak mewakili realitas objektif, adalah kebodohan dan ketidakadilan dalam memandang orang lain. Ini adalah bentuk Stereotip. Seperti motor, prasangka bekerja melalui stereotip yang tak bosan memberikanya bensin sebagai bahan bakar. Dan karena stereotip inilah kita menciptakan suatu masalah baru dalam masyrakat; jarak sosial.

Kita, sebagai manusia, yang memiliki potensi besar jatuh pada kesalahan, kadang secara tak sengaja pernah berprasangka buruk terhadap orang lain (semoga saja tidak). Dan kita, seringkali membatasi diri untuk bergaul kepada orang-orang yang sudah kita berikan image negatif. Dari rentetan itu, alhasil, jarak sosial antara kita dengan orang lain muncul ke permukaan.

Keakraban, yang tumbuh dengan sahabat kita, menjadi mustahil, ketika hendak diterapkan dengan individu atau kelompok yang berbeda dengan kita. Pada kondisi ini, kita sebenarnya membatasi diri untuk berbuat lebih banyak kebaikan terhadap orang lain. Kita hidup dalam penjara yang kita ciptakan sendiri.

Bagi saya, prasangka, yang turut serta melahirkan jarak sosial antara kita dengan orang lain, tak hanya akan membuat hidup penuh kecemasan, tetapi juga menjauhkan hidup dari kebahagiaan.

Prasangka, dalam titik yang ekstrim, akan membukakan kita pada jalan menuju penyakit sosial yang mengerikan; diskriminasi. Diskriminasi, akan menutup mata kita terhadap perbedaan, membuat kita kehilangan empati, membuat rasa kasih terhadap sesama manusia luntur dan hilang. Kita akan dibuatnya buta secara batin dalam memperlakukan orang lain.

Dalam literatur sejarah, tercatat, pembantaian manusia pernah dilakukan atas dasar diskriminasi berbasis ras. Adolf Hitler, pemimpin Nazi Jerman, melakukan pembunuhan massal, yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Dalam aktivitas bengisnya itu, Hitler, membantai orang-orang yang dilabeli dengan ras non-Arya. Karena ia beranggapan bahwa keunggulan ras Arya, tidak boleh dikotori kemurnianya oleh ras non-Arya. Meskipun telah melakukan pembersihan ras dengan alasan tersebut, Nazi tak bisa membuktikan secara ilmiah bahwa ras manusia, ada ras yang lebih unggul dibandingkan ras yang lain.

Pada kengerian inilah, –seperti yang saya bilang di awal- diskriminasi dapat mengakhiri hidup manusia. Diskriminasi, yang merupakan anak kandung dari prasangka, telah membuat manusia, kehilangan kemanusiaanya. Diskriminasi, tidak hanya dioperasikan dalam kaitanya dengan ras manusia, tetapi juga sering terjadi dalam hal politik, ekonomi, agama, dan budaya.

Baru-baru ini, blunder dilakukan oleh Gubernur Jakarta yang baru saja dilantik; Anies Rasyid Baswedan. Dalam pidatonya, beliau menyebut istilah pribumi, yang konsekuensinya, ada orang yang non-pribumi. Pembelahan identitas ini sangat rawan memunculkan konflik. Mengapa? Karena, istilah pribumi dan non-pribumi itu tidak ada. Tidak aktual. Tidak ilmiah. Ia hanya digunakan untuk memecah belah persatuan bangsa. Lihatlah bagaimana propaganda Hitler yang membelah warganya menjadi ras Arya dan non-Arya. Kita barangkali bisa memetik pelajaran dari sana.

Prasangka, stereotip, dan diskriminasi, dikembangbiakkan pada kita melalui melalui bahasa verbal yang kita terima turun-temurun dari lingkungan sosial kita. Ia mengalami repetisi yang nyaring mendengung di telinga kita. Karena menjadi kebiasaan, dan selalu terdengar, kita mungkin saja menganggapnya sebagai sebuah kebenaran yang tak perlu lagi diperdebatkan.

Tapi lagi-lagi, hidup adalah pilihan. Kita bisa memilih untuk tak termakan oleh hal-hal semacam itu. Kita merdeka. Kita bisa lebih kritis dan mem-verifikasi (tabayyun) sesuatu sebelum bertindak terhadap orang lain. Jangan biarkan prasangka berkuasa atas diri dan mengatur gerak-gerik kita dalam kehidupan sosial.

Prasangka adalah wujud lain dari kebodohan. Dan terkait kebodohan, Sayyidina Ali bin Abu Thalib pernah berkata, “Tidak ada penyakit yang lebih parah daripada kebodohan. Dan tidak ada kefakiran yang sebanding dengan kebodohan”. Tidak hanya itu, di suatu kesempatan lain, beliau menambahkan, “Akal memberikan petunjuk dan menyelamatkan, tapi kebodohan menyesatkan dan membinasakan”.

Perang melawan prasangka adalah perang melawan kebodohan. Oleh karena itu, mestinya kita sadar, agar tidak terlalu mudah menjatuhkan prasangka pada orang lain. Kita perlu bersabar, sebelum menghukumi. Kita perlu banyak belajar, dan mencari tahu sebanyak-banyaknya informasi. Mengapa? Agar kebodohan tak betah menetap dalam diri, agar kita bisa saling merangkul dan saling memahami.

Ilustrasi: fenorevanisya.blogspot.co.id

M. Mario Hikmat. A

Mahasiswa FKM UNHAS. Anggota LISAN Cab. Makassar. Pernah didapuk sebagai wakil presiden BEM FKM Unhas periode 2015-2016. Mulai berjuang menyelesaikan tugas akhir.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *