Dari Sebuah Desa Terpencil

Petang baru saja datang kala mentari berpendar menjauh. Di sebuah desa nun jauh dari keriuhan kota, aku baru saja menepi di sebuah rumah seorang sahabat, dari perjalanan panjang yang memakan waktu berjam-jam lamanya. Kala menghampiri gerbang pagar yang tak tertutup, seorang pria berusia separuh baya menjemputku di depan pintu dengan senyum terurai tulus. Aku membatin, indah sekali senyum sahabatku ini, mungkin inilah yang disebut senyum tulus yang langsung menyambangi hati yang di tujunya.

Dari pelbagai tema perbincangan yang kami diskusikan hingga larut malam datang, yang paling menarik menurutku adalah tentang pemilihan Hukum Tua (Kepala Desa) di kampung tempat dia bermukim itu. Adiknya digadang-gadang oleh sebagian masyarakat untuk mendaftarkan diri sebagai salah-seorang calon kepala desa beberapa bulan lampau hingga ia terpilih dengan telak sebagai pemenang dan dilantik menjadi Hukum Tua di desanya.

Yang lebih menarik dari cerita temanku itu bukanlah karena adiknya keluar sebagai pemenang, tetapi karena yang pertama-tama mengusungnya adalah orang-orang dari agama yang berbeda dengannya. Adiknya memang dikenal sebagai pemuda yang baik di kampungnya.          Dia banyak menginisiai kegiatan-kegiatan kepemudaan Dari gotong royong untuk kebersihan kampung, keamanan kampung, hingga menginisiasi event-event lomba olah raga dan pentas kesenian tanpa membeda-bedakan penduduk asli dan pendatang, dimana penduduk pendatang dengan yang asli sudah hampir berbanding separoh. Alhasil mengatarnya banyak dikenal dan disukai oleh masyarakat.

Sesungguhnya adik saya belum berpikir untuk ikut dalam pemilihan kepala desa itu, hingga suatu sore sekelompok pemuda masjid datang bertandang ke rumah dan membawa hajat dan keinginin untuk mengusung adik saya masuk sebagai salah satu kandidat calon kepala desa. Adik saya terhenyak dan sedikit risih dengan usulan sekelompok pemuda yang berlainan agaman dengannya itu, walaupun memang selama ini mereka itu acapkali bekerjasama dalam membangun desanya, di mana adik saya termasuk salahsatu pengurus di sebuah organisasi kepemudaan gereja di desa ini.

Kamu tahu tidak pemuda-pemuda itu mayoritas dari selatan, dari kampung bapak, urainya sembari tersenyum. Sebab, kampung ini adalah kampung pesisir jadi sejak tahun tujuh puluhan sudah banyak saudara-saudara kita dari tanah Bugis yang berlayar kesini, baik sebagai nelayan, pedagang rupa-rupa dagangan hingga sebagian besar menetap dan beranak pinak di kampung ini. Tidak kurang yang medapatkan jodoh orang asli sini. Mereka membangun rumah ibadah sesuai kebutuhan mereka tanpa hambatan. Kami sangat rukun di kampung ini, bukan hanya kristen dan Islam yang ada di sini, tapi juga Hindu dan Kong Hu Chu, sebab di kampung ini juga pernah beroperasi sebuah perusahaan tambang berskala internasional sehingga kampung ini mengundang pendatang bak’ gula mengundang semut. Jadilah kampung ini menjadi kampung yang sangat plural, sangat beragam namun damai. Di sini belum pernah terjadi perkelahian atau sejenisnya yang disebabkan oleh perbedaan etnis dan keyakinan. Walaupun kami sangat beragam dan mejemuk, beberapa tahun terakhir ini.

Potret di atas sesungguhnya tidaklah menjadi hal yang luar biasa bila kita menilik pada filosofi lahirnya sebuah negeri yang disepakati bernama Indonesia ini. sebab dari awal negeri ini didirikan dan dibangun oleh para perintis kemerdekaan yang didedikasikan untuk keberagaman yang damai. Yang merepresentasikan kehadiran para pejuang kemerdekaan di negeri ini. karenanya, Pancasila sebagai dasar negara yang disepakati dari mula-mula lahirnya negeri ini menjadi harga mati, heterogenitas masyarakat dalam mengapresiasi semua aktivitasnya tidak bisa dianeksasi selama tidak bertentangan dengan dasar negara kita.

Yang mengherankan selama beberapa dasawarsa terakhir, segelintir saudara kita sebangsa yang tergabung di beberapa organisasi dengan terang-terangan ingin mengganti dasar negera ini sesuai keyakinan yang dia tafsir sendiri. Walaupun banyak orang-orang berilmu di negeri ini telah menyampaikan bahwa mengubah dasar negara yang telah disepakti adalah kebinasaan, dan tidak sesuai dengan substansi argumentasi yang di usung para intoleran itu.

Sesungguhnya di berbagai kampung di negeri ini keberagaman seperti di atas masih banyak mewarnainya. Kendati para penyusup yang mulai terang-terangan hendak mengacak-acak negeri indah ini dari keberagamannya semakin gencar pula melakukan provokasi dalam beragam bentuk dan strateginya. Dan yang paling ampuh adalah masalah keyakinan (agama) yang kita mafhum sangat sensitif di negeri ini.

Apatah lagi bila jelang pemilihan pemimpin daerah dan sejenisnya akan digelar, maka isu sensitif menyeruak mengangkasa melampaui langit ketujuh. Bahkan kerap pesan-pesan agama dimanfaatkan untuk menyerang lawan politik. Pesan-pesan yang sesungguhnya mulia akhirnya dibawa ke wilayah abu-abu yang mencederai orang-orang sesuai target politik yang ingin dicapai. Jadilah agama menjadi komoditas politik yang bisa diperjual-belikan sesuai pesan sponsor.

Ah.. bila melihat senyum sahabatku itu dalam ketulusannya aku teringat kisah, Pendeta Bahira dari negeri Syam dan Pendeta Warokah Bin Naufal dari Kota Cahaya. Keduanya menekuk egonya dengan kebesaran jiwa menjemput kebenaran yang menyambanginya dari manuskrip-manuskrip yang didarasnya bertahun tahun dan isyarat langit yang mengabarinya. Dua pendeta bijak yang mashur itu selalu menyungging senyum mengantar hari-harinya bersahabat dengan berbagai orang yang berlainan etnis dan agama dengan sangat arif.

Pun, aku teringat bagaimana Sang Nabi suci menyuapi seorang Yahudi tua di pojok pasar Kota Madina, sembari menerima makian dari orang yang disuapinya. Namun dengan lembut dan sabar tetap saban hari melakukannya hingga ajal menjemputnya. Laku santun dan bijak bestari ini mewarnai hari-harinya sepanjang hidupnya.

Hari ini di negeri ini, banyak yang kebalikan memaknai tradisi agama samawi ini. boro-boro menebar senyum bersahabat dan menebar kebajikan pada sesama sebagaimana yang diperagakan hingga akhir hayat, Sang Nabi, malah yang berpenampilan sangat saleh justru gemar menebar kebencian dan ketakutan. Bila demikian siapa yang anda panuti ?

 

Sumber gambar: http://cdn2.tstatic.net/manado/foto/bank/images/ilustrasi-kerukunan_20160929_180114.jpg

 

 

 

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *