….Ada Kisah Tentang Makassar yang Berulang Tahun….

Ada seorang lelaki yang sedang asyik duduk di Pantai Losari, menatap semburat senja tentunya. Sebutlah lelaki itu Kamaruddin, di bahunya bersandar seorang gadis berkulit putih dengan rambutnya yang ikal bergelombang ibarat—kalau orang Bugis-Makassar menyebutnya—bombang silellung. Sebutlah gadis itu Ona Mariona atau dipanggil Ona. Lelaki dan gadis itu tentunya sedang merenda kasih dan asmara, sembari berpacaran tetiba saja sepasang sejoli yang lain juga ikut duduk-duduk di dekatnya, kemudian terlibat suatu pembicaraan.

“Sayang, tadi waktu ke sini, naik mobil, di kiri-kanan jalan banyak baliho yah…?! Baliho-baliho itu serempak menuliskan SELAMAT HARI JADI KOTA MAKASSAR KE 410 TAHUN.”

“Iya kasih dan cintaku, terus ada apa gerangan dengan baliho itu?”

“Tidak-ji, penasaranja, rupanya Makassar begitu tua yah?! Baru tahu saya setiap tanggal 9 Nopember diperingati hari Jadi Kota Makassar, tapi….” Gadis itu kemudian bergelayut manja dan melanjutkan percakapan. “Kenapa mesti hari jadinya tanggal 9 Nopember yah? Kenapa bukan 28 Februari saja seperti hari jadian kita?”

“Yah, kalau masalah itu saya tidak tahu? Yang penting kita rayakan saja, toh sebagai warga kota yang baik tidak ada ruginya bersuka ria.”

Mendengar pembicaraan tersebut, Kamaruddin sedikit termenung mungkin melamun memikirkan percakapan sepasang sejoli yang berpacaran—tidak jauh dari tempatnya berpacaran. Dalam lamunannya, tetiba saja Kamaruddin merasakan sakit kepala, matanya berkunang-kunang dan pandangannya kabur, beberapa menit setelahnya terdengar letupan besar dan kilatan cahaya. Sepersekian detik berikutnya, Kamaruddin bersama kekasihnya itu mairat, menghilang! Mallajang istilahnya dalam bahasa setempat.

Rupanya, jiwa dari Kamaruddin dan Ona melintasi lorong waktu, berkelana menembus semesta dan terdampar pada satu tempat di pesisir, mereka kembali pada abad ke XVII—tepatnya 9 Nopember 1607 yang berkebetulan jatuh pada 19 Rajab 1016 Hijriyah.

Sepasang sejoli itu kemudian kaget bukan kepalang, mereka kini berada pada satu daerah yang tak pernah ia lihat sebelumnya, baik di sosial media maupun di buku-buku sejarah yang dibaca ketika SMA dulu. Kamaruddin dan Ona menyaksikan kemegahan suatu mukim yang membentang dari selatan ke utara, terdapat juga benteng-benteng pertahanan yang berdiri megah serta hamparan pematang sawah dan pohon lontar. Sedangkan di horizon barat di lautan sana, hilir-mudik kapal-kapal layar—ada padewakkang, lambo, kapal-kapal berbendera Portugis, Spanyol, Belanda-V.O.C, Inggris-EIC, dan ada pula lepa-lepa. Beberapa kapal di antaranya membuang sauh di sekitaran pelabuhan.

“Kita ada di mana sayang?” Tanya Ona pada Kamaruddin.

“Entahlah, yang pasti kita tidak berada di Eropa, tidak pula di Indonesia, mungkin jiwa kita terampar di salah satu sudut Nusantara pada abad ke XVII.”

“Kamu tahu yah?”

“Entahlah, cuma asal tebak.”

Sepasang sejoli itu melirik ke kanan dan ke kiri, memerhatikan suasana sekitar. Rupanya mereka berdiri di dekat jalanan—pemukiman penduduk—lalu sepasang bola mata Kamaruddin dan Ona melihat segerombolan masyarakat yang berbondong-bondong—dengan memakai busana yang mirip bangsawan-bangsawan kerajaan dahulu, ada pula yang berpakaian ala Eropa—berlarian menuju utara. Salah seorang di tengah rombongan itu berseru.

“Wahai kalian para penghuni Kerajaan Makassar! Yang berada di sekitaran benteng Somba Opu, Panakkukang, Garassi, Barombong. Wahai sekalian yang bermukim di pedalaman! Hei kalian pendatang dari tanah ogi, tanah Melayu! Penjelajah samudera dari Portugis, Belanda, Inggris, India, dan sekalian yang bermukim di butta ini. Dengarkanlah seruan yang agung ini, mari kita bersama-sama menuju istana Tumabicara Butta, Mangkubumi Kerajaan Gowa yang agung itu!”

Kamaruddin dan Ona semakin bingung atas apa yang mereka lihat, terlebih lagi mereka merasa para masyarakat yang beragam itu tak melihat keberadaannya. Lantas dengan perasaan ragu-ragu sepasang sejoli itu kemudian mengikuti kemana gerangan perginya manusia-manusia itu : manusia dari berbagai belahan bumi.

Mereka menuju utara, menuju sebuah istana yang terbuat dari kayu nan megah. Berjalan dan berjalan hingga tak terasa senja mulai menyapa. Dari kejauahan Kamaruddin dan Ona melihat seorang pria berumur dengan wajah yang teduh sedang berdiri di lego-lego—beranda—istananya yang agung. Sejenak suasana semakin riuh, lalu beberapa saat hening dan kemudian pria berumur yang berdiri di lego-lego itu berseru.

“Wahai rakyatku, hari ini telah kutahbiskan kepada kalian, bahwa Islam adalah agama resmi kerajaan ini, maka peluklah agama yang baik itu, berpalinglah dari kemungkaran dan penuhilah seruan Tuhan. Tetapi rakyatku sekalian, walaupun telah kutahbiskan Islam sebagai agama resmi, tetapi kehadiran para pemeluk-pemeluk agama lain masih bebas menjalankan keyakinannya, bebas berdagang di butta ini, tak ada larangan bagi mereka yang tidak seyakinan dengan kita untuk mencari nafkah di sini. Bagaimanapun mereka juga ciptaan Tuhan, yang membedakannya adalah cara mereka untuk meyakini keberadaan Tuhan. Kita semua, saya, kalian, dan bangsa lainnya yang bermukim di butta ini mempunyai hak dan kewajiban yang sama, kita adalah masyarakat besar di kerajaan yang besar!”

Lalu apa yang terjadi setelahnya? Seluruh yang hadir di sekitaran istana itu berseru dan memanjatkan pujian serta doa panjang umur kepada junjungannya : I Malingkaang Daeng Manyonri Sultan Abdullah Awalul Islam.

“Panjang umur tumabicara butta…!”

“Panjang umur mangkubhumi kerajaan…!”

“Panjang umur Perdana Menteri raja di Makassar…!”

Begitulah seruan yang serempak hingga seruan itu serasa memecahkan langit, adapun Kamaruddin dan Ona kembali merasakan sakit kepala yang teramat, kilatan cahaya saling nyambar-menyambar, sepasang sejoli itu mairat, mallajang, dan menemukan dirinya kembali dalam keadaan duduk berdampingan di kursi yang empuk. Kini bukan lagi pemandangan eksotisme Abad ke XVII yang mereka lihat, melainkan sekumpulan pria dan perempuan yang berpakaian rapi—ada yang pakai setelan jas lengkap dengan peci, ada juga yang mengenakan kebaya.

“Kali ini kita di mana sayang?” Tanya Ona kepada Kamaruddin.

“Sepertinya kita berada di kantor dewan,” jawab Kamaruddin, lalu mereka kemudian memerhatikan lelaki yang duduk di meja pimpinan.

“Bapak-Ibu sekalian para anggota dewan yang terhormat, setelah menimbang seksama dari pandangan tiap fraksi, serta masukan dari masyarakat, akademisi, budayawan, dan sejarawan, serta apa yang telah kita lalui bersama. Maka Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2000 tentang Penetapan Hari Jadi Kota Makassar akan kita sahkan.”

“Sebelum saya mengetuk palu, akan saya bacakan ulang penjelasan PERDA No. 1 Tahun 2000 pada pasal 2. Dijelaskan bahwa ; Penetapan Hari jadi Kota Makassar diambil dari momentum atau kejadian penting dalam sejarah Kota Makassar pada masa lalu yang bernuansa ke-kinian dan ke-depan, ringkasan arti dan pemaknaannya sebagai berikut, tanggal 9 Nopember 1607 yang bertepatan dengan hari Jumat tanggal 19 Rajab 1016 Hijriyah, merupakan peristiwa sejarah Makassar yang mempunyai makna dan nilai tinggi. Di mana Raja Tallo yang merangkap Mangkubumi Kerajaan Gowa bernama I Malingkaang Daeng Manyonri Sultan Abdullah Awalul Islam mendeklarasikan sikap orang Makassar yang menjunjung tinggi pluralisme sebagai wahana menuju masyarakat madani/Civil Society dan sangat menghargai perdagangan bebas sebagaimana berkembang di era globalisasi sekarang ini. Oleh karena sesungguhnya agama Islam dinyatakan sebagai panutan resmi kerajaan, namun golongan dan agama lain di dalam wilayah kerajaan punya hak yang sama dan mempunyai kebebasan dalam berniaga dan bermasyarakat.”

Syahdan, setelah membaca penjelasan tersebut, pria yang duduk di meja pimpinan mengetuk palu tiga kali, sebagai tanda disahkannya peraturan daerah tersebut. Bersama dengan itu, Kamaruddin dan Ona lagi-lagi merasakan sakit kepala yang teramat kemudian disusul kilatan menyambar dan mereka menghilang—mairat, mallajang—dan menemukan dirinya kembali duduk di Pantai Losari, sedangkan di horizon sana matahari mulai tenggelam.

Sumber gambar: http://makassarkota.go.id/foto_berita/24rotterdam.jpg

Ilyas Ibrahim Husain

Ilyas Ibrahim Husain adalah nama pena dari Adil Akbar. Lulusan S1 Pendidikan Sejarah UNM (2011-2016) dan S2 Pendidikan IPS-Konsentrasi Pendidikan Sejarah (2017-2019). Selain menulis, juga pengajar sejarah di SMAN 2 MAKASSAR, pun pernah mengajar di SMAN 1 GOWA dan SMAN 3 MAKASSAR

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *